Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Yang Belum Terucap

Yang Belum Terucap

Mora memutuskan untuk menampung seseorang di apartemennya demi niat baik. Namun, bantuan tersebut justru menyeretnya ke dalam rangkaian masalah rumit. Saat berusaha membereskan segalanya, tantangan yang lebih besar muncul ketika Mora mulai jatuh cinta. Di tengah kesendirian karena ditinggalkan orang-orang, ia berjuang keras memperbaiki keadaan. Tanpa rasa penyesalan sedikit pun, Mora terus bertahan hingga seluruh hidupnya kembali pulih seperti sediakala.
Bab
Bagikan

Bab 1

" Mon, lo megang duit nggak?"

" Ngapain gue megang-megang duit, emang gue kang parkir? "

" Maksud gue— "

" Lo mau minjem, ntar lo balikin, SUMPAH DEMI APA, yang ini bener-bener bakal lo balikin!!! Gitu kan?? Gak Ada!! "

" Yah mon, hiks!! "

" Lo tuh ya, udah dibilangin juga, jangan judi terus, masssiiihhh aja, Lo cewek, sadar gak sih? "

" Gue kemaren menang dong, lima puluh juta !"

" Beneran? "

" Iya, Sumpah!! "

" Keseringan Sumpah Lo, terus mana coba, duit nya kalo menang ??!! "

" Yah gitu, pas menang lima puluh gue naikin Bet, ternyata hoki nya cuma sampe segitu, abis deh jadinya! "

" Eh Anjing, itu namanya Lo kalah, Bego!! "

" Makanya, pinjemin gue duit, abis ini gue ganti beneran, ga bohong gue, ga pake Sumpah! "

" Oke, Ntar kalo yang minjem duit gue udah balikin, Gue pijemin lo duit nya "

" Siapa yang make duit lo? Biar gue yang nagih ! "

" Ada temen gue "

" Banyak? "

" Lumayan sih "

" Berapa? "

" Lapan puluh juta lebih !!!"

" Anjing, banyak amat, siapa sih nama temen lo? , biar gue yang nagih!! "

" Yaudah, tagih sono, kalo dapet gue pinjemin lo separoh !"

" Beneran? "

" Iya "

" Janji lo! "

" Janji gue "

" Oke, Siapa namanya? Biar gue samperin "

" Mora Haruna Basa, itu namanya, coba lo mintain kalo bisa! "

" Oke, "

"..."

"???"

"!!!"

" Eh, itu kan nama gue? !!!"

" Emang!!! "

****

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, namun Mora masih enggan hanya untuk sekedar bangkit dan duduk dari tempat tidurnya. Matanya sudah terbuka sejak lima menit yang lalu, tapi rasa pengar masih bersarang dikepalanya.

" Njir, efeknya sampe siang, dicekokin apaan sih gue? " gumamnya.

Meski tidak jelas, Mora mendengar suara dari luar kamar, didalam Apartemennya.

Dengan sisa-sisa tenaga dan sedikit kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul dikepalanya, Mora berusaha untuk bangkit. Saat berhasil berdiri Mora mencoba melakukan sedikit senam peregangan untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa sangat Kaku.

Karna gerakannya sangat asal sekali, tentu saja tidak memberi efek Maksimal, bisa kram iya..!!, Mora tidak terlalu memikirkan hal tersebut, orang kepalanya masih berat.

Mora meraih t-shirt secara asal dari banyak benda yang mengantung dipintu kamar dan memakainya secara, terbalik?, kemudian membuka pintu dan keluar.

Hidungnya disambut dengan Aroma kopi yang memenuhi ruangan, Wangi tersebut sedikit menyegar kan isi kepalanya, seakan terhipnotis dengan itu, tanpa harus menebak dari mana Aroma itu berasal, Mora dengan mata yang masih setengah terpicing berjalan gontai kedapur.

Benar saja, sebuah moca pot silver yang mengeluarkan uap asap panas terletak di atas mini bar. Mora mengambil salah satu dari lima cangkir kopi yang ada di atas bar lalu menuangkan kopi kedalamnya.

Sebelum meminumnya Mora mendekatkan bibir cangkir yang berisi setengah kehidungnya, kemudian menghirup semua Aroma yang berasal dari kopi yang masih panas tersebut sebanyak satu nafas yang dalam, senyumnya langsung mengembang.

Tepat seperti apa yang di ajarkan oleh penggila kopi yang menyeduh kopi ini padanya, dengan begitu efeknya langsung terasa.

