Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel We Are

We Are

Tiga remaja terjebak dalam rumitnya cinta segitiga. Diana berjuang sembuh dari kepedihan masa lalu saat sosok dari masa lalunya muncul kembali. Sementara itu, Revan berusaha mengubah jati dirinya meski bayang-bayang masa lalu terus menghantui persepsi barunya. Di sisi lain, Kevin yang ceria namun kesepian mulai mempertanyakan prinsip kekeluargaannya saat ia justru terus bersama orang yang ia benci. Akankah pertemuan ini membawa kesembuhan atau konflik baru bagi mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bel sekolah tanda istirahat berbunyi nyaring. Hal itu disambut dengan suka cita oleh para siswa setelah berkutat dengan pelajaran. Yang sebagian dari pelajaran membuat siswa di sekolah merasa pusing dan sakit kepala. Merasakan dua hal yang mirip tapi berbeda. Jangan lupakan rasa bosan dan enggan yang mereka rasakan.

Seketika ruang-ruang kelas menjadi sepi. Salah satunya yang terjadi di kelas Diana. Diana membiarkan siswa siswi di kelasnya keluar lebih dulu, karena ia tidak mau ikut berdesakan di pintu kelas bersama murid lain untuk berebut keluar kelas.

Diana merenung, mengingat kejadian tadi pagi ketika datang ke sekolah dan bertemu seorang pemuda. Ternyata yang dirasakan Diana adalah pertanda.

Pemuda tadi pagi itu bukan hanya mengingatkan ia pada seseorang. Tapi memang sesuatu yang besar telah terjadi, setidaknya begitu menurut Diana.

Saat ini, orang itu kembali terlihat di kehidupannya. Diana menghela napas.

Diana yang teringat pada seseorang ketika bertemu pemuda tadi pagi, orang yang teringat itu ternyata kembali lagi di kehidupannya.

Orang itu berada di lingkungan yang sama dengan Diana. Orang itu datang dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Dia datang sebagai murid baru di sekolah Diana.

Orang itu berhasil mengejutkan Diana dengan kehadirannya. Tapi Diana menyadari sesuatu.

Orang itu tidak sama dengan Diana yang ingat padanya. Dia, seorang pemuda tampan yang selalu diingat Diana. Dia ternyata tidak mengenal Diana. Atau dia melupakan Diana.

Diana menyadari hal itu ketika bertemu dengan dia hari ini.

Seolah tersadar dengan kelas yang kosong dan tinggal dirinya di kelas, Diana bergegas menuju pintu keluar.

Diana ingin pergi ke perpustakaan sekolah. Ia mau meminjam buku untuk referensi tugas pelajaran yang baru saja ia terima.

Saat berjalan di koridor menuju perpustakaan, perjalanan Diana terhambat oleh segerombolan siswi yang terlihat penuh antusias pada sesuatu.

Entah sengaja atau tidak, mereka menutupi jalan Diana. Mereka juga sangat berisik disitu.

Diana baru saja hendak menerobos dan sedikit ingin tahu sesuatu yang menjadi pusat perhatian para siswi itu, tapi tiba-tiba gerombolan itu berjalan. Diana akhirnya melanjutkan kembali langkahnya.

Tunggu dulu, ada yang aneh, batin Diana.

Diana menyadari bahwa gerombolan siswi itu terus berjalan di jalan yang ingin dilewati Diana untuk menuju perpustakaan.

Tidak mungkin kan, jika mereka semua ini mau ke perpustakaan?! Yang benar saja, pikir Diana.

Tapi sepertinya firasat Diana benar. Gerombolan itu berhenti tepat di depan perpustakaan. Diana juga ikut berhenti di dekat mereka.

"Dia masuk ke perpustakaan?!"

"Apakah dia mau membuat kartu anggota?"

"Mungkin saja, kan dia itu murid baru."

"Ah, kenapa harus ke sini?"

"Aku tidak bisa masuk karena tidak membawa kartu perpustakaan."

"Kau benar, aku juga tidak membawanya."

"Sepertinya kita tidak bisa mengikutinya lagi."

Itu pembicaraan-pembicaraan yang didengar Diana. Ia tidak mengerti. Perlahan gerombolan siswi itu satu persatu meninggalkan perpustakaan.

"Mereka bubar?" gumam Diana samar pada dirinya sendiri.

