
Wanita Kontrak
Bab 3
Kana yang baru selesai mandi itu keluar dari kamarnya dengan ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin terus bersembunyi di kamarnya karena malu, namun Ian sedang menunggunya di ruang tengah.
Dengan kepala tertunduk, Kana mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan Ian. Rasanya ia tidak memiliki keberanian untuk menatap Ian setelah pria itu memergokinya pulang saat hampir siang dalam keadaan mabuk padahal baru kemarin pengadilan meresmikan perceraian mereka.
“Aku datang untuk membereskan barang-barangku. Besok akan ada petugas pindahan yang mengambilnya, jadi bisakah kau ada di rumah untuk menemui mereka?” tanya Ian memulai pembicaraannya dengan Kana. “Atau jika kau sibuk, aku bisa meminta mereka datang–“
“Aku tidak sibuk!” Kana memotong ucapan Ian dengan cepat. Sepertinya khawatir pria itu akan berpikir jika besok dirinya akan pergi ke club lagi hingga tidak bisa menerima petugas pindahan. “Besok aku akan berada di rumah seharian.”
“Ah, aku lega mendengarnya,” ujar Ian sambil tersenyum. Yang kemudian senyumannya jadi memudar saat tatapannya tidak sengaja pada bekas ciuman yang warnanya cukup pekat di sisi kiri leher Kana, yang sepertinya Kana sendiri tidak menyadari jika ada bekas ciuman Ian di sana.
Padahal kemarin Ian merasa agak bersalah pada Kana. Karena tiba-tiba menceraikan Kana dan membuat wanita itu menjadi janda di usianya yang masih sangat muda, Ian pikir Kana pasti akan kesulitan melewati masa-masa setelah perceraian mereka. Namun setelah melihat bagaimana Kana pulang pagi tadi dalam keadaan mabuk dan bekas ciuman di lehernya, Ian sadar jika Kana bisa melalui situasi ini jauh lebih baik dari dugaannya.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Ian yang membuat Kana terdiam cukup lama.
Karena sejujurnya, meski sejak awal tahu Kana sudah tahu jika di penghujung pernikahan kontraknya bersama Ian pasti akan ada perceraian, ia sama sekali tidak pernah merencanakan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya setelah resmi menyandang status janda.
“Aku belum merencanakan apa-apa,” jawab Kana dengan jujur. “Aku hanya akan menjalani hidupku seperti biasanya dan lihat nanti ke mana hidup ini akan membawaku.”
“Aku minta maaf karena telah menghambat masa mudamu dengan pernikahan kita. Kuharap sekarang kau bisa menikmati kembali hidupmu seperti saat aku belum ada di dalamnya.”
Perkataan Ian membuat Kana diam-diam tersenyum miris mengingat bagaimana hidupnya dulu sebelum ia mengenal Ian. Ia hanya wanita sebatang kara yang meski telah bekerja di minimarket saat pagi hari dan bekerja di restoran cepat saji saat malam hari namun tidak pernah memiliki cukup uang untuk bersenang-senang. Ia sudah bekerja sejak lulus SMA, terus bekerja hingga tanpa sadar telah berusia 23 tahun tanpa memiliki tabungan atau sesuatu yang berharga meski telah bekerja bertahun-tahun.
Sampai kemudian sebuah keajaiban datang padanya. Saat pertama kali melihat Ian datang ke restoran cepat saji tempatnya bekerja, ia sama sekali tidak memiliki firasat apapun tentang pelanggannya itu. Sampai kemudian Ian yang datang hampir setiap malam di saat dirinya yang bekerja shift malam sedang bertugas mulai menarik perhatian Kana, rasa penasaran wanita itu pada Ian justru mendorongnya jatuh ke dalam jurang tak berdasar bernama cinta.
Hingga suatu malam, Ian yang biasanya hanya akan bicara padanya saat memesan makanan menawarkan sesuatu yang mampu membuat Kana tercengang.
“Apa kau mau menikah denganku? Kau tidak perlu bekerja setiap malam di tempat ini lagi jika menikah denganku.”
Itu benar-benar keajaiban. Bahkan meski Ian yang menawarinya pernikahan karena sangat putus asa dengan orang tuanya yang terus berusaha menjodohkannya berkata jika ini hanya pernikahan kontrak, Kana dengan polosnya masih berharap akan ada keajaiban dalam pernikahan mereka. Karena di semua kisah tentang pernikahan kontrak yang pernah ia baca atau tonton, dua orang yang terlibat kontrak itu pada akhirnya akan benar-benar saling jatuh cinta.
Namun sayangnya yang seperti itu tidak terjadi dalam kisah Ian dan Kana. Ian menikahi Kana sebagai kedok atas hubungannya yang tidak direstui bersama Freya dan itu membuat Kana sadar jika sejak awal dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan Ian.
Dan bahkan sampai akhir pun, kontrak ini berjalan sebagaimana yang telah mereka sepakati tanpa ada keajaiban lain yang Kana harap bisa membuat pernikahan mereka abadi selamanya. Kecuali di bagian Kana yang tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada Ian dan membuatnya jadi menderita sendiri saat kini mereka benar-benar telah berpisah.
