Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel You Have Me

You Have Me

Bagi Audrey, cinta hanyalah omong kosong. Tumbuh tanpa ayah dan melihat ibunya bekerja di rumah bordil membuatnya skeptis pada asmara. Fokus utamanya hanyalah menabung demi masa tua. Namun, sang ibu memberikan syarat berat jika Audrey ingin dia berhenti dari pekerjaannya: Audrey harus menikahi pria kaya. Kini Audrey terjepit di antara prinsipnya untuk melajang selamanya atau menuruti ambisi sang ibu demi membebaskannya dari dunia kelam tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Audrey segera menengokkan kepala begitu mendengar derap langkah kaki. Benar saja, dari arah lift dapat ia lihat bosnya berjalan dengan raut wajah kesal. Mungkin efek masalah kemarin yang belum juga kelar. Audrey bangkit berdiri dan menundukkan kepala ketika atasannya melintas, kemudian menuju pantry untuk membuatkan minum.

"Teh hijau!"

Seruan itu datang dari arah belakang. Audrey berbalik badan, lalu berkata, "Baik, Bos."

Tak butuh lama, secangkir teh hijau kini telah tersaji di meja. Namun, pria yang memintanya, belum juga menyentuh untuk sekadar mencicipi.

"Audrey, saya bingung," kata Marshall muram.

Audrey menarik napas panjang. Hatinya berdoa penuh harap agar bosnya tidak lagi menghabiskan awal hari ini untuk melakukan sesi curhat seperti kemarin. Terlebih topiknya seputar pernikahan. Sungguh Audrey tidak tahu bagaimana menanggapinya sebab bukankah akan lebih baik jika Marshall curhat kepada seseorang yang telah menikah. Agaknya pria itu salah memilih orang.

"Apa saya memang harus menikah?" tanya pria itu lagi.

Nah, benar 'kan dugaan Audrey. "Menurut saya, menikah bukan suatu keharusan. Tetapi, jika Anda memiliki keinginan untuk ke sana, Anda bisa mencoba mendekati wanita. Siapa tahu ada yang cocok."

"Wanita siapa?" Marshall mengembuskan napas kasar. "Kau tahu dengan siapa saya berteman selama ini."

Hansen, Theo, dan Evan. Ketiga pria itu adalah teman bosnya. Audrey hafal karena sering diminta ikut dalam berbagai acara yang digelar oleh keluarga konglomerat itu. Lebih dari atas nama teman, Hansen adalah adik ipar Marshall.

Dengar-dengar dari karyawan yang lebih senior, dulu keluarga Hahn berseberangan dengan keluarga Wilkinson, keluarganya Hansen. Baru setelah insiden besar terjadi, kedua keluarga itu bisa berdamai dan kini menjalin kerja sama. Mulanya Audrey juga bingung, tapi seiring berjalannya waktu ia mulai memahami hubungan keluarga yang rumit itu.

"Mungkin Bos hanya berteman dengan Tuan Hansen, Theo, dan Evan, tapi jangan lupakan para wanita yang setiap hari mengirim pesan kepada Anda." Audrey mengingatkan. Lagi pula, kesal juga setiap habis makan siang diminta membalas pesan dari wanita-wanita itu. Siapa tahu dengan cara ini bosnya mau turun tangan sendiri.

Terkadang Audrey juga dibuat bertanya-tanya, apakah anak-anak sultan itu tidak memiliki kesibukan atau setidaknya urat malu lantaran tak henti-hentinya mengejar seorang pria. Entah apa jadinya jika mereka tahu kalau selama ini sekretaris dari Marshall yang membalas pesan-pesan itu. Mungkin Audrey akan dijambak. Ah, tidak! Sepertinya para wanita itu bisa lebih kejam dari sekadar menarik rambut. Uang 'kan bisa melakukan segala-galanya.

"Apa mereka cukup menarik?" Lagi dan lagi Marshall bertanya.