Saat Diana membuka pintu perpustakaan, ada yang melihatnya dengan pandangan meneliti setengah menusuk. Orang itu berdiri di depan penjaga perpustakaan. Tanpa sadar Diana merasa sedikit gugup. Hanya sedikit karena ia merasa risih ditatap seperti itu.

Kenapa dia melihatku seperti itu?, batin Diana.

Diana kemudian pergi ke meja penjaga untuk melakukan scanning card.

"Hm, apa tujuanmu ke sini benar-benar penting? Atau hanya ingin menguntit seseorang?" penjaga perpustakaan berkata sambil melihat ke arah seseorang yang tadi memperhatikan Diana, orang yang baru saja pergi.

"Hah?" Diana langsung saja mengikuti arah pandang penjaga perpustakaan. Ia melihat seorang pemuda yang tadi menatapnya dengan pandangan tidak biasa. Pemuda itu berjalan di balik rak buku.

Aku mengerti sekarang. Seorang pemuda yang tadi menatapku dengan pandangan yang tidak biasa, dan apa saja yang dikatakan penjaga perpustakaan barusan, keduanya memiliki alasan yang sama. Diana menyimpulkan sesuatu. Lalu ia menghela napas.

"Bu, apapun alasan saya datang ke sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan siswa baru itu." Diana menjelaskan kepada penjaga perpustakaan yang seorang ibu-ibu. Kelihatannya dia tidak terlalu tua.

Bahkan ibu-ibu juga tertarik dengannya, Diana mendengus samar.

"Oh, baiklah. Kukira kau salah satu penggemar siswa itu. Wajar saja dia dikerumuni para gadis di depan perpustakaan tadi. Dia punya wajah yang rupawan."

Benarkan. Aku mengakui pemuda itu memang sangat tampan. Itulah alasannya. Mereka mengira bahwa aku masuk ke perpustakaan hanya untuk mengikuti siswa baru itu. Jadi pemuda itu atau murid baru itu melihat aku curiga jika aku salah satu penggemar yang berhasil masuk perpustakaan untuk mengejarnya. 

Aku kesal sekaligus kagum dengan pemikiran siswa baru itu yang punya ide masuk perpustakaan untuk kabur dari para penggemarnya. Diana entah harus merasa apa sekarang. Kagum atau kesal?

Setelah men-scan kartu perpustakaan, Diana menyusuri rak untuk mencari buku yang ia perlukan.

Diana melihat buku yang dicari, tangannya bergerak mau mengambil buku itu. Saat tangan Diana menyentuh buku itu di bagian bawah, ada tangan lain yang menyentuh buku itu di bagian atas. Langsung saja pandangan Diana mencari pemilik tangan itu. Selanjutnya Diana terdiam sekaligus terkejut saat mendapati sang pemilik tangan. Dan Diana tambah terkejut lagi mendengar perkataan sang pemilik tangan.

"Aku harap kau melepaskan tanganmu dari buku ini." Diana diam mendengar itu.

Buku itu hanya tersisa satu, kelas Diana memang yang terakhir menerima tugas ini. Kalau saja tidak berebutan dengan pemuda di hadapannya ini maka Diana seharusnya cukup beruntung karena masih sempat mendapatkan bukunya.

"Maksudmu aku harus mengalah padamu, sementara aku yang dulu menemukannya duluan?" balas Diana.

"Aku yang pertama menyentuhnya maka ini adalah hak-ku," ucapnya

Diana yang tidak mau kalah langsung menarik buku itu hingga tergenggam dikedua tangannya.

Pemuda itu berkata, "Hei, apa yang kau lakukan? berhentilah mencari perhatianku dengan melakukan ini?"

"Apa?!" sepertinya pemuda itu masih salah paham, dan Diana menyadari itu. Diana merasa sangat kesal tapi berusaha menahannya, ia harus bersikap tenang.

"Kuberi tahu ya, aku tidak mencari-cari perhatian seperti yang kau katakan. Dan kau sudah salah paham." kata Diana.

"Begitukah?" Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya.

"Baiklah terserah kau saja." Diana berkata sambil mengambil salah satu tangan pemuda itu. Pemuda itu awalnya kaget dan hendak menjauhkan tangannya, tapi Diana sudah menyentuh tangan pemuda itu. Diana lalu menarik tangan pemuda itu ke atas. Pemuda itu bingung dengan apa yang dilakukan Diana.

