
Young Master, Please be Dignified
Bab 2
Haruskah semua ini terulang kembali?
Entahlah.
Seorang perempuan muda berdiri di depan pintu kamar besar. Sebuah celah kecil menyalurkan cahaya dalam ruangan ke bagian lorong mansion. Suara rendah bersahutan saling terdengar detik demi detik.
Zhou Zui Yu, perempuan muda itu menatap dingin pada sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan panas. Keduanya adalah tunangannya, sekaligus sahabat masa kecilnya. Ah, salah, mantan sahabat masa kecil.
Alis tipis indahnya yang melengkung, menurun ke bawah sesaat. Lalu kembali ke semula. Seolah-olah bingung, bagaimana dia harus menanggapi?
"Xiao Xiao sangat cantik, kamu hanya milikku, hanya bisa menjadi milikku ... ugh!" Suara rendah lembab dan lengket, keluar dari mulut si pria tampan yang tengah menggagahi perempuan mungil di bawahnya.
Perempuan mungil tersebut memohon beberapa kali agar si pria bersikap lembut. Namun bukannya melembut, pria itu justru semakin brutal dan terus melayangkan kata-kata cinta.
"Gege! Pelan-pelan, ah!"
Di luar kamar, Zhou Zui Yu menatap datar pada dua manusia di sana. Lantas membuka pintu hingga terbuka lebar. Gaun hitamnya berkibar menyapu lantai. Langkah kakinya tidak cepat, tapi juga tidak lambat.
"Yu-Yu'er!" Pria di atas ranjang, Zhang Jing. Ia terkejut, refleks menyembunyikan gadisnya. Dia tidak berharap Zhou Zui Yu akan datang pada saat ini. "Aku-" ucapannya tersela.
Zhou Zui Yu hanya mengangkat satu tangannya, dia berhenti sesampainya ke tepian ranjang. Hidung kecilnya berkerut sesaat oleh aroma amis.
"Hubungan kami berakhir di sini," arah pandangannya tertuju pada Liang Xiao, "Sangat mengagumkan bahwa lubangmu bisa melayani dua pria sekaligus. Bukankah itu sulit?"
Zhang Jing berkata marah atas hinaan tersebut, "Jaga mulutmu! Beraninya kamu mengatai Xiao Xiao!"
"Aku tidak sedang berbicara denganmu, tuan muda." Jawab Zhou Zui Yu santai, lalu kembali pada Liang Xiao. "Kamu sudah merebut tunangan pertamaku, dan sekarang tunangan keduaku. Sepertinya kamu memiliki hobi khusus memungut bekas orang?"
Liang Xiao menangis, mata aprikotnya memerah. Siapapun yang melihatnya akan berbelas kasih. Buktinya adalah Zhang Jing.
Pria itu malah menghina Zhou Zui Yu, "Hah! Pria manapun di dunia ini tidak akan tahan denganmu. Jika bukan karena kami teman bermain, aku tidak ingin bertunangan dengan burung gagak sepertimu!"
Kepalanya sangat pusing karena suara kerasnya.
Zhou Zui Yu tidak terlalu merasakan sakit hati atau sejenisnya setelah semua ini. Mungkinkah dia monster? Atau mesin? Atau bukan keduanya dan justru spesies yang lebih mengerikan?
Zhou Zui Yu tidak tahu, dia telah kehilangan dua sahabat pria, sekaligus dua tunangan. Dan perebutnya adalah sahabat baiknya, Liang Xiao. Selain sahabat masa kecil, mereka juga sepupu karena mendiang Ibu mereka saudari kembar.
Dia pun tidak pernah berpikir, adik perempuan yang dia beri segalanya. Kini mengambil segalanya darinya.
Plak!
"Akh!"
Zhou Zui Yu menampar Liang Xiao, tangannya hanya terayun ringan. Namun kulit putih tipis Xiao Xiao segera memerah dan gadis itu mulai menangis. Zhou Zui Yu menatap telapak tangannya, tadi dia memukulnya sangat ringan, kenapa Xiao Xiao begitu dramatis?