"Menarik atau tidak semua tergantung Anda, tapi sepanjang saya berbalas pesan, mereka cukup menyenangkan." Audrey berbohong. Mereka adalah orang-orang paling membosankan yang pernah Audrey temui.

Bayangkan saja, setiap hari hanya mengirim foto entah baju, tas, atau sepatu, kemudian bertanya mana yang paling cocok dengan gaya mereka. Mentok-mentok pamer kalau sedang berada di negara tempat Marshall dibesarkan berujung meminta rekomendasi tempat yang jarang diketahui orang asing.

"Kau yang memilih," perintah Marshall.

Mata Audrey sontak membulat. "Ma-maksudnya?"

"Kau yang menentukan siapa dari wanita itu untuk diajak makan malam denganku."

Bibir Audrey berkedut menahan umpatan. Mengapa perkara seperti ini saja dia mesti ikut terlibat? Padahal, tinggal tunjuk saja wanita mana yang Marshall inginkan. "Tapi, Bos …."

"Kau yang tahu mereka. Jadi, kau pasti bisa menerka mana yang kira-kira cocok. Dan ingat, jangan sengaja memilih wanita yang membuatku kesal."

Senyuman tertahan terlukis di bibir tipis Audrey. Sial, belum juga menjahili, tetapi atasannya sudah bisa membaca pikirannya. Mungkinkah Marshall memiliki bakat cenayang? Entahlah, itu tidak penting sekarang. "Di ponsel Anda ada banyak foto mereka. Mungkin Bos mau melihatnya lebih dulu?"

"Boleh."

Kaki kiri Audrey sudah maju dan siap melangkah. Namun, sebelum itu berlanjut, Marshall menjentikkan jari dan mengarahkan telunjuknya kepadanya sebagai tanda supaya berhenti. "Lakukan itu nanti. Sekarang kita ke ruangan Daddy membahas hasil rapat kemarin."

Sorot mata penuh kekesalan dapat Audrey tangkap dari mata coklat atasannya. Rapat kemarin memang berjalan cukup alot gara-gara voting masalah perangkat lunak versi baru dan lama yang berakhir seri.

"Baik, Bos." Audrey keluar dari ruangan dan mengambil berkas hasil rapat. Ia mengekori langkah panjang Marshall menuju ruangan yang letaknya dua lantai lebih atas dari tempatnya berada.

***

"Aku sudah sangat percaya diri kemarin. Tapi, setelah mendapat beberapa kritikan, aku berusaha mengubahnya. Dan, itu desain akhirnya. Aku ingin menunjukkan pada Daddy, sebelum nanti presentasi di depan wakil dari kedua perusahaan," ucap Hansen panjang lebar. Ya, alih-alih berdiskusi dengan ayah kandungnya, ia justru meminta pendapat ayah mertuanya.

"Sudah bagus, Hansen. Semoga saja mereka setuju." Terselip senyum penuh kebanggaan dari bibir Anthony. Ia lantas mengalihkan pandangan dari layar monitor ke arah menantunya. "Oh, ya, bagaimana keadaan papamu?" tanyanya mengalihkan topik saat dirasa tak ada lagi masalah pekerjaan yang ingin dibahas.

"Papa sudah membaik. Pagi ini dia sudah dibolehkan pulang oleh dokter." Walaupun sudah mengenal cukup lama ayah kandung dari istrinya, Hansen masih saja canggung jika hanya berdua di ruangan yang sama dengan Anthony. Dan agaknya, pria tua itu pun demikian.

"Daddy akan mengunjungi papamu sore ini," kata Anthony tak membiarkan hening menguasai.

"Nanti aku beritahu Ibu," jawab Hansen. Ekor matanya lantas melirik ke kanan dan ke kiri. Sial! Seharusnya dia tidak menurut begitu saja pada Moselle untuk menemui Anthony seorang diri mengingat ada tujuan lain ia datang ke tempat ini.

Anthony yang menangkap keresahan di wajah oriental Hansen jadi bertanya, "Apa ada hal lain yang ingin disampaikan, Han?"

