
WANITA SIMPANAN SUAMIKU,
Bab 2
Seyla meraih gelas kosong yang ada di atas meja makan. Menuangkan air putih ke dalamnya kemudian merogoh saku roknya dan mengambil obat tidur dari dalamnya. Dimasukan secukupnya lalu mengaduknya.
Seyla menghela nafas. Memasukan kembali obat tidur itu ke dalam saku roknya dan membawa segelas air putih itu menuju ruang tamu rumahnya di mana sudah ada Bima yang menunggu dan duduk di atas kursi.
"Sudah malam, saya pamit pul_"
"Mau ke mana? Diminum dulu. Maaf ya di rumah aku cumah ada ini," Seyla meletakan segelas air putih yang ia bawa di atas meja.
"Nggak papa," Bima meraihnya lalu meneguknya sampai habis tidak bersisa.
"Makasih ya kamu sudah anterin aku pulang."
Bima mengangguk.
"Sama-sama. Sudah malam, saya pamit pulang," Bima berdiri dari duduknya, hendak melangkah namun jatuh terduduk kembali di atas kursi. Bima memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa, cumah sedikit pusing."
"Kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau pusingnya sudah hilang baru kamu pulang. Kan bahaya menyetir dalam keadaan nggak memungkinkan. Nanti terjadi apa-apa di jalan."
Bima tidak menjawab. Tiba-tiba saja ia merasa mengantuk sekali. Padahal sebelumnya tidak. Dia juga terbiasa begadang di jam seperti ini mengerjakan pekerjaannya dan tidur larut malam.
"Aku mau ke dapur dulu sebentar," Seyla melangkahkan kedua kakinya menjauhi Bima, tepat dilangkah ke lima Seyla menghentikan langkah kakinya dan menatap Bima.
"Dia sudah tidur. Berarti obat tidur itu sudah bekerja sebagaimana mestinya," Seyla berbalik dan melangkah mendekati Bima. Membawa Bima ke kamarnya dengan cara memapahnya lalu dibaringkan di atas tempat tidur.
Seyla melangkah pelan mendekati pintu kamarnya, menutupnya dan kembali mendekati Bima. Membuka satu persatu kancing kemeja yang pria itu kenakan sembari memandangi wajah Bima yang sedang terlelap.
"Tampan," Seyla bergumam pelan. Jari jemarinya bergerak menyentuh setiap inci wajah Bima. Mulai dari kedua kelopak mata, hidung, pipi dan berakhir di bibir.
****
Matahari mulai menampakan diri. Kilauan cahayanya menembus kaca jendela kamar dan menyilaukan penglihatan mata. Sudah pagi ternyata.
"Enghh.." Bima membuka kedua matanya dan berubah posisi menjadi duduk. Memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
Bima menoleh ke samping begitu mendengar suara tangisan seseorang. Ditatapnya wanita berambut panjang yang sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut tebal sampai sebatas dada dan terisak sambil menunduk hingga sebagian rambutnya menghalangi wajahnya.
"Ka-kamu, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Bima. Sedikit gelagapan begitu mengetahui dirinya ada di satu ranjang yang sama dengan seorang wanita.
Seyla mendangakan wajah. Memandang Bima dengan deraian air mata.
"Jadi kamu sama sekali nggak mengingat apa yang sudah kamu lakukan ke aku semalam?" tanya Seyla. Nada suaranya dibuat selirih mungkin seolah dia adalah korban yang paling tersakiti.
Bima menggeleng pelan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa dirinya bisa berada di satu ranjang yang sama bersama Seyla, Bima tidak tahu. Seingatnya semalam setelah mengantarkan Seyla pulang, Bima hendak pulang ke rumahnya namun setelah itu Bima merasakan pusing dan tidak tahu apa-apalagi. Memangnya apa yang sudah dia lakukan semalam.
"Memangnya apa yang sudah saya lakukan semalam?"
"Kamu sudah melakukan hal nggak seonoh sama aku. Kamu jahat! Kamu jahat! Gara-gara kamu aku kehilangan sesuatu yang selalu aku jaga selama ini untuk pendamping hidup aku kelak. Kamu sudah menghancurkan masa depan aku," Seyla melayangkan kepalan tangannya di bahu Bima. Memukuli bahu pria itu sambil mengeluarkan air matanya.
