Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Yes, it's me (GxG) - omegaverse

Yes, it's me (GxG) - omegaverse

Mikaela, seorang Omega yang malang, ditemukan tergeletak setelah aksi nekat melompat dari ketinggian. Meski nyawanya selamat melalui operasi plastik wajah, ia kini terperangkap dalam koma panjang. Tragedi ini semakin memilukan karena ia kehilangan janinnya tanpa ada tanda dari Alpha yang menghamilinya. Pihak keluarga bertekad mencari sosok J.H yang telah menghancurkan hati Mikaela. Akankah Mikaela bangun untuk menuntut balas, atau justru memilih memulai hidup baru?
Bab
Bagikan

Bab 3

Mikaela pov.

"Apakah kalian akan pergi untuk sesuatu?" tanyaku ketika keluar dari kamar dan menatap dari ujung tangga, nampak dua orang alphaku tengah bersiap untuk keluar.

"Hanya menunjukkan bagaimana Bangkok di malam hari," jawab Paman dengan gaya sok kerennya seolah dia adalah pria gaul.

"Uhm, aku mengikutinya," imbuh J.H dengan bergaya bagai seorang sahabat meski baru tiga minggu mereka kenal.

"Oh, ayolah! Bukankah dia telah memiliki tempat tinggal di Bangkok? Apakah perlu mengenalkannya pada kehidupan malam di sini?" ucapku memprotes, tiba-tiba menjadi kesal tanpa alasan jelas.

"Apakah itu membuatmu keberatan, bahkan jika kami sesama alpha?" tanya paman dengan mengerutkan dahi.

"Tentu, jika itu menyangkut J.H!" jawabku.

"Maka kau tidak harus melakukannya, karena Leon akan bersama kami. Bukankah dia memiliki tujuan pada Third?" tanya J.H dengan sedikit menyeringai. Aku semakin merengut kesal.

"Maka ikut! Ikutlah dan menjadi roda ketiga di antara mereka!" ucapku lirih dengan merengut kesal, seiring langkah kakiku menuruni anak tangga.

Entah pemikiran konyol apa yang ada di dalam otak mereka saat ini.

Apakah tidak menjadikannya berpikir secara rasional bahwa meski second gender mereka adalah alpha dominan, namun tubuh fana mereka adalah pria dan wanita?

Lalu bukankah night club yang akan menjadi tujuan mereka malam ini?

Nyala lampu sorot, suara musik menggelegar, gadis-gadis seksi, atau mungkin male omega yang jelas memiliki tubuh lebih ramping dariku, wajah lebih cantik dariku–yang aku pun belum tentu dapat membedakan first gender mereka saat menghambur di antara lautan orang yang bergerak dengan mengikuti musik yang mengalun.

Belum lagi ... jajaran minuman beralkohol yang tentu akan dia minum, maksudku J.H. Aku tahu dan mengerti bahwa alpha dominan memiliki toleransi alkohol tinggi, tapi tidak jika itu menyangkut omega, aku tidak yakin. Terutama omega yang tiba-tiba mengalami heat, aroma manis yang menyengat pasti memerangkapnya, ditambah minuman yang meski beberapa persen tentu mengikis kewarasannya.

J.H ... tentu alpha-ku yang kumaksud dengan segala alasan meresahkan saat ini.

Waktu tiga minggu begitu kurang untukku mempelajari sifat, sikap, dan kebiasaannya. Terlepas dari rasa suka dan pemujaanku terhadap jiwa alpha-nya, bahkan jika dia berada di dalam pelukanku, hatiku masih akan ragu akan setianya jika itu menyangkut fated pair-nya.

Mungkinkah aku seorang spesial itu?

Ataukah orang lain yang telah ada di kehidupan yang saat ini dia tinggalkan sementara?

Atau seseorang yang masih belum dia temui?

Apakah ikatan kami sekuat itu dan akan bisa mengikis ikatan alami saat salah satu dari kami bertemu the fated pair?

