Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel WURAKE

WURAKE

Wurake merupakan sebutan bagi pengikut ilmu hitam yang haus akan janin, bayi, serta wanita hamil maupun nifas. Meski mirip dengan Kuyang, identitas Wurake jauh lebih luas karena penganutnya bisa laki-laki maupun perempuan. Ancaman mereka tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan menyasar seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Kisah horor fantasi ini murni fiksi, sehingga kesamaan nama atau tempat hanyalah kebetulan.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Kok, tidak ada darahnya, ya?" gumamku

Kecuali dua hari pertama pasca melahirkan, enam hari berturut-turut, aku tidak lagi mendapatkan bercak nifas di kain sarung atau baju yang dipakai oleh Rania, istriku.

Ini sedikit aneh. Rania tidak seperti wanita pada umumnya, yang mana ada yang hingga empat puluh hari pasca melahirkan, kurun itu adalah masa nifas bagi mereka.

Selain itu, jika pada umumnya wanita pasca melahirkan akan terlihat lesu dikarenakan banyaknya sel-sel syaraf yang rusak atau putus pada saat melahirkan, Rania tidak seperti itu. Rania tampak biasa-biasa saja.

Bahkan, kemarin pagi aku melihatnya memanjat pohon kates. Dia tidak khawatir sama sekali akan mengalami pendarahan, padahal kemarin baru genap satu minggu dia melahirkan bayi pertama kami. Tidakkah itu aneh?

Bersamaan dengan itu, jarum jam terus berputar. Aku yang sejak tadi hanya duduk diam menjiwai pakaian-pakaian kotor Rania, tanpa sadar telah kehilangan banyak waktu. Hari sebentar lagi gelap, aku belum mencuci satu potong pakaian pun.

Sadar tengah berpacu dengan waktu, gegas pulalah aku memulai rutinitas yang sudah menjadi tanggung jawabku pada sepekan terakhir, pasca Rania melahirkan.

Tidak berapa lama kemudian, aku sudah sempat mengucek beberapa potong pakaian, saat Rania tiba-tiba datang menyentakku.

"Astaga! Bara? Simpan, simpan! Kau mau bunuh kami, ya, nyuci malam-malam begini?"

Dikejutkan Rania, gegas aku bangkit dari dudukku. Lalu, meskipun harus berseteru dengan diri sendiri, pada akhirnya aku beredar, meninggalkan Rania, juga baskom berisi rendaman cucian.

Beberapa langkah beringsut membelakangi kamar mandi, tiba-tiba saja pula bayi kami, bayi yang belum sempat kami beri nama, memperdengarkan suara tangisnya.

"Sudah, Rania," ucapku. "Tolong lihat anak kita itu!" seruku kemudian.

Tanpa kata, Rania beredar dengan tergesa-gesa menuju ke kamar tidur, tempat di mana bayi kami berada.

Rania sudah berada di kamar sejak lima menitan yang lalu, tetapi tangis bayi kami belum juga kunjung reda. Risau, aku pun beringsut menghampiri mereka.

"Kenapa, dia?" tanyaku.

"Ah, biasalah," jawab Rania. "Namanya juga bayi, kalau tidak tidur, ya, nangis kayak gini." Rania menjawab dengan nada acuh tak acuh, seolah-olah ini adalah hal biasa dan tidak perlu dirisaukan.

"Tapi, suaranya itu ...."

"Tidak, ah! Tidak apa-apa!" potong Rania.

Mendapati ucapan Rania yang seperti itu, aku mundur, meninggalkan Rania dan bayinya di ruangan remang-remang, ruang yang hanya menggunakan lampu minyak sebagai alat penerangnya.

Aku beredar menuju ruang belakang, menyeduh segelas kopi, sebelum akhirnya menuju beranda depan. 

Di beranda, ditemani segelas kopi hitam dan linting-linting tembakau bambu, di sini aku coba menenangkan diri, merenungkan banyak hal.

Selinting tembakau baru saja usai aku sulut. Ini adalah linting yang kesekian. Kuisap dalam-dalam, sambil sesekali menyelinginya dengan tegukan kopi. Ada rasa yang entah terselip di setiap tegukannya.

Keheningan, isapan rokok, dan cekatnya kopi adalah perpaduan kegamangan pikir. Semua ini seolah hendak mengokohkan kebenaran sugesti yang telah kami yakini semenjak turun-temurun.

Sugesti leluhur mengatakan, pamali besar jika mencuci pakaian bayi, dan bercak  nifas di malam hari. Tangis bayi kami yang belum juga ada tanda-tanda jika akan reda, mungkin itu adalah sedikit pembenaran, jika sugesti itu memang benar adanya. 

