Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel About Sila

About Sila

Siti Laila, putri seorang ustaz, tumbuh menjadi gadis keras hati akibat kurangnya kasih sayang orang tua. Meski terlihat santun di rumah, Sila menyimpan sisi gelap sebagai pendendam di luar. Saat ia berniat bertobat dan meninggalkan masa lalunya yang kelam bersama Lucas, ancaman besar datang. Lucas mengancam akan menghancurkan keluarga Sila hingga tak bersisa jika ia berani berhenti. Kini, Sila terjebak dalam dilema antara penebusan dosa dan keselamatan keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Thanks, Bang Ren," ucap Sila setelah turun dari motor di depan rumahnya.

"Nyusahin lo," sarkas Reno.

"Udah ditraktir seblak juga."

"Cuma dua porsi juga," elak Reno mengikuti nada lebay Sila.

"Serah lo deh , gue besok mau ada acara ultah temen nih lo ikut nggak? Biar gue nggak dikatain jomblo gitu."

Reno memutar bola matanya. "Bilang aja mau ojeg gratis, huh."

Belum sempat Sila membalas ucapan Reno, Reno terlebih dulu bicara, "Tapi oke lah, makan gratis! Jadwalnya kirim ke gue," ucap Reno sebelum melajukan motornya.

Sila pun segera masuk ke rumahnya tapi, dia merasa ada yang aneh. Kok rumahnya sepi tidak seperti biasanya? Ke mana mama dan adik-adiknya? Jika papanya pasti sedang ada acara di luar.

"Pada ke mana sih? Assalamualaikum! Ada orang nggak?!" teriak Sila

"Di taman Kak Lai!" Terdengar teriakan adiknya dari taman belakang rumahnya. Sila pun segera pergi untuk melihat ke taman.

"Astaghfirullah, itu kenapa ada darah?!" tanya Sila kaget melihat ada darah dan bangkai.

"Ini toh mama dapet harta karun," kata sang adik, Fajar.

Mamanya Sila, Nadine menatap tajam Fajar. "Sembarangan kamu, ini Lai mama kan tadi mau menanam bunga. Pas gali tanah ehh, ada mayat kayak gini. Terus mama teriak, datang deh semua ke sini." Nadine menunjuk ke arah bangkai kucing. "Tuh liat mayat kucingnya! Kasian mana tubuhnya pisah-pisah lagi, matanya tuh menggelinding, kenapa ya? Kok bisa ada di sini? Jijik mama."

"Mungkin kucingnya udah mati, terus dipotong-potong dan dikubur di sini sama psikopat biar nggak ninggalin jejak," celetuk Nazriel adik pertama Sila.

"Kebanyakan nonton drakor kamu, Jil." Sila refleks mendorong Nazriel. "Udahlah, nggak usah dipikirin Ma! Suru Ajil aja buat kubur lagi, mama masuk ke rumah, itu Lai tadi udah belanja sama Bang Reno." Nadine pun mengangguk dan masuk ke rumahnya.

Nazriel menatap Sila tak terima. "Kakk!" rengek Nazriel.

Sila tersenyum mengejek pada Nazriel. "Jar sini duduk! nonton kesengsaraan Bang Ajil." Ajak Sila, duduk di bangku dekat taman itu, disusul Fajar yang terus tertawa melihat penderitaan kakaknya.

Nazriel makin menggerutu menatap Sila dengan tatapan tak sukanya. "Baru pulang rumah, bukannya dimanjain malah dijajah," gerutunya sambil mengambil alat untuk mengubur kucing itu.

***

Jalanan Bandung memang sangat ramai, buktinya sekarang jam enam pagi saja sudah ada yang namanya kemacetan. Namun, seseorang yang tengah mengendarai motor tidak mempedulikan kemacetan. Dia terus menyerempet kendaraan lain di depannya. Karena memang tidak ada polisi yang berjaga. Dia melamun mengingat, kejadian di mana ia di telepon oleh kekasihnya. Mendengar suara yang sangat dikenalinya, Riko langsung melihat nama penelpon 'Nyonya Saputra '

"Na, kamu di rumah kan? Aku lima menit lagi bakal nyampe. Kamu tahan jangan pingsan ok?"

Riko segera mematikan telpon dan menuju ke rumah pacarnya dengan khawatir. Setelah sampai di rumah pacarnya, Riko melihat Alena yang sudah jatuh pingsan, dengan panik Riko membawa Alena ke rumah sakit.

"Nona Alena bukan hanya memiliki penyakit lambung, tapi juga Anemia atau kangker darah."

Mendengar kata itu, Riko semakin merasa kasihan pada Alena, apalagi dengan keluarga Alena yang masih di luar negri. Riko tidak tahu harus bagaimana, biaya pengobatan mungkin bisa di pinjam dari orangtuanya. Namun, keluarga Alena harus tahu itu semua.

Riko yang asik melamun, tak melihat orang yang menyebrang hampir saja mencelakai orang itu, dia membelokkan motornya dan menabrakkannya ke trotoar, "SHIT!"

Orang di sekitar langsung mendekat ke arah tepat kecelakaan,Termasuk ada Sila yang sedang berjalan, dan merasa kepo.

