
Wanita Yang dulu kau Sia-Siakan
Bab 3
Part 3
"Benarkah? Kok kamu gak pernah bilang? " Cahaya terlihat penasaran dengan jawaban suaminya, ada terbersit kecurigaan dalam benak wanita berusia 26 tahun itu.
"Apa semua teman temanku harus aku ceritakan satu persatu padamu mulai aku TK sampai aku SMA? " Bima malah kembali melontarkan pertanyaan pada Istrinya yang sedang penasaran, Wajah Bima mulai nampak tidak karuan, ia sebisa mungkin menahan diri agar tidak salah bicara.
Cahaya mulai terlihat biasa, rona ceria kembali mereka di wajahnya.
"Ah ya sudah, kalau hanya teman aku juga punya." Cahaya mulai mencair, ia mencoba meredam kecurigaan pada suaminya.
'Ah, hampir saja aku ketauan ' batin Bima berseru.
Sementara Arini, ia yakin pasti Bima merahasiakan Masa lalu mereka pada Cahaya.
'Pandai juga kamu merahasiakan Masa lalumu Mas, aku begitu iri melihat kamu dan wanita ini hidup bahagia, aku tak bisa diam saja melihat sandiwara mu itu' terbersit pikiran jahat di benak Arini.
"Oiya mbak Arini, mari masuk dulu, maaf ya aku udah suudzon sama Mbak, lagian mas Bima sih gak pernah cerita apa apa sama aku, wajar dong aku sebagai istrinya cemburu" Cahaya berkata sambil menyipitkan sebelah mata kepada Bima.
Bima membalas dengan merangkul bahu sangat istri, keduanya terlihat begitu mesra dan romantis.
Sontak saja, membuat Arini merasa hancur, Bagaimana tidak, Laki laki yang delapan tahun lalu telah merenggut kesucian nya hingga karena kelakuan laki laki ini pula pernah bersemayam benih tak berdosa didalam rahimnya.
' Tega kamu Mas, bermesraan dengan wanita lain sedangkan aku mati matian berjuang agar bisa menyembuhkan luka hatiku selama bertahun tahun karena mu' Arini berkata dalam hatinya, ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya pada Cahaya. Tapi, sekarang bukan saat yang tepat.
"Ehem... " Arini ingin segera pergi dari tempat itu, lama lama air matanya bisa jatuh tak terkendali.
Bima dan Cahaya sontak melepas pelukan, menyadari ada tamu yang dibiarkan berdiri mematunh sejak tadi.
"Oh, maaf mbak Arini. Sudah membuat mbak berdiri saja dari tadi, ayo mbak silakan masuk, kita minum teh dulu" Ajak Cahaya bersikap ramah pada sangat juragan Lele.
"Terima kasih mbak Cahaya, tapi saya harus pergi, ada banyak pesanan yang harus kami antarkan"
"Oh begitu, oh iya berapa mbak jumlah semuanya mbak? "
"Dua juta setengah"
Cahaya segera mengambil uang didalam dompet dan menyerahkan pada Arini. Adi sang Asisten Arini segera menurunkan lele yang sudah berada dalam kotak fiber kedalam warung.
Bima nampak salah tingkah apalagi saat Arini menatapnya sesekali, ia ingin sekali membatalkan kerjasama dengan Arini. Ia khawatir jika masa lalunya dengan Arini akan terbongkar.
"Terima kasih Mbak Arini, semoga kerja sama kita berjalan baik" Seru Cahaya sebelum Arini meninggalkan mereka berdua.
"Pasti, kerja sama ini pasti akan menguntungkan semua pihak, ya kan Mas Bima? "
Sontak Bima terdiam dan menatap tajam ke arah Arini, ia merasa kata kata Arini seolah menyiratkan suatu hal.
Tanpa menunggu jawaban Bima, Arini segera pergi meninggalkan rumah makan milik Bima.
Arini memasuki mobil, hatinya dag dig dug tak karuan, ia tak menduga akan menjalin kerja sama dengan laki laki yang pernah menodainya bahkan menghancurkan masa depannya.
"Tuhan... Kenapa Aku harus bertemu dia kembali? Kenapa, Tuhan? Aku benci dia, Aku muak melihat wajah dia, Aku benciiiii.... " Teriak Arini memaki lelaki yang bernama Bima.
Dalam hati, tumbuh rasa dendam, ingin sekali Arini membalas perbuatan jahat Bima padanya. Bagaimana bisa, lelaki itu begitu mudah menodainya, lalu pergi begitu saja, bertahun-tahun tak berjumpa kini dia beristri, sungguh membuat hati Arini panas.
"Bahagia sekali hidupmu, Bima. Kau bahkan sudah punya istri, lalu, sedangkan Aku? Jangankan untuk berumah tangga, menjalin hubungan saja Aku sudah trauma"
Arini begitu benci dengan keadaan ini, melihat orang yang telah menghancurkan masa depannya hidup bahagia dengan wanita lain, berbanding terbalik dengan hidup nyan kini.
Entah akan ada lelaki yang mau menerima Arini yang sudah tidak suci lagi?
"Aku harus menghancurkan rumah tangga kalian, harus, enak saja kamu Bima, setelah kau hancurkan masa depanku, kini kau bisa hidup bahagia? Tidak, Aku tidak Terima"
Ada niat jahat Arini terhadap rumah tangga Bima, dendam ataukah cemburu?
Anda Mungkin Juga Suka





