
Your Uncle is My Husband
Bab 2
Perawat itu menunggu jawaban dari kedua orang paruh baya yang ada di depannya itu, dia sudah tidak bisa menunggu lama lai lalu dia kembali bertanya, "Apakah kalian berdua kerabat, Violet? Karena pasien saat ini memerlukan transfusi darah secepatnya."
“Ambil saja darahku,” ucap wanita paruh baya itu yang merupakan ibu dari Violet.
Dia rela jika harus memberikan seluruh darahnya demi keselamatan sang putri, dia tidak ingin kehilangan putri tunggalnya itu yang selalu menemaninya. Seorang putri yang selalu memberikannya kekuatan dan juga kebahagiaan di saat dia sedang merasa lelah dan bersedih.
“Baiklah kalau begitu Ibu bisa ikut dengan saya,” Perawat wanita itu berkata pada sang ibu sembari menunjukkan jalan yang harus dilewati hingga menuju sebuah ruangan untuk mengambil darahnya.
Sedangkan pria paruh baya yang tadi baru saja tiba merupakan ayah dari Violet dan dia memutuskan untuk menunggu di luar. Dia sama sekali tidak sanggup jika harus melihat sang istri harus mengeluarkan darah demi Violet.
Tidak berapa lama sang ibu pun ke luar dari sebuah ruangan setelah perawat itu mengambil beberapa kantung plastik darah. Perawat itu bergegas menuju ruang operasi untuk memberikan darah untuk pasien. Sebelum dia pergi perawat itu pun mengatakan pada sang ibu untuk berdoa dan untuk keberhasilan operasi yang dilakukan oleh dokter pada Violet.
Setelah mendengarkan apa yang diucapkan perawat itu sang ibu pun berjalan menuju sang suami yang masih menunggu di dekat ruang operasi.
“Duduklah kau terlihat pucat,” ucap ayah pada sang istri sembari memapahnya lalu membantunya untuk duduk di atas kursi.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Violet? Aku tidak bisa kehilangannya. Mengapa semua harus terjadi padanya? Apa kau tahu mengapa hingga terjadi kecelakaan ini?” tanya sang ibu pada suaminya yang duduk di sampingnya.
“Aku belum tahu dengan pasti apa yang terjadi tetapi aku akan mencari tahu dan memberitahukannya padamu. Aku harap kau bisa kuat serta yakin jika putri kita akan baik-baik saja,” sambung sang suami pada istrinya guna untuk menenangkannya.
Tiga puluh menit beralu setelah perawat itu mengambil darah dari sang ibu tetapi terasa sangat begitu lama sekali. Sang ibu pun berdiri saat melihat seorang dokter ke luar dari ruangan itu, dia pun langsung berjalan mendekat pada sang dokter begitu juga dengan sang suami.
“Bagaimana keadaan putri kami?” tanya sang ayah pada dokter yang baru saja ke luar dari ruang penanganan.
“Operasinya sudah berhasil dan sekarang kita hanya menunggu hingga putri Anda sadarkan diri,” jawab sang dokter dengan wajah yang terlihat lelah.
Dokter pun mengatakan jika malam ini Violet tidak tersadar maka ada kemungkinan akan mengalami koma. Dia pun menjelaskan semuanya sejelas mungkin pada kedua orang tua Violet dan tidak sedikit pun sang dokter menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
***
Satu minggu berlalu setelah kecelakaan itu terjadi dan berita tentang kecelakaan itu pun sudah tersebar luas di seluruh kota bahkan negeri. Pemberitaan awak media yang membuat semuanya menjadi lebih kacau lagi membuat semua orang merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Violet padahal mereka semua tidak tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi.
“Sayang, apa yang mereka katakan itu semuanya benar?” tanya sang ibu pada Violet yang tengah duduk di ranjang rumah sakit.
“Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak ingat dengan semuanya. Bu, aku ingin berhenti,” jawab Violet dengan nada datar.
