
Yes, it's me (GxG) - omegaverse
Bab 2
Mikaela pov.
Jalanan Bangkok di siang hari cukup ramai. Namun, terasa sepi jika itu yang melewati kami. Laju motor sport pelan membelah jalanan menuju sebuah resto yang terletak sepuluh menit dari rumahku. Jadi, kami menikmati makan siang di sana tanpa rasa takut bahwa Paman akan mencariku.
Terlambat sedikit tidak akan masalah.
Resto yang kami tuju menyediakan menu khas Thai. Tom Yam Kung yang memiliki ciri khas sup kuah asam pedas yang berisikan mie dengan ditambahkan udang segar.
J.H memesan makanan tersebut. Lalu matanya menatapku intens memberi kode agar aku memilih dari buku menu. Rasa gugup kembali menyapaku, membayangkan makan berdua dengan orang asing tentu akan sulit untukku bahkan membuka mulut untuk sesuap nasi.
"Apakah sesulit itu menentukan pilihan?"
"Ah ... maaf." Lalu aku menoleh pada waitress yang telah menunggu beberapa menit hanya untuk sebuah nasi goreng Thai yang terlontar dari mulutku.
"Hu'um, nasi goreng tanpa udang atau apapun yang berbau seafood. Tapi kumohon jangan biarkan apapun yang berhubungan dengan bawang merah tercium oleh hidungku. Lalu beri aku segelas air jeruk hangat. Ah-ya, semangkuk salad buah dengan isi beberapa irisan pear, apel Fuji, anggur merah manis karena aku tidak suka selain itu. Lalu topping keju di atasnya," ucapku yang akhirnya mengeluarkan pilihan dari buku menu. Pelayan cantik dari resto ini mencatatnya dengan begitu cermat dan hati-hati.
"Anda akan mendapatkan pesanan dalam waktu lima belas menit, mohon menunggu Miss Mikaela," jawabnya dengan senyum terulas kemudian menarik mundur dirinya.
"Ah-aku lupa bahwa tempat ini berada sebelum rumahmu!" sahut J.H dengan terkekeh seakan menjawab rasa penasarannya sendiri.
Lalu kami hanya diam karena sibuk dengan pemikirian masing-masing. Hingga waktu telah bergeser lima belas menit dari tengah hari. Seharusnya panas dan gerah yang kurasakan, tapi aku adalah omega yang sensitif dengan suhu rendah. Jadi suhu 30° aku hanya merasakannya sebagai hangat.
Dua orang waitress menghampiri kami untuk menu yang telah siap. Kami makan dengan sesekali bercanda untuk topik random. Dia nampak memperhatikan cara makanku yang aneh. Kebiasaanku makan dengan beberapa sendok nasi, lalu minum, dan mengambil sepotong salad buah.
Mata tajamnya seakan tak terima, lalu senyum lebarku menjadikannya terkekeh dan mengulurkan tangan untuk mengusak rambutku.
"Lalu biarkan aku tahu alasanmu, kenapa kau membawaku untuk makan siang? Bukankah terlalu baik untuk seseorang yang baru kenal lima jam lamanya?"
"Karena aku gurumu."
"Kau hanya pengganti Miss Cloe–yang tidak seharusnya memiliki kedekatan dengan muridmu. Karena kau akan segera berhenti bagaimanapun juga."
"Bagaimana jika aku mengambil alasan karena aku mendengar suara 'kruukk' dari perutmu–yang tidak bersalah seolah menjerit meminta diisi. Karena kau tidak suka orang lain memandangmu dengan rasa kasihan. Tapi aku hanya mengambil rasa kasihan pada perutmu, bolehkah?"
"No, aku juga tidak suka. Maka biarkan nanti aku yang akan membayar semua, jika itu alasanmu. Atau ... aku akan merasa kesal terhadapmu!"
J.H nampak berpikir sejenak untuk kalimatku, mungkin dia menggali jawaban yang dapat memuaskan aku.
"Lalu bagaimana jika kukatakan bahwa aku ingin lebih lama bersamamu?" jawabnya kemudian mengunci mataku.
"Karena apa? Kau harus punya alasan untuk itu. Kalau kau merasa nyaman karena aku seorang omega resesif dengan feromon samar maka kau salah besar, aku akan menjauhimu kemudian setelah hari ini jika itu masalahnya," jawabku. Meski aku menjadi pembohong besar, karena faktanya dia adalah satu-satunya orang asing pertama yang dapat menyentuhku–karena kuijinkan.
