Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel You Have Me

You Have Me

Bagi Audrey, cinta hanyalah omong kosong. Tumbuh tanpa ayah dan melihat ibunya bekerja di rumah bordil membuatnya skeptis pada asmara. Fokus utamanya hanyalah menabung demi masa tua. Namun, sang ibu memberikan syarat berat jika Audrey ingin dia berhenti dari pekerjaannya: Audrey harus menikahi pria kaya. Kini Audrey terjepit di antara prinsipnya untuk melajang selamanya atau menuruti ambisi sang ibu demi membebaskannya dari dunia kelam tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Usai menyimak cerita atasannya, Audrey jadi ikut termenung memikirkan perihal pernikahan. Bagi orang yang sudah menemukan seseorang yang dianggap tepat, menikah tentu saja tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang masih melajang di tengah usia yang telah matang, perbincangan seputar pernikahan adalah momok yang sebaiknya dihindari.

"Menurutmu, saya harus bagaimana? Kenapa dari tadi kau malah diam saja?" Marshall yang sudah duduk di kursi kebesarannya menatap kesal Audrey.

Wanita dalam balutan blus biru itu menarik napas panjang, berharap dengan ini kesabarannya bertambah dalam menghadapi bosnya yang hobi marah-marah. "Menurut saya, apa yang dikatakan Mr. Anthony ada benarnya."

"Kau membela ayahku?" Pria itu memalingkan wajahnya yang ditekuk.

Dari tempatnya berdiri, Audrey bisa mendengar deru napas Marshall. Kalau di dalam film kartun, pastilah sudah ada asap yang keluar dari hidung pria itu. Sayang sekali, Audrey tidak mungkin tertawa saat ini. Karena kalau nekat, bisa-bisa ia disuruh angkat kaki dari Hahn Corp. sekarang juga.

"Saya bukan membela, tapi seandainya Bos tidak menikah, maka satu-satunya orang yang tepat untuk menjadi penerus adalah keponakan Anda. Tentu saja setelah Anda—"

"Meninggal?" potong Marshall disusul senyuman sinis.

"Setelah Anda mundur dari jabatan yang diemban." Audrey menunduk dan memejamkan matanya sejenak. Sepertinya berduaan dengan komputer jauh lebih baik, daripada berlama-lama di ruangan ini. Ya, ia berharap Marshall mengusirnya dari ruangan pria itu.

"Jika memang tidak menikah, sudah pasti segala apa yang saya miliki akan jatuh ke tangan Miguel. Tetapi, dengan catatan harus saya yang memberikannya, bukan Daddy."

Kening Audrey berkerut samar. "Bukankah pada akhirnya sama saja? Kenapa Bos terlihat tidak suka jika harus berbagi harta dengan keponakan sendiri? Bos juga 'kan jadi tidak perlu pusing-pusing memikirkan masalah menikah."

"Simpel. Saya ingin Miguel mengingat saya sebagai uncle-nya yang paling baik hati." Kedua sudut bibir Marshall terangkat.

"Pamrih," lirih Audrey menatap nampan yang masih setia menemaninya.

Dia tidak percaya jika balasannya hanya agar seseorang mengingat kebaikan orang lain. Wanita berambut sebahu itu jauh lebih percaya kalau suatu hari, ketika bosnya sudah tua dan tidak memiliki uang, tidak ada seorangpun yang mau dekat-dekat dengannya karena sifatnya yang menyebalkan. Jadilah, pria itu harus melakukan tindakan yang membuat seseorang merasa punya hutang budi kepadanya.

"Kau bilang apa barusan?"

Tatapan setajam belati itu entah sejak kapan mengarah kepadanya. Audrey mengangkat wajahnya dan langsung menggelengkan kepala. "Saya tidak mengatakan apapun."

Marshall memutar kursinya sembilan puluh derajat. Detik berikutnya, embusan napas panjang pun terdengar. Marshall menundukkan kepala dan memijat dahinya pelan.

Audrey menatap atasannya dengan perasaan sedikit iba. Ingat, hanya sedikit! Lagi pula, untuk apa kasihan terhadap orang kaya. Hidupnya saja jauh lebih mengenaskan dari pria itu.

Marshall bosan bekerja bisa langsung terbang ke Lombok untuk sekadar cari angin segar. Sementara dirinya, mau bosan, kesal, atau suasana hatinya sedang buruk, tetap saja ia harus bekerja dan tersenyum di depan semua orang. Huh! Audrey terkadang iri dengan orang-orang seperti itu.