Kesadarannya meningkat dari dua puluh menjadi sekitar lima puluh persen saat itu, lalu mulai menyesap kopi tersebut.

" Ahhhh... Seger nya!! "

Mora menyesap beberapa kali lagi, lalu meletakkan cangkir tersebut diatas meja, efek kopi itu selalu berhasil meredakan pengar nya.

" Njir, kapan ya gue bisa bikin kopi senikmat ini." gumamnya sambil menggeleng kepala, yakin dia tak akan bisa.

Mora menuangkan lagi kopi tersebut hingga hampir memenuhi cangkir, lalu dengan kedua tangannya, Mora berhati-hati mengangkatnya. Mora berniat membawa satu cangkir penuh kopi itu kembali kekamarnya.

Saat melewati ruang tengah antara dapur dan kamarnya, disebelah kanan tepat didepan pintu kamar yang lain diruangan tersebut, dia melihat si penyeduh kopi ini sedang memakai sepatu sepertinya hendak pergi.

" Mau kemana lo?. " tanya Mora.

Orang tersebut melihat Mora sebentar dan sekilas terlihat matanya melebar, kemudian dengan cepat menunduk untuk memasang sepatunya kembali sebelum menjawab.

" Mau belanja, bean tinggal dikit, udah gak banyak pilihan " jawabnya lalu berdiri tanpa melihat lagi.

" Oh, gitu "

" Gue jalan ya, jangan biarin orang lain masuk " begitu pesannya sebelum menutup pintu dari luar dan pergi.

" Oke " Jawab Mora setengah berbisik, Aneh, siapa yang mau masuk emangnya, dia menggeleng keheranan, kurir?

Kemudian Mora kembali berjalan kekamarnya, sekarang bukan untuk kembali tidur, tapi dikepalanya sudah terbayang tempat menikmati kopi paling bagus disini adalah balkon dikamarnya.

Sampai di kamar dia membuka pintu kaca perlahan dengan satu tangan lain masih memegang kopi, setelahnya Mora terus berjalan hingga sampai dipagar balkon tersebut.

Menyandarkan kedua lengan dengan siku sebagai tumpuan, secangkir penuh kopi hangat masih digenggamannya, dari balkon kamarnya matanya melahap pemandangan dari ketinggian, terlihat hamparan gedung-gedung dan bangunan yang memenuhi setiap sudut Kota itu.

Mora kembali menyesap kopi yang dia bawa sambil menikmati terpaan Angin yang membelai manja separuh tubuh bagian atasnya, membuat kesadarannya langsung meningkat ke angka tujuh puluh persen.

Senyum kembali merekah diwajahnya, lagi-lagi didalam hati dia memuji betapa nikmatnya kopi itu dan betapa hebatnya orang yang menyeduhnya.

Tidak lama menikmati momen indah tersebut, sebuah suara kecil mengintrupsi kebahagiaan tiada tara yang sedang dinikmati Mora tersebut.

Mora meletakkan cangkir kopi di atas meja kecil dibalkon, lalu dengan tampang sedikit kesal Mora masuk kembali kekamar.

Dari nakas disebelah tempat tidurnya getar suara ponsel meronta-ronta, bukan notifikasi pesan karna getarnya begitu lama pasti itu sebuah panggilan.

" Siapa sih? gangguin aja pagi-pagi! " Rutuk Mora sambil menyambar benda yang bergetar tersebut dan segera menjawab panggilan tanpa melihat dulu siapa yang memanggil.

" Woi Anjing!!! ngapain pagi-pagi udah gangguin gue!! " teriak Mora tanpa basa-basi.

"Oh, jadi begini cara kamu memberi salam pada orangtuamu sekarang? Hebat yaa kamu..!! " suara diseberang langsung protes.

Mendengar suara yang memberi shock therapy tersebut membuat kesadaran Mora langsung meningkat menjadi seratus dua puluh tiga persen, dia memejamkan matanya dan mengetuk-ngetuk kepala nya untuk menyesali kebodohannya.

" Eh Mama, maaf aku fikir Mona yang nelfon "

" MORA.. INI SUDAH JAM SETENGAH DUA BELAS SIAAANG!!! , KAMU NGGAK KULIAH???!! "

Mora menjauhkan ponsel nya dari telinga, dia merasa teriakan ibunya tersebut akan merobek gendang telinga saking kuatnya.

" Anu Maaa, eheeem... aku lagi gak kuliah hari ini, dosen nya hamil, ya hamil tiga bulan, mau melahirkan " jawab nya asal.