Rasanya tidak ada yang berubah. Masih kosong dan hampa. Pikirnya, dia barusan menampar Xiao Xiao untuk pertama kalinya karena Cai Cai bilang dia harus menampar pelakor. Demi memuaskan hati, tetapi sepertinya itu hanya bohongan ...
"ZHOU ZUI YU!" Zhang Jing lengah, dibuat terkesiap oleh adegan kilat barusan. Pria itu sontak dikuasai amarah, "Bajingan, beraninya kamu memukul Xiao Xiao!" lengan kanannya hendak menampar balik perempuan dingin itu.
Akan tetapi tubuh Zhang Jing berubah kaku akibat suara datar Zhou Zui Yu.
"Ayahku membenci keturunannya diremehkan."
Dan setelahnya, Zhou Zui Yu keluar meninggalkan dua pasangan itu. Berjalan seorang diri menelusuri lorong mansion, untuk sejenak dia berhenti. Berdiri sepi memandang lingkungan gelap di luar.
Iris caramelnya memandang kosong langit malam. Kemudian kembali berjalan meninggalkan mansion megah itu, pergi bersama sopir menuju ke tempat yang selalu dia jadikan rumah.
"Nona ..." sang sopir membawakan payung, karena suasana menandakan akan turun hujan. "Tolong bawa ini, saya tahu anda tidak suka diganggu saat di sini."
Zhou Zui Yu menerima uluran payung berwarna hitam itu. Lalu berterima kasih dengan wajah kosong. Melanjutkan langkah memasuki sebuah pemakaman khusus milik keluarga Zhou.
Perempuan bergaun hitam panjang itu berhenti di salah satu makam, bertuliskan Yu Qing. Ini adalah tempat makam sang ibu.
"A Niang," panggilnya lirih-lirih, suaranya serak, seakan bergetar oleh kesedihan. Tetapi mata caramelnya sangat dingin tanpa satu tetes air mata berjatuhan. "Bagaimana kabar A Niang?"
Hembusan angin datang membawa jawaban. Dengan lembut membelai pipi kemerahan Zhou Zui Yu. Gadis itu lantas menutup mata, membayangkan bahwa Yu Qing datang dan membelai wajahnya.
Zhou Zui Yu duduk di atas rerumputan, bersandar nyaman pada nisan Yu Qing. Sesaat kemudian, jemarinya membelai foto sang ibu. Ada kerinduan yang tertahan, tersembunyi dalam tanpa bisa terekspresikan. "Hari ini, aku menemukan bahwa Jing Gege dan Xiao Meimei berselingkuh."
Rintik hujan mulai berjatuhan, prediksi paman sopir benar. Hujan lebat ternyata turun malam ini.
Zhou Zui Yu meletakkan payung ke samping, tidak berniat melindungi diri dari hujaman derasnya tetesan air langit. Ia sibuk bersandar pada nisan Yu Qing dan menutup mata, seakan beristirahat.
Tahun ini usianya baru 20 tahun. Bila dihitung, maka sudah 18 tahun lamanya dia hidup tanpa pengawalan Yu Qing sebagai ibu. Dan selama itu pula, dia hidup seperti tikus mati di rumahnya sendiri. Semua dia lakukan karena ayah dan kakak laki-lakinya membencinya.
Dialah penyebab Yu Qing meninggal dunia. Seandainya Yu Qing tidak bersikeras melahirkannya, mungkin kediaman Zhou akan diberkati dengan kebahagiaan.
Zhou Zui Yu memiliki banyak julukan. Seperti anak pembawa sial, monster yang membunuh ibunya sendiri, sekaligus burung gagak memalukan dari kediaman Zhou.
Selama 18 tahun, dia hidup dalam bayang-bayang. Bergerak selayaknya boneka yang dikendalikan. Hingga, terpaksa membunuh perasaannya sendiri sejak kecil karena ayah tidak suka anak merepotkan.
Inilah hasilnya, dia yang sekarang. Zhou Zui Yu terlalu menahan diri, mengasingkan diri, dan berusaha menyamarkan kehadirannya semaksimal mungkin. Sampai-sampai dia bingung, apakah dia manusia atau seorang hantu?