Mulutku melarangnya menggunakan feromonku sebagai alasan, tapi alasan utama kami duduk di resto ini adalah bau feromon yang menguar samar dari spot yang ada di lehernya. Bagian tubuhnya yang menjadi salah satu sumber keluar aroma mint menenangkan hatiku. Dan sungguh egois aku untuk melarangnya tapi aku membawa tubuhku untuk berada di dekatnya karena hal tersebut.
Selain ....
Aura merah maroon cukup pekat–yang berusaha dia tutupi menarikku mendekat padanya secara alami. Kurasa jika dia seorang jahat akan menjadi bajingan yang mampu membantaiku tanpa sadar, karena aku telah dengan rela menjatuhkan hati dan jiwaku untuk dia ambil.
'J.H …,' batinku tanpa sadar memanggil namanya lagi.
Dia tersenyum, sebuah senyum ketika hatiku memanggil namanya. Kurasa dia dapat merasakannya. Untuk sesaat aku menjadi lebih gugup dan memilih menutupi dengan melemparkan kalimat yang dapat menekannya karena sejak tadi belum mendapat jawaban. Sebuah jawaban yang memuaskan jiwa rewelku.
"Okay, maka biarkan aku yang membayar tagihan kemudian." Aku mengeluarkan dompet untuk mengambil sebuah black card.
"Kau …, karena itu kau dengan segala yang ada di balik manik cokelat terangmu. Kau telah menarikku mendekat secara alami sejak mataku menangkap siluet ungu violetmu. Apakah kau juga ingin aku mengatakan jika saat ini aku mulai berpikir bahwa kau seorang berbahaya karena instingku berkata, kau akan mengambil semua dariku–hati, otak, jiwa ... bahkan tubuhku," jawabnya dengan menatapku serius, sementara tangannya menggenggam pergelangan tanganku agar berhenti dari mengambil black card.
"Haruskah aku percaya untuk seseorang yang bahkan belum genap sehari kenal?" jawabku dengan tidak terima. Padahal jauh di dalam sudut hatiku, rasanya ingin jungkir balik dan berguling-guling lalu mengayunkan kaki ke atas. Bahwa dia memiliki rasa yang sama denganku.
Apakah dia fated pair-ku?
"Apakah kau fated pair-ku?" dia bertanya dengan tanpa memutus tatapan mata kami.
Aku menjadi gugup dengan sangat, jika dia seorang bajingan dengan mulut manis tentu dia telah menang dan memukul jackpot saat ini.
"Aku puas dengan jawabanmu!" Suaraku memecah kecanggungan di antara kami.
Lalu ponselku bergetar.
Itu paman Third yang menelpon, aku segera mengangkatnya tanpa meninggalkan kursiku.
Mikaela: "Iya, Paman."
Third: "Apakah nasi gorengnya lebih baik dari buatanku?"
Untuk sesaat aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan mencari keberadaannya. Bukan rasa takut, tapi lebih dari konyol.
Mikaela: "Ish, kau bahkan memasang mata di setiap dinding resto, Paman. Tentu buatanmu lebih enak."
Third: "Kau tentu tidak memakan udang, 'kan?"
Mikaela: "Hem, aku tidak makan apapun yang berbau seafood. Apakah kau akan datang untuk menjemputku? Lalu kau akan menjadikan aku kecewa bahwa seseorang yang ada bersamaku tidak jadi mengantarku pulang?"
Aku menjawab dengan nada manja, lalu menangkap tatapan mata J.H dengan binar yang kugambarkan sebagai pemujaan terhadapku. Hatiku berdesir untuk sesaat.
Third: "Alpha dominan yang keren, dengan motor yang keren juga. Aku lega kau memilih …, selera yang bagus."
Jawaban paman Third perlahan membuat wajahku memanas, kurasa aku butuh setidaknya kardus besar untuk menyembunyikan wajahku saat ini.
_________
"Uhm, tidakkah kau ingin mampir? Setidaknya untuk secangkir teh?" tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahku.
"Hem, apakah itu baik? Lalu bukankah kita baru kenal untuk waktu lima jam dan tiga puluh lima menit?" jawabnya bertanya sembari melepaskan helm yang dia pakai.
Tubuhnya bergerak turun dari motor dengan tangannya meraih pinggangku untuk diangkatnya turun. Dadaku berdebar seketika merasakan sentuhannya, seolah tubuhku berada dalam genggamannya yang kokoh.