" Jangan bohong kamu, pasti kamu keluar sampai larut malam lagi, dan kesiangan kan? "

" Nggak Ma, Sumpah, aku tadi malam belajar sampe subuh, makanya kesiangan!!! "

" Mama sudah bicara sama Papa kamu, jika kamu membuat masalah lagi disana, kami akan membawamu kesini, dan tidak usah kuliah saja sekalian !!!!"

" Nggak ada masalah lagi kok Ma, Sumpah !! "

" Kamu ini, Sumpah Sumpah terus, nanti kemakan Sumpah baru tau rasa kamu..!!"

" iya beneran Ma, gak ada masalah lagi, ga pake Sumpah !!"

" Yasudah, Mama mau ngasih tau, itu uang bulananmu sudah Mama transfer, jangan dihabisin buat hal-hal yang tidak berguna lagi..!! "

Mendengar uang bulanannya sudah dikirim, membuat Mora melonjak senang, badannya langsung segar, rasa penat karna menghabiskan tenaga untuk meloncat-loncat dan bergoyang tanpa tema yang jelas di sebuah Klub tadi malam segera hilang saat itu juga.

" Makasih Ma, Lup yuu.. Muuuaacchh..!!! " kata Mora manja.

" Yaaaa, ingat ya pesan Mama, kalo kamu membuat masalah lagi, kami akan menjemputmu kesana dan menyeretmu sampai kesini!!!! "

Mora yang saat itu masih kegirangan tidak sengaja melihat bayangannya sendiri dicermin, Membeku seketika, Mora menatap dirinya yang ada di cermin.

" Anjing !!!!" katanya tak sadar,

Ponselnya terlepas dan jatuh ke lantai. Dibalik cermin dia melihat bayangan dirinya, dengan rambut kusut seperti Singa, make-up yang sudah berantakan dan memakai kaos putih tipis menutupi bagian atas, sedangkan untuk bawahannya.. Ini masalahnya...

Dia tidak memakai bawahan..!!!

CD berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang sangat putih itu terlihat jelas sedang melingkar dipinggang menutup wilayah pangkal pahanya.

" KAMU BILANG APA? HALLOO,, MORA? .. KAMU DENGAR MAMA? KAMU BILANG APA? HALLOO?! "

Mendengar suara Ibunya yang masih terhubung , tersadar cepat-cepat Mora meraih ponselnya, dan dengan tergesa-gesa kembali menempelkan ketelinga.

"Nggak Ma, ponsel ku jatuh, Aku nggak bilang apa-apa kok, Sumpah!! "jawabnya panik.

" kamu ini ceroboh sekali, yasudah jangan lupa pesan Mama, Mama ada urusan "

" Ya Mamaku yang tersayaaaang!! "

" Jangan sok manja, kamu sudah dewasa, mama pergi dulu, sudah ditungguin, Daaaa...!! "

" Ya Ma.. Daaa Mamaaaa !!!"

Sambungan telfon tersebut terputus, setelah melihat sekali lagi dirinya yang dicermin Mora langsung merebahkan badannya kembali kekasur dan terlentang dengan posisi mirip bintang laut, dia menatap ke langit-langit kamar, mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa menit yang lalu..

" Gue jalan ya, jangan biarin orang lain masuk "

" Pantas dia tadi kayak kaget terus pas mau pergi bilang gitu.. Anjing.. Pasti dia ngeliatkan??, Ga mungkin ga liat!!! Anjing .. AARRRGGHHH..!!! "

Mora mengacak-acak rambutnya kesal, dan kembali berteriak.

" Anjing.. BEGOOO..!!! "