Aku mulai dan telah sedang tenggelam dalam pikiranku hingga tanpa sadar kakiku telah sampai dan memijak anak tangga terakhir, tiba-tiba kurasakan jemari J.H meraih daguku untuk menatapnya.

"Bukankah kau akan ikut, lalu bagaimana aku menjadi roda ketiga?" ucapnya menatapku lekat.

"B-benarkah?" jawabku tergagap.

"Apakah kau pikir aku bisa bernapas lega untuk membiarkanmu sendiri di rumah sementara aku bersenang-senang di luar?" sahut paman Third.

"Lalu sejak kapan pamanku menjadi penggila kehidupan malam? Katakan, kita mau ke mana?" tanyaku lirih.

Lalu mereka telah terkekeh berdua seakan memberi kode bahwa telah berhasil memprovokasi aku hingga marah. Sedangkan tangan J.H telah terulur untuk mengusak kasar rambutku.

Kini kedua tangannya telah menangkup pipiku agar menatap matanya lekat seolah membiarkanku mencari dan menggali jawaban dari rasa penasaran yang mengusik pikiranku. Tanpa kata dan suara, hanya hembusan napas ringan dengan rasa hangat kurasakan menyembur wajahku. Aroma mint khas yang menguar samar memberiku sedikit rasa nyaman.

'Alpha-ku …, J.H,' batinku memanggil namanya.

"Nde?" sahut J.H seolah mendengar apa yang hatiku katakan.

"Nothing!" jawabku dengan mata mengerjap, kurasakan wajahku sedikit memanas, mungkin itu telah merona merah.

________

21.20 waktu Thailand.

Motor sport besar milik dua orang alpha-ku tengah melaju cepat membelah jalanan kota Bangkok di malam hari ini. Meski terdengar aneh untuk dua orang yang sibuk esok pagi pergi clubbing di hari kerja, tapi untuk mereka ini sah.

J.H memegang jemariku yang bertautan melingkari perutnya, seolah dia meletakkan keselamatanku di atas kepalanya. Selama tiga minggu aku mengenalnya, dengan dia menjemputku serta mengantarkanku pulang setelah kelas selesai, belum pernah dia melajukan motornya secepat ini. Meski tanpa dia tahu bahwa aku bukan omega selemah yang dia pikirkan, bahwa sebelum kami saling mengenal dan dia menjagaku layaknya telur emas, Paman bahkan telah mengajariku cara mempertahankan diri.

Pemikiran bahwa aku seorang omega rapuh menjadikannya seorang asing yang posesif terhadapku. Lihat saja saat ini aku memakai jaket kulit berwarna cokelat kopi, sarung tangan kulit, lalu celana berbahan denim.

"Itu akan sangat dingin oleh karena angin malam!" ucapnya ketika aku memprotes.

Tadinya dia juga memaksa untuk memakai sepatu boots, tapi aku menolak keras dan memilih memakai slip on, sebuah sepatu tanpa tali. Nyaman, aku butuh itu, dan tentu saja aku bukan seorang penurut yang dia kira.

J.H hanya belum tahu bagaimana jiwa pemberontakku keluar, kurasa dia akan mengalami migrain saat tahu itu.

Masih kuingat sesaat sebelum kami berangkat, alpha cantikku sempat terperangah ketika melihat Paman membawa keluar motor serupa miliknya. Lalu dia melirikku dengan rasa penasaran tergurat di wajahnya.

"Kau juga berkendara dengannya saat bebas?" bisik J.H memenuhi rasa penasarannya.

"Tentu," hanya itu jawabanku. Lalu kami menaiki miliknya, sementara Paman dengan berat hati berkendara sendiri dan kami pergi menyusul omeganya.

Kurasa J.H sedang menata hatinya dari terkejut.