"Apa jadwal saya hari ini?" Marshall menengok ke arah Audrey. Pikirannya sudah lebih tenang dibandingkan tadi.

"Rapat dengan para direktur. Selain itu, hanya mengecek beberapa laporan terkait perkembangan produk yang nantinya akan diluncurkan."

Marshall mengangguk kecil. "Baguslah. Kebetulan saya juga sedang tidak ingin ke mana-mana. Jadi, kau bisa langsung pulang setelah jam kantor selesai."

Sesudah membungkukkan badan, Audrey berjalan keluar ruangan dengan bongkahan kelegaan yang memenuhi dada. Namun, sebelum tangannya berhasil meraih gagang pintu, sebuah seruan kembali terdengar.

"Jangan lupa untuk mampir ke dokter THT supaya saya tidak perlu mengatakan hal yang sama berulang kali."

Rona bahagia di wajah Audrey seketika lenyap. Dengan senyum yang dipaksakan, ia menoleh ke arah atasannya. "Siap, Bos."

Kepatuhan yang sekadar di mulut sebab begitu jam dinding menunjuk pukul empat, Audrey langsung bergegas ke halte terdekat. "Dikiranya uangku tumpah-ruah sampai harus mengantre di rumah sakit cuma gara-gara kurang jelas mendengar!" batin Audrey menggerutu. Perempuan itu kemudian mengambil earbuds dan memakainya sembari menunggu bus tiba.

Belum selesai satu lagu diputar, transportasi yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai. Bersama beberapa orang yang berpakaian tidak jauh berbeda darinya, Audrey menaiki kendaraan itu selama kurang lebih lima belas menit. Sebuah warung pinggir jalan dengan banner bertuliskan Warung Makan Pak Kumis yang menjadi langganannya sejak SMA menjadi tujuan wanita itu sebelum kaki jenjangnya menelusuri gang menuju rumahnya.

Lupakan tentang pelukan hangat dan senyum menenangkan yang diberikan seorang ibu begitu anaknya pulang sebab Audrey tak pernah mendapatkannya. Kepulan asap rokok yang mengudara dan aroma alkohol yang menguar ke seluruh penjuru ruangan terasa lebih familiar dibandingkan segala-galanya.

Audrey menarik napas panjang sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur. Ditaruhnya kantong plastik berisi dua potong ayam bakar yang tadi ia beli.

Sukma berjalan mendekati anaknya dengan wajah sumringah. "Kamu beli lauk apa, Drey? Kebetulan banget beras yang Mama masak udah berubah jadi nasi."

"Lihat aja sendiri." Tatapan kesal Audrey layangkan kepada ibunya. Sukma yang tak peka membuatnya harus menutup hidung dan barulah wanita itu mengerti.

"Maaf," ucap sang ibu seraya menjauhkan tangannya yang mengapit sebatang rokok.

Audrey tak lagi menanggapi. Badannya sudah terlampau lelah untuk mengingatkan sang ibu agar tidak merokok di sekitarnya. Dia berjalan memasuki kamar, melempar tasnya ke ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Pikiran wanita itu berkelana tatkala matanya menatap kosong langit-langit kamar yang beberapa titiknya terdapat sawang.

Orang bilang rumah adalah tempat ternyaman untuk melepas penat, tapi Audrey justru merasa sebaliknya. Rumah adalah tempat di mana ia merasa bebannya makin bertambah berat. Kepingan-kepingan memori yang tak ingin diingat berputar-putar seiring dengan mata sipitnya yang perlahan terpejam.

"Audrey, kata bokap gue, nyokap lo enak."

Sebuah kalimat mencengangkan terdengar lirih di telinga gadis yang baru tiga bulan menjejakkan kakinya di sebuah sekolah menengah atas. Siapa sangka pada saat jam istirahat pertama, berita itu sudah menyebar ke seantero sekolah.

