Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri

ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri

Adeline Shabira tak lagi mampu membendung luka saat suaminya lebih memercayai fitnah orang lain daripada kejujurannya sendiri. Pengkhianatan dan pengabaian ini menghancurkan fondasi pernikahan mereka hingga Adeline memilih untuk pergi demi membebaskan sang suami. Saat kebenaran perlahan terungkap, penyesalan pun datang terlambat. Di tengah badai emosi dan logika, mampukah hati Adeline yang telah mengeras dan hancur kembali memaafkan setelah kepercayaan itu sirna?
Bab
Bagikan

Bab 1

Tidak ada yang bersuara, yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu beradu dengan piring di atas sebuah meja makan bundar terbuat dari ukiran kayu jati.

"Mas, mau tambah nasinya?" Tanya seorang wanita berparas cantik berkulit putih dengan mata teduhnya.

"Tidak, aku sudah kenyang. Ini sudah cukup."

"Mama, mau tambah nasinya?" Tanyanya lagi pada wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. 

"Tidak," jawabnya singkat.

"Aku mau kak," terdengar suara cempreng dari gadis imut yang duduk disebelahnya.

"Mana piringmu?" 

"Jangan terlalu banyak nasinya kak," gadis imut tersebut memberikan piring kosongnya.

"Iya." 

"Sudah kak, cukup! Jangan terlalu banyak!"

"Mau tambah apa lagi?"

"Telor ceplok." 

"Pamela, jangan terlalu banyak sarapannya! Nanti di kelas kamu mengantuk. Bukannya belajar nanti malah tidur!" Tegur Mama.

"Ih, Mama ini cerewet sekali. Tidak mungkin aku tidur. Hari ini ada ulangan matematika, perutku harus terisi penuh biar bisa konsentrasi," jawab gadis imut tersebut.

"Dasar perut gentong! Alasan saja ada ulangan matematika, tiap hari juga sarapanmu banyak!" Ledek gadis muda yang wajahnya terlihat mirip dengan gadis imut tersebut.

"Sirik saja kak Irene!" Jawab Pamela mencibir.

"Cepat habiskan sarapannya kalau mau ikut denganku berangkat ke Sekolah."

"Mas Ronald, jangan buru-buru pergi. Aku belum selesai sarapannya," ucap Pamela.

"Makanya cepat habiskan sarapannya! Dasar perut gentong," ledek Irene sambil membersihkan bibirnya dengan tisu.

"Hush! Irene jangan begitu, dia adikmu!" Tegur Mama kemudian melihat anak laki-lakinya. "Ronald, nanti siang Mama ada arisan."

"Arisan? Bukankah baru minggu kemarin Mama ada arisan?" Tanya wanita cantik.

"Adeline, jangan ikut campur urusan Mama! Kamu istrinya Ronald, tapi bukan berarti kamu bisa ikut campur dengan urusan Mama," ucap Mama dengan kesal menatap tajam wajah menantunya.

Ronald memberikan kode dengan matanya melihat istrinya agar tidak bicara lagi.

"Iya Ma," jawab Adeline pelan menunduk begitu suaminya melihat padanya.

"Nanti Ronald transfer Mama untuk arisan," ucap Ronald.

"Ke rekening yang biasa," jawab Mama. "Kalau bisa kasih lebih, Mama ingin membeli peralatan make up."

"Iya Ma," jawab Ronald.

"Aku juga kak," ucap Irene. "Minta uang tambahan."

"Baru 3 hari yang lalu kakak transfer, masa sudah habis lagi?" Tanya Ronald.

"Habis dong kak! Uang yang kakak kasih tidak ada artinya dibandingkan dengan uang jajan teman-temanku di kampus. Mereka bahkan memakai mobil sendiri pergi ke kampus, sementara aku harus bergantian dengan Pamela."

"Jadi maksudmu ingin pergi kuliah dengan memakai mobil sendiri?" Tanya Pamela.

"Iya dong!" 

Pamela mencibir. "Dasar otak sombong. Masih untung dikasih uang jajan sama kak Ronald, kuliah juga kamu tidak ada prestasinya. Datang ke kampus cuma buat ngecengin cowok-cowok."

