
Young Master, Please be Dignified
Bab 3
Cai Cai membersihkan seluruh tubuh Zhou Zui Yu, kemudian pamit undur diri setelah semuanya beres. Menyisakkan majikannya seorang diri di dalam kamar.
Gadis itu mendekati kaca jendela lebar di sisi kamar, duduk di kursi santai setelahnya. Untuk sementara waktu, Zhou Zui Yu hanya diam. Sibuk menatapi tenangnya langit malam.
"A Niang ..." panggilnya disela-sela kesesakan yang menelan dada. Iris caramelnya menatap sebuah boneka kecil yang mirip seperti Yu Qing.
Jemarinya sibuk membelai wajah boneka tersebut. Seolah berusaha keras menggali kenangan indah masa lalu. Tepat ketika Yu Qing masih hidup, dan keluarga Zhou masih berbahagia.
Berbahagia?
Atau tidak?
Zhou Zui Yu mengalami tekanan dari Zhou Lu sedari kecil. Ramai orang berkata bahwa Zhou Lu mencintainya, barulah membenci ketika Yu Qing meninggal.
Karena berpikir putrinya penyebab perempuan terkasihnya mati.
Zhou Zui Yu pun memiliki potret keluarga saat usianya baru satu tahun. Ia masih menyimpannya.
Ya, dia menyimpannya.
Dengan melayangkan sedikit harapan disetiap malam, bahwa Zhou Lu akan menoleh padanya walau sesaat.
Lengan rampingnya yang hampir tidak memiliki daging, meraih bingkai foto dari atas meja di sebelah.
Lalu memandangnya lama, detik berikutnya berkata kebingungan, "Mengapa Tuhan menciptakan cinta? Cinta membawakan penderitaan."
Zhou Zui Yu tidak paham, dia tidak mengerti sama sekali. Bahkan kenangan tentang Yu Qing, dia biasa mendengarnya dari pengasuh lama. Sedangkan kenangan pribadinya sendiri telah mengabur.
Pengasuh berkata, Yu Qing sangat mencintainya. Seberapa sering beliau kesakitan pasca melahirkan, cinta murni Yu Qing pada putrinya tidak berkurang sedikit pun.
Di sinilah Zhou Zui Yu menemui jalan buntu. Kenapa ada manusia yang rela mencintai tanpa meminta imbalan?
Zhou Lu mencintai Yu Qing, dan setelah istrinya meninggal dunia, Zhou Lu menderita. Melimpahkan kesalahan pada putrinya kemudian lepas tanggung jawab.
Jadi, bukankah cinta hanya membawa petaka dan penderitaan? Entahlah. Zhou Zui Yu bahkan tidak memahami kasih sayang, apalagi cinta.
"Kamu di sini rupanya," suara rendah sedikit dingin datang dari arah pintu kamar. Sosok Zhou Fan berdiri menjulang tinggi di ambang pintu. "Aku dengar, barusan ayah menamparmu lagi."
Zhou Zui Yu tanpa ekspresi segera angguk kepala, kemudian tertunduk memandangi bingkai foto sebelum kembali menaruhnya. Ia mendongak, "Kakak ingin memukuli saya juga?"
"Kamu pikir aku sebajingan dia?" nada congkak dengan kesombongan alami keluar dari mulut pemuda itu. "Aku memang membencimu, tapi aku tidak terlalu bodoh."
Zhou Fan lantas berjalan lebih jauh, duduk di tepi ranjang sang adik. Kedua tangannya tersilang didada. Iris caramelnya mirip seperti milik Zhou Zui Yu. Kini sedang menatap rendah adiknya, "Kemarilah."
Zhou Zui Yu berkedip polos. Namun tetap beranjak, mendekati Zhou Fan dan berdiri di depannya. Wajah cantiknya masih pucat. Dan ketika jemari panjang Zhou Fan mencengkeram pipinya, Zui Yu meringis.
Tetapi tidak ada suara rintih kesakitan, lagi-lagi Zui Yu menahannya.
"Beruntung tidak mati, lain kali jangan membuat keributan," tukasnya sembari menepis wajah Zui Yu ke samping. Setelahnya, Zhou Fan bangkit. Sebelum pergi, dia berkata apatis, "Lebih baik bersikaplah jinak jika ingin terus hidup."
"Baik kakak, maafkan saya." Zhou Zui Yu menundukkan kepalanya sopan. Bertindak formal karena Zhou Lu dan Zhou Fan yang memintanya. "Perlu saya antarkan sampai ke kamar kakak?"
