
Warisan Rahasia Ayahku
Bab 2
Pagi menyambut dengan langit kelabu, aroma kopi dan antiseptik bercampur di udara rumah sakit Arsatama Medical Center. Suasana yang biasanya menenangkan, kini terasa berat bagi Ravina.
Semalaman ia tidak tidur. Kata-kata misterius dari penelepon semalam terus terngiang di kepalanya:
"Orang yang menjebak ayahmu adalah orang yang paling dekat denganmu."
Ia mencoba mengabaikannya, menganggap itu hanya ulah orang yang ingin mempermainkannya. Tapi pikiran itu tak mau pergi.
Dan sialnya, setiap kali ia mencoba menepis, wajah Darian muncul dalam bayangannya.
"dr. Ravina!" suara Lila, perawat senior, memecah lamunannya.
Ravina menoleh cepat. "Iya?"
"Pasien baru di IGD, laki-laki usia empat puluh, kecelakaan motor. Kondisinya kritis. dr. Dimas minta bantuanmu."
"Baik."
Ravina berlari ke ruang gawat darurat. Suara monitor dan instruksi dokter lain saling bersahutan.
Darah mengalir di lantai, bau logam dan adrenalin memenuhi ruangan.
"Tekanan darah turun! 80/50!"
"Siapkan plasma! Cepat!"
Ravina bergerak cepat, mengendalikan kepanikan di sekitarnya. Tangannya cekatan memeriksa luka robek di dada pasien, memastikan tak ada pendarahan internal yang terlewat.
"Pasien kehilangan banyak darah," katanya pada dr. Dimas. "Kita butuh transfusi segera."
"Bank darah lambat kirimannya."
"Kalau begitu aku yang ke sana langsung!"
Tanpa pikir panjang, Ravina berlari keluar ruangan, menyambar jas putihnya. Ia berlari menembus lorong panjang rumah sakit, tanpa menyadari bahwa seseorang mengawasinya dari kejauhan.
Begitu sampai di ruang penyimpanan darah, ia langsung meminta dua kantung O negatif. Tapi perawat jaga di sana menatapnya dengan ekspresi ragu.
"Maaf, dr. Ravina... Saya butuh izin dari Direktur."
"Izin? Ini darurat!"
"Maaf, Dok. Prosedur baru dari Pak Darian. Semua pengambilan darah harus melalui otorisasinya."
Ravina menghela napas keras, amarah mendidih di dada.
"Kalau begitu hubungi beliau sekarang juga!"
"Tapi beliau sedang dalam rapat-"
"Saya yang akan ke sana!"
Tanpa menunggu, Ravina menuju ruang rapat di lantai atas. Ia tahu itu tindakan gila, tapi detik ini ada nyawa pasien di ujung tanduk.
Begitu sampai, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk.
Beberapa dokter senior menoleh kaget. Di ujung meja, duduk Darian, mengenakan jas hitam dengan ekspresi datar khasnya.
"dr. Ravina?" suaranya dingin. "Ada keperluan mendesak, saya kira."
"Pasien di IGD kritis. Saya butuh dua kantung darah O negatif sekarang. Tapi perawat tidak mau menyerahkan tanpa izin Anda."
"Itu prosedur," jawab Darian tenang.
"Prosedur bisa menunggu. Nyawa pasien tidak!"
Ruangan mendadak sunyi. Beberapa dokter saling melirik, tak berani bicara.
Ravina menatap Darian dengan rahang mengeras, menahan emosi yang hampir meledak.
Akhirnya Darian berdiri.
Tatapannya menusuk, namun tanpa emosi.
"Kau mengambil darah tanpa catatan resmi, kau bertanggung jawab atas risiko medis dan hukum yang timbul."
"Aku terima," jawab Ravina cepat.
Darian menatapnya lama, lalu menandatangani berkas di depannya.
"Ambil. Dan jangan pernah datang ke ruang rapat tanpa izin lagi."
Ravina menggertakkan gigi, menahan diri agar tidak menjawab. Ia membungkuk sedikit lalu keluar cepat dengan langkah panjang.
Begitu pintu tertutup, beberapa dokter berbisik.
"Berani juga dia melawan Pak Darian begitu."
"Anak menteri itu memang keras kepala."
Darian hanya menatap kosong ke arah pintu, rahangnya menegang halus. Tapi dalam sorot matanya, ada sesuatu - mungkin kekaguman samar, mungkin keingintahuan yang tak ingin ia akui.
Beberapa jam kemudian, pasien yang ia tangani berhasil melewati masa kritis.
dr. Dimas menepuk bahu Ravina. "Kerja bagus, Vin. Kalau bukan kamu yang nekat tadi, mungkin pasien itu gak selamat."
