Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ace Tribes

Ace Tribes

Chryssant Elettra alias Ysee terlempar ke benua Earthalic setelah terkena kutukan akibat perundungan kawanannya. Ia nyaris tewas di tangan Putra Mahkota Remus Valez karena dituduh sebagai dalang agresi suku Ace. Setelah kejujurannya terbukti, Ysee dipaksa menjadi pelayan pribadi di manor Remus. Namun, kehadirannya justru mengungkap berbagai rahasia gelap yang selama ini tersembunyi. Tanpa sadar, mereka berdua hanyalah pion dalam skema besar yang mengancam kehancuran.
Bab
Bagikan

Bab 1

MENURUT strategi yang telah diperhitungkan, mereka akan keluar dari penjagaan tepat ‘alat’ itu berhasil membelokkan atensi dua orang prajurit kekaisaran. Berpindah dari mata ke mata, akhirnya pandangan empat kawanan pria itu mendarat serempak ke satu-satunya kaum hawa di sana. Yang ditatap tidak merasa terusik, ia masih sibuk memancangkan pandangan lurus ke depan.

“Firasatku buruk,” gumam salah seorang pria, kerutan dalam muncul di permukaan keningnya. “Cih, gelagatnya begitu kaku.”

“Diamlah, Viktas. Jangan memancing keributan.”

Pria kedua menegur si pria pertama bernama Viktas itu dengan bisikan hati-hati. Viktas kembali meludah, tetapi ia memutuskan untuk diam. Mereka berlima terus mengamati panggung terbuka, melihat bagaimana Engar—pemuda memprihatinkan yang dijadikan sebagai ‘alat’ baru dalam suku mereka—mulai mengikuti fase-fase dalam skenario; menangis, tertawa, menggila, kemudian kabur.

Pada fase terakhir ini, si prajurit kekaisaran kemungkinan besar akan mengejar Engar dan kelima orang itu dapat memulai aksi mereka. Untuk kelanjutan dari nasib Engar sendiri, tidak akan ada yang memedulikan. Bila beruntung, Engar dapat kembali dengan utuh bersama mereka, kemudian melanjutkan pelatihan untuk diperalat lagi oleh kelima orang itu.

“Mereka sudah pergi,” suara setenang riak air dari satu-satunya gadis tiba-tiba menarik kesimpulan di antara keheningan, “ayo, bergerak.”

Gadis berparas oriental dengan garis asertif di setiap fitur wajahnya mulai memimpin keempat pria keluar dari hutan, sekitar setengah kilometer dari gerbang kekaisaran. Engar sudah tidak lagi tampak, begitu pun si prajurit kekaisaran yang bertugas menjaga gerbang. Entah prajurit itu dungu atau bagaimana, atensinya begitu mudah dibelokkan oleh ‘alat’ suku.

Meneguhkan misi utama suku Ace untuk mengguncang kekaisaran, kelimanya semakin mempercepat langkah untuk menggapai gerbang. Tetapi, keteguhan mereka menjadi bias, berganti keterkejutan karena tahu-tahu saja lima prajurit melompat keluar dari semak sisi kanan dan kiri gerbang. Jelas presensi mereka tidak terjangkau oleh visual para anggota suku. Lagi pula, semenjak kapan mereka bisa berkamuflase dengan baik di antara semak-semak itu?

Sepertinya mereka sudah belajar dari kesalahan, batin si gadis berparas oriental itu, binar netra hitamnya sedikit mengejek. “Halo, prajurit-prajurit sampah kekaisaran.”

“Cih, kita tertangkap basah oleh sampah, huh?” Viktas turut melontarkan olok-olok, tidak merasa terintimidasi walau kelimanya kini terkepung tanpa celah. “Ace Tribes, tunjukkan mana kebanggaan dari leluhur kita! Balas mata dengan mata!”

Bertepatan orasi singkat itu dikumandangkan, Viktas dan kesemua anggota suku Ace mulai mengabsen seluruh mana yang mendiami aliran darah mereka. Viktas memusatkan mananya di telapak tangan dan merunduk menggapai tanah, menciptakan getaran berskala besar yang cukup menimbulkan patahan. Seringai brutal menghiasi bibir pria itu ketika dilihatnya para prajurit kekaisaran menunduk.

Arah retakan dari area patahan mulai bercabang, tersebar merangkak untuk menjangkau sepatu bot kulit mereka.

