Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Young Master, Please be Dignified

Young Master, Please be Dignified

Dijuluki sebagai 'Burung Gagak', Zhou Zui Yu dikenal penyendiri hingga dua kali gagal menikah karena dianggap membosankan. Saat reputasinya hancur, Ming Yu, seorang tuan muda terhormat dari negara tetangga, justru datang melamarnya secara mengejutkan. Meski ditolak mentah-mentah, Ming Yu enggan menyerah. Ia rela mengesampingkan martabat dan status mulianya demi meluluhkan hati Zui Yu yang telah membatu dalam kisah romansa dewasa yang penuh perjuangan ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Cai Cai membersihkan seluruh tubuh Zhou Zui Yu, kemudian pamit undur diri setelah semuanya beres. Menyisakkan majikannya seorang diri di dalam kamar.

Gadis itu mendekati kaca jendela lebar di sisi kamar, duduk di kursi santai setelahnya. Untuk sementara waktu, Zhou Zui Yu hanya diam. Sibuk menatapi tenangnya langit malam.

"A Niang ..." panggilnya disela-sela kesesakan yang menelan dada. Iris caramelnya menatap sebuah boneka kecil yang mirip seperti Yu Qing.

Jemarinya sibuk membelai wajah boneka tersebut. Seolah berusaha keras menggali kenangan indah masa lalu. Tepat ketika Yu Qing masih hidup, dan keluarga Zhou masih berbahagia.

Berbahagia?

Atau tidak?

Zhou Zui Yu mengalami tekanan dari Zhou Lu sedari kecil. Ramai orang berkata bahwa Zhou Lu mencintainya, barulah membenci ketika Yu Qing meninggal.

Karena berpikir putrinya penyebab perempuan terkasihnya mati.

Zhou Zui Yu pun memiliki potret keluarga saat usianya baru satu tahun. Ia masih menyimpannya.

Ya, dia menyimpannya.

Dengan melayangkan sedikit harapan disetiap malam, bahwa Zhou Lu akan menoleh padanya walau sesaat.

Lengan rampingnya yang hampir tidak memiliki daging, meraih bingkai foto dari atas meja di sebelah.

Lalu memandangnya lama, detik berikutnya berkata kebingungan, "Mengapa Tuhan menciptakan cinta? Cinta membawakan penderitaan."

Zhou Zui Yu tidak paham, dia tidak mengerti sama sekali. Bahkan kenangan tentang Yu Qing, dia biasa mendengarnya dari pengasuh lama. Sedangkan kenangan pribadinya sendiri telah mengabur.

Pengasuh berkata, Yu Qing sangat mencintainya. Seberapa sering beliau kesakitan pasca melahirkan, cinta murni Yu Qing pada putrinya tidak berkurang sedikit pun.

Di sinilah Zhou Zui Yu menemui jalan buntu. Kenapa ada manusia yang rela mencintai tanpa meminta imbalan?

Zhou Lu mencintai Yu Qing, dan setelah istrinya meninggal dunia, Zhou Lu menderita. Melimpahkan kesalahan pada putrinya kemudian lepas tanggung jawab.

Jadi, bukankah cinta hanya membawa petaka dan penderitaan? Entahlah. Zhou Zui Yu bahkan tidak memahami kasih sayang, apalagi cinta.

"Kamu di sini rupanya," suara rendah sedikit dingin datang dari arah pintu kamar. Sosok Zhou Fan berdiri menjulang tinggi di ambang pintu. "Aku dengar, barusan ayah menamparmu lagi."

Zhou Zui Yu tanpa ekspresi segera angguk kepala, kemudian tertunduk memandangi bingkai foto sebelum kembali menaruhnya. Ia mendongak, "Kakak ingin memukuli saya juga?"

"Kamu pikir aku sebajingan dia?" nada congkak dengan kesombongan alami keluar dari mulut pemuda itu. "Aku memang membencimu, tapi aku tidak terlalu bodoh."

Zhou Fan lantas berjalan lebih jauh, duduk di tepi ranjang sang adik. Kedua tangannya tersilang didada. Iris caramelnya mirip seperti milik Zhou Zui Yu. Kini sedang menatap rendah adiknya, "Kemarilah."

Zhou Zui Yu berkedip polos. Namun tetap beranjak, mendekati Zhou Fan dan berdiri di depannya. Wajah cantiknya masih pucat. Dan ketika jemari panjang Zhou Fan mencengkeram pipinya, Zui Yu meringis.

