Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel A Whore Mate

A Whore Mate

Layla, Alana, dan Zeline adalah mahasiswi Universitas Pembangunan yang berbagi rumah. Sejak awal, gerak-gerik Zeline yang sering keluar malam memicu kecurigaan Layla. Meski jarang kuliah, nilai Zeline secara misterius melampaui Alana. Rahasia mulai terkuak saat Zeline membiayai pengobatan ayah Layla. Ketegangan memuncak ketika Roger, kekasih Alana, ternyata mengenal Zeline sebagai penyedia jasa pemuas nafsu. Ternyata, selama ini mereka tinggal bersama seorang pelacur.
Bab
Bagikan

Bab 3

Namun jawaban dari Layla barusan cukup untuk membuat dua orang perempuan di dekatnya seketika terdiam tak bergeming. Mereka yang sebelumnya tertawa-tawa seketika ikut prihatin. Apalagi Alana yang tahu betul keadaan keluarga Layla. Perempuan dari keluarga tidak mampu yang sekarang sedang berjuang merubah nasibnya.

Jangankan motor, satu sepeda tua pun masih dipakai bergantian.

“Oh soal itu. Lihat gue deh!” ucap Zeline dengan penuh percaya diri. Tiba-tiba mengambil kunci motor dari saku celananya. Membuka resleting tas kecil yang menggantung di bahunya. Melemparkan kunci dengan boneka Pororo kecil menggantung itu ke dalam tasnya kemudian mengancingkan kembali resleting tasnya.

“Jadi gimana? Mau jalan kapan? Biar adil nih ya kita bertiga jalan bareng. Biar semua tahu kalau tempatnya tuh deket pake banget dari sini. Ya .... kampus di depan sana kan sekitar sepuluh menit. Trus kita ke timur. Ke belakang masjid ini kurang lebih dua lima belas meter jalan kaki mungkin. Jadi gimana? Sepuluh menit ditambah jalan kaki kurang lebih lima belas meter,” tawar Zeline.

Seketika wajah Layla yang tadinya cemas dikungkung perasaan takut sekaligus iri berubah jadi cerah. Menatap Alana yang duduk di sebelahnya. Menyenggol lengannya dengan ujung siku kemudian sama-sama mengangguk.

Siapa juga yang akan menolak penawaran bagus seperti itu. Kapan lagi kuliah dengan biaya transportasi nol rupiah kan?

“Aku setuju sih,” jawab Alana mengangguk. “Kita berangkat sekarang deh. Mumpung masih sore kan. Kalau pun harus bersih-bersih rumah kita masih ada waktu.”

“Mantap,” sahut Zeline sambil mengacungkan jempol. “Lo sendiri Lay? Masih bingung?”

Layla menggeleng tegas sambil tersenyum. “Alana bener sih. Yok lah berangkat sekarang,” jawabnya sambil melucuti mukenanya. Melipatnya kembali dengan rapi memasukkannya ke dalam tas. Hal yang sama dilakukan juga dengan Alana.

Sementara Zeline masih mengacungkan dua jempolnya sambil meringis memamerkan dua gigi kelinci dan lesing pipinya. Betapa bahagianya perempuan itu kini mendapatkan dua sahabat baru.

Sebab tanpa Alana dan Layla tahu, Zeline tak punya satu pun teman di hidupnya. Sebab tanpa Alana dan Layla tahu, Zeline menyimpan satu rahasia besar tentang hidupnya.

“Eh kalian bawa barang banyak ya?” tanya Zeline lagi setelah dua perempuan itu selesai dengan mukenanya.

“Eng–enggak sih, Zel. Cuma ini, satu koper besar milikku sama dua ransel milik Layla. Kenapa emangnya?” tanya Alana balik.

“Em, gini deh biar kalian nggak kerepotan bawa tiga tas sekaligus. Koper Alana tinggal di atas motor gue aja. Nanti biar gue yang bawa pulang sekalian ambil motor. Kalian bawa dua tas punya Layla aja,” usul Zeline. “Tapi pastiin dulu kopernya nggak ada barang berharganya.”

Membuat dua sahabat itu kembali bertatapan, saling kebingungan, saling minta pendapat.

“Emang nggak hilang nanti Zel? Ya walaupun cuma baju kan itu juga berharga namanya,” protes Layla yang kemudian disusul anggukan Alana mendukung pertanyaannya.

“Udah percaya aja deh sama gue. Nggak bakal ilang, gue janji. Orang gue malahan ninggalin motor tuh,” jawab Zeline meyakinkan. Sambil menyusul mereka berdua berdiri. “Bawa dompet handphone sama barang penting aja udah yakin deh sama gue.”