"Itu kasian, cepet panggil ambulans!"

"Untungnya pake helm ya!"

"Buka dulu helm-nya pengap itu!"

"Hati-hati pak kasian kakinya."

"Untung jalannya gak kenapa-napa ya pak. "

"Kok mentingin jalan sih bu?"

"Udah dipanggil ambulansnya kan?"

Sila melihat korban itu langsung mendekat, dan berusaha membangunkannya. "Bang bangun, Bang!"

"Kamu kenal, Nak?" tanya salah seseorang. Terdengar suara sirine ambulan yang mengalihkan atensi semua orang.

"Saya kenal pak, saya ikut."

***

Di sebuah gedung berdesain black-gray, di sisi jalan sepi yang jarang dilalui orang, terdapat anak-anak remaja dan dewasa sedang berkumpul. Mereka sedang melakukan berbagai aktivitas ada yang bercanda gurau, mengobrol, bernyanyi-nyanyi, dan ada juga yang sibuk dengan handphone masing-masing.

Tiba-tiba terdengar sebuah keras dari arah pintu. Semua orang menoleh ke arah pintu yang dibuka paksa. Menampilkan cewek berbaju hitam dengan rambut diikat rapi dan mengenakan jaket kebesaran WASP, Devi Andini sang Bendahara di WASP. Dia datang dengan napas tak beraturan, sambil menekan knop pintu beberapa kali mengatur napas, membuat orang-orang di sana makin penasaran.

"Kenapa sih, Yang? Sini duduk dulu!" celetuk Rio, salah satu anggota WASP yang lumayan playboy.

Devi menghela napas ulang, menghampiri teman-temannya. "Si bos di rumah sakit, tadi Sisil nelpon gue," ucapnya.

"Please, jangan ada yang komen dulu!" teriak Devi sebelum para anggota WASP menyampaikan opini mereka. Devi merogoh sakunya, mendapati benda pipih yang harganya jutaan dan menelepon orang yang di namai 'Adit cengeng' dia menyambungkannya dengan  spiker box  agar semua orang bisa mendengar.

"Halo Dev? Gue udah di rumah sakit bilangin sama anggota, malem ini nggak jadi rapat kalian pesen makanan aja, dibayar sama lo Dev, dari duit itu. Kalo yang mau pulang, pulang aja," ucap seseorang di sebrang sana.

"Iya Dit, terus kita harus ngapain? Apa perlu kita ke sana?" tanya Devi.

"Ya mungkin nanti kalo mau ke sini aja dua atau tiga orang biar si bos ada yang jagain. Alena juga lagi sakit di kamar sebelah, dia juga tadi pingsan."

"Lo bisa ceritain dulu kejadiannya nggak?"

"Gue nggak tau, mungkin Sisil nanti, kalau keadaan sekarang sih si bos masih ditangani. Kecelakaannya nggak terlalu parah kayak dulu, kalo darah mungkin bakal butuh yang punya darah B+ kasih donor si Bos dong jangan dari Sisil mulu kasian!"

"Oke makasih Dit, kalo gitu kita diskusikan tentang ini dulu sama Bang Vandra."

"Iya bye."

Devi mematikan handphone-nya. "Gimana, Bang?" tanya Devi pada seseorang yang sedang menghisap rokok di pojok belakang ruangan.

Vandra mengendikkan bahunya. "Yaudah, anggota inti masuk ke ruang rapat, Dev lo pesenin makanan buat mereka nanti gue yang bayar aja, yang punya darah B+ dan mau ngedonorin ikut ke ruang rapat!"

***

Di ruangan rawat Riko, dua orang duduk di kursi yang disediakan, dan dua orang menunggu di luar ruangan sambil bermain game. Sila melihat jari Riko gerak dan mata Riko yang hampir terbuka menyipitkan matanya. Dia menghela napas, ternyata Riko memang sudah sadar.

"Udah bangun lo, kirain mau mati lagi?" ujar Sila

"Kamu udah sadar, kamu inget aku siapa nggak? Kamu ada yang sakit atau pusing? Kamu mau aku panggilin dokter atau kamu—" Ucapan itu terhenti ketika jari Riko menempel di bibir perempuan cantik bawel itu. Dia Alena, pacar Riko.

Sila memutar bola mata malas. "Gue balik, di luar ada Dika sama Adit."

Riko mengangguk. "Harus hati-hati jangan ngebut!" pesan Riko pada Sila.

Alena tersenyum mendengar perhatian pacarnya kepada orang lain. Dia harus positif thinking pada Sila, karena Sila sudah menolong pacarnya. "Makasih Sil udah nolongin pacar gue."

Sila tersenyum ramah. "Sama-sama, inget lo juga jaga kesehatan."

"Iya."

Sila keluar dari ruangan mendapati Dika dan Radit sedang bermain game online. Mereka memberhentikan aktivitasnya ketika melihat Sila keluar. Radit tersenyum, dan Dika menatap Sila datar.

"Gue balik, bentar lagi Vandra ke sini sama Devi."