"Hati-hati ya kamu kalau bicara!" Bentak Irene.

"Memang kenyataanya begitu! Lihat saja penampilanmu sekarang," tunjuk Pamela pada baju Irene. "Ke kampus seperti mau pergi ke diskotik. Seksi bener!"

Wajah Irene memerah dengan napas naik turun melihat tajam adiknya. "Kurang ajar ya kamu!"

"Apa? Kenapa? Aku tidak takut, memang begitu kenyataannya. Kakak ini paling boros dalam urusan uang, kak Ronald itu banting tulang cari uang buat kita setelah Papa meninggal, tapi kakak dengan seenaknya menghambur-hamburkan uang. Apa kakak tidak kasihan dengan kak Ronald!"

"Perusahaan itu juga punya Papa, jadi aku ada hak untuk minta uang!" Jawab Irene galak dengan wajah yang sudah emosi.

"Irene! Pamela! Tutup mulut kalian!" Teriak Mama galak menatap tajam wajah kedua putrinya bergantian. "Apa yang kalian ributkan?"

Irene menatap Pamela dengan marah, begitu juga sebaliknya, Pamela menatap Irene dengan tidak kalah galak.

"Dia yang mulai Ma!" 

"Kakak yang mulai!" Jawab Pamela.

Adeline hanya bisa menarik napas melihat kedua adik iparnya yang saling beradu mulut. Jika dirinya ikut campur dan melerai mereka berdua maka sudah bisa dipastikan, dirinya yang nanti akan menjadi pelampiasan kemarahan Irene, karena dibandingkan Pamela, sikap Irene lebih kasar memperlakukan dirinya dibandingkan dengan Pamela yang masih ada sisi baiknya.

"Ada apa dengan kalian ini? Kenapa selalu ribut kalau sedang berkumpul? Kamu juga Irene, tidak bisa apa mengalah sedikit pada adikmu?" Bentak Mama.

Pamela mencibir melihat kakaknya, merasa di atas angin karena Mama membelanya.

"Dan kamu juga Pamela, bicara yang sopan pada kakakmu. Biar bagaimanapun dia adalah kakakmu yang harus kamu hormati."

Giliran Irene yang meledek Pamela dengan menjulurkan lidahnya. "Rasain gentong!"

Ronald hanya bisa menghela napas melihat kedua adiknya yang tidak pernah bisa akur kalau bertemu. 

"Kalian ini sudah besar, kenapa seperti anak kecil? Selalu saja bertengkar," ucap Mama kesal. "Apa harus salah satu dari kalian Mama masukin ke asrama?"

"Tidak! Aku tidak mau!" Jawab Irene dengan cepat. "Pamela saja yang masuk asrama."

"Eh, sembarangan! Aku juga tidak mau, kakak saja yang masuk asrama biar ada sedikit pengiritan di rumah ini," jawab Pamela.

Irene hendak menjawab sudah membuka bibirnya, tapi Mama dengan cepat memotong.

"Sudah! Hentikan! Mama masukin kalian berdua ke asrama kalau kalian tidak berhenti!" Teriak Mama kencang.

Adeline yang dari tadi hanya diam, hampir saja meloncat kaget begitu mendengar Mama mertuanya berteriak. Tangannya langsung mengelus dadanya. "Ya Tuhan, aku sampai kaget," ucapnya dalam hati.

Ronald melihat jam tangannya. "Ini sudah siang, aku harus segera berangkat ke kantor. Pagi ini ada meeting penting."

"Ronald, jangan lupa arisan Mama," ucap Mama mengingatkan putranya.

"Iya Ma, tenang saja. Nanti aku akan minta sekretarisku untuk transfer ke rekening Mama."

"Ok, thank you." 

"Lalu aku?" Tanya Irene.

"Uang sakumu baru 3 hari yang lalu aku transfer. Tunggu 1 minggu lagi, baru ditransfer," jawab Ronald.

"Tidak bisa begitu kak! 1 minggu itu sangat lama," rengek Irene. "Bagaimana aku bilang pada teman-temanku nanti kalau mereka mengajak aku jalan ke Mall."

"Jalan saja kalau mau ke Mall. Begitu saja repot," jawab Pamela bangun dari duduknya.