***

Mora Haruna Basa 23 tahun, biasa dipanggil Mora, mahasiswi paling populer sekaligus paling bermasalah diangkatannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BENIH KAKAK IPAR
8.3
Nayla Maldania merasa hidupnya sempurna bersama Alvin Rayes, suami mapan yang ia cintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat perselingkuhan Alvin terbongkar. Di tengah luka mendalam dan kondisi hamil, Nayla justru terjebak dalam perasaan terlarang dengan kakak iparnya, Alvaro Rayes. Kini ia berada di persimpangan jalan antara mempertahankan pernikahan demi sang buah hati atau menyambut cinta tulus Alvaro. Siapa yang akhirnya akan menjadi sandaran hidup Nayla?
Sampul Novel Cewek kutu buku itu tunanganku
8.8
Sevilla harus kehilangan sang ayah di usianya yang masih sangat muda. Tepat di hari ulangtahunnya, sang ayah meninggal saat perjalanan pulang ke rumahnya. Derita demi derita ia alami, kala perusahaan yang ayahnya rintis bangkrut, dengan sang paman sebagai penyebabnya. Ibunya mengalami gangguan jiwa akibat ini, dan semua aset keluarganya di sita bahkan di jual untuk menutupi kerugian. Kini hanya beberapa rupiah yang tersisa, Sevilla memilih untuk menyewa rumah kecil di pemukiman sempit. Di umurnya yang menginjak 14 tahun, Sevilla harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya dan juga ibunya. Suatu hari Sevilla tak sengaja menabrak Verrel, Siswa populer yang terkenal jenius dan tampan. Keduanya bahkan sama-sama mengikuti lomba yang sama. Sejak saat itu keduanya dekat, bukan sebagai teman melainkan musuh. Yusha, mantan kekasih Verrel merasa cemburu pada Sevilla. Ia dan teman-temannya pun mengunci Sevilla di gudang sekolah sendirian, hingga Verrel datang menyelamatkannya. Di rumah sakit, Sevilla di rawat. Ayah dan ibu Verrel juga datang menjenguknya, mereka mengaku pernah menjalin persahabatan erat dengan almarhum ayahnya. Dan mereka ingin Sevilla dan ibunya tinggal bersama mereka. Ayah dan ibu Verrel juga mengatakan bahwa almarhum ayah Sevilla ingin menjodohkan Sevilla dengan Verrel. Semenjak kejadian itu, keduanya menjadi semakin akrab. Perasaan khusus mulai tumbuh di hati keduanya, hingga akhirnya keduanya berpacaran saat mereka duduk di bangku kelas satu SMA. Perjalanan cinta mereka yang mulus tiba-tiba saja terhalang dengan kehadiran Alona dan neneknya, Alona yang sangat membenci Sevilla itu, bekerjasama dengan Yusha untuk menculik nya. Mereka menjual Sevilla di situs penjualan wanita. beruntungnya bibi viona, adik ibunya itu mengetahui hal ini dan membeli Sevilla. Sejak hari itu, Verrel menjadi kesepian. Sampai akhirnya ia mendengar dari kakak sepupu Sevilla, bahwa Sevilla telah pergi ke Amsterdam tanpa sepengetahuannya. Johny dan teman-teman Verrel yang lain mengungkap alasan kepergian Sevilla ke Amsterdam, begitu terkejutnya mereka kala kak Lucas, kakak sepupu Sevilla mengungkapkan kalau Verrel dan Sevilla bersaudara tiri.
Sampul Novel Cinta Tak Bersyarat
8.9
Arini terjebak dalam depresi berat akibat luka cinta yang mengganggu hormon kebahagiaannya. Burhan dan Morela, seorang psikiater, bekerja sama secara rahasia untuk menyelamatkan kesehatan mental Arini tanpa membuatnya merasa terhakimi. Meski Arini sempat menolak bantuan medis karena merasa tidak gila, pendekatan perlahan melalui olahraga dan dukungan emosional mulai menunjukkan hasil. Burhan menyadari bahwa mencintai Arini berarti mendukung kesembuhannya tanpa syarat apa pun.
Sampul Novel Hurt Wife
9.4
Farida harus menelan kenyataan pahit saat suaminya mengkhianati pernikahan mereka demi adik kandungnya sendiri. Luka batin yang begitu dalam akibat perselingkuhan itu membawa Farida ke dalam situasi tak terduga. Terjebak dalam pusaran emosi yang kalut, ia justru terhanyut dalam godaan nafsu dan hasrat yang membara. Sebuah kisah fiksi dewasa tentang rasa sakit dan pelarian emosional yang mengubah hidupnya secara drastis dalam sekejap mata.
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA
8.8
Akibat hancur oleh pengkhianatan sang kekasih, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga nyawanya terancam. Beruntung, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya. Namun, dalam kondisi emosional, Louisa justru menawarkan sebuah 'hadiah' berani sebagai tanda terima kasih atas pertolongan tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan impulsif itu menjeratnya ke dalam kehidupan sang penyelamat yang berbahaya, mengubah takdirnya selamanya.
Sampul Novel LUKA DI ANTARA KITA
8.1
Kehidupan rumah tangga seorang istri yang penuh kesetiaan seketika hancur saat ia memergoki suaminya menjalin hubungan gelap dengan sahabat karibnya sendiri. Pengkhianatan ganda ini membawa luka yang sangat mendalam. Kini, di tengah reruntuhan kepercayaan yang telah musnah, ia dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan ikatan pernikahan yang tersisa atau memilih pergi demi kedamaian dirinya sendiri selamanya.