"Aku sudah mengingatkan kamu sebelumnya, bahkan aku dorong kamu supaya kamu nggak melakukan hal bodoh itu. Tapi kamu tetap aja paksa aku. Kamu tau sendirikan aku perempuan sedangkan kamu laki-laki, tenaga kamu jauh lebih kuat dari pada aku. Mana bisa aku menghentikan niat buruk kamu," Seyla menangis tersedu-sedu. Memainkan sandiwara seapik mungkin agar Bima percaya.
"Sekarang aku nggak tahu harus bagaimana. Cepat atau lambat aku pasti akan hamil anak kamu. Aku nggak mau menanggung malu," Seyla menundukan kepala beberapa detik kemudian ia mengangkat wajahnya kembali dan menatap Bima lekat-lekat.
"Aku mau kamu bertanggung jawab dan menikahi aku."
"Kamu gila? Aku ini suami sahabat kamu. Mana mungkin aku menikahi kamu. Lagi pula aku sangat mencintai Nela. Aku nggak mau kehilangan dia," Bima menolak keinginan Seyla.
"Sudah aku duga. Kamu pasti nggak akan mau bertanggung jawab dan menikahi aku karena kamu sangat mencintai Nela, istri kamu. Kamu tenang aja, aku nggak akan memaksa kamu untuk bertanggung jawab. Meskipun aku akan mengandung darah daging kamu sekalipun. Demi keutuhan rumah tangga kalian dan juga kebahagiaan Nela."
****
sekarang belum pulang juga. Nggak tahu apa aku khawatir dan terus mikirin dia sampai aku nggak bisa tidur semalaman. Aku kan takut terjadi sesuatu sama dia. Mau ke mana pun dia pergi apa salahnya mengabari istri, supaya aku bisa lebih tenang. Aku coba hubungi nomornya berkali-kali tapi nomornya nggak aktif. Semoga mas Bima baik-baik aja," Nela memasukan semua pakaian yang baru saja selesai ia lipat ke dalam lemari pakaian dan disusun serapi mungkin.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka lebar. Bima datang dengan penampilan yang sangat acak-acakan. Dua kancing kemeja bagian atasnya terbuka, Bima juga mengancingkan baju kemejanya secara asal-asalan bahkan terlihat tinggi sebelah.
"Kamu baru pulang mas? Kamu dari mana aja semalam? Aku coba hubungi kamu tapi nomor kamu nggak aktif," Nela langsung melayangkan beberapa pertanyaan pada Bima.
"Semalam aku menginap di rumah sahabat kamu Nela. Bahkan tanpa sadar aku melakukan hal bodoh itu bersama sahabat kamu. Aku nggak bisa membayangkan apa jadinya bila kamu mengetahui semuanya. Mungkin kamu akan memilih meninggalkan aku. Aku tega menghianati kamu dan meninggalkan kamu sendirian di rumah semalaman padahal kamu sedang mengandung. Sedangkan aku justru asik melakukan perbuatan menjijikan itu bersama wanita lain," batin Bima. Jujur dia juga tidak mau semua ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dicegah lagi.
"Semalam mama sakit. Maka dari itu mas putuskan datang ke rumah mama untuk menjenguk keadaan mama. Mas sempat berbincang-bincang sama mama sampai pada akhirnya mas ketiduran."
"Maka dari itu kamu nggak pulang semalam?"
"Ya. Sebenarnya mas sempat terbangun sih, waktu mas melihat jam ternyata sudah pukul dua malam. Mama melarang mas pulang ke rumah karena takut terjadi sesuatu kepada mas di jalan," Bima terus saja mengarang cerita agar Nela percaya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam merasa sangat bersalah karena telah membohongi Nela.
"Tapi apa salahnya mengabari aku dan memberitahu aku kalau kamu menginap di rumah mama. Supaya aku nggak khawatir dan kepikiran," ujar Nela. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Bima tentu tidak dapat dibenarkan.
"Masalahnya ponsel mas dalam keadaan mati total, baterainya habis dan mas lupa mengecasnya. Maaf ya, mas janji mas nggak akan seperti ini lagi dan membuat kamu khawatir."
"Iya mas. Kamu sudah makan?" tanya Nela. Seketika mengubah topik pembicaraan mereka.
"Belum sih. Kebetulan mas juga lapar banget. Tadi nggak sempat sarapan di rumah mama."
"Aku masak banyak makanan pagi ini. Kamu langsung ke meja makan aja ya, nanti aku nyusul. Kita sarapan sama-sama."
"Siap istriku yang paling cantik," Bima menoel dagu Nela dan berlalu keluar kamar.
Nela geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Mas Bima ada-ada aja."
Anda Mungkin Juga Suka