Ravina tersenyum lelah. "Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan."
"Tapi Direktur mungkin gak akan senang."
"Dia memang gak pernah senang," gumam Ravina lirih.
Namun belum sempat ia keluar dari ruang IGD, suara sepatu kulit itu sudah terdengar di belakangnya.
Langkah tegas, dingin, khas Darian.
"dr. Ravina."
Ia memutar tubuh pelan, menatap pria itu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Direktur?"
"Pertama, jangan lagi masuk ruang rapat tanpa izin. Kedua, tindakanmu pagi ini melanggar protokol."
"Tapi pasien hidup. Itu yang paling penting, kan?"
"Tidak kalau kamu mengorbankan aturan demi emosi."
Nada suaranya tajam, tapi Ravina tidak mundur.
"Saya tidak beroperasi berdasarkan emosi, Pak. Saya beroperasi berdasarkan sumpah saya sebagai dokter."
Hening sejenak.
Mata Darian menatapnya lama, hingga suasana di antara mereka menegang.
Ravina menatap balik, menolak tunduk.
Sampai akhirnya pria itu menarik napas panjang dan berkata pelan, "Kau sama keras kepalanya seperti ayahmu."
Kata itu langsung menohok.
Ravina menegang, wajahnya memucat. "Jangan bawa-bawa ayah saya."
"Kenapa tidak? Semua orang sudah membicarakannya. Aku hanya jujur."
"Dia bukan koruptor," ucap Ravina tegas, meski suaranya bergetar.
"Kau yakin?" Darian mendekat satu langkah. "Kadang orang yang paling kita percayai justru menyembunyikan sisi tergelapnya."
Ravina mundur setengah langkah, matanya berkaca-kaca.
"Saya tidak akan izinkan siapa pun menghina ayah saya, termasuk Anda."
"Aku tidak menghina, Ravina. Aku hanya mengingatkan."
Ia menatapnya lama sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu tertutup, Ravina jatuh terduduk di kursi terdekat.
Kata-katanya terasa seperti cambuk yang menampar keras hati dan kepalanya sekaligus.
Sore itu hujan turun lagi. Ravina duduk sendirian di kantin rumah sakit yang hampir sepi, menatap kopi hitam di tangannya.
Kelelahan, sakit hati, dan rasa ingin tahu bercampur di dadanya.
Penelepon misterius itu. Kata-kata Darian. Semua seolah berputar mengarah ke satu hal: ada rahasia besar di balik kasus ayahnya.
Dan entah kenapa, semuanya selalu berhubungan dengan Darian Mahendra Arsatama.
Ia menatap ponselnya. Sudah dua jam sejak ia menulis pesan itu, tapi belum dikirim:
"Apa maksud Anda semalam soal ayah saya dijebak?"
Ravina ragu.
Kalau penelepon itu benar, berarti hidupnya masih dalam bahaya. Tapi kalau bohong... ia hanya akan terlihat bodoh.
Ia menekan tombol kirim.
Pesan terkirim. Tapi belum sempat ia menutup layar, seseorang duduk di kursi seberang.
Darian.
Ravina hampir menjatuhkan ponselnya. "P-Pak Darian?"
"Aku lihat kamu belum pulang," katanya pelan. "Sudah makan?"
Ravina menatapnya curiga. "Ada urusan apa kali ini?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bicara."
Nada suaranya tidak sekeras biasanya. Ada kelelahan yang sama seperti malam sebelumnya.
"Bicara tentang apa?"
"Tentang ayahmu."
Jantung Ravina berdetak cepat. "Apa yang Anda tahu tentang ayah saya?"
Darian menatapnya, lalu berkata perlahan, "Lebih banyak daripada yang kau kira."
Ravina menegakkan tubuhnya. "Jangan main-main dengan saya, Pak."
"Aku tidak main-main."
"Kalau begitu jelaskan!"
"Tidak di sini."
Sebelum Ravina sempat membalas, ponselnya bergetar. Pesan balasan dari nomor misterius tadi muncul:
"Hati-hati dengan Darian Mahendra. Dia bukan orang yang kau kira."
Ravina menatap layar ponsel, lalu menatap Darian di depannya.
"Kenapa saya harus percaya Anda, sementara ada orang yang bilang Anda yang menjebak ayah saya?"
Darian terdiam.
Senyumnya tipis, tapi matanya memancarkan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kemarahan.
"Jadi mereka sudah mulai mendekat padamu."
"Mereka siapa?"
"Orang-orang yang sama yang menghancurkan ayahmu," jawabnya datar.
Ravina menatapnya bingung. "Jangan berputar-putar! Jelaskan!"