Dalam sekejap, area patahan mulai menjorok naik ke atas. Itu perbuatan Gylan, ia memusatkan seluruh mana pada area tapak kaki kanannya. Hanya dengan satu kali entakan kuat, ia berhasil mengekspos lebar-lebar puncak retakan dan menguarkan lava pijar. Atmosfer kekaisaran kian intens. Satu per satu dari kelima anggota suku Ace mulai memamerkan anugerah dari leluhur mereka.

Para prajurit kekaisaran terus beringsut mundur setiap kali cairan lava merangkak ganas ke arah mereka. Buih-buih jingga kemerahan yang muncul seakan-akan mengejek bahwa presensi mereka di sini cuman untuk mencari mati. Pedang yang tersampir pada atribut zirah besi jelas tidak memiliki nilai kegunaan untuk melawan mana para anggota suku Ace.

Di tengah arogansi dan kepercayaan diri akan kemenangan suku Ace atas kekaisaran, mereka tidak tahu bila situasi saat ini merupakan bagian dari taktik Remus Valez, sang Putra Mahkota. Dari balik pilar istana, netranya memancang lurus ke depan. Ia sudah mempelajari bagaimana mana itu bekerja, serta menarik kesimpulan cara untuk melemahkan kinerja mana mereka.

Lima orang itu perlu dibuat lengah di masing-masing titik pemusatan mereka. Jadi, Remus mulai menginstruksikan keempat prajurit kekaisaran di balik pilar yang sama dengannya. Pembawaan tenang dari pria itu membuat seluruh instruksi sang Putra Mahkota didengar baik-baik oleh bawahannya.

Hunjaman belasan anak panah sukses mengalihkan atensi suku Ace dari kelima prajurit. Mereka spontan menoleh cepat ke arah gerbang. Sage cepat-cepat memasang tubuh untuk melindungi keempat kawannya. Ia mulai memusatkan mana pada daerah mata dan kening, dari sana sebuah mekanisme pertahanan dalam bentuk selubung  transparan muncul. Belasan anak panah langsung tertancap di sana.

Tidak mau mengulur-ulur waktu, Kaz—pria kedua yang sempat menegur Viktas—menjentikkan jari di dekat selubung. Listrik mengarus tidak lama setelahnya, menghanguskan belasan anak panah lain yang baru diarahkan kepada mereka.

Masih mengamati situasi memanas dari balik pilar, Remus mengerutkan kening tidak senang. Ia menggeser tatapan menuju busur di tangan, terselip anak panah dengan ujung besi panas mematikan pada talinya. Mau bagaimana lagi? pikirnya, berlari keluar dari pilar untuk turun tangan dalam menumpas para kotoran yang kerap mengusik ketenangan kontinennya.

Ia berdiri tidak jauh dari keempat kesatria yang masih menghunjam anak panah lain. Tanpa berminat meminta kesatrianya menggeser, ia memicingkan netra dan menjentikkan tali busur. Anak panah berujung besi panas memelesat di antara dua kepala kesatrianya, terhunjam lurus ke depan tepat pada selubung.

"Argh! Mataku panas!" Sage mengerang, konsentrasinya seketika buyar.

Selubung ciptaan mananya terpecah. Kaz menghadap Sage, berniat untuk meredakan kepanikan pria itu akan rasa panas yang menggerayangi netra kawannya. Di tengah erangan Sage, suara gedebuk Viktas dan Gylan terdengar di belakang. Chryssant—si gadis satu-satunya dalam suku—spontan menoleh ke balik pundak, mendapati dua dari lima kesatria itu sudah menahan punggung kedua kawan prianya dengan lutut dan siku.

Masih dengan paras setenang riak air, netra hitam gadis itu mengilat merah saat berserobok dengan si Putra Mahkota. Remus menggeserkan arah busur dari Sage dan Kaz, menuju Chryssant. Ia tentu tidak diam saja. Berbeda dengan keempat kawan prianya, pemusatan mana Chryssant ada di sekujur tubuh moleknya. Ia mengabsen mananya untuk dibangkitkan kembali, lambat laun tubuhnya menciptakan aura kemerahan.

Surai hitam Chryssant berkobar-kobar bagaikan nyala api. Ia mengangkat tangan ke atas langit. Yang tadinya cerah, situasi sekitar kekaisaran berubah seratus delapan puluh derajat. Remus secuil pun tidak merasa gentar. Ia melangkah ke tengah-tengah keempat kesatrianya, menginstruksikan mereka untuk bersama-sama melecutkan anak panah.