Sang ibu merasa sedih dengan apa yang sedang terjadi dengan putrinya itu, dia juga tidak tahu apakah berita yang beredar di media sosial benar atau tidak kebenarannya. Namun, sang ibu percaya penuh dengan putrinya sendiri karena Violet bukan wanita seperti itu.
“Bu, bagaimana keadaan, Anya?” tanya Violet yang masih belum bertemu dengan sahabatnya itu semenjak kecelakaan itu terjadi.
Ibu mengatakan jika saat ini Anya sudah mulai membaik dan dokter juga mengatakan tidak ada hal yang serius dengannya. Sang ibu pun mengatakan Anya sudah ke luar dari rumah sakit dan mungkin sebentar lagi akan tiba untuk mengunjungi Violet.
Setelah sang ibu mengatakan itu tidak begitu lama Anya masuk ke dalam ruang perawatan Violet. Dia terlihat sudah sangat baik dari hari-hari sebelumnya, Anya berjalan mendekat ke arah sang sahabat sembari tersenyum.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Anya pada Violet sembari dudu di sampingnya.
“Aku sudah membaik syukurlah tidak terjadi hal buruk padamu,” jawab Violet.
Anya tersenyum lalu dia memegang tangan sang sahabat dan mengatakan jika lukanya tidak terlalu parah. Sehingga dia bisa sembuh lebih cepat dibandingkan dengan Violet tetapi dia juga bersyukur dengan apa yang dilihatnya saat ini yaitu sang sahabat sudah pulih.
“Ibu, akan keluar dulu dan kalian bicaralah,” ucap sang ibu pada mereka berdua lalu berjalan ke luar dari ruang rawat inap.
Violet terdiam dan dia hanya melihat ke arah televisi yang baru dia nyalakan, dia melihat ada berita yang menyatakan tentang keburukannya. Dia merasa tidak pernah melakukan hal itu dan mengapa semua media mengatakan semua itu sehingga dirinya terlihat sangat buruk.
“Untuk apa kau melihat semua itu,” Anya berkata pada Violet sembari mematikan televisinya.
“Apakah yang mereka katakan itu benar? Apakah aku sudah melakukan hal sehina itu?” tanya Violet pada Anya yang merupakan sahabatnya yang sudah bertahun-tahun ada di dekatnya.
“Apa kau masih belum mengingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu?” Anya balik bertanya pada Violet sebab dia juga tidak tahu sepenuhnya dengan apa yang sudah terjadi kala itu.
Anya hanya tahu sebagian saja masalah itu dan memang semuanya terlihat memojokkan Violet tetapi dia sama sekali tidak percaya akan hal yang diberitakan di media itu. Dia pun berusaha untuk membuat Violet ingat semuanya agar bisa mengklarifikasi semua masalah yang sedang memanas di media sosial.
Violet berkata jika dia sama sekali tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas dan entah mengapa dia tidak ingin mengingat semua itu. Dia merasa jika mengingat semua itu maka hatinya akan semakin sakit dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.
“Pergilah selama beberapa tahun dari Jakarta dan kau bisa kembali saat semuanya sudah tidak memanas lagi bahkan mereka semua melupakanmu,” usul Anya pada Violet karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh Violet saat ini untuk menghindari caci-maki dari orang-orang dan juga kejaran dari awak media.
Violet memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh sang sahabat, dia masih belum bisa pergi dari Jakarta hanya satu hal yaitu sang ibu. Dia tidak ingin sang ibu merasa sedih dan kehilangan atas kepergiannya itu karena dia tahu dengan pasti sang ibu akan bersedih karena kepergiannya dari rumah untuk beberapa tahun.
“Apa aku sanggup meninggalkan ibuku?” jawab Violet.
“Pergilah. Ibu, akan selalu mendoakanmu dan jalani hidupmu dengan bahagia,” ucap sang ibu yang sudah mendengar apa yang diusulkan oleh Anya pada sang putri.
Anda Mungkin Juga Suka