Tetapi tidak ada suara rintih kesakitan, lagi-lagi Zui Yu menahannya.

"Beruntung tidak mati, lain kali jangan membuat keributan," tukasnya sembari menepis wajah Zui Yu ke samping. Setelahnya, Zhou Fan bangkit. Sebelum pergi, dia berkata apatis, "Lebih baik bersikaplah jinak jika ingin terus hidup."

"Baik kakak, maafkan saya." Zhou Zui Yu menundukkan kepalanya sopan. Bertindak formal karena Zhou Lu dan Zhou Fan yang memintanya. "Perlu saya antarkan sampai ke kamar kakak?"

"Tidak, aku benci wajahmu yang menjijikkan."

"Ya, kakak. Maaf."

Kehadiran Zhou Fan hilang begitu melintasi pintu. Zhou Zui Yu menutup pintunya sendiri, kemudian berjalan ke ranjang untuk beristirahat.

Hari ini sangat melelahkan. Zui Yu ingin tidur dan beristirahat.

***

"Bangun!"

"Ugh!" Zhou Zui Yu melenguh kedinginan. Seluruh saraf tubuhnya terkejut akibat sensasi super dingin barusan. Ia mendongak pada Zhou Lu, "Ayah, mengapa anda-ah!" Kalimatnya belum terselesaikan karena rambut panjangnya ditarik.

"Tuanku, nona kesakitan! Tuanku!" Cai Cai tidak bisa berbuat apa pun selain berteriak. Kedua tangannya di tahan oleh pelayan lain.

Sepasang matanya memerah melihat Zui Yu diperlakukan semena-mena. "Tuanku! Mohon jangan sakiti nona lagi! Nyonya juga akan sedih ketika putrinya yang dicintai terluka!"

Pundak Zhou Lu tersentak lalu bergetar sepersekian detik. Pria paruh baya itu menoleh ke belakang, mendesis kejam, "Jangan coba-coba menggunakan nama istriku. Kalau bukan karenanya, aku akan membunuhmu dari lama."

Zhou Zui Yu bergetar, tubuhnya menggigil karena siraman air dingin. Dengan putus asa dia menggeleng lemah, menahan rasa sakit dari tarikan Zhou Lu. "Hukum saya, jangan hukum Cai Cai ... uh!"

Zhou Lu menarik rambut putrinya semakin keras, mendekatnya wajah keduanya. Pria tersebut tersenyum sinis, "Apa aku memintamu angkat suara?"

"Tidak ... maafkan saya." Jawaban lirih Zui Yu berikan, ia melanjutkan dengan cicitan kecil, "Saya bersalah. Anda bisa menghukum saya seorang diri."

"Nona!" Berteriak lagi, Cai Cai menggeleng. Wajah kecilnya berderai air mata. Mengapa nonanya harus menerima banyak kerugian di hidupnya? Yu Qing melahirkan nona untuk dicintai oleh semua orang!

Zhou Zui Yu memberikan sinyal bahwa dia baik-baik saja meski itu hanya kebohongan.

Perempuan itu terseret keluar dengan rambut ditarik, melintasi lorong mansion. Para pelayan berbisik-bisik melihat kekejaman Zhou Lu yang sudah umum.

Langkah kaki Zui Yu lunglai, beberapa kali hampir jatuh terjerembap. Tubuhnya belum stabil, dia baru bangun tidur, dan bahkan disiram oleh air dingin. Sekeras apa pun tekadnya, tubuhnya tetap melemah.

"Ayah-"

"Tutup mulutmu!"

"Rambut saya sakit, ayah-"

"Sudah aku bilang tutup mulut kotormu!"

Plak!

Sekarang, Zui Yu benar-benar terhuyung kemudian jatuh cukup keras ke atas lantai. Lengan kurusnya bergetar kala menopang tubuhnya sendiri. Gadis itu sangat berantakan dan kacau.

Sedangkan Zhou Lu bahkan tidak memberikan nafas walau sesaat. Segera menarik putrinya lagi menuju kamar Liang Xiao, memaksa Zui Yu berlutut meminta maaf.

Hanya karena Liang Xiao demam setelah ditampar, Zhou Lu tanpa ampun menarik putrinya sendiri, hingga menamparnya jua.