Akhirnya, mau tidak mau mereka mematuhi Zeline.

Lagi pula kalau dipikir-pikir juga akan merepotkan kalau harus menarik koper besar Alana sambil berjalan melewati trotoar. Terlalu merepotkan juga kalau Layla harus membawa dua tasnya sekaligus. Mending mengalah salah satu. Dan harus mereka akui, usul Zeline adalah keputusan terbaik meski berisiko tinggi juga.

Dipikir-pikir tak ada salahnya juga menuruti usul perempuan itu meski ini juga baru pertama mereka bertemu.

Ketiganya kemudian memutuskan memulai langkah pertama perjalanannya. Berjalan menembus pelataran masjid yang tak terlalu luas. Hanya cukup untuk dua baris motor. Pelataran yang sekaligus jadi kawasan parkir.

Kawasan parkir yang sekaligus wahana bermain anak kecil warga sekitar sini.

Langkah ketiganya seperti serampak. Bercakap, bergurau, seperti anak remaja yang beranjak dewasa pada umumnya. Berjalan meniti trotoar tepian jalan raya. Melewati beberapa rumah.

Mereka bertiga layaknya tiga angels di dalam box office movie hollywood yang terkenal itu. Tinggi yang tidak terlalu beda. Ketiganya sama-sama cantik.

Dua wajah oriental dan satu berwajah perpaduan Chinesse. Perbedaan yang mencolok dari ketiganya terlihat di perawakan mereka. Tentu saja selain pakaian yang mereka kenakan.

Layla tak mungkin bisa mengimbangi apa yang Alana kenakan, apalagi yang Zeline pakai. Kemeja yang ia pakai itu saja sudah yang terbaik yang ia punya. Tidak ada yang lebih baik dari itu.

Namun, perawakan Layla lebih bongsor di antara mereka bertiga. Tubuhnya lebih berisi. Lebih padat tidak seramping Alana dan Zeline. Setiap hari mengayuh sepeda tua peninggalan kakeknya. Setiap hari harus berkubang dengan terik matahari membantu bapak dan mamaknya di petak sawah.

Jelas berbeda dengan Alana yang notabene putri semata wayang perangkat desa. Hidup dimanja, bergelimang harta, dan sangat dimanjakan oleh bapaknya. Jangan kan pergi ke sawah, menyapu lantai rumah saja gadis itu tak pernah. Bapaknya punya satu pembantu dan satu tukang kebun di rumah.

Apalagi Zeline, anak kota itu mana pernah melihat sawah di kota ini. Hanya dengan sekilas melihatnya saja semua orang juga tahu kalau gadis itu punya hidup yang glamor. Bahkan sampai satu jerawat pun enggan menempel di wajahnya.

Dari tiga perempuan itu sudah jelas Zeline yang paling cantik. Tapi Layla punya tubuh yang jauh di atas mereka berdua. Buktinya mata laki-laki keranjang yang kebetulan melihat mereka bertiga berjalan menyorot ke arah Layla. Menatap perempuan bertubuh menggoda itu dengan sorot mata yang seakan tak mau lepas.

Meski tertutup, meski jadi satu-satunya wanita yang mengenakan jilbab dan pakaian serba panjang di antara ketiganya.

“Tuh rumah di sebelah, yang pagarnya warna hitam,” tunjuk Zeline setelah dekat dengan tujuan.

Alana buru-buru membuka jam tangannya. Tidak sampai sepuluh menit, hanya sembilan setengah menit lebih sedikit. Bahkan jaraknya dari masjid lebih dekat daripada dari masjid ke kampus. Jika tak ada yang ganjil. Rumah ini adalah pilihan terbaik yang mereka punya. Rumah paling cocok untuk mereka bertiga tempati.

Pagar rumah yang tadinya tidak terlalu tampak kini tergambar sangat jelas. Hanya beberapa langkah lagi untuk sampai. Hingga kemudian Zeline tiba-tiba memekik saat melihat ada mobil yang terparkir.

“Bude?” ucapnya sambil berlari ke arah seorang wanita yang tengah menyapu teras rumah itu.

Sementara perempuan yang dipanggilkan itu seketika kaget. Mengerutkan kening, menyipitkan mata. Tak menyangka dengan seseorang yang dilihat dengan dua mata kepalanya.

Alana yang seakan ingin ikut berlari mengejar Zeline tiba-tiba tertahan. Tangan Layla dengan lembut menarik lengannya. Memutar bola matanya, membuat seketika Alana mengurungkan niatnya untuj menyusul Zeline yang sudah jauh. Sudah lebih dulu masuk pagar berlari ke arah perempuan yang dipanggilnya bude itu.