"Oke, lo hati-hati!" balas Radit, sedangkan Dika masih menatap Sila dengan tatapan tak suka.

Sila melenggang pergi dari sana, dia sudah memesan taksi online dan taksi itu sudah berada di depan rumah sakit, dia pun memasuki taksi itu. Di dalam taksi, Sila terus memainkan handphone-nya. Tiba-tiba suara deringan terdengar, menandakan ada panggilan masuk, bukan telpon biasa melainkan video call terpapar jelas nama kontak 'mine' di panggilan itu.

"Halo Sweety!" Sapa seseorang dengan suara serak khasnya.

"Hay, kamu udah nyampe ya?"

"Belum."

"Kalo belum kok udah bisa vc jangan-jangan ka—."

"Jangan ngada-ngada kamu! Aku udah vc berarti aku udah nyampe, Sayang."

"Maaf kamu nunggu aku ya?"

"Iya lama banget tau."

"Maaf, bentar aku nyuru sopir dulu.”

Gadis itu beralih kepada sang supir taksi. “Mas boleh cepetan nggak nyetirnya, saya lagi buru-buru banget." Sopir segera mengebut, menuruti kemauan Sila.

"Eh-eh, enggak sayang. Aku becanda, aku baru nyampe langsung vc kamu, belum nunggu kok."

"Pokoknya aku nggak bakal biarin kamu nunggu lama."

"Hati-hati sayang jangan sampai kamu kenapa-napa."

"Iya-iya."

Mereka melanjutkan vc tersebut dengan membahas berbagai macam hal random, sampai sopir memberitahu Sila bahwa mereka sudah sampai di Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO). Sila segera masuk ke Bandara menemui seseorang di sana.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asmara Panas JANDA MUDA
8.6
Bayu mengunjungi desa neneknya untuk berlibur, namun perhatiannya justru teralih oleh kehadiran Lina, seorang janda muda yang sangat menawan. Walaupun Bayu telah memiliki kekasih di kota, ia tidak mampu membendung ketertarikan dan hasrat yang mendalam terhadap sosok Lina. Godaan tersebut memicu konflik batin dalam dirinya. Akankah Bayu tetap setia atau justru terjerumus dalam asmara terlarang ini? Simak kelanjutan kisah emosional mereka selengkapnya.
Sampul Novel Balas Dendam Kejam Sang Mantan
9.2
Sepuluh tahun membangun CiptaKarya, aku dikhianati Baskara tepat saat kontrak 800 miliar di depan mata. Di tengah kehamilan, posisiku direbut Saskia, si anak magang, sementara Baskara bersikap dingin. Namun, mereka lupa bahwa algoritma inti perusahaan adalah milikku secara hukum. Aku pun memutuskan pergi dengan menuntut hak penuh. Untuk membalas dendam, aku menghubungi Revan Adriansyah, rival terberat yang kini menjadi sekutu terakhirku.
Sampul Novel Cinta dan Gairah 21+
8.1
Cinta dan Gairah 21+ menyajikan antologi kisah romantis dewasa dengan beragam latar belakang karakter yang memikat. Mulai dari dinamika kehidupan ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pesona CEO dan manajer, setiap cerita dirancang untuk mengeksplorasi sisi emosional yang mendalam. Pembaca akan dibawa melintasi berbagai profesi, termasuk kuli bangunan dan para suami, dalam narasi yang memuaskan fantasi. Nikmati setiap alur cerita unik yang penuh gairah di buku ini.
Sampul Novel Gairah Istri yang Tersembunyi
8.9
Abigail Putri terikat pernikahan paksa demi wasiat sang kakek. Di balik sosoknya yang biasa, ia menyembunyikan identitas profesional yang penuh gairah. Suaminya, seorang psikolog sekaligus CEO penerbitan yang dingin, justru terobsesi pada satu penulis misterius tanpa tahu itu adalah istrinya sendiri. Saat rahasia besar Abigail mulai terancam terbongkar, ia harus bernegosiasi dengan sang suami. Namun, perlindungan atas rahasia tersebut menuntut harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Menantu Tak Diharapkan
7.9
Cakra, seorang yatim piatu, tumbuh besar di bawah asuhan paman dan bibinya yang penuh tekanan. Nasibnya berubah drastis saat sang paman terjerat utang besar kepada keluarga kaya raya. Sebagai jaminan pelunasan, Cakra terpaksa menikahi salah satu putri dari keluarga tersebut. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan baru. Karena perbedaan kasta yang mencolok, ia harus menghadapi sikap dingin serta penolakan keras dari mertua yang membencinya.
Sampul Novel Mengandung Anak Boss
8.3
Siska mencoba peruntungan dengan melamar posisi sekretaris di sebuah perusahaan mewah. Namun, ia justru dihadapkan pada tawaran kontrak yang sangat tidak lazim dari atasannya yang tampan, Arga. Sang bos ternyata mengidap kelainan kesehatan khusus yang mengharuskannya mengonsumsi ASI. Kini, Siska terjebak dalam dilema antara tuntutan profesional dan peran tambahan sebagai penyedia ASI demi memenuhi kebutuhan medis unik dari pimpinan perusahaannya tersebut.