"Oh, aku lupa. Okay, kau benar. Untuk seorang omega akan berbahaya jika mengundang alpha asing memasuki rumah," jawabku sembari memicingkan mata, untuk mengalihkan perasaan canggungku. Tanganku secara serabutan melepas helm lalu menyerahkan padanya. Aku berpura-pura marah dan berbalik meninggalkannya yang masih berdiri mematung menatapku.
"Setidaknya kenalkan aku pada seseorang yang kau panggil Paman!" Suaranya mengagetkanku. Rupanya dia telah berjalan mengikuti di belakangku.
"Kenapa? Bukankah kau tidak percaya diri sesaat lalu?" tanyaku tanpa memalingkan wajah.
"Aku tidak!" jawabnya datar.
"Ah, ada yang lupa bahwa sesaat lalu dia mengkhawatirkan keselamatanku atas jiwa alpha-nya," jawabku dengan berhenti mendadak–yang membuatnya menubruk punggungku.
"Akhh!" teriakku karena terhuyung ke depan ketika tidak kuat menahan beban tubuhnya.
Tangannya yang kokoh telah melingkari perutku untuk menopang tubuhku dari terjatuh. Lalu jantungku berdetak semakin keras ketika tubuh kami saling berhimpitan. Kurasakan degub jantungnya pun tidak jauh beda.
"B-bisakah kau lepaskan aku?" tanyaku gugup.
"Hem, jika kau hentikan marahmu!" jawabnya.
Dari nadanya berbicara tertangkap olehku yang bodoh ini, bahwa dia berlaku seperti seorang yang telah mengenalku lebih, padahal faktanya kami baru saling kenal dalam hitungan jam.
Untuk alasan yang tidak dapat kujelaskan, sepertinya hatiku telah lama mengenalnya.
"J.H ... aku telah berlebihan. Tidak seharusnya aku tersinggung atas rasa khawatirmu yang cukup rasional," jawabku sembari melepaskan tangannya dari perutku dan berbalik, lalu wajahku telah mendongak untuk menatapnya lekat. Aku berusaha mencari kejujuran di balik manik legamnya, sebuah kejujuran akan rasa khawatirnya–jika aku mengundang alpha asing ke rumah.
Apakah dia sungguh-sungguh memiliki rasa peduli terhadapku?
Matanya yang tak berkedip masih memberiku tatapan teduh, seolah menyuguhkan jawaban, atau membiarkanku meraup sebanyak yang aku mau hingga rasa puas menyapa pikiranku.
"Namun, kau juga harus tahu bahwa terlepas dari sikap posesif Paman Third, aku menjaga diriku dari orang lain," lanjutku sembari berbalik untuk kembali melangkah memasuki teras rumahku. Hatiku dapat merasakan aura ketenangan miliknya yang masih mengikutiku. Kurasa aku tak butuh telinga untuk mendengar derap langkahnya. Cukup hatiku, aku hanya perlu menggunakan hati, juga ... indera penciumanku.
"Lalu bisakah kau tunjukkan padaku dimana kau menarikan jari-jari lentikmu, Kae?" tanyanya.
"Bukankah kau lebih tertarik pada pemilik feromon yang meninggalkan sedikit aromanya pada tubuhku agar alpha lain mengira aku telah termiliki?" jawabku. Aku tahu dia menangkap aroma Paman yang sengaja dia tinggalkan di tubuhku untuk mengaburkan milikku, hanya karena aku belajar di luar rumah tanpa dirinya–yang biasanya selalu mengikuti setiap jengkal kakiku melangkah.
"Ka-kau tahu itu?" jawabnya terdengar gugup.
"Tentu, bahkan tanpa kau tunjukkan, aku telah tahu itu," jawabku dengan tersenyum.
"Ekhem–" Suara Paman menginterupsi percakapan kami, dan aku sontak berlari padanya. Seperti biasa aku bahkan telah bergelayut manja memegang lengannya.
"Selamat siang, aku J.H ...," sapa alpha dominan yang berdiri kaku seakan mematung di depan kami. Lalu Paman yang mengelus rambutku berusaha membujukku agar berhenti menjadi manja. Dia berjalan mendekati J.H untuk mengulurkan tangannya.
"Aku adalah Third, aku tahu bahwa kau guru pengganti Miss Cloe. Lalu sampai berapa lama kau akan tinggal di Thailand dan meninggalkan–" Kalimat Paman terhenti oleh tanganku yang menarik kemejanya.