Pria itu terkekeh. "Apa wajahku sangat kelihatan kalau sedang ada maunya?" tanyanya berusaha sesantai mungkin.

"Orang yang bisa melihat sisi lain darimu akan sangat mudah memahamimu. Katakan saja. Daddy pasti akan membantumu."

Hansen menarik napas panjang, sebelum kemudian berkata, "Akhir pekan nanti aku dan Moselle akan pergi ke Swiss. Kami sudah menyiapkan semuanya, tapi Papa tiba-tiba sakit. Kalau dititipkan di rumah mereka, aku tidak enak apalagi di sana ada istrinya Evan yang sedang hamil besar. Mereka pasti sangat repot. Jadi, kami berencana menitipkan Miguel pada Daddy. Apa Daddy mau?"

Ya, sejak enam bulan yang lalu, Hansen memutuskan pindah ke rumah yang ia beli sebagai hadiah ulang tahun untuk Moselle beberapa tahun silam. Walaupun di awal Frederick, ayahnya, sempat keberatan, tetapi akhirnya papanya itu mengizinkan dengan catatan harus sering-sering main ke rumah.

Bukan tanpa alasan Frederick menahan agar anak-anaknya yang sudah berkeluarga tinggal bersamanya, dia hanya ingin keluarganya berkumpul setelah berbagai masalah yang menimpa. Terlebih anak bungsunya, Dante, kini sedang menyelesaikan pendidikan di negeri Paman Sam.

Alih-alih menjawab pertanyaan Hansen, Anthony justru balas bertanya dengan nada menggoda, "Kau mau bulan madu lagi?"

Sontak saja Hansen menutupi wajahnya yang memerah dengan tawa renyah yang pecah seketika. Sungguh sikap malu-malu kucing begini bukan Hansen sekali. Moselle pasti akan tertawa jika mengetahuinya. Namun anehnya, Hansen seperti ini hanya jika bersama Anthony.

"Begini, Han—"

Ucapan Anthony terpaksa terhenti lantaran pintu ruangannya diketuk. Begitu menyuarakan perintah masuk, dua orang yang tidak lain adalah Marshall dan Audrey pun muncul.

"Kebetulan sekali," ucap Anthony mendapat tanggapan tak mengerti dari kedua putranya. Pria itu lantas beranjak dari kursi kebesarannya yang langsung diikuti oleh Hansen.

Mereka, tentu saja kecuali Audrey, kini duduk di sofa berwarna krem yang biasa dijadikan tempat untuk menerima tamu.

"Aku tidak tahu kau akan datang, Han," ucap Marshall cukup kaget dengan keberadaan Hansen.

"Tentu saja. Kau 'kan bukan istriku. Jadi, untuk apa aku harus laporan kepadamu." Hansen menjawab dengan nada menyebalkan.

"Lihat, Dad. Betapa ribetnya seorang pria beristri karena mesti laporan kalau ingin pergi ke mana-mana." Marshall mencela. Hitung-hitung sebagai upaya untuk meruntuhkan keinginan orang tuanya yang berharap dirinya menikah.

"Hei, pria tidak berpengalaman!" sanggah Hansen tak terima. "Memberitahu pasangan ke mana dan dengan siapa kita pergi adalah salah satu kunci keharmonisan keluarga."

"Tidak berpengalaman katamu? Walaupun kau sudah menikah, tapi aku bisa menjamin kalau aku jauh lebih berpengalaman darimu." Marshall tersenyum penuh kemenangan.

Hansen menyengih, lalu dengan senyum sinisnya ia membalas, "Apa yang kau maksud pengalaman adalah 'berhubungan' dengan siapa saja dan kapan saja?" Jari telunjuk dan jari tengah pria itu membentuk tanda kutip.

"Sudah-sudah. Bicara apa kalian ini." Anthony menengahi. "Kalian lupa ada Audrey di sini?"

Marshall mengembuskan napas panjang, begitu pula Hansen. Sementara Audrey yang masih setia berdiri di sebelah kanan tempat Marshall duduk memasang wajah lempeng seolah tidak mendengar apapun.