_________

Dari kejauhan nampak Paman tengah membonceng Dokter Leon, aku yang menyuruhnya untuk menjemput pria omega tersebut. Bukankah terlalu kasihan melihat sang omega yang selalu memohon perhatian pada Paman, tetapi hanya tatapan datar yang dia dapatkan?

Dulu aku berpikir mungkin Lian adalah alasannya, tapi ternyata aku salah. Paman bahkan tidak menjatuhkan hatinya pada siapapun. Pemikiran bahwa alasan dari semua itu adalah aku, kadang membuatku merasa bersalah.

"Apakah kau kedinginan?" teriak J.H bertanya padaku.

"Sedikit, tapi aku bisa menahannya!" jawabku dengan berteriak juga.

"Eratkan pelukanmu pada tubuhku!" jawabnya, lalu sesaat kurasakan feromonnya sedikit bocor atau mungkin dia berusaha menghangatkan tubuhku dengan melepas sedikit aromanya. Bau mint yang tercium samar olehku membawa rasa hangat, juga sebuah perasaan yang sedikit mencekat dadaku dengan rindu yang lebih. Lalu aku berusaha mengeratkan pelukanku dengan mengikis habis jarak di antara kami.

Merasakan pengalaman kehidupan malam yang mempesona di antara pemandangan kota Bangkok yang menakjubkan. Dua puluh menit dari rumahku adalah salah satu pilihan terbaik, yaitu sebuah night club yang terletak di lantai 39 Sathorn Square Tower N Sathon Rd, Silom, Bang Rak, Bangkok, Thailand.

Lokasinya sendiri juga menawarkan panorama lampu malam Bangkok serta pemandangan Kota Malaikat yang spektakuler melalui panel kaca ekstra besar. Ini adalah klub Chic dengan jajaran DJ internasional & restoran Jepang/California, plus pemandangan kota. Destinasi multi-faset gaya hidup kelas dunia yang menawarkan pengalaman clubbing dan hiburan kelas dunia di jantung kota Bangkok.

Kurasa ide Paman cukup brilian dengan memilih tempat clubbing yang bagus dan paling menginspirasi, terlebih karena saat ini adalah ladies night. Rabu adalah hari terbaik sejauh ini.

"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku saat memasuki pintu klub.

"Secara keseluruhan, tempat ini bagus jika ingin menikmati koktail di tempat yang mewah. Pemandangan luar biasa ke luar jendela ke kota di malam hari," jawab J.H dengan datar.

"Tetapi bahkan lebih menyenangkan untuk melihat wanita seksi dan pria tampan, bukan?" sahut Paman Third dengan senyum smirk, "lalu hal-hal yang bermanfaat dan hebat dari tempat ini, koktail lezat dan musik trendi! Nikmatilah!" lanjut paman.

Lalu kami telah tenggelam bersama di tengah lautan manusia yang mulai menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama yang mengalun.

Ruangan yang begitu megah dengan dance floor yang luas, musik menggelegar yang didukung oleh kilatan lampu sorot membawa suasana bergemuruh–yang menggiring setiap tubuh di dalamnya untuk bergerak, menari dan berjingkrak, bahkan tak jarang setiap dari kami bersorak karena terbawa suasana. Seorang DJ yang memainkan perannya dengan lincah bagai memberi bensin di atas bara api.

Saat ini tubuhku bahkan tak dapat berhenti dari bergerak, gelak tawa telah menghiasi suasana malam yang sangat riuh ini.

"Kau sering ke sini?" teriak J.H karena suara musik memecah suaranya.

"Sesekali, jika sepupuku berkunjung!" teriakku menjawab.

"Kau juga minum alkohol?" tanyanya kembali.

"Tidak banyak! Hanya saat ingin saja, kenapa?" tanyaku sembari berteriak tak kalah keras.

"Apakah dia juga menemanimu?" Dia kembali bertanya sembari melempar tatapan matanya pada Paman yang hanya duduk di kursi menikmati segelas wine. Sementara Dokter Leon tampak mengajaknya berbincang.

