
When Romeo meet Juliet
Bab 3
Mendengar penuturan dari Juan tentu saja membuat Romeo kembali bersemangat, dia sangat senang karena pada akhirnya dia menemukan sosok yang dia inginkan. ”Apa kau pikirkan?” tanya Juan menatap wajah Romeo dengan heran karena baru kali ini dia melihat wajah sahabatnya itu lebih bersemangat dari biasanya.
”Tak ada aku hanya senang saja membayangkan bagaimana rasanya memiliki gadis itu untuk pertama kali, bukankah itu sangat menyenangkan?” ujar Romeo dengan gurat bahagia terpancar dari wajahnya yang tampan.
”Dasar otak mesum! Tapi aku ikut bahagia jika kau pun bahagia Romeo, tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu nantinya mereka pasti tidak akan setuju dengan keputusan dirimu ini?” ujar Juan.
”Kau tak perlu menghawatirkan mereka karena aku sendiri yang akan bicara nantinya yang terpenting buatku adalah bagaimana Juliet mau bersama diriku nampaknya dia tipe wanita yang sulit untuk didekati.”
”Ya kau benar itu karena semalam aku bertemu dengannya sepertinya dia sedang dalam keadaan mood yang tidak baik karena wajahnya terlihat masam dan ketika aku bertanya sesuatu padanya jawabannya sama persis dengan apa yang aku pikirkan,” seloroh Juan membuat Romeo pun melebarkan kedua matanya menatap tak percaya pada asistennya tersebut.
”Kau semalam bertemu dengannya? Dimana dan kenapa dia bisa seperti itu katakan padaku!” Romeo memaksa Juan untuk mengatakan semuanya.
Juan pun terkekeh mendengar Romeo yang khawatir dengan keadaan Juliet. ”Di dekat taman air mancur dekat restoran QnQ dia bilang habis makan malam dengan Christina sepulang kerja, dia berjalan sendirian karena Christina telah lebih dulu dijemput kekasihnya. Cukup lama dia menunggu Samuel tapi ternyata kekasihnya itu tidak datang sama sekali. Kau tahu kemana Samuel pergi?”
Romeo memandang Juan meminta penjelasan, Romeo mengedikkan bahunya. ”Samuel justru pergi ke hotel bersama dengan wanita lain,” seru Juan.
”Damn it! Kenapa itu bisa terjadi? Kenapa kau tak menghajarnya saja? Bahkan kau tak menceritakan ini padaku semalam!” Romeo pun mendengus kesal pada Juan.
”Karena kau tak menanyakannya padaku lagipula aku tak ingin menambah rasa kesal hatimu, aku tahu semalam kau datang ke klub karena kau sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja maka dari itu aku tak mau menambah kekesalannya. Sekarang kau faham maksudku bukan?”
”Maafkan aku jika aku telat memberitahukan dirimu oleh karena itu aku berani berkata she’s still virgin karena dari penuturannya dia bilang sendiri jika Samuel belum pernah sama sekali menyentuh dirinya bukankah itu ’lucky’ untukmu!” seru Juan.
”Segera kau miliki dia sebelum Samuel yang mendahului dirimu, ingat kesempatan tak datang dua kali Romeo.” Juan mengompori sahabatnya sendiri dia hanya ingin Romeo bahagia dan tidak selalu memikirkan bisnisnya, bukankah ada kalanya hati juga harus bahagia. Juan tahu jika Romeo selama ini merasakan kehampaan hati.
”Aku akan mengusahakannya segera, aku ingin dia jadi milikku apapun yang terjadi Juan dan kau harus membantuku!” ucap Romeo penuh penekanan.
”Tentu aku akan membantu dirimu semampuku kau tenang saja, apa sih yang tidak buatmu yang penting kau tambahkan nominal di rekening bank milikku!” Juan tentu saja bersemangat jika sudah bicara soal uang.
”Oke jika semua berjalan dengan baik aku akan memberimu lebih kau tenang saja, oke!”
Tok...tok...tok...
”Sebentar aku buka pintu dulu!” Juan melangkah ke pintu dibukanya pintu tersebut dan terkejut begitu mendapati Juliet berada di depan pintu ruangan Romeo.
”Kau disini? Untuk---?
”Suruh dia masuk Juan aku memang sengaja memanggilnya kesini,” seru Romeo mau tak mau Juan pun mempersilakan Juliet masuk.
”Silakan duduk!” titah Romeo.