Zhou Zui Yu meminta maaf sembari berlutut keras. Ia pikir semua akan selesai, namun ternyata tidak. Zhou Lu terus menariknya ke ruangan bawah tanah, sesuatu yang teramat ditakuti oleh Zui Yu.

"Ayah!" Teriakan pilu Zui Yu tak dihiraukannya. Gadis muda itu memohon berkali-kali. Tempat ini adalah ruang hukuman Zhou Lu untuk menyiksa Zui Yu. Dan Zui Yu sangat takut pada ruangan ini, hingga meninggalkan sejumlah trauma.

Splash!

Splash!

Splash!

"Ayah ... ayah ... saya mohon ... sakit, sangat sakit. Maafkan saya ... akh!"

"Bukankah aku sudah bilang?! Hiduplah seperti orang mati dan jangan berani mengganggu Xiao Xiao!"

"Maaf ... maafkan saya ... maafkan saya ..."

"Dasar anak pembawa sial! Seharusnya Yu Qing tidak melahirkanmu! Karena kamu, istriku mati!"

Zhou Zui Yu merintih, memohon, dan berteriak ketakutan. Dia sangat takut. Ruangan tersebut begitu lembab, temaram, dan berbau tanah pengar yang membuatnya terus menggigil.

Ia tidak pernah menangis, kecuali saat tersiksa di ruangan ini.

Dari kecil, dia terus menangis memohon ampun agar tidak dihukum. Namun Zhou Lu bagaikan orang buta serta tuli, tidak mendengarkan tangisan atau permohonan putrinya sampai akhir.

Hukuman biasanya berlangsung lima belas menit, tetapi kali ini Zhou Lu sangat marah. Sehingga setelah tiga puluh menit, pria paruh baya itu baru puas. Kemudian melemparkan pecutnya.

Beralih mendekati putrinya yang terikat, Zhou Lu lantas menarik rambutnya sekali lagi. Mengancam marah, "Di masa depan, hukumannya tidak akan seringan ini. Karena tampaknya, aku kurang keras padamu sampai tangan kotormu berani menyentuh Liang Xiao!"

Ringan?

Hukumannya meringan?

Apakah Zhou Lu seorang iblis?

Zhou Zui Yu kehabisan tenaga, kepalanya bergoyang ketika surai hitamnya dijambak. Wajah cantiknya lebam dan berdarah akibat pukulan Zhou Lu, bahkan mata kirinya kesulitan terbuka.

Paling parah adalah gaun tidur putih yang dia kenakan. Seluruh kainnya menunjukkan jejak darah karena bekas pecutan.

Dia menangis tanpa suara. Seakan-akan takut, apabila dia menangis keras, Zhou Lu bisa saja terganggu dan bertindak lebih jauh.

"Matamu selalu menjijikkan, lebih baik kamu yang mati dan bukan Yu Qing!" Bentaknya diikuti jambakan yang semakin kuat. "Kenapa? Kenapa Yu Qing lebih memilihmu dari pada aku!"

Siapa tahu?

Zhou Zui Yu juga tidak ingin dilahirkan bila akhirnya hanya untuk menderita.

Di mana kesalahannya?

Anak-anak tidak bisa memilih orang tua mereka, tetapi orang tua bisa memilih anak-anak mereka.

Lantas, kuasa istimewa apa yang Zui Yu miliki untuk bisa memilih? Ia dilahirkan karena cinta Yu Qing, bukan karena pilihannya sendiri.

"Bunuh saya."

Zhou Lu yang melenggang pergi, berdiri kaku di dekat pintu keluar. Berbalik lagi untuk menatap putrinya yang kacau dan terluka. Ia berujar marah, "Nyawamu adalah milikku! Kematian instan terlalu murah hati untukmu!"

"Lalu saya harus mati dengan cara apa agar tidak terlalu murah hati bagi anda?" Bertanya kosong, Zhou Zui Yu menatap tanah kotor di bawah. Suara seraknya terdengar putus-putus, "Beri tahu saya, cara mati dengan kejam. Sehingga anda bisa puas dan dendam anda terbalaskan."

"Tutup mulutmu!"

"Haruskah saya membakar diri saya hidup-hidup?"

"Zhou Zui Yu!"

"Atau haruskah saya memotong-motong tubuh saya sendiri dan menyerahkan kepala saya kepada anda?" Di akhir kata, hatinya terasa sangat nyeri. Begitu sakit, seolah seseorang menarik keluar hatinya secara paksa. Perasaan apa ini? Inikah rasa kesedihan dan keputusasaan?