“Ak–aku punya firasat nggak baik deh,” bisik Layla di daun telinga Alana yang ada di sebelahnya.

Kalimat yang seketika membuat Alana mengerutkan kening. Heran, tak mengerti apa yang dimaksud temannya dari kampung satu ini.

“Soal apa?” bisik Alana balik. Tak berani berbicara lebih keras. Tak ingin dua perempuan yang tengah berpelukan itu mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. “Soal Zeline? Soal budenya? Atau–atau rumah ini?”

Mata Alana tak bisa untuk lepas dari mengamati semua penjuru rumah di depannya ini. Rumah yang tertutup gerbang setinggi hidungnya. Halaman rumah yang masih beralas tanah, tempat mobil sedan keluaran lama parkir. Tempat dipayungi pohon mangga besar yang baru berbunga. Sementara teras rumah yang tak terlalu luas diisi satu meja dengan empat kursi yang ditata melingkar.

“Iya semuanya, Al. Nggak Zeline, nggak budenya, nggak rumah ini,” jawab Layla. “Sumpah? Masa’ kamu nggak ngerasa aneh sama sekali?”

“Iya aneh sih,” balas Alana. Mengusap dua lengan dengan dua telapak tangannya. “Hehehe ... rada angker ya rumahnya, serem.”

“Alana ...!! Ih bukan itu,” pekik Layla sebal. Menepuk jidatnya sendiri. “Soal rumah, rumah ini lebih bagus dari rumahku sendiri. Tapi aku pengen kamu buka mata deh. Ada yang aneh loh sama Zeline.”

Begitu kata terakhir itu keluar dari mulut Layla perempuan yang tengah berbincang dengan budenya itu sesaat menoleh. Sebelum akhirnya membuang muka lagi. Menyorot mata perempuan tua di depannya lagi.

“Ssstttt ...!!! Jangan kenceng-kenceng ntar dia denger. Udah mau magrib tau! Kita nggak bisa cari rumah lain kecuali besok pagi,” sergah Alana sambil mengatupkan jari telunjuk di bibirnya.

Sementara Layla hanya bisa menelan ludah. Membayangkan berbagai hal buruk yang akan menimpa mereka berdua. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Meski pada alasan itu belum cukup menjawab semua kebingungannya.

Sementara di tengah percakapan dua orang perempuan tunggal darah di depan sana.

“Siapa mereka?” tanya Bude Mey. Matanya menyorot tajam ke mata Zeline. Menatap perempuan itu dari atas sampai bawah sambil menahan rasa kesal di dalam hatinya.

“Me–mereka?” balas Zeline, sambil memutar pandangannya ke arah dua orang yang tengah berdiri menunggunya di tepi trotoar.

“Mereka emm ... cuma calon temen kampus Zeline, Bude. Mereka baru datang dari kampung hari ini. Zeline ketemu mereka di masjid tadi,” terang Zeline sebisanya dengan suara yang bergetar takut.

Bude Mey ini satu-satunya orang yang paling ia takuti. Satu-satunya orang yang tahu rahasia besar di dalam hidup Zeline. Sekaligus satu-satunya orang juga yang mau menolong perempuan itu setelah semua keluarga mencampakkannya termasuk bunda dan ayahnya sendiri.

“Lo jangan macem-macem ya sama Bude. Jangan coba-coba bohong sama Bude. Gua bisa hancurin lo orang hanya dengan sekali langkah saja,” balas perempuan itu sambil mendengus kesal. Menyilangkan tangan di dada, menatap perempuan di depan itu. Perempuan yang kini merunduk, mematung, tak berani mengangkat wajahnya.

“Sekarang lo jujur sama Bude, siapa mereka? Mau lo apain mereka berdua? Ohhh ... jadi ini kenapa lo mau banget pinjam rumah Bude? Iya? Ini sebabnya?” ketus perempuan itu lagi. Kali ini dengan muka garang yang tampak sangat kesal dengan Zeline.

Sementara yang bisa dilakukan Zeline hanya bisa menggeleng. “Ak–aku udah bilang Bude. Zeline udah jujur.”

Hanya dua kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya. Itu pun dengan nada bicara yang terbata-bata. Menahan air mata yang pelan tapi pasti mulai merembes dari bola matanya.

“Dengerin! Lo itu kurang enak apa sih? Apa yang belum Bude kasih buat Lo? Lo minta Bude kasih pinjam rumah, silakan. Lo minta Bude kasih pinjam motor, silakan. Lo minta Bude kasih maaf buat kelakuan lo yang kayak binatang itu juga Bude kasih.” Kalimat perempuan itu terpotong.

