
WANITA SIMPANAN SUAMIKU,
Bab 3
"Yaampun mas, itu kucingnya kamu apa kan? Kenapa tiba-tiba nggak bisa jalan begitu?" Nela panik begitu tiba di dapur melihat ada seekor kucing berwarna oren berjalan dengan dua kakinya yang pincang keluar rumah.
"Mas pukul. Lagian kebiasaan suka curi makanan orang. Ternyata kemarin-kemarin waktu kita mau makan terus lauknya pada hilang dia pelakunya," Bima meletakan kembali sapu yang tadi ia gunakan untuk memukul kucing tersebut di belakang pintu.
"Itu kucing punya siapa sih? Kenapa dibiarkan sama pemiliknya main ke rumah tetangga. Apa nggak pernah dikasih makan sampai-sampai suka nyuri makanan orang," Bima mendudukan kembali tubuhnya di atas kursi makan.
"Seharusnya kamu jangan begitu mas. Apalagi aku sedang mengandung. Nanti kalau terjadi sesuatu sama anak kita bagaimana?" Nela menatap Bima.
"Kamu masih percaya sama yang begituan? Itu cumah mitos sayang. Buktinya rekan kerja mas di kantor waktu istrinya hamil mukulin ayam tetangga yang masuk ke rumahnya sampai mati. Tapi anak mereka nggak kenapa-kenapa tuh. Lahir dalam keadaan normal dan baik-baik aja," Bima mengambil lauk pauk beserta sayur kemudian melahap makanan miliknya.
Nela mengusap perutnya lalu ikut mendudukan tubuhnya di atas kursi makan.
"Kok baju kamu bau parfum perempuan ya mas?" Nela terlihat mengendus-endus.
"Ma-masa sih? Perasaan nggak deh."
Nela mencium baju kemeja yang Bima kenakan.
"Tuh kan baunya dari baju kamu mas," Nela menjauhkan tubuhnya kemudian menatap Bima lekat-lekat.
"Semalam kamu nggak bertemu siapa-siapa selain sama mama, Ayumi dan Kasih kan mas?"
"Se-semalam mas cumah bertemu sama mama, Ayumi dan Kasih sayang. Nggak ada siapa-siapa lagi di sana. Mungkin ini bau parfum Ayumi karena waktu mas datang dia kelihatan senang banget terus peluk mas. Kamu tahu sendirikan Ayumi memang suka manja sama mas meskipun sudah besar."
"Nggak. Ini bukan bau parfum Ayumi mas. Aku paham betul bau semua koleksi parfum Ayumi di kamarnya. Karena aku pernah cobain satu persatu. Dia juga pernah bilang kalau dia nggak suka sama parfum yang baunya terlalu menyengat begini," Nela membantah perkataan Bima barusan.
"Mungkin bau parfum kasih."
"Tadi bilangnya Ayumi sekarang Kasih. Jadi yang benar yang mana mas?"
"Soalnya dua-duanya peluk mas hehe."
"Tapi ini juga bukan bau parfum punya Kasih."
"Oh iya mas lupa. Semalam di rumah mama juga ada tante Hanum. Tante Hanum juga menginap di rumah mama," Bima tersenyum lebar pada Nela.
"Mungkin ini bau parfum tante Hanum karena semalam waktu mas datang tante Hanum juga memeluk mas. Mungkin kangen karena jarang bertemu."
"Biasanya kalau seseorang ditanya dan dia selalu memberikan jawaban berubah-ubah, itu tandanya dia sedang berbohong. Apa ada yang mas Bima sembunyikan dari aku? Mas Bima juga terlihat gugup saat menjawab pertanyaan aku. Apa mas Bima bertemu dengan perempuan lain selain mama, Ayumi dan Kasih semalam? Kalau iya kenapa harus ditutupi dan kenapa mas Bima nggak mau jujur sama aku," batin Nela. Kedua matanya terus mengawasi Bima yang kembali melahap makanan miliknya.
****
"Kenapa aku terus kepikiran sama Seyla ya. Bila dipikir-pikir Seyla cantik juga. Bahkan jauh lebih cantik dari pada Nela," Bima berbaring di atas tempat tidurnya sembari memandangi langit-langit kamarnya. Menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan.
"Sejak pertama kali Nela mengenalkan aku dengan Seyla seperti ada yang berbeda setiap kali aku melihat dia. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa aku suka sama Seyla? Ah ngomong apasih aku ini. Mana mungkin lah aku suka sama dia. Aku kan sukanya cumah sama Nela."
Bima menolehkan wajah dan menatap Nela yang baru saja memasuki kamar.
"Mas, tadi ada pesan dari Kasih."
"Terus Kasih bilang apa?"
Nela mendudukan tubuhnya di pinggiran tempat tidur.
"Dia minta uang buat beli ponsel baru. Perasaan Kasih baru beli ponsel baru bulan lalu deh mas. Masa mau membeli lagi."