Namun, di sisi lain, jika hanya membiarkan semua pakaian kotor tersebut tanpa membereskannya, itu sama dengan secara tidak langsung sengaja mengundang para penganut ilmu hitam, untuk datang melakukan ritual pesta pora di rumah ini.

Apa yang harus dilakukan? Aku benar-benar kebingungan. Sudahlah begitu, Rania seolah tidak mengijinkan aku ikut andil dalam meredakan tangis bayi kami.

Lalu, malam terus beringsut.

Di tengah upayaku menjinakkan resah, tiba-tiba pula aku dikejutkan dengan melintasnya seekor Kucing.

Kucing.

Di mana pun di muka bumi ini, Kucing pasti memiliki ukuran kaki yang semuanya sama panjang. Namun, tidak dengan kucing yang terlihat olehku di ketika ini.

Sangat jelas sepasang kaki bagian belakang, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan dua kaki di bagian depan. Sehingga caranya berjalan, kucing ini lebih menyerupai cara manusia berjalan, merangkak dengan menggunakan kedua kaki dan kedua tangan secara bersamaan. Cara berjalan kucing yang satu ini, sungguh jauh dari kelaziman.

"Dia sudah!" gumamku setelah barusan hanya diam hingga beberapa saat lamanya. Kucing ini sudah membuatku terkesima.

Seembusan napas kemudian, serta-merta kuraih keris seukuran golok kecil yang terselip di pinggangku. Keris berkelok yang tajam di kedua sisinya ini, memang sengaja senantiasa aku siagakan pada sepekanan terakhir. Usai yang demikian, sigap aku melompat ke arah Kucing tersebut.

Mungkin menyadari gelagatku, kucing ini menoleh, menatapku.

Oh, dia menantangku?

Sempat sejenak saling tatap, pada akhirnya ia memalingkan wajah, melanjutkan langkah, menjauh dariku.

Tidak ingin kehilangannya, aku pun mengayun langkah. Namun, sayang! Baru beberapa langkah, kedua kakiku tiba-tiba saja terasa kaku laksana terpasung bumi.

Sadar ada yang tidak beres, segera pula aku berkomat-kamit, melafazkan mantra-mantra.

Beberapa saat kemudian, berhasil, aku pulih semula.

Aku baru saja melanjutkan langkah, sedangkan kucing hitam barusan sudah lebih dulu menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam sana. Masih berharap dapat menyelesaikan urusan dengannya, coba pulalah aku mengikuti jejaknya hingga ke mana ia menghilang.

Yakin belum terlalu jauh, aku pun menerobos ke kegelapan searah dengan perginya makhluk tersebut.

Hutan kecil di ujung desa.

Suasananya cukup membuat jantung berdetak cepat. Selain suara jangkrik dan desir angin yang berembus di celah-celah pepohonan, tidak apa pun lagi yang terdengar di dalam hutan yang ada di salah satu sudut kampung ini. Bersamaan dengan itu, perlahan bulu kudukku berdiri satu-satu. 

Jujur, aku sedikit gentar dengan aura mistis yang tiba-tiba muncul ini. Akan tetapi, disamping sudah terlanjur berada di area hutan kecil, tempat yang aku yakini sebagai tempat terakhir menghilangnya kucing barusan, aku juga terdorong oleh rasa penasaran, serta hasrat untuk mendapatkan buruan.

Karenanya, semua itu membuatku nekat untuk melawan rasa gentar dalam diri sendiri.

"Jangan takut, Bara, jangan takut!" 

bisikku coba untuk menyakinkan diri sambil terus merangsek ke dalam kegelapan.

Tidak berapa lama kemudian.

Samar-samar aku lihat seperti adanya bayangan yang bergerak-gerak dari balik sebatang pohon, tidak seberapa jauh di sana.

Siapa orang yang berani datang di hutan malam hari seperti ini? Aku mulai siaga penuh.

Keris kugenggam dengan erat. Sangat erat. Lalu, hati-hati aku beringsut maju, berjalan setengah membungkuk, menghampiri muasal bayangan tersebut.

Selang kemudian ....

"Jangan Bara! Ini saya!" 

Suara seorang wanita pemilik bayangan menggema, membelah kesunyian malam, mengadang ayunan keris yang hendak aku hunjamkan ke tubuhnya.

Nyaris! Nyaris saja. 

Andai saja aku tidak mengenali dengan jelas pemilik suara ini, maka niscaya malam ini akan ada mayat yang jatuh menggelepar di hadapanku.

"Kamu? Kamu bikin apa di sini?"

"Saya ... cari Mangga," jawabnya.

Cari Mangga? Sejak kapan ada pohon mangga di sekitar sini? Meskipun aku bukan penduduk asli di desa ini, tetapi aku tahu persis kondisi hutan kecil ini. Saban waktu aku ke sini, bagaimana mungkin aku bisa percaya ucapan wanita ini?