Darian berdiri, menatapnya dalam. "Kalau kau ingin tahu kebenaran, datanglah ke ruanganku malam ini. Setelah jam kerja."
Tanpa menunggu tanggapan, ia pergi meninggalkan Ravina yang kini duduk terpaku, dengan seribu tanya berputar di kepalanya.
Malam itu, Ravina datang ke ruang direktur dengan langkah ragu.
Lampu sebagian besar sudah dimatikan, hanya cahaya lembut dari lampu meja yang menyala.
Darian duduk di balik meja, menatap layar komputer dengan wajah serius.
"Kau datang juga," katanya tanpa menoleh.
"Anda yang memanggil saya," jawab Ravina dingin.
Darian mematikan layar komputer, lalu menatapnya lurus.
"Ayahmu bukan satu-satunya yang dituduh dalam kasus itu. Ada tiga nama lain, tapi dua di antaranya sudah menghilang."
"Dan?"
"Salah satu dari mereka... adalah direktur rumah sakit ini sebelum aku."
Ravina tertegun. "Apa?"
"Kasus pengadaan alat medis yang membuat ayahmu dituduh itu berhubungan langsung dengan rumah sakit ini. Dan aku datang ke sini bukan kebetulan."
Ravina melangkah mendekat. "Jadi kau tahu siapa dalangnya?"
"Aku punya dugaan," jawab Darian pelan. "Tapi tidak cukup bukti. Karena itu aku tidak bisa bicara banyak."
"Kau tahu ayahku dihancurkan oleh fitnah, tapi kau diam saja?" suara Ravina bergetar menahan amarah.
"Diam bukan berarti tidak bergerak."
"Kalau begitu buktikan!" Ravina menghentak meja di depannya. "Buktikan kalau ayahku tidak bersalah!"
Darian bangkit berdiri, jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
"Aku sedang berusaha, Ravina. Tapi kau tidak tahu seberapa dalam jaringan orang-orang itu."
"Kalau begitu kenapa kau terlihat seperti bagian dari mereka?!" seru Ravina, matanya berkaca-kaca. "Semua orang bilang kau yang menjebak ayahku!"
Hening sejenak.
Hanya suara hujan di luar jendela yang terdengar.
Lalu Darian berkata pelan, tapi tajam, "Kalau aku benar-benar ingin menghancurkan ayahmu, kau tak akan berdiri di sini sekarang."
Ravina terdiam, napasnya memburu.
Ada sesuatu di tatapan Darian yang membuatnya sulit berpaling - campuran luka, amarah, dan kejujuran yang dingin.
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena kau tidak punya pilihan lain."
Darian mendekat, begitu dekat hingga Ravina bisa merasakan aroma khas sabun antiseptik di jasnya.
Tatapan mereka bertemu, intens, penuh ketegangan yang sulit dijelaskan.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Lalu suara keras dari luar pintu memecah momen itu.
"Pak Direktur! Ada audit dari kementerian!" teriak salah satu staf.
Darian segera menjauh. "Pergilah, Ravina. Jangan sampai mereka melihatmu di sini."
"Tapi-"
"Sekarang!"
Ravina berlari keluar lewat pintu belakang ruangan itu. Begitu sampai di koridor gelap, ia sempat menoleh.
Darian berdiri di balik meja, menyambut kedatangan dua orang berpakaian resmi yang memasuki ruangan.
Dan dari balik dinding, Ravina mendengar sepenggal percakapan yang membuat darahnya berdesir.
"Dr. Darian, kami mendapat laporan bahwa Anda terlibat dalam penyelewengan dana pengadaan alat medis tahun lalu."
Darian menjawab tenang, "Silakan periksa semua dokumen saya."
"Tapi ada bukti transfer atas nama ayah dr. Ravina Aleysha Pratama."
Ravina menutup mulutnya, menahan napas agar tak bersuara.
Nama ayahnya lagi. Selalu nama ayahnya.
Tapi kali ini, bukti itu justru mengarah ke Darian.
Dan di saat yang sama, suara misterius di telepon semalam kembali menggema di kepalanya.
"Hati-hati dengan Darian Mahendra. Dia bukan orang yang kau kira."
Ravina berlari keluar dari koridor itu, hatinya kacau, dadanya sesak.
Satu hal pasti - mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Antara kebenaran dan kebohongan, antara kepercayaan dan kebencian, ia kini terjebak di tengah badai yang semakin besar.
Dan di dalamnya, berdiri seorang pria bernama Darian Mahendra Arsatama, yang entah akan menjadi penyelamatnya... atau kehancurannya.
Anda Mungkin Juga Suka