Disertai rintik hujan, petir menyambar. Remus tidak ingin membuang waktu lebih lama. Ia tahu tujuan Chryssant menggunakan petirnya untuk mendinginkan ujung besi panas dari anak panah. Tetapi, tidak akan semudah itu. Kekaisaran sengaja mempersiapkan pemanasan anak panah ini dari lama sekali. Secepat kilat, belasan desing anak panah biasa memelesat membelah udara mendung kekaisaran.

Petir itu terus berusaha menyambar anak panah hasil bidikan kesatria, tetapi Chryssant kesulitan untuk mengendalikan lebih banyak petir. Manik hitamnya kembali mengilat, ia mencoba mencari anak panah berujung besi panas yang terarah kepada suku Ace. Tetapi, di mana? Itu tidak terjangkau oleh visualnya.

"Kita mundur." Kaz menangkap lengan Chryssant. "Rysa!"

"Kita sudah sejauh ini!"

Chryssant masih teguh dengan pendiriannya untuk bertahan. Ia hanya perlu menghabiskan panah berujung besi panas dan mereka akan memenangkan kekaisaran. Akan tetapi, keteguhan itu menurun meski tidak ingin ia akui secara pribadi. Bagaimana tidak, anak panah biasa dari kesatria tadi kini sudah tergantikan oleh belasan anak panah berujung besi panas.

Kaz akhirnya melepaskan tangan Chryssant ketika sadar anak panah maut itu terarah kepada mereka. Tanpa repot-repot menoleh kembali ke belakang, Kaz, Sage, Viktas, dan Gylan segera melarikan diri ke hutan. Begitu tahu Chryssant sengaja ditinggal oleh keempat kawan satu sukunya, netra hitam itu menggelap dan mengilat kemerahan pekat.

Terlarut dalam amarah, Chryssant tidak sadar bila Remus sedang berancang-ancang menarik busur tepat ke arah kakinya. Dalam kecepatan tinggi, anak panah berujung besi panas sukses menancap pergelangan kaki kanannya, seketika melumpuhkan fungsi dari seluruh anggota tubuh Chryssant. Gadis berparas oriental itu jatuh terduduk di permukaan tanah.

Gemuruh menggelegak, mulanya teramat besar. Tetapi, seiring kelumpuhan itu terjadi, petir-petir lambat laun raib dan himpunan awan bersih seputih kapas kembali mendominasi langit. Angkasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi pemicu kemarahan, selain Chryssant yang kini diam-diam meloloskan sumpah serapah penuh murka dari tempatnya tersimpuh.

“Aku, Chryssant Elettra, bersumpah demi darah leluhurku—Dewi Achena—akan membalas keserakahan kalian semua. Mata dengan mata.”

Ketika sumpah sakral itu ia turunkan, maka 'bayaran' setimpal telah menunggu di depan. Pusaka Terlarang, akan ia dapatkan.[]

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beta Romeo and His Rogue
9.0
Rena Schaaci adalah rogue yang tersesat di Pack The Lightcrown Claws demi mencari kakaknya. Setelah kehilangan seluruh keluarga, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan dapur. Di sana, ia bertemu Romeo Riley, sang Beta yang berambisi memusnahkan semua rogue. Konflik batin memuncak saat Romeo menyadari bahwa target buruannya adalah mate-nya sendiri. Di tengah penderitaan, Rena memilih menghapus ingatan kelamnya, menciptakan kisah cinta tragis yang penuh luka bagi mereka.
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Sampul Novel MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA
9.3
Aisyah Rana, gadis berdarah Jepang, tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya. Saat ia bertanya, Abah murka dan Ibu hanya menangis pilu. Luka hatinya kian dalam saat dicaci sebagai anak haram oleh teman sekolahnya. Dipicu amarah dan rasa penasaran, Rana bertekad kuliah di Jepang demi mencari kebenaran. Meski ditentang orang tuanya, ia tetap berjuang meraih haknya. Di sisi lain, seorang pemuda tulus diam-diam selalu melindungi dan menjaga hati Rana dalam diam.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.
Sampul Novel Putra Rahasia Jodoh Alfaku, Penolakan Terakhirku
8.9
Sebagai pewaris Serigala Putih, aku dikhianati oleh Alpha Kaelan yang memiliki keluarga rahasia. Orang tuaku bahkan tega mencuri dana kawanan demi membiayai selingkuhannya. Aku hanya dianggap alat penghasil keturunan sebelum akhirnya dibuang. Saat mereka berencana membiusku di hari ulang tahun ke-18, aku berpura-pura pingsan lalu melarikan diri. Namun, sebelum menghilang, aku mengirimkan kado berisi bukti kejahatan mereka untuk menghancurkan segalanya.