"Paman curang! Kau telah mencuri start dengan bergerak maju, aku bahkan tidak ingin tahu siapa dia," jawabku sembari cemberut kesal karena Paman telah menyelidiki guruku hanya karena mendapat perhatian dariku.
"Mungkin dua bulan, aku akan menghabiskan masa liburku di Thailand, tepatnya di Bangkok. Ada beberapa tempat yang menarik minatku untuk tetap di sini sedikit lebih lama," jawab J.H dengan senyum terulas.
"Lalu pekerjaanmu? Kau pasti memiliki satu di tempat asalmu, 'kan?" Paman kembali bertanya.
"Ada seseorang yang mengurus untukku. By the way, kau terlihat masih sangat muda. Bukankah usia kita hanya terpaut beberapa tahun? Lalu bisakah aku memanggilmu Hyungnim?" J.H bertanya pada Paman.
Menit berikutnya mereka tampak terkekeh bersama, dengan Paman yang mengusak rambutku.
"Kau tahu? Aku hanyalah penjaga bayangannya saja. Namun, dia merasa nyaman dengan memanggilku Paman," ucap paman Third, ternyata dia lebih terbuka dari yang kukira, "apakah sekarang kau akan memiliki perasaan bahwa aku berdiri sebagai pesaingmu? Jika iya maka lupakan, kau pasti kalah. Dia akan sangat mencintaiku. Ehheee ...," lanjutnya lalu kembali terkekeh.
"Tidak, karena dari feromon yang kau tinggalkan pada tubuhnya aku tahu bahwa perasaanmu murni sebagai kerabat, maka aku akan menghormatimu, Hyungnim," jawab J.H sembari mengulas senyum.
"Hyung …, hanya Hyung saja, J.H!" sahut Paman bermaksud memangkas jarak di antara mereka.
"Bukankah dia hanya mampir karena penasaran denganmu? Lalu kami bahkan baru memasuki enam jam dari berkenalan, kenapa kalian berbicara seolah J.H akan menikahiku?" jawabku sinis, menjadikan alpha yang mengantarku pulang terlihat gugup dan serba salah.
Setelah sesi perkenalan dengan Paman, aku mengajak J.H untuk naik ke lantai atas. Tepat di sebelah kamarku terdapat sebuah kamar yang kujadikan studio lukis pribadi.
"Ini studio lukis pribadimu?"
"Hu'um, sebelum aku mendapat ijin mengikuti kelas seni, inilah surga keduaku setelah kamar."
"Bolehkah aku–"
"Tentu, kau boleh melihat gambar serta lukisan-lukisanku. Setiap dari mereka butuh komentar membangun darimu, J.H," jawabku dengan tersenyum cerah.
Sebenarnya aku adalah seorang yang sulit membuka diri untuk orang lain, tapi dengan J.H semua terasa bagai air yang mengalir.
Alpha dominan ini berjalan meneliti setiap hal yang tertata dengan rapi. Semua …, aku tak menyangka dia begitu mengamati dengan detail, lalu atensinya tertuju pada lemari besar dengan susunan rak laci.
Dia membuka satu per satu seolah itu hal yang menarik minatnya untuk tahu.
Mulai dari kuas. Lalu, dia menarik laci kedua untuk menemukan beberapa palet yang tertata rapi. Palet adalah tempat untuk mencampur cat atau tempat untuk menyiapkan cat sebelum diaplikasikan ke kanvas.
Selanjutnya, dia tersenyum untuk menatap isinya yang berupa cat air/aquarel. Ada juga beberapa cat poster–yang berbahan dasar air juga.
"Pada laci berikutnya adalah favoritku."
"Benarkah?"
"Hu'um, buka dan lihatlah!" ucapku.
Itu adalah beberapa pensil warna. Aku memiliki cukup banyak set warna.
Dan rak yang terakhir berisi buku gambar dengan beberapa ukuran serta setumpuk lembaran kertas.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku.
"Semua alat ini hanya untuk melukis dengan media kertas."
"Itu benar, aku belum pada tahap menggunakan cat minyak, masih berusaha," jawabku dengan antusias.
"Hem, aku tahu. Semua begitu detail …, setiap hal yang kau siapkan!"
"Bukan aku, aku tidak merapikannya, aku seorang pemalas kalau kau ingin tahu. Aku bahkan takut mandi dan keramas, karena aku sensitif dengan suhu rendah," jawabku dengan menunduk dalam.