Alih-alih menjawab pertanyaan alpha dominan yang tengah berjingkrak bersamaku saat ini, aku lebih sibuk memperhatikan pasangan yang terlihat serasi, tetapi mirip dua roda yang tidak sejalan. Dari yang kutangkap saat ini, bahwa Dokter Leon sedang berusaha mencairkan suasana, tapi Paman hanya menanggapi dengan datar.

"Kae?" Suara rendah J.H membangunkanku dari menatap lekat paman.

"Uhm ... tentu," jawabku dengan berteriak. Lalu kemudian dia telah memerangkapku di dalam kedua lengannya yang melingkari tubuhku. Aku sedikit berjengit untuk tindakannya yang cukup berani malam ini, didukung oleh bergantinya musik menjadi lebih pelan dengan kesan sensual–kembali menggiring emosi pada setiap tubuh yang memanas sesaat lalu hingga tanpa terasa tubuhku dan tubuhnya pun telah saling menghimpit tanpa jarak.

Sekilas dari ekor mataku dapat menangkap tatapan tajam dari Paman, sesaat lalu dia hendak berdiri tapi dengan cepat omega-nya berusaha menghentikan.

"Kau tidak takut pada Paman, hem?" tanyaku.

"Apakah aku harus menyentuhmu di belakang dia?" tanyanya dengan tenang. Tidak ada gurat takut tergambar di wajahnya.

"Ish, kau selalu mengatakan bahkan tanpa filter," jawabku sembari menunduk dalam.

"Wae? Kau malu? Tatap mataku saat berbicara, Kae!" ucapnya dengan menunduk untuk berbisik di telingaku.

"Biarkan aku pergi ke toilet sebentar!" ucapku lirih sembari membebaskan diriku darinya.

"Kutemani!" sahutnya seraya menarik tanganku lalu kami berjalan ke sudut ruangan di sayap kiri gedung.

"Aku bisa jalan sendiri," kataku seraya melepaskan diriku dari tangannya yang masih melingkari pinggangku. Tatapan aneh dari semua orang yang kami lewati memberiku perasaan tidak nyaman.

"Aku tahu, tapi hatiku tak dapat membiarkan kau disentuh oleh siapapun," bisiknya dengan suara rendah. Hanya dengan mendengarnya tubuhku terasa tak berdaya untuk menolak, hanya dapat menurutinya dengan mengangguk pelan.

Apakah J.H bahkan tak menyadari bahwa hanya hal-hal kecil yang mungkin tidak dia pikirkan untuk aku terganggu justru menekanku lebih?

Termasuk bau feromonnya.

Dan sekarang kami berjalan dengan dia merengkuh posesif tubuhku, sementara aroma mengintimidasi telah dia keluarkan hingga tak ada satu tangan pun yang berani menyentuhku.

"Lalu apakah kau juga akan ikut masuk ke dalam?" tanyaku lirih.

"Kau mau?" jawabnya sambil berbisik seduktif yang membuat tengkukku meremang hanya dengan mendengarnya.

"Uhm, kurasa tidak!" jawabku sembari berjalan cepat meninggalkannya.

Di dalam kamar mandi yang berukuran cukup luas, setelah selesai melakukan urusan mendesak, aku mencuci kedua tanganku dan berdiam sebentar untuk menatap wajahku sendiri di depan cermin besar. Sebuah benda pipih yang tak pernah bisa berbohong pada siapapun, dia diciptakan untuk selalu mengatakan apa yang dia tangkap dengan jujur tanpa menambah atau menguranginya.

Menatap wajahku yang terlihat sedikit pucat, mengamati setiap gurat pada wajahku, tidak dapat kupungkiri bahwa aku pun berpikiran sama layaknya gadis lain, kadang merasa insecure oleh kelemahanku, kadang sedikit bangga ketika merasa bahwa aku cantik.