Zhou Zui Yu lelah, dia ingin tidur. Meskipun suhu lingkungan sangat dingin, dia tidak menggigil sama sekali. Ia suka hujan dan malam, karena keduanya bisa memberikan perasaan dingin yang anehnya terasa nyaman.
Akhirnya, dia menghabiskan waktu sekitar dua jam bersama makam Yu Qing. Baru kemudian kembali ke kediaman Zhou. Ia pikir dia bisa pergi ke kamar dan tidur, sayangnya takdir berkata lain.
"Kemana saja kamu?" suara berat datang dari arah anak tangga. Seorang pria paruh baya berjalan menuruni setiap undakan seraya memeluk seorang gadis muda familier. "Sekarang jelaskan padaku, kenapa tangan kotormu berani mendarat di wajah Xiao Xiao?"
Zhou Lu-dialah penguasa mansion ini. Sekaligus ayah biologis dari Zhou Zui Yu. Tampak luarnya memang begitu, tetapi dalamnya berbeda. Karena Zhou Lu lebih mencintai Xiao Xiao seperti putri kandungnya, dari pada mencintai Zhou Zui Yu.
"Ayah, saya-"
Plak!
Paras mungil Zhou Zui Yu seketika menoleh ke samping akibat tamparan keras barusan.
Gadis itu menatap ubin lantai dengan dingin, rasanya memang sakit. Namun ini adalah hal biasa. Bahkan sudut bibirnya robek, Zui Yu kembali berdiri tegak, "Xiao Xiao berselingkuh dengan Zhang Jing. Saya hanya memberinya pelajaran."
"Lancang!"
Plak!
Tamparan kedua berhasil membuat tubuh ramping Zhou Zui Yu jatuh ke atas lantai dingin. Bahu kecilnya bergetar, sakit. Bibirnya mengeluarkan banyak darah akibat sobek. Ia mendongak, iris caramel dinginnya menatap Zhou Lu.
"Tutup matamu yang menjijikkan!" Sentak Zhou Lu, berusaha menampar putrinya sekali lagi.
Namun ditahan oleh Xiao Xiao, gadis muda itu memeluk Zhou Lu, berkata sedih, "Paman, jangan ... jangan pukul kakak lagi. Itu memang salahku ... aku datang kemari karena ingin meminta maaf kepada kakak. Aku bersalah, tetapi aku dan Jing Gege saling mencintai. Kami saling mencintai ... Jing Gege bilang dia tidak bisa menikahi kakakku ... aku-aku ..."
Zhou Lu berubah lunak karena tangisan Xiao Xiao. Pria itu mendengus sebelum menatap tajam pada Zui Yu yang terduduk di atas lantai, "Jika Zhang Jing berselingkuh, itu karena salahmu sendiri! Jadi hiduplah seolah kamu mati, jangan membuat kekacauan atau melukai Xiao Xiao sekali lagi!"
Pria paruh baya tersebut pergi sembari merengkuh lembut bahu bergetar Xiao Xiao. Bersikap seperti seorang ayah baik hati dan penyayang. Tapi, bagaimana dengannya?
Ia tidak berhak meminta apa pun. Karena statusnya di mansion ini adalah pembunuh.
Zhou Zui Yu berusaha bangun, rasa anyir memasuki lidahnya. Ah, ini darahnya. Bibirnya tadi robek cukup dalam berkat tamparan keras Zhou Lu.
"Nona!" Cai Cai berlari mendekat dengan wajah memerah menahan tangisan. Kedua tangannya bergetar saat melihat separuh wajah nonanya berlumuran darah. "Nona ... anda terluka ..."
Zhou Zui Yu tertunduk dalam, berbisik lemah, "Tidak sakit, jangan menangis."
Dia tidak berhak mengeluhkan tentang hidupnya. Sekalipun dia sakit, sekarat, atau bahkan mati, itu tidak akan berpengaruh pada Zhou Lu, Zhou Fan, dan mansion Zhou. Jadi, dia tidak bisa mengganggu siapapun hanya karena luka kecil.
Anda Mungkin Juga Suka