"Tidak, aku benci wajahmu yang menjijikkan."
"Ya, kakak. Maaf."
Kehadiran Zhou Fan hilang begitu melintasi pintu. Zhou Zui Yu menutup pintunya sendiri, kemudian berjalan ke ranjang untuk beristirahat.
Hari ini sangat melelahkan. Zui Yu ingin tidur dan beristirahat.
***
"Bangun!"
"Ugh!" Zhou Zui Yu melenguh kedinginan. Seluruh saraf tubuhnya terkejut akibat sensasi super dingin barusan. Ia mendongak pada Zhou Lu, "Ayah, mengapa anda-ah!" Kalimatnya belum terselesaikan karena rambut panjangnya ditarik.
"Tuanku, nona kesakitan! Tuanku!" Cai Cai tidak bisa berbuat apa pun selain berteriak. Kedua tangannya di tahan oleh pelayan lain.
Sepasang matanya memerah melihat Zui Yu diperlakukan semena-mena. "Tuanku! Mohon jangan sakiti nona lagi! Nyonya juga akan sedih ketika putrinya yang dicintai terluka!"
Pundak Zhou Lu tersentak lalu bergetar sepersekian detik. Pria paruh baya itu menoleh ke belakang, mendesis kejam, "Jangan coba-coba menggunakan nama istriku. Kalau bukan karenanya, aku akan membunuhmu dari lama."
Zhou Zui Yu bergetar, tubuhnya menggigil karena siraman air dingin. Dengan putus asa dia menggeleng lemah, menahan rasa sakit dari tarikan Zhou Lu. "Hukum saya, jangan hukum Cai Cai ... uh!"
Zhou Lu menarik rambut putrinya semakin keras, mendekatnya wajah keduanya. Pria tersebut tersenyum sinis, "Apa aku memintamu angkat suara?"
"Tidak ... maafkan saya." Jawaban lirih Zui Yu berikan, ia melanjutkan dengan cicitan kecil, "Saya bersalah. Anda bisa menghukum saya seorang diri."
"Nona!" Berteriak lagi, Cai Cai menggeleng. Wajah kecilnya berderai air mata. Mengapa nonanya harus menerima banyak kerugian di hidupnya? Yu Qing melahirkan nona untuk dicintai oleh semua orang!
Zhou Zui Yu memberikan sinyal bahwa dia baik-baik saja meski itu hanya kebohongan.
Perempuan itu terseret keluar dengan rambut ditarik, melintasi lorong mansion. Para pelayan berbisik-bisik melihat kekejaman Zhou Lu yang sudah umum.
Langkah kaki Zui Yu lunglai, beberapa kali hampir jatuh terjerembap. Tubuhnya belum stabil, dia baru bangun tidur, dan bahkan disiram oleh air dingin. Sekeras apa pun tekadnya, tubuhnya tetap melemah.
"Ayah-"
"Tutup mulutmu!"
"Rambut saya sakit, ayah-"
"Sudah aku bilang tutup mulut kotormu!"
Plak!
Sekarang, Zui Yu benar-benar terhuyung kemudian jatuh cukup keras ke atas lantai. Lengan kurusnya bergetar kala menopang tubuhnya sendiri. Gadis itu sangat berantakan dan kacau.
Sedangkan Zhou Lu bahkan tidak memberikan nafas walau sesaat. Segera menarik putrinya lagi menuju kamar Liang Xiao, memaksa Zui Yu berlutut meminta maaf.
Hanya karena Liang Xiao demam setelah ditampar, Zhou Lu tanpa ampun menarik putrinya sendiri, hingga menamparnya jua.
Zhou Zui Yu meminta maaf sembari berlutut keras. Ia pikir semua akan selesai, namun ternyata tidak. Zhou Lu terus menariknya ke ruangan bawah tanah, sesuatu yang teramat ditakuti oleh Zui Yu.
"Ayah!" Teriakan pilu Zui Yu tak dihiraukannya. Gadis muda itu memohon berkali-kali. Tempat ini adalah ruang hukuman Zhou Lu untuk menyiksa Zui Yu. Dan Zui Yu sangat takut pada ruangan ini, hingga meninggalkan sejumlah trauma.
Splash!
Splash!
Splash!
"Ayah ... ayah ... saya mohon ... sakit, sangat sakit. Maafkan saya ... akh!"
"Bukankah aku sudah bilang?! Hiduplah seperti orang mati dan jangan berani mengganggu Xiao Xiao!"
"Maaf ... maafkan saya ... maafkan saya ..."