“Lalu bagaimana selanjutnya setelah petugas pindahan datang besok?” tanya Kana setelah beberapa saat keduanya sama-sama terdiam.
“Kau hanya perlu menunjukkan kamarku dan mereka akan menyelesaikan sisanya,” sahut Ian yang sayangnya ia salah tangkap dengan maksud dari pertanyaan yang Kana tanyakan padanya.
“Setelah petugas pindahan itu membawa semua barangmu, lalu bagaimana?” Kana kembali bertanya. Dan saat melihat Ian menatapnya dengan bingung, ia menjelaskan lebih jauh tentang sesuatu yang terasa mengusik hatinya. “Setelah barangmu tidak ada lagi di sini, apa kau tidak akan datang ke sini lagi? Apa kita tidak akan bertemu lagi?”
“Kurasa... Kita tidak punya alasan untuk bertemu lagi,” sahut Ian yang menyadarkan Kana jika sejak awal pria itu memang berencana untuk tidak pernah berurusan lagi dengannya setelah perceraian mereka. “Dan kau bisa melakukan apa saja dengan apartemen ini. Kau bisa terus tinggal atau menjualnya dan pindah ke tempat lain yang kau sukai. Kau tidak perlu merasa sungkan padaku karena apartemen ini sudah menjadi milikmu sepenuhnya.”
Kana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lagi karena semuanya sudah sangat jelas. Dalam hubungannya dengan Ian, hanya dirinya saja yang jatuh cinta dan sekarang pun saat semuanya telah berakhir antara dirinya dan Ian, dirinya menjadi satu-satunya orang yang merasa patah hati karenanya.
“Kalau begitu aku akan pergi sekarang.” Ian berpamitan seraya bangkit dari duduknya, menyadarkan Kana jika sejak tadi ia sama sekali tidak menyuguhkan apapun untuk Ian yang setelah perceraian mereka bersikap seperti tamu di rumah ini.
“Petugasnya mungkin akan datang siang hari,” kata Ian setelah dirinya berada di luar apartemen dengan Kana yang mengantarnya sampai depan pintu.
“Tidak masalah mau jam berapa pun. Aku akan ada di rumah sepanjang hari besok,” sahut Kana.
“Kalau begitu aku akan–“
“Ah, benar yang ini.”
Ian menghentikan kalimatnya saat ada sebuah suara yang menginterupsinya. Ian menolehkan kepalanya ke belakang di mana sudah ada Lucas yang berdiri dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu muda sementara Kana yang melihat kehadiran pria itu–pria yang ingat sebagai seseorang yang telah membuatnya mabuk berat lalu membawanya ke hotel–sudah membelalakkan kedua matanya tak percaya.
“Siapa?” tanya Ian yang membuat Lucas menatapnya. Yang meski tubuh Ian sudah sangat tinggi tapi masih membuat Lucas menundukkan tatapannya pada pria itu karena tubuhnya yang beberapa senti lebih tinggi dari Ian.
“Bukan urusanmu,” sahut Lucas. Ia lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Kana yang masih menatapnya dengan kedua mata membesar. “Sepertinya kau sudah sadar sekarang. Apa kita bisa melanjutkan pembicaraan yang semalam setelah orang ini pergi?”
Ian yang sadar jika ‘orang ini’ yang disebut Lucas itu adalah dirinya itu memilih untuk bersikap peka dengan berkata, “Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Selamat tinggal.”
Ian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, mengabaikan rasa penasarannya tentang Lucas yang tiba-tiba muncul di rumah Kana karena ia sadar jika hal tersebut sama sekali bukan urusannya.
Sementara itu, Kana sepertinya masih sangat terkejut dengan kemunculan Lucas di hadapannya hingga tidak sadar jika ‘selamat tinggal’ yang Ian ucapkan padanya mungkin akan menjadi hal terakhir yang ia dengar dari pria itu.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Kana dengan nada waspada. “Bagaimana kau bisa tahu rumahku?”
“Kau tidak ingat kita sudah membicarakan semuanya semalam? Tentang pernikahan kontrakmu yang kacau dan tentang pernikahan kontrak yang kita rencanakan.”
Jawaban Lucas membuat kedua mata Kana kembali terbelalak. Ia benar-benar tidak bisa ingat apa saja yang sudah ia katakan dan lakukan dengan Lucas semalam dan itu membuatnya jadi sangat cemas saat mendengar kalimat terakhir Lucas.
“Pernikahan kontrak kita? Siapa maksudmu?” tanya Kana yang merasa jika dirinya sudah salah tangkap dengan ucapan Lucas sebelumnya.
Namun Lucas justru mengatakan sesuatu yang membuat Kana jadi sangat-sangat menyesali keputusannya untuk pergi ke club malam karena sekarang ia justru melibatkan dirinya dalam masalah lain yang jauh lebih besar.
“Pernikahan kontrak kau dan aku. Kita sudah membicarakannya semalam dan kau juga sudah mengambil jam tanganku untuk uang muka. Itu salah satu jam favoritku yang paling mahal dan karena kau harus membayar denda 10 kali lipat jika ingin membatalkan perjanjian kita, aku tidak yakin apartemen ini saja cukup untuk menggantinya.”
**To Be Continued**
Anda Mungkin Juga Suka