"Lalu bukankah aku juga terlihat menawan?" gumamku lirih dengan mengulas senyum percaya diri, "bahkan J.H menempel setiap waktu padaku!" lanjutku bermonolog di depan cermin. Tatapan mataku meneliti setiap inci yang kutangkap sebagai keindahan, lalu berhenti pada cuping telingaku.

Untuk sepersekian detik aku terdiam dengan ingatan yang terlempar pada kejadian beberapa menit sebelumnya.

Tubuhku mematung sembari mengingat setiap hembusan napasnya yang terasa hangat saat menyembur telingaku. Lalu berpikir bahwa dia dengan bibirnya tetap berada di sana untuk membisikkan beberapa kata rayuan yang menggiring imajinasiku agar terperangkap ke dalam jiwanya.

Dan di antara kesibukannya dengan beberapa kata rayuan yang menyamankan hatiku tersebut bibir basahnya sesekali mengecup untuk sebuah hisapan dalam, dengan ujung lidahnya yang menjilat serta bermain di cuping telingaku. Tiba-tiba aku harus menekan mulutku dari mendesah pelan.

God, gejolak di hatiku tiba-tiba muncul, menyeret semua keinginan yang terpendam atas dirinya. Sebuah keinginan akan sentuhannya agar diriku merasa nyaman. Lalu kurasakan tubuhku sedikit memanas. Aku menginginkannya saat ini juga.

"J-ahh! J.H-nghh!" lenguhku lirih. Lalu mataku mengabur, kubawa tubuhku dengan langkah gontai kembali memasuki salah satu bilik toilet yang berjajar di belakangku.

______

"Kae …, Mikaela!"

Suara serak basah yang terdengar seksi membelai pendengaranku, tertangkap olehku dia tengah berusaha mengembalikan kesadaranku.

Dua telapak tangan dingin tengah menangkup pipiku yang masih terasa panas. Air mataku meluncur begitu saja tanpa kusadari, lalu kembali kurasakan lembut sebuah ibu jari yang bergerak untuk mengusap pipiku dari lelehan air mataku. Kupaksa mataku untuk terbuka dan mendapati alpha dominan yang tengah kuinginkan agar menyentuhku sedang berjongkok di depanku menatap lekat wajahku.

"J.H-nghh!" lenguhku, yang bahkan terlontar dari mulutku diikuti oleh isakku lirih.

Mataku terlalu kabur untuk menatap wajahnya dengan jelas, tapi tidak dengan hidung dan hatiku karena aku bahkan tak pernah butuh mata fana untuk mengenalinya–mengenali alpha-ku.

"Yes …, it's me, Kae! I'm here for you. Cause I'm your alpha!" jawabnya dengan suara rendah yang kembali memanaskan wajahku hanya dengan mengingat imajinasi mesumku sesaat lalu.

"Ugh ... semua terasa sakit, dan panas!" rintihku, tubuhku bergerak resah di atas closet.

"Lalu bukankah setiap pagi kau meminum pil penekan heat?" dia bertanya.

"I dunno, tapi kupikir ini semua karena kau ... hiks!" jawabku lirih. Detik berikutnya aku kembali menjatuhkan punggungku menubruk sandaran closet dengan mengerang lirih.

"Maka aku akan membantumu, Hon!"

"Hon? Nghhh ... say! Say it again-ahh!"

Dengan ingatan yang timbul tenggelam serta pandangan mata mengabur, selanjutnya tubuhku telah menyerah atas rasa panas serta gejolak yang keluar dengan liar.

Aku menyerah untuk membiarkan dadaku membusung menyuguhkan payud*raku agar bibirnya sudi membungkusnya untuk sesapan nikmat. Aku menyerah, membiarkan mulutku melontarkan rintihan-rintihan memohon atas sentuhannya. Bahkan akupun menyerah untuk membiarkan jari-jariku memegang tangannya agar menyentuh tubuh bagian bawahku.