"Kamu seperti nggak tahu aja anak zaman sekarang. Begitu ada barang keluaran terbaru ya langsung tergiur. Begitu pula dengan Kasih. Yaudah kamu kasih aja uangnya. Kasihan juga Kasih kalau keinginan dia nggak dituruti. Dia kan adik mas," ucap Bima.
"Aku tahu mas. Tapi kamu juga jangan terlalu memanjakan adik kamu. Nggak baik. Apa-apa selalu dituruti. Mana uangnya untuk sesuatu yang nggak berguna pula. Kalau uangnya dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat sih aku oke-oke aja. Ini buat beli ponsel baru sedangkan ponsel dia yang lama juga masih bisa dipakai."
Bima berubah posisi menjadi duduk. Menatap Nela tidak suka setelah mendengar perkataan Nela barusan.
"Belum lagi kuliah dia kamu yang biayain."
"Kasih itu cumah punya mas dan mama sekarang. Mama nggak kerja. Mana punya uang untuk memenuhi keinginan Ayumi dan Kasih. Papa juga sudah meninggal. Sudah nggak ada lagi tempat mereka bermanjaan selain mas karena mas kakaknya. Jadi mas harap kamu mengerti."
"Kan bisa kerja sampingan mas untuk membiayai kuliahnya. Kalau sekiranya kurang baru kita bantu. Nggak harus kita yang membiayai semua biaya kuliahnya bahkan sejak awal Kasih masuk kuliah. Kuliah kita yang biayain, uang jajan perbulan juga, beli apa-apa tinggal minta sama kakaknya tapi dia hobi banget hambur-hamburkan uang sama teman-temannya. Mana uang pemberian dari kamu pula. Kemarin aku lihat dia traktir teman-temannya makan di restoran. Mana temannya banyak banget pula," Nela memberitahu Bima.
"Oh jadi kamu keberatan kalau mas memberi mama, Ayumi dan Kasih uang? Iya mas tahu kok perusahaan kamu yang punya. Mas kerja di perusahaan kamu dan kamu yang meminta mas untuk mengurusnya. Rumah juga kamu yang punya. Mas cumah menumpang di rumah ini. Menumpang makan di rumah kamu, semua aset berharga punya kamu. Mas nggak pernah lupa itu kok. Tanpa kamu mas hanya pengangguran nggak berguna. Jadi wajarlah kamu keberatan mas memberi mama dan adik-adik mas uang karena semua uang yang mas berikan sumbernya dari kamu."
"Ya, aku keberatan. Rasanya sudah capek aku begini terus. Mana yang dibantu suka nggak tahu diri. Dikira mencari uang gampang apa? Kalau sekali dua kali aku nggak masalah. Tapi ini sudah terlalu sering. Apalagi kedua adik kamu nggak ada sopan-sopannya sama aku. Setiap kali kamu mengajak aku menginap di rumah mama, mereka pasti tiba-tiba menginap di rumah teman mereka. Maksudnya apa coba? Mereka juga pernah bilang sama kamu nggak bisa cari istri yang cantik apa, masa cari istri yang sebelas dua belas sama pembantu," Nela mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam dalam hatinya. Bahkan adik Bima, Ayumi pernah membuat status WA nenek peyot menikah bersama pangeran tepat di hari pernikahan mereka.
"Kamu tuh kenapa sih sepertinya benci banget sama Ayumi dan Kasih? Kamu punya dendam apa sama mereka? Mereka memang selalu menginap di rumah teman mereka setiap kali kita menginap di rumah mama, ya mungkin karena kamar di rumah mama cumah ada tiga. Satu kamar mama, satu kamar Kasih dan satu kamar Ayumi. Kalau mereka nggak tidur di rumah kan kamarnya bisa kita yang menempati."
"Mas, Kasih dan Ayumi itu sama-sama perempuan. Bisa tidur satu kamar di kamar Ayumi atau di kamar Kasih. Sedangkan kita bisa menempati salah satu kamar mereka yang kosong," balas Nela tak mau kalah.
"Tapi setiap kali kita datang ke rumah mama mereka selalu berlaku sopan kok sama kamu. Mas melihat sendiri."
"Itu kan di depan kamu. Beda lagi kalau kamu nggak ada. Sekarang begini aja mas. Kalau kamu diminta untuk memilih, mana yang akan kamu pilih? Aku atau adik kamu?"
"Kamu nggak salah tanya begitu? Ya jelas mas pilih Ayumi dan Kasih karena mereka berdua adik mas. Sudahlah, mas malas berdebat sama kamu," Bima berbaring membelakangi Nela.
"Padahal aku berharap kamu akan memilih dua-duanya mas," batin Nela. Tapi yasudahlah. Nyatanya memang begitu. Bima lebih menyayangi keluarganya dibandingkan dirinya. Bahkan setiap kali mereka beradu mulut pasti Bima selalu membela kedua adiknya meski kedua adiknya salah sekalipun.
Anda Mungkin Juga Suka