Ternyata Diana menaruh buku yang mereka rebutkan di atas tangannya.

"Kalau memang kau lebih membutuhkannya, maka aku mengalah. Kau bisa meminjamnya lebih dulu. Tapi pastikan lusa kau sudah mengembalikannya ke perpustakaan." Diana menunjuk tempat buku yang berbeda, ia ingin buku itu nantinya tidak diambil siswa lain lagi. Makannya menaruh ditempat yang berbeda agar tersembunyikan.

Setelah memberikan buku itu Diana berjalan melewatinya, "Karena aku juga memerlukannya untuk tugas sekolahku," lanjut Diana mulai menjauh.

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 66 Kali, Aku Tak Lagi Mencintaimu
8.9
Setelah enam puluh enam kali melamar, Vincent akhirnya mendapatkan cinta sang istri pada percobaan berikutnya. Menandai awal pernikahan, sang istri menyiapkan enam puluh enam kartu pengampunan untuk setiap kesalahannya. Namun selama enam tahun, Vincent terus menghamburkan kartu-kartu tersebut demi membela teman masa kecilnya. Ketika jatah kartu kini hampir habis setelah kartu ke-enam puluh empat digunakan, Vincent baru menyadari ada perubahan dingin yang tidak biasa dari istrinya.
Sampul Novel Dikejar Oleh Sang Miliarder
9.6
Kayla Herdian kembali ke masa lalu demi membalas dendam setelah dikhianati suami dan mertuanya hingga tewas mengenaskan. Dulu hidupnya hancur, namun kini ia bangkit untuk menghancurkan para musuh dan membawa bisnis keluarganya ke puncak kejayaan. Di tengah ambisinya, seorang miliarder dingin yang dulu tak terjangkau justru datang mendekat. Pria itu kini terang-terangan merayu Kayla, memohon kesempatan untuk menjadi pendamping di pernikahan keduanya.
Sampul Novel Dua Hati, Satu Kehancuran
8.5
Menjelang hari pernikahan, sebuah pengkhianatan menghancurkan segalanya. Radit menuntut untuk menjalani program bayi tabung bersama Lisa, putri profesornya, demi alasan bakti yang tidak masuk akal. Menolak menjadi yang kedua sebelum pernikahan dimulai, protagonis mengambil keputusan nekat. Lewat sebuah unggahan media sosial, ia mengumumkan pencarian pengantin pria baru untuk menggantikan posisi Radit. Kisah romansa modern ini penuh dengan ketegangan emosional dan keputusan berani.
Sampul Novel Heal Me, Baby
8.1
Insiden ciuman tak sengaja membuat Sean Wilson, pria penderita fobia kuman, pingsan seketika. Keyra Minolia, mahasiswi pekerja keras yang menabraknya, dituntut ganti rugi terapi yang mahal. Karena miskin, Keyra terpaksa melunasi hutang dengan menjadi asisten rumah tangga Sean. Hidup mereka yang kontras pun beradu di bawah satu atap hingga orang tua Sean memergoki mereka dan memaksa keduanya menikah. Mampukah pernikahan ini menyembuhkan Sean dan menyatukan hati mereka?
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Hailey terpaksa membalas budi keluarga Brantley setelah rahasia identitas aslinya terungkap. Dia dipaksa menggantikan kakaknya untuk menikahi miliarder yang kabarnya sudah tua. Namun, kejutan besar terjadi di pelaminan saat sosok sang suami ternyata pemuda tampan bernama Mathias. Ketegangan memuncak pada malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding. Dia membongkar fakta bahwa dia tahu Hailey bukanlah putri sulung yang seharusnya dinikahinya.
Sampul Novel KONTRAK CINTA SATU TAHUN
8.0
Kehidupan pernikahan Ratu berubah drastis saat Revan menyodorkan perjanjian tak terduga tepat di hari istimewa mereka. Ia terjebak dalam tantangan berat yang mempertaruhkan statusnya sebagai istri. Ratu hanya memiliki waktu satu tahun untuk menaklukkan hati Revan sepenuhnya. Jika ia gagal membuat sang suami jatuh cinta, perceraian menjadi konsekuensi mutlak yang harus dihadapi. Sanggupkah Ratu meluluhkan hati Revan demi mempertahankan rumah tangga mereka?