"Kau telah sangat basah, Hon!" ucapnya terdengar lamat, tapi tertangkap oleh pendengaranku sebagai suara seduktif. Mataku berusaha untuk menatap apa yang dia lakukan saat ini, aku bahkan tak menyadari bahwa tubuh bagian bawahku telah polos tanpa sehelai kain.

"Nghhh!"

"Biarkan aku yang melakukan semuanya ... dengan bibir dan lidahku!"

Suara serak basahnya, napasnya yang terdengar memburu semakin mengikis kewarasanku, lalu aroma mint yang samar tercium semakin kuat, dia membebaskan sebagian miliknya untuk menenangkanku. Aku sadar bahwa kebersamaan selama tiga minggu bukan waktu yang cukup untuk saling melengkapkan titik nikmat kami. Tapi sumpah, aku bahkan tak dapat lagi mengendalikan tubuhku. Kurasa kontrol atas otakku telah mengabur, aku berada di ambang batas kesadaranku. Hanya berusaha bertahan untuk tetap mengingat meski putus-putus. Namun, setidaknya hatiku sedang mematri ingatan akan emosi di setiap perlakuannya atas tubuhku.

Tidak ada lagi pembicaraan yang berarti, hanya bahasa tubuh lah yang saat ini kami lakukan. Secara lembut tangannya menyingkap kaos kasual yang membungkus tubuhku, karena saat tiba aku sengaja menanggalkan jaket kulit dan menyerahkan pada Paman.

Jari-jari rampingnya memainkan payud*raku dengan meremas dan memilin put*ngku yang telah mencuat tegang sebentar. Selanjutnya dia telah mengangkat kedua kakiku agar menyampir di sekitar lehernya, bertumpu pada pundaknya yang kuat, tubuhku tertarik maju hingga p*ssy-ku mengikis habis jarak dengan wajahnya.

Lalu bibirnya telah mengecup pelan labia minoraku dengan menghisapnya dalam seolah itu begitu berharga. Lidahnya mulai mengambil bagian dengan menjilat serta menyapu untuk menggesekkan permukaannya yang kasar pada bibir p*ssy-ku.

Tubuhku merespon dengan bergetar dan menggelepar menahan nikmat, dengan sisa kesadaranku yang mungkin hanya beberapa persen, kubawa tanganku membekap mulutku agar rintihan nikmat teredam, sementara air mataku berurai untuk perasaan nikmat.

Tangannya yang memegang pangkal pahaku kurasakan telah bergetar dan berkeringat, selain ... aroma mint semakin menguar bebas mengubur feromonku yang kurasa telah menguar bebas. Otakku menangkap bahwa dia tengah memblokir ruangan dengan feromon serta aura yang mengintimidasi hingga alpha lain tidak berani mendekat.

Kurasa ruangan toilet telah dipenuhi oleh rintihan serta erangan tertahanku.

Tanganku masih membungkam mulutku dari suara liar, sementara lidah dan bibirnya menyetubuhi liang p*ssy-ku dengan tusukan serta lumatan kasar yang membawa rasa nikmat. Seluruh saraf di sekujur tubuhku kurasa merespon dengan bersorak bahagia untuk setiap sentuhannya yang menggetarkan sukmaku. Memberi rangsangan di sekitar selangkanganku hingga menjadikan otot-otot yang tersebar di sana semakin menegang. Untuk sesaat tubuhku tersentak oleh panas yang menjilat kemaluanku, saat ini tak lagi kutahan mulutku dari merintih dan mengerang nikmat. Sementara lidahnya masih menyetubuhi belahan bawahku yang semakin panas.

"Ahhh-J.H-ahhhhh! Ini aneh-tapi-ahhhhhhh!!" Mulutku meracau tak karuan saat alphaku memperdalam tusukannya di dalam diriku. Lalu, seakan tahu bahwa aku segera sampai, bibirnya mengecup untuk sesapan kuat pada liang p*ssy-ku. Tubuhku bergetar kuat dengan kedut yang membuatku tanpa sadar mengangkat pantatku dengan mulutnya yang masih memakan serta menghisap kuat milikku.