“Sekarang lo bawa temen kemari. Emang gue nggak bisa mikir bakal lo apain dua perempuan itu, hah? Lo pikir Budemu ini bego? Jawab!” Perempuan yang jauh lebih tua dari Zeline ini kini berkacak pinggang. Menghujani perempuan di depannya dengan berbagai pertanyaan.

“Tolong terima mereka,” jawab Zeline datar. Suaranya dingin seperti tiba-tiba mengintimidasi perempuan di depannya. Seperti tiba-tiba membalikkan posisinya. Balik menyudutkan Bude Mey yang sedari tadi menghakiminya. “Tolong terima mereka. Berapa pun bakal gue bayar asal gue punya teman. Denger?”

Zeline yang sudah tidak tahan akhirnya mengangkat wajahnya. Menatap perempuan gendut di depannya dengan tatapan tajam. Tatapan singa yang baru lepas dari panggung sirkusnya. Tatapan buaya yang kelaparan. Tatapan yang membuat perempuan di depannya itu menelan ludah.

Zeline, kau ini sebenarnya binatang macam apa?

Bersambung ....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GXA" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GXA
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan
9.2
Dunia Asha runtuh saat Raka, suaminya yang model terkenal, menceraikannya demi karier. Pernikahan tiga tahun itu berakhir karena Asha dianggap beban. Di tengah rasa sakit, hadir Rafael Adiwangsa, duda konglomerat sekaligus wali murid di sekolah tempat Asha mengajar. Rafael menawarkan kasih sayang yang jauh berbeda dari masa lalu Asha yang kelam. Mampukah Asha menyembuhkan luka hatinya dan menerima cinta pria berkuasa ini saat dirinya merasa tidak punya apa-apa lagi?
Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Sang Primadona
9.6
Setiap malam, Lucy menyamar sebagai Rose, primadona klub malam yang menggoda namun tetap menjaga kesuciannya meski ditawar mahal. Reputasinya menarik perhatian Rookie, seorang playboy yang terobsesi menaklukkan wanita yang belum pernah menolaknya itu. Namun, pertemuan mereka justru mengungkap rahasia masa lalu yang rumit. Kini, keduanya terjebak antara pilihan untuk merajut kembali cinta lama yang tertunda atau merelakan perasaan demi menjalani hidup masing-masing.
Sampul Novel Fanboy Romantis
8.5
Fayrin adalah aktris sempurna di depan kamera, namun sosok aslinya sangat angkuh dan jauh dari citra dewi yang ia sandang. Kiky sangat menyadari tabiat buruk di balik layar tersebut hingga ia merasa muak. Namun, semakin mengenal sisi kelam Fayrin, kebencian Kiky justru berubah menjadi getaran cinta yang mendalam. Kini, ia bertekad menembus batasan dunia mereka demi mendapatkan hati sang artis, meski tahu betapa sulitnya menyatukan dua realitas yang berbeda.
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire
8.7
Hana terbangun dalam kondisi sangat terkejut saat menyadari ada sosok asing yang tidur di sisinya. Meskipun kesadarannya telah pulih sepenuhnya, ia merasa sangat bingung karena yakin dirinya belum pernah terikat dalam sebuah pernikahan. Kejadian tak terduga ini membuatnya mempertanyakan bagaimana orang asing tersebut bisa berada di ranjang yang sama dengannya. Sebuah misteri besar kini menghantui hidup Hana yang semula tenang dan sederhana.
Sampul Novel Kamu Menidurinya
9.6
Kepercayaan Alia hancur saat memergoki Fahmi berselingkuh dengan seorang psikiater bernama Misella. Dalam kemarahan besar, Alia melabrak mereka dan menuntut penjelasan atas pengkhianatan tersebut. Meski Fahmi bersikeras bahwa hubungan itu hanya kesalahpahaman tanpa kontak fisik, Alia sudah mengetahui kebenaran pahit di balik pertemuan rutin mereka. Baginya, perselingkuhan adalah pilihan sadar, bukan sekadar khilaf yang bisa dimaafkan begitu saja.
Sampul Novel Kurebut Istri Mandul Milikmu
8.2
Tekanan orang tua karena belum hadirnya buah hati membuat Morgan kehilangan kesabaran terhadap istrinya, Fla. Ia berencana menceraikan Fla demi menikahi Ara, adik iparnya sendiri. Fla menolak keras ide tersebut karena enggan berbagi suami dengan adiknya. Meski begitu, Morgan tetap nekat menjalin hubungan gelap dengan Ara di belakang istrinya. Akankah ikatan pernikahan mereka mampu bertahan di tengah pengkhianatan dan konflik keluarga yang pelik ini?