"Lalu biarkan aku menatap matamu saat kau berbicara," jawabnya dengan meraih daguku untuk menatapnya. Dengan tiba-tiba dadaku terasa sedikit panas, bahkan hidungku telah menangkap aroma mint yang menguar darinya.
"Apakah kau selalu menatap lekat pada orang lain, selain aku?" tanyaku.
"Tidak, aku bukan seorang yang mudah bergaul dengan orang asing," jawabnya dengan mendekatkan wajah padaku. Aroma mint terasa hangat menyembur dari hidungnya menerpa wajahku, ini terlalu dekat hingga membuatku memejamkan mata untuk perasaan aneh di dalam dadaku.
Aku merasa dia akan menciumku.
Bibirnya telah menempel pada bibirku, dan aku hanya terdiam tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Jika itu sebuah ciuman, dia pasti merasakan kecanggungan yang aku rasakan. Untuk sesaat bibir J.H telah beralih mengendus pelan leherku dan menjatuhkan wajahnya di sana.
"Apakah yang kau rasakan?" tanyaku dengan perasaan sedikit kecewa karena kesempatan untuk berciuman telah lenyap.
Yang kurasakan saat ini adalah aura frustrasi di dalam feromonnya.
"Andai kau bisa merasakan feromonku, pasti kau tahu betapa aku telah merasakan frustrasi akan dirimu," jawabnya lirih, masih dengan mengubur wajahnya untuk menjatuhkannya pada ceruk leherku. Untuk sesaat aku menekan napas atas kalimatnya yang membawa perasaan sakit di dalam hatiku.
Tapi, aku sadar hanya berada di luar hatinya saat ini, meski untuk dua orang yang dekat dalam waktu lima jam lima puluh menit itu telah menjadi cukup aneh–yang lebih kukatakan sebagai keajaiban.
"Ada hal yang tidak dapat kukatakan padamu, karena kita baru saling mengenal dalam hitungan jam. Aku tahu itu akan cukup aneh ketika aku menceritakan, tapi sungguh ... aku mengubur diriku di negara ini hanya untuk menghindar dari urusan hati. Tapi rupanya Tuhan sedang menunjukkan KuasaNya, membalik hatiku, meluluhkan setiap pemikiranku–bahwa aku tidak akan menjatuhkan hati dan tubuhku hanya untuk cinta. Aku membenci perasaan ini, ketika kau dengan alami telah menarikku mendekat, bahwa kau tanpa paksaan dan rengekan telah membuatku mendekat hingga aku berpikir akan terjatuh dengan sendirinya. Aku tidak berpikir akan dapat menarik diriku lagi untuk jauh darimu." Jawaban panjang darinya membuatku kembali menekan napas–yang bahkan untuk menarik napas aku merasa lupa bagaimana caranya.
Adakah hal kebetulan semacam ini?
"Adakah hal kebetulan semacam ini?" Dia kembali bertanya lirih. Lalu aku mengusap lembut rambutnya, sementara tanganku yang lain telah melingkari tubuhnya.
"Kalau kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa untuk pertanyaan sama yang berputar di kepalaku sejak lima jam lima puluh menit yang lalu?" jawabku lirih. Seolah setiap kata yang keluar dari mulutku adalah aliran air yang tak dapat kubendung.
J.H mengangkat wajahnya untuk menangkup kedua pipiku, matanya yang sayu dengan manik legam masih menyimpan rasa frustrasi di dalamnya.
"Karena itu kau, hanya kau. Persetan dengan waktu ataupun status, semua karena kau adalah Mikaela," ucapnya lirih dengan suara serak, yang membuatku seketika merasa tidak menginjak bumi.
Perasaan tercekat oleh rindu yang sangat meski kami berhimpitan. Perasaan bahwa mungkin kami hanya terbawa oleh suasana, dan dunia akan memberi label untuk hubungan kami sebagai cinta lokasi.
Serta ... siapa dia?
Bahkan hanya nama yang aku tahu darinya. Semua menjadi tumpang tindih yang membuatku tanpa sadar meneteskan air mata.
"Aku mungkin telah gila, atau ini mungkin juga terdengar konyol, tapi aku menyukaimu!" ucapku.
Lalu semua seakan berhenti, jam berhenti dari berputar, bahkan tak lagi kudengar kicau burung di luar jendela. Karena hanya degub jantung dan deru napas kami yang terdengar, seolah mengatakan bahwa J.H dan Mikaela adalah fated pair.
tbc
Anda Mungkin Juga Suka