Begitu suasana sudah lebih tenang, Anthony menjelaskan kepada Marshall tentang Hansen yang akan menitipkan Miguel. "Daddy sama sekali tak keberatan. Justru senang kalau ada anak kecil yang menjadikan rumah ramai. Hanya saja hari Minggu nanti, Daddy harus ke Singapura untuk menemani Mommy."

Kening Hansen seketika berkerut. Pusing memikirkan cara lain setelah plan B juga tampaknya gagal, atau memang seharusnya dia tidak pergi bulan madu bersama istrinya?

"Kau tidak usah khawatir, Han. Daddy dan Mommy mungkin tidak bisa, tapi sepertinya Marshall bisa. Hari Minggu saja, Marshall. Kau mau, 'kan?"

"Aku?" Marshall menunjuk dirinya sendiri.

"Akan ada nanny yang mengurusi makan, mandi, dan segala macamnya. Kau hanya mengawasi dan sesekali bermain bersama jika Miguel meminta." Hansen menerangkan.

Marshall mengangguk-angguk. "Oke, aku tidak masalah absen berkuda minggu ini. Tetapi, kalau hanya berdua dengan seorang nanny …." Marshall melirik Audrey, lalu berkata, "Audrey, hari Minggu kau datang ke rumah. Temani saya menjaga Miguel."

Hampir saja Audrey tersedak ludah sendiri kala mendengarnya. "Apa dia bilang? Menemaninya menjaga keponakannya?" batin wanita itu mengerang.

"Ini di luar jam kerja. Jadi, nanti ada bayarannya sendiri," ucap Marshall disusul seringai menyebalkan.

"Baik, Bos," jawab Audrey terpaksa. Memang betul dia butuh uang, tapi tidak dengan cara hari Minggu tetap bekerja. Dasar tirani!

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Cinta wanita kutubuku
8.6
Elia menghabiskan hari-harinya bekerja di sebuah gedung perkantoran megah tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, segalanya berubah saat ia dipertemukan dengan Edward, putra dari pemilik perusahaan tersebut. Keduanya mulai menjalin kedekatan intens karena harus mengelola sebuah proyek besar yang sama. Tanpa disadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Elia terhadap Edward, dan ternyata sang pewaris kaya itu pun merasakan hal yang sama.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Duet Maut Janda dan CEO Badass
8.2
Vina Pryanika, janda berusia 29 tahun, terdesak secara ekonomi pasca perceraian. Dalam kondisi mabuk, ia tak sengaja menampar Eros Gaharu, CEO teknologi yang dikenal kejam dan tempramental. Eros pun meniduri Vina yang tak berdaya sebagai balasan. Di sisi lain, Vina berambisi menghancurkan keluarga mantan suaminya. Keduanya akhirnya menjalin kolaborasi maut demi membalas dendam masing-masing. Namun, akankah kerja sama ini berubah menjadi sesuatu yang tak terduga?
Sampul Novel Gairah Tuan Besar
8.2
Zain adalah pengusaha sukses yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak kecelakaan tragis lima tahun lalu akibat pengkhianatan istrinya, ia menderita disfungsi seksual. Bella memanfaatkan kondisi ini untuk berselingkuh secara bebas demi memeras harga diri Zain. Namun, pertemuannya dengan Yvone di sebuah kelab malam membangkitkan kembali gairah Zain yang lama padam. Masalah besar muncul karena Yvone ternyata adalah kekasih Daniel, anak tirinya sendiri.
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Aldy Fathee, CEO arogan dari Fathee Grup, menjadi makin kejam sejak ditinggal Ara Valeria. Ara pergi tanpa kabar demi mengobati HIV akibat trauma masa lalu. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy ingin mendekat, Ara kini bersikap dingin dan tak tersentuh. Setelah sebuah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad mengungkap rahasia di balik sikapnya. Akankah cinta mereka bersatu atau Ara kembali menghilang?