”Ini berkas yang Anda minta tolong dicek ulang jika ada yang keliru tolong segera beritahu saya,” ucap Juliet penuh ketegasan. Romeo pun tersenyum mendengar perkataan Juliet yang terdengar merdu di pendengarannya itu. Romeo terus saja memandangi wajah cantik Juliet membuat Juliet menjadi risih dengan sikap bosnya tersebut.
”Maaf apakah ini sudah selesai? Apa ada yang harus saya kerjakan lagi jika tidak saya mau kembali ke ruangan saya,” ungkap Juliet dan bahkan Romeo hanya terdiam tak menyahut perkataan Juliet membuat Juliet kebingungan dengan sikapnya itu. Juliet mengalihkan pandangannya pada Juan dan Juan pun hanya mengedikkan bahunya singkat.
Suasana yang kurang nyaman membuat Juan pun akhirnya menyenggol bahu bosnya tersebut. ”Kau melamun?”
”Oh, maafkan aku. Baiklah kau bisa kembali ke tempat kerjamu sekarang!” ucap Romeo dengan nada dingin. Juliet pun segera pamit melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Setelah kepergian Juliet, Romeo justru merutuki dirinya sendiri kenapa dia tidak banyak bicara tadi sehingga dia melewatkan kesempatan yang datang untuknya. ”Kau seperti orang yang sedang patah hati saja, bukankah kau senang dia Dateng kemari?” goda Juan tersenyum mengejek pada Romeo.
”Aku tidak tahu kenapa setiap ada dia aku seakan bisu tak bisa bicara apapun!” ungkap Romeo membuat Juan mengernyitkan alisnya karena bingung dengan sikap sahabatnya itu.
”Kau pasti benar-benar jatuh cinta padanya, setidaknya kau masih bisa merasakannya Romeo,” ungkap Juan merasa tak percaya jika Romeo yang dingin menjadi Romeo yang lembek hanya karena cinta.
”Tidak tahu aku pun tidak mengerti kenapa aku bisa seperti ini, tolong jangan buatku sakit kepala.” Romeo memijat pelipisnya sendiri menahan pening yang tiba-tiba saja menyerangnya.
”Sebaiknya kau segera periksa ke dokter sebelum penyakitmu semakin bertambah parah,” ujar Juan terkekeh dan sebuah buku tebal melayang ke arah punggungnya itu.
”Awh, kau ini apakah kau tidak bisa berhati-hati sedikit saja ini sangat menyakitkan kau tahu itu!” teriak Juan meringis kesakitan menahan serangan dari bosnya itu.
”Kau benar-benar kelewatan! Akan aku balas kau nanti, bahkan kau sama sekali tak mengucapkan terima kasih padaku karena telah banyak membantu dirimu,’’ gerutu Juan masih saja meringis menahan sakit.
”Oke baiklah, maafkan aku dan terima kasih untuk kontribusinya padaku selama ini,” ujar Romeo meminta maaf pada Juan.
Tok...tok...tok...
Juan pun membantu membuka pintu muncullah Stefanie dan Rachel di depan kedua wanita itu sengaja datang ke kantor Romeo usai berbelanja di mall terlihat dari beberapa paper bag yang dibawa oleh sang mama Rachel.
”Hai sayang, mama sengaja mampir kemari karena di luar hujan deras jadi mama pikir tak ada salahnya jika mama kesini sekalian menjenguk putra mama yang sedang bekerja,” ungkap Rachel meletakkan paper bag miliknya di sofa.
”Oh iya btw siapa wanita yang ada di ujung sana?” Stefanie menunjuk ke arah seorang wanita.
”Ada apa dengannya?” sahut Romeo segera apakah Juliet membuat kesalahan pada Stefanie.
”Tidak ada, aku merasa tidak percaya ada wanita cantik yang mau bekerja keras di kantor ini, seharusnya dia cocok menjadi model,” puji Stefanie membuat Romeo semakin suka.
”Tapi sayang ...”
”Kenapa?” tukas Romeo penasaran kenapa dia tak melanjutkan perkataannya.
”Ya sayang saja,” Stefanie tersenyum mengejek membuat Romeo benci akan hal itu.
”Tadi dia menabrak diriku jadi aku balas balik dia!” Stefanie tersenyum menyerigai.
”Apa? Kenapa kau lakukan itu!” teriak Romeo kesal dengan sikap Stefanie.
Anda Mungkin Juga Suka





