
Wanita Pilihan Suamiku
Bab 2
🏵️🏵️🏵️
“Sabar, Sayang. Jangan pernah berkata seperti itu lagi.”
Mas Arif memelukku sangat erat, kehangatan itu sangat terasa. Namun, aku tetap merasa tidak berguna lagi. Aku tidak pantas lagi mendampingi Mas Arif karena aku istri yang tidak dapat dibanggakan.
🏵️🏵️🏵️
Tiga tahun telah berlalu, kasih sayang Mas Arif masih sama terhadapku. Namun, pertanyaan mama mertua membuatku sangat bingung. Mereka tidak pernah tahu bahwa aku dan suami menyembunyikan satu rahasia terbesar dalam keluarga ini.
Seminggu yang lalu, aku dan Mas Arif berkunjung ke rumah mertua. Mereka sangat bahagia menyambut kedatangan kami. Kak Nila—kakak ipar tertua yang sudah berkeluarga kebetulan juga sedang berada di sana. Dia datang beserta suami dan Tiara—anak perempuan mereka yang kini duduk di SD kelas dua.
Tiara sangat cantik dan manis, persis seperti wanita yang melahirkannya. Aku amat menyayanginya dan dia juga selalu ingin berada di dekatku jika sudah bertemu.
“Kapan kamu hamil lagi, Al?” Pertanyaan Kak Nila membuatku lemah.
“Aku ….” Aku menjeda karena Mas Arif melirik ke arahku.
“Doakan aja yang terbaik untuk keluarga kecil kami, Kak.” Mas Arif memberikan balasan atas pertanyaan kakaknya.
“Udah nggak sabar, nih, untuk gendong anak kamu, Rif.” Kak Nila mengembangkan senyumnya.
“Mama juga udah nggak sabar ingin menimang cucu dari anak laki-laki. Kalau nunggu Adam, mah, lama. Kuliahnya aja baru semester tiga.” Aku jauh lebih terkejut mendengarkan keluhan sang mama mertua. Dia menyebut nama adiknya Mas Arif.
“Iya, Mah. Semoga harapan itu akan segera terwujud. Iya, kan, Sayang?” Mas Arif tersenyum kepadaku.
Aku berusaha memberikan jawaban yang tidak mengandung kecurigaan keluarga Mas Arif. “Iya, Mah. Semoga harapan Mama segera terwujud.” Aku berusaha kuat mengeluarkan kalimat tersebut.
Aku dan Mas Arif belum mampu memberitahukan kenyataan yang sebenarnya kepada keluarga. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka sudah mengetahui tentang semua itu. Aku tidak sanggup membayangkan sesuatu yang tidak diharapkan. Pikiran menakutkan selalu terlintas di benakku.
“Kamu mikirin apa, sih, Sayang?” Mas Arif membuyarkan lamunanku. Saat ini, kami sedang duduk di sofa ruang TV.
“Aku bingung harus gimana, Mas?”
“Bingung kenapa?”
“Aku merasa kalau kita selalu memberikan harapan palsu pada keluargamu. Bagaimana kalau kita jujur saja dengan apa yang kualami?” Aku memberikan saran kepada Mas Arif.
“Apa kamu yakin, Sayang?”
“Harus yakin, Mas. Aku nggak sanggup harus melakukan kebohongan terus.”
“Jika itu yang terbaik untuk semuanya, aku ngikut aja.” Mas Arif membelai rambutku.
“Semoga keluarga kamu mengerti posisi yang aku hadapi, ya, Mas.”
“Iya, Sayang.” Mas Arif selalu menguatkan dan meyakinkan diriku.
Sebulan kemudian, akhirnya aku dan Mas Arif berhasil memberitahukan hal yang sebenarnya kepada keluarganya. Sungguh, aku sangat terharu atas reaksi yang mereka berikan. Batapa mulia hati papa dan mama mertua menerima kekuranganku.
“Ini sudah kehendak Yang Kuasa, kalian harus kuat. Tidak perlu menutupi hal seperti ini dari keluarga, kita akan mencari solusinya. Kalian bisa mengadopsi anak.” Aku sangat terharu mendengar keikhlasan dan saran yang diberikan mama mertua.
Oleh karena itu, aku sangat menyetujui rencana yang diutarakan keluarga Mas Arif. Namun, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba tidak menyetujui saran ibunya, padahal awalnya dia yang sangat antusias untuk memenuhi keinginan orang tuanya.
Dua minggu terakhir ini, Mas Arif juga terlihat sangat sibuk dengan ponselnya. Saat sedang berdua saja, pandangannya hanya tertuju ke layar benda itu. Ada kejanggalan yang kurasakan atas perubahannya.
Sungguh, aku tidak percaya bahwa suami yang selalu memberikan perhatian penuh selama ini, tiba-tiba menunjukkan perubahan yang tidak dapat ditutupi. Saat sedang berbincang dengannya, dia hanya memberikan jawaban seadanya dan kembali fokus ke layar ponsel. Ada apa dengan suamiku? Kenapa dia tiba-tiba berubah?
🏵️🏵️🏵️
Aku belum mampu memejamkan mata mengingat perubahan sikap Mas Arif akhir-akhir ini. Aku masih sangat penasaran, kenapa dia lebih fokus pada layar ponselnya. Rasa ingin tahu itu makin bergejolak saat melihat dia sudah terlelap.
Aku segera meraih ponsel Mas Arif. Aku makin heran karena ternyata untuk membuka benda itu memerlukan kata sandi. Kecurigaan yang kurasakan makin tidak dapat terelakkan. Sebelumnya, dia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku.
Setelah berpikir beberapa menit, aku mencoba memasukkan tanggal lahir Mas Arif, tetapi tetap gagal. Aku terus berusaha mengingat hari istimewa dalam hubungan kami. Tiba-tiba terlintas hari bersatunya cinta kami. Aku dengan semangat menggunakan angka tersebut.
Ternyata usahaku berhasil dan ponsel akhirnya terbuka. Aku mencoba membuka pesan dalam aplikasi hijau milik Mas Arif, terdapat nama unik pada salah satu pengirim pesan. Tuan Putri, pemilik akun tersebut.
Aku makin ingin membuka isi percakapan dari nama tersebut. Ternyata banyak perbincangan-perbincangan romantis di dalamnya. Hati ini sangat sedih dan sakit setelah mengetahui Mas Arif bersikap mesra kepada wanita lain.
=============
Anda Mungkin Juga Suka