Aku terlempar pada gelombang klimaks.

________

"Uhm, J.H ... apakah ini salah? Aku merasa buruk!" ucapku lirih.

Detik sebelumnya mataku terbuka dan menangkap bahwa tubuhku sedang meringkuk di pelukannya. Lalu otakku samar menyadari bahwa saat ini kami berada di dalam mobil, tapi ini bukan milikku.

"Sssttt, tutup kembali matamu! Lalu kau akan terbangun dengan perasaan lebih baik!" bisiknya di depan wajahku. Setetes bulir air mataku mengalir, ada perasaan sesal begitu mencekat dadaku.

"Aku mirip jalang liar, bukan?" bisikku di antara isak lirihku. Ingatanku telah begitu jelas. Setiap hal memalukan yang kumohon padanya sesaat lalu.

Dia diam, tidak menjawab pertanyaanku, lalu kudengar suara Paman yang berdehem saat bibir J.H melumat lembut bibirku dengan melepaskan sedikit feromonnya–yang membuat tubuhku tak dapat memprotes, hanya meringkuk lemah. Namun, perasaanku membaik.

'J.H, alphaku ….'

"Tidurlah! Malam ini aku akan berada di sisimu untuk memberi apa yang kau butuhkan. Mulai sekarang tidak ada lagi pil penekan heat untukmu, karena ada aku!"

Suara yang samar terdengar dengan kalimat penenang sebelum aku benar-benar menyerah atas rasa kantukku.

tbc

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna
9.4
Amelie terjerat dalam rasa bersalah yang mendalam setelah tanpa sengaja menyerahkan kesuciannya kepada kekasih kakak angkatnya, Alpha Rexton, akibat pengaruh alkohol. Meski serigalanya meronta, ia memohon agar sang Alpha menolaknya demi melindungi Matilda, sosok yang telah merawatnya sejak kecil. Amelie rela menderita asalkan keluarga angkatnya tetap utuh. Namun, rahasia tentang takdir mate ini mengancam segalanya. Akankah hubungan mereka bertahan saat kebenaran terungkap?
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya
8.9
Pasca kematian sang ayah oleh Rufus Black, Calista Kaz menyadari warisan darah penyihir dan psikokinesis dalam dirinya. Bersama Brisa, Ness, dan Darren, ia menuju Lembah Crystal demi memenuhi ramalan sebagai pembangkit naga. Namun, kegagalan Calista justru membuat lembah itu hancur diserang Zorca. Kini, di tengah perlindungan bangsa Elf Amorilla, Calista harus berjuang membangkitkan roh Arkhataya demi memenangkan pertempuran terakhir sekaligus mengurai kisah cintanya.
Sampul Novel I Will Always Love You
9.7
Aarav Ravindra terjebak dalam penyesalan mendalam setelah mengabaikan istrinya akibat konflik masa lalu. Saat benih cinta akhirnya tumbuh, sang istri justru pergi selamanya. Hancur oleh rasa bersalah, Aarav sangat mendambakan kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Keajaiban muncul saat ia bertemu wanita misterius yang menawarkan perjalanan waktu. Mampukah Aarav menebus dosanya di masa lalu dan menghapus luka yang selama ini menghantui hidupnya?
Sampul Novel Jadi Kuyang
9.1
Setiap wanita mendambakan paras cantik dan awet muda, namun jalan pintas yang diambil Mayang justru membawanya ke dalam kegelapan. Tanpa disadari, obsesi tersebut adalah jebakan licik yang dirancang oleh suaminya sendiri, Edi. Di balik janji kecantikan abadi, Edi memiliki rencana tersembunyi untuk mengubah istrinya menjadi sosok Kuyang yang mengerikan. Kini, Mayang terjebak dalam transformasi mistis yang mengancam nyawanya akibat ambisi yang salah.
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.