Sejak saat itu senyuman sinis, tatapan jijik, hingga pelecehan fisik maupun verbal Audrey dapatkan seolah-olah dia memang pantas menerimanya. Angan-angan gadis itu untuk memiliki kenangan indah pada masa sekolah seketika sirna. Audrey kembali menjadi seseorang yang menghabiskan waktunya di sudut perpustakaan untuk melahap bermacam-macam buku yang ada. Karena itu, dia yang tak memiliki teman dan selalu dipandang sebelah mata konsisten menduduki urutan pertama di setiap ujian akhir semester. Ya, Audrey mendistraksi segala rasa sakitnya dengan belajar dan belajar sebab mencari pembelaan pun tak ada gunanya.

"Jangan banyak menuntut kalau 50% SPP-mu masih dibiayai sekolah," ucap seorang guru yang katanya ditugaskan untuk membantu murid yang memiliki masalah.

Dulu mungkin Audrey murung, tapi kini ia justru tertawa acap kali mengingatnya. Tak berselang lama, pintu kamar gadis itu tiba-tiba diketuk. Mau tak mau Audrey membuka mata lantaran suara ibunya sangatlah mengganggu.

"Drey, makanannya udah Mama siapin. Ayo, kita makan," ajak Sukma dari luar pintu kamar. Dia memang tidak pernah masuk jika anaknya tidak menyuruhnya. Setakut itu ia pada putrinya.

Audrey mendesah pelan, lalu berkata, "Mama makan aja dulu. Aku mau mandi."

Tidak ada sahutan, itu artinya ibunya sudah berlalu. Audrey lantas turun dari ranjang dan meraih handuknya. Tanpa disengaja, tatapannya jatuh pada sebuah benda tajam yang tergeletak di meja. Audrey mengambilnya dan membawa serta ke kamar mandi. "Udah lama enggak, kan?" gumamnya tersenyum.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel Ibu Susu Anak Hot Duda
7.9
Lisa sering dilecehkan karena kondisi fisiknya akibat kelebihan hormon, yang mengharuskannya rutin memompa ASI untuk didonorkan. Lelah dengan keadaannya, ia menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi dari seorang konglomerat ibu kota yang ditinggal pergi istrinya. Namun, keputusan ini justru menjebak Lisa dalam hubungan rumit dengan sang ayah bayi, seorang duda yang mulai mengincar kesuciannya secara terang-terangan.
Sampul Novel ISTRI KEDUA TUAN KAIRO
8.0
Farah Maharani, gadis desa berusia dua puluh lima tahun, terjebak situasi sulit hingga terpaksa menyewakan rahimnya kepada pengusaha bernama Kairo Juang. Keputusan ini bermula dari Salsa, istri Kairo, yang lelah dihina mandul oleh orang-orang di sekitarnya. Demi mendapatkan keturunan, Salsa merelakan suaminya menikahi wanita lain. Meski awalnya kesepakatan ini berjalan lancar tanpa kendala, sebuah malapetaka besar tiba-tiba datang mengancam kehidupan mereka.
Sampul Novel Kau Layak Menderita
8.1
Hidup Selina hancur setelah dijebak Rafael Donovan dalam pernikahan paksa. Saat Rafael lumpuh akibat kecelakaan, Selina menganggapnya karma dan memilih bertahan hanya untuk membalas dendam serta menguasai hartanya. Namun, di tengah kebencian itu, ia justru menemukan sisi rapuh dan penyesalan mendalam pada suaminya. Kini Selina terjebak dalam dilema antara misi balas dendam atau perasaan asing yang mulai tumbuh di hatinya bagi pria yang seharusnya ia benci.
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Sheila harus menelan kepahitan saat pernikahan impiannya dengan Bryan hancur seketika. Ia terpaksa menjadi istri Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya jaminan atas utang Bryan. Kini, Sheila terjebak dalam obsesi Bara yang posesif dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Di tengah rasa benci dan kecewa, mampukah Sheila bertahan menghadapi lika-liku rumah tangga yang rumit? Ataukah ada kebahagiaan yang tersisa dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Pengkhianatannya Membangkitkan Kekuatan Sejatinya
8.9
Lima tahun aku menjadi sosok anonim 'Aura' demi kesuksesan Revan. Namun, saat menyusulnya, aku memergoki dia bermesraan dengan asistennya, Kyra. Alih-alih merasa bersalah, Revan justru menyalahkan aku atas kelalaian Kyra dan mengusirku di depan para eksekutif. Pria itu lupa siapa yang membangun kariernya. Saat kehancuran melanda, CTO kami muncul dan membongkar identitas asliku sebagai pemilik perusahaan yang sesungguhnya di hadapan Revan yang terkejut.