"Berisik!" 

Pamela mencibir melihat Irene.

"Mas, mau berangkat sekarang?" Tanya Adeline melihat Ronald.

"Iya, ini sudah siang."

Adeline bangun dari duduknya, sudah kebiasaan rutin setiap hari jika suaminya berangkat ke kantor, dirinya akan membawakan tas kerja dan mengantarnya sampai suaminya masuk ke dalam mobil.

"Aku ikut dengan kak Ronald," ucap Pamela.

"Bagus! Aku jadi bebas sendirian di dalam mobil. Tidak satu udara dengan bocah sok tahu," ucap Irene pergi begitu saja melewati kakaknya Ronald yang telah membuatnya kesal karena tidak dikasih uang.

"Irene!" Panggil Mama begitu melihat pakaian yang dipakai anak gadisnya begitu ketat dengan rok mini yang pendek sekali. "Irene!"

"Ada apa?" Tanya Irene menghentikan langkahnya.

"Kamu mau ke kampus, tapi kenapa pakaianmu seperti itu? Cepat ganti!" 

"Apa yang salah dengan pakaianku?" Jawab Irene.

"Itu roknya pendek sekali!" Tunjuk Mama geram.

"Ini tidak pendek Ma, biasa saja," jawab Irene melihat roknya sendiri.

"Cepat ganti!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Lain di Kandungan Istriku
8.9
Kian dikejutkan oleh penemuan sebuah alat uji kehamilan dengan dua garis merah di bawah meja samping ranjangnya. Temuan ini memicu kecurigaan besar terhadap sang istri, Aurelie. Namun, sebuah kenyataan pahit menghantui pikirannya; Kian menyadari bahwa dirinya mandul dan mustahil bisa memberikan keturunan. Teka-teki mengenai pemilik asli benda tersebut mulai mengusik batinnya. Benarkah Aurelie sedang mengandung benih pria lain di dalam rahimnya?
Sampul Novel Dilema Hati
8.3
Leonard Mahendra, pria mapan berusia 38 tahun, terbiasa hidup sendiri hingga Evelyn hadir. Putri sahabatnya itu menumpang tinggal karena ayahnya bertugas di luar negeri. Sifat Evelyn yang ceria mengubah rutinitas Leonard menjadi lebih berwarna. Namun, rasa peduli Leonard perlahan berubah menjadi cinta terlarang. Evelyn pun terjebak dilema karena menyukai teman ayahnya. Rahasia ini menjadi ancaman besar saat ayah Evelyn kembali dan mengetahui semuanya.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Gadis Pengantar Tidur
8.5
Richard tersenyum puas setelah berhasil menjual seorang wanita demi uang. Maria, wanita malang yang menjadi korban penipuannya, kini terjebak dalam situasi pelik di kamar dua kosong satu. Ia terpaksa mengemban peran sebagai gadis pengantar tidur bagi seorang pria bernama Mark. Di balik kemewahan yang ada, Mark ternyata menderita gangguan insomnia parah. Maria kini harus menghadapi takdir baru melayani pria tersebut akibat pengkhianatan Richard.
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA
9.7
Dominic mengejar sosok yang menyerupai Stella di tengah guyuran hujan deras. Sambil berlutut penuh penyesalan, ia memohon ampunan atas dosa masa lalunya. Namun, luka hati Stella dari kejadian tiga tahun silam telah membeku dan tertutup kegelapan. Dengan sikap yang amat dingin, Stella menegaskan bahwa permohonan maaf Dominic tidak ada artinya. Ia menyatakan bahwa hanya kematian pria itu yang mampu menebus segala penderitaan yang telah ia alami selama ini.
Sampul Novel Mahkota Sang Dewi
8.2
Husein memandang akad nikah sebagai janji suci untuk melindungi pasangan, namun bagi Mutia, pernikahan hanyalah beban yang ingin ia sudahi secepat mungkin. Kehadiran orang lain di hati Mutia membuat komitmen ini terasa semakin mustahil. Saat takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan rumah tangga tanpa dasar cinta yang sama, mampukah mereka bertahan? Kisah ini menguji kesetiaan dan pengorbanan dalam mempertahankan hubungan yang penuh keterpaksaan.