Ah, sepertinya benar.

Zhou Zui Yu kembali menangis, susah payah mendongak menatap Zhou Lu di kejauhan. Pupil terangnya tergenang oleh air mata, sudut bibirnya terangkat.

Memunculkan senyuman yang telah lama dia latih karena Cai Cai bilang dia harus berlatih senyum yang lebih tulus.

Sudahkah benar, caranya tersenyum?

Ya, Zhou Zui Yu berhasil tersenyum menggunakan hatinya. Bukan senyuman formal dingin yang memuakkan.

Zui Yu tersenyum putus asa bersamaan deraian air mata berjatuhan, dia memohon kematian dengan bahagia. Seakan itulah tujuan hidupnya, "Bunuh saya, ayah. Bunuh saya dan hiduplah bahagia bersama Liang Xiao. Biarkan petaka ini pergi dari Zhou selamanya ..."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KFB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KFB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bersinar Setelah Menjanda
9.0
Irfan meremehkan Amira dengan menyebutnya tidak berdaya tanpa dirinya. Namun, takdir berputar saat Amira berhasil meraih kesuksesan besar, sementara Irfan terjebak dalam keterpurukan. Kini, sang mantan suami kembali datang mencoba merayu dan memenangkan hatinya lagi. Akankah Amira terjatuh ke lubang yang sama, atau justru membiarkan Irfan menderita dalam penyesalan? Saksikan perjuangan emosional Amira untuk bangkit dan membuktikan harga dirinya.
Sampul Novel (Bukan) Pernikahan Impian
9.8
Dara terjebak dalam dilema besar saat keluarganya terus menuntut agar ia segera mengakhiri masa lajangnya. Demi menghindari perjodohan paksa yang diatur orang tuanya, ia harus segera menemukan solusi instan. Di sisi lain, Alfan adalah seorang duda yang berjuang membesarkan putri kecilnya sendirian setelah kepergian sang istri. Demi memberikan sosok ibu bagi anaknya, Alfan pun mengajak Dara memulai pernikahan yang berawal dari sebuah kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
8.5
Maya Syaqilla merantau ke kota demi mengangkat derajat keluarganya. Awalnya ia mengira akan bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun kesepakatan dengan Handoko justru menjadikannya istri kontrak sang majikan selama setahun. Meski caranya salah, kemakmuran kini menyelimuti keluarganya. Akankah benih cinta tumbuh antara Maya dan Boy hingga pernikahan mereka menjadi nyata? Ataukah rahasia besar ini akan terbongkar dan memicu kemarahan besar dari kedua keluarga besar mereka?
Sampul Novel Love with my penyiarku
8.7
Muhammad Ghifarial Siregar, seorang pria flamboyan yang sangat populer, menambatkan hatinya pada sosok Ariana Martha. Meski perjalanannya dipenuhi luka mendalam dan jiwa yang rapuh, ia tetap teguh meyakini kehadiran cinta sejati. Baginya, perasaan tulus adalah takdir Tuhan yang harus diikhlaskan layaknya suara merdu di angkasa. Ia bertekad menjaga rasa yang tumbuh di relung hati agar terus mekar selamanya, hingga maut datang memisahkan mereka berdua.
Sampul Novel Pernikahan Tanpa Anak
9.3
Lima tahun membina rumah tangga, Anggraini dan Teguh sepakat menjalani hidup tanpa anak. Namun, komitmen childfree itu hancur saat Anggraini menemukan fakta pahit bahwa suaminya telah berkhianat. Teguh ternyata memiliki istri siri dan seorang anak di belakangnya. Luka mendalam ini memicu amarah besar dalam diri Anggraini. Ia pun bersumpah akan membalas dendam dengan memastikan Teguh benar-benar kehilangan haknya menjadi seorang ayah selamanya.
Sampul Novel Pijatan Pria Perkasa
9.0
Saat menjalani sesi terapi dengan mata tertutup, seorang wanita harus menghadapi godaan intens dari tukang pijat pria yang melayaninya. Hembusan napas hangat dan klaim berani sang terapis mengenai alat pijat impor miliknya memicu ketegangan sensual di antara mereka. Meski awalnya ragu, sentuhan tidak sengaja pada paha sang pria membuat pertahanannya runtuh. Novel modern romantis Pijatan Pria Perkasa ini menyajikan dinamika interaksi yang penuh godaan dan tantangan berani di atas ranjang terapi.