Namun demikian, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mendebatnya.

"Jangan-jangan ini .... O, tidak!" Tiba-tiba saja pula aku teringat pada bayi kami di rumah sana. Ini mungkin jebakan. Resah, seketika itu juga aku berlari menuju pulang.

Sesampainya di rumah, gegas aku menuju kamar tempat di mana bayi kami berada.

"Oh, syukurlah!" gumamku lega.

Walaupun dalam kondisi remang-remang, aku masih bisa melihat bayi kami dalam keadaan baik-baik saja. 

Akan tetapi, tunggu dulu. Kenapa bayi kami terdiam seperti boneka tak bernyawa?

Sesaat kemudian, aku beringsut meraih lampu minyak yang ada di ruangan ini, lalu mendekatkannya pada bayi kami.

Satu tanganku memegang lampu minyak, sedang tanganku yang lainnya aku gunakan untuk menyentuh tubuhnya.

Saat menyentuh seputaran wajah, aku mulai merasa ada yang aneh dengan bayi ini. Tubuhnya tak lagi merespon sebagaimana biasanya. Penasaran, aku menyatukan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian mendekatkannya ke hidungnya.

O, Tuhan, aku tidak lagi merasakan adanya pernapasan di sana. Sedetik kemudian, merasa kurang yakin, juga ingin memastikan, aku membuka kain sarung yang membalut tubuh mungilnya.

"Ya, Tuhan ... bayiku?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIBALIK TOPENGNYA
8.2
Kehidupan Sarah berubah total saat ia menemukan sebuah buku mantra misterius milik Evander. Sosok pria itu masih menjadi teka-teki besar yang tak terpecahkan. Apakah dia sebenarnya seorang pangeran yang menderita, atau justru badut kejam yang haus akan darah? Sarah terus bertanya-tanya apakah Evander adalah pemilik sah dari rumah berhantu tersebut, ataukah dia hanya orang asing yang disewa untuk mengusir roh jahat yang bersemayam di sana.
Sampul Novel Geger di Bhumi Manggala
8.2
Suara tangis Tadah Asih memecah kesunyian di bawah langit Kilen yang semerah darah. Seorang petapa waskita menangkap pertanda buruk tentang masa kelam yang akan melanda Bhumi Manggala. Di sisi lain, sebuah kerajaan berduka atas gugurnya sosok bangsawan mulia hingga memicu aksi bela pati para prajuritnya. Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda berdiri tegak dengan amarah membara. Ia melangkah pergi membawa dendam membara saat dunia di sekitarnya mulai runtuh.
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk
9.7
Sepuluh tahun pernikahan dengan Pradipa hanya menyisakan luka pedih karena ia masih terobsesi pada cinta pertamanya. Puncaknya, Pradipa tega memaksaku mendonorkan darah demi wanita itu. Di ambang maut, sebuah penglihatan masa lalu mengungkap dosa besarku yang telah menghancurkan Adam, pria tulus yang mencintaiku. Kini aku terbangun dengan kesempatan kedua. Aku bertekad melepaskan Pradipa dan menebus kesalahan demi menemukan kedamaian sejati.
Sampul Novel Misi pangeran mermaid
8.2
Tirta adalah pangeran duyung berusia enam belas tahun yang terikat ramalan kuno dari seabad silam. Didampingi Natasya sang kakak, ia harus naik ke permukaan demi menuntaskan misi penting di dunia manusia. Tak disangka, Tirta justru jatuh hati pada Bella sejak pandangan pertama. Namun, takdir mereka terhalang oleh batasan alam yang mustahil ditembus. Akankah cinta beda dimensi ini bertahan di tengah misi yang mempertaruhkan nasib mereka berdua?
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet terjebak dalam belenggu pernikahan rumit yang penuh rahasia. Sebagai istri ksatria kerajaan, ia berjuang keras menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Namun, situasi memburuk saat Ivy menghadapi ancaman eksekusi mati di tangan suaminya sendiri akibat campur tangan Putra Mahkota Winter. Siapakah Ivy sebenarnya? Di tengah intrik dan bahaya, mampukah ia mengungkap kebenaran serta meloloskan diri dari hukuman mati yang sudah di depan mata?
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun aku bersabar menghadapi Marco, Alpha yang dingin dan selalu beralasan menjagaku yang rapuh. Di hari jadi kami, ia justru pergi demi serigala betina lain bernama Sarah. Marco meninggalkan aku sendirian di jalanan gelap saat badai demi mengejar cinta sejatinya. Di titik kehancuran itu, muncul sosok Alpha misterius dengan kekuatan luar biasa. Tatapan peraknya mengunci mataku, lalu ia mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.