"Dasar anak pembawa sial! Seharusnya Yu Qing tidak melahirkanmu! Karena kamu, istriku mati!"
Zhou Zui Yu merintih, memohon, dan berteriak ketakutan. Dia sangat takut. Ruangan tersebut begitu lembab, temaram, dan berbau tanah pengar yang membuatnya terus menggigil.
Ia tidak pernah menangis, kecuali saat tersiksa di ruangan ini.
Dari kecil, dia terus menangis memohon ampun agar tidak dihukum. Namun Zhou Lu bagaikan orang buta serta tuli, tidak mendengarkan tangisan atau permohonan putrinya sampai akhir.
Hukuman biasanya berlangsung lima belas menit, tetapi kali ini Zhou Lu sangat marah. Sehingga setelah tiga puluh menit, pria paruh baya itu baru puas. Kemudian melemparkan pecutnya.
Beralih mendekati putrinya yang terikat, Zhou Lu lantas menarik rambutnya sekali lagi. Mengancam marah, "Di masa depan, hukumannya tidak akan seringan ini. Karena tampaknya, aku kurang keras padamu sampai tangan kotormu berani menyentuh Liang Xiao!"
Ringan?
Hukumannya meringan?
Apakah Zhou Lu seorang iblis?
Zhou Zui Yu kehabisan tenaga, kepalanya bergoyang ketika surai hitamnya dijambak. Wajah cantiknya lebam dan berdarah akibat pukulan Zhou Lu, bahkan mata kirinya kesulitan terbuka.
Paling parah adalah gaun tidur putih yang dia kenakan. Seluruh kainnya menunjukkan jejak darah karena bekas pecutan.
Dia menangis tanpa suara. Seakan-akan takut, apabila dia menangis keras, Zhou Lu bisa saja terganggu dan bertindak lebih jauh.
"Matamu selalu menjijikkan, lebih baik kamu yang mati dan bukan Yu Qing!" Bentaknya diikuti jambakan yang semakin kuat. "Kenapa? Kenapa Yu Qing lebih memilihmu dari pada aku!"
Siapa tahu?
Zhou Zui Yu juga tidak ingin dilahirkan bila akhirnya hanya untuk menderita.
Di mana kesalahannya?
Anak-anak tidak bisa memilih orang tua mereka, tetapi orang tua bisa memilih anak-anak mereka.
Lantas, kuasa istimewa apa yang Zui Yu miliki untuk bisa memilih? Ia dilahirkan karena cinta Yu Qing, bukan karena pilihannya sendiri.
"Bunuh saya."
Zhou Lu yang melenggang pergi, berdiri kaku di dekat pintu keluar. Berbalik lagi untuk menatap putrinya yang kacau dan terluka. Ia berujar marah, "Nyawamu adalah milikku! Kematian instan terlalu murah hati untukmu!"
"Lalu saya harus mati dengan cara apa agar tidak terlalu murah hati bagi anda?" Bertanya kosong, Zhou Zui Yu menatap tanah kotor di bawah. Suara seraknya terdengar putus-putus, "Beri tahu saya, cara mati dengan kejam. Sehingga anda bisa puas dan dendam anda terbalaskan."
"Tutup mulutmu!"
"Haruskah saya membakar diri saya hidup-hidup?"
"Zhou Zui Yu!"
"Atau haruskah saya memotong-motong tubuh saya sendiri dan menyerahkan kepala saya kepada anda?" Di akhir kata, hatinya terasa sangat nyeri. Begitu sakit, seolah seseorang menarik keluar hatinya secara paksa. Perasaan apa ini? Inikah rasa kesedihan dan keputusasaan?
Ah, sepertinya benar.
Zhou Zui Yu kembali menangis, susah payah mendongak menatap Zhou Lu di kejauhan. Pupil terangnya tergenang oleh air mata, sudut bibirnya terangkat.
Memunculkan senyuman yang telah lama dia latih karena Cai Cai bilang dia harus berlatih senyum yang lebih tulus.
Sudahkah benar, caranya tersenyum?
Ya, Zhou Zui Yu berhasil tersenyum menggunakan hatinya. Bukan senyuman formal dingin yang memuakkan.
Zui Yu tersenyum putus asa bersamaan deraian air mata berjatuhan, dia memohon kematian dengan bahagia. Seakan itulah tujuan hidupnya, "Bunuh saya, ayah. Bunuh saya dan hiduplah bahagia bersama Liang Xiao. Biarkan petaka ini pergi dari Zhou selamanya ..."
Anda Mungkin Juga Suka





