Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel WANITA INCARAN CEO TAMPAN

WANITA INCARAN CEO TAMPAN

Christian terdesak oleh ancaman perjodohan sang kakek jika tak membawa kekasih dalam tiga hari. Dia pun mengejar penjaga toko bunga misterius yang akhirnya menghilang tanpa jejak. Terpaksa menyerah, Christian setuju dijodohkan dengan Calista Madison. Betapa terkejutnya dia saat tahu Calista adalah wanita incarannya yang kini tampil angkuh dan menolak dirinya. Christian yang terluka harga dirinya mulai merancang jebakan agar Calista tak lagi bisa melarikan diri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sean, bisa kau bantu aku?"

Seorang pria berdiri tanpa mengenakan baju, menatap pemandangan isi rumahnya dari balkon. Beberapa kali angin menampar, menghamburkan anak rambutnya. Pria itu tak bergeming. Wajahnya kokoh dan dingin, terlihat angkuh.

"Carikan data tentang Lily, penjual bunga di Toko La Madame Florist. Aku ingin malam ini kau mencarikannya untukku."

"Hei, apa yang kau rencanakan?"

Chris menghela napas. "Aku ingin menikahinya. Wanita itu harus segera aku nikahi, Sean. Kakek semakin mendesak, memintaku segera menikah. Kau tahu ... aku tak bisa menikahi wanita asing. Bahkan aku hanya tahu namanya."

"Bagaimana jika wanita itu cantik, sexy, tinggi, pandai dan semua kriteriamu ada pada dirinya? Apa kau akan tetap menolak, Chris? Aku yakin lambat laun pun kau akan jatuh cinta, Boy! Ayolah, jangan terlalu munafik."

"Sean, aku tidak sedang bergurau. Aku ingin menikahi wanita itu, bukan wanita pilihan kakek. Tahu apa kakekku tentang selera wanitaku?" Chris menatap langit gelap, tak ada bintang atau bulan di atas sana.

"Chris, pikirkan dulu. Kau jangan salah melangkah, menyesal hanya ada di belakang. Aku tidak mau kau mengeluh penuh penyesalan kepadaku nantinya. Lagi pula menikah itu untuk seumur hidup, Chris. Perlu kau tahu, seumur hidup itu lama."

Kulit kepala Chris terasa gatal, kesal dengan nasehat dari asistennya. Mereka sama-sama masih sendiri, harusnya saling mendukung.

"Kau ingin mengguruiku? Hei, kau pun sama denganku! Apa kau melupakannya?"

Tawa menggelegar dari seberang. "Kita berbeda, Boy. Aku bebas memilih wanita siapa saja. Lalu kau? Wanitamu pilihan. Sudah terima saja, aku yakin wanita itu sangat cantik."

"Sean, kau ini berada di pihak siapa? Kau ingin gajimu menjadi setengah?" ancam Chris.

"Santai, Boy. Aku akan mencarikan data itu untukmu. Sebentar lagi segera aku kirim."

"Aku akan menunggu," jawab Chris mematikan sambungan sepihak.

Mata Chris melunak. Perasaan tenang kemudian menyelimuti hatinya. Kedua bola mata berubah teduh, kegelisahan mendadak sirna.

"Segera akan aku dapatkan tentangmu ... Lily. Aku tak akan melepaskanmu. Lily, kau adalah milikku." Mulut Chris membentuk garis suram.

***

"Jadwalku sudah selesai bukan?" tanya Chris, melonggarkan dasi di lehernya. Raut wajahnya begitu bahagia, aroma parfumnya tercium dari jarak jauh.

"Sudah. Kau mau ke mana?" Dahi Sean menjadi bertumpuk-tumpuk.

Chris tersenyum. "Aku harus ke La Madame, Sean. Saatnya membeli bunga."

"Bunga atau wanita itu?"

"Bila bisa dua sekaligus, untuk apa hanya satu?" Chris mengedipkan matanya.

Wajah Sean mendadak berpikir. "Informasi kemarin belum akurat, Chris. Aku hanya tahu alamat tinggalnya. Data Lily sangat dirahasikan. Apa kau tak merasa aneh dengannya? Kau tak takut dia hanya sebagai mata-mata? Perlu kau ingat musuhmu banyak, Chris."

Helaan napas berhembus, Chris menatap Sean. "Kenapa kau berpikir demikian? Kau sengaja ingin membuatku takut? Aku rasa ... dia tidak sejahat itu. Mana mungkin wanita secantik Lily menjadi agen rahasia?"

Sean memukul dahinya perlahan. "Mengapa kau polos sekali, hah? Mata-mata tak hanya pria saja, wanita khusus menjerat target pria ... sepertimu."

"Lily bukan agen rahasia atau mata-mata, berhenti menuduhnya macam-macam." Chris berdehem, mengenakan parfum yang disaku.

"Kau ... membawa parfum? Chris, sejak kapan kau menjadi narsis?" tanya Sean.

Chris berdecak, menghentikan tangannya. "Harusnya kau tahu syarat mendekati wanita, Sean, harus wangi. Kau bau, maka dari itu tidak ada wanita yang mendekatimu."

"Enak saja!"

Chris melangkah, meninggalkan Sean. Genjotan semangat menggebu di dalam hati Chris, tujuan utama tentu ingin meluluhkan hati wanita incarannya. Sean mendengus kesal, kemudian mengikuti bosnya.

Selain menjadi asisten di kantor, Sean harus menjadi segala hal yang dibutuhkan Chris, termasuk supir. Cucu dari Marlino Franklin memiliki sifat sama persis dengan sang ayah dan kakeknya, Sean tak terkejut akan hal itu.

"Cepat sedikit, Sean!" Sean menghela napas kasar.

"Kau sendiri bisa membawa mobil, Chris. Aku masih memiliki pekerjaan yang lain," gerutu Sean.

Chris berhenti. "Aku mendengarnya, Sean! Ayo cepat sedikit. Aku ingin bertemu dengan Lily."

Pria dua puluh enam tahun itu berdecak kesal. "Kau tahu, bosku tak hanya kau. Bagaimana dengan Mr. Marlino, Chris? Aku harus mengirim laporan."

"Itu urusan nanti, Sean. Kau harus bersamaku terlebih dahulu. Kakek adalah urusan nanti. Aku akan membantumu. Ada masalah yang lebih penting daripada kakek, Chris, yaitu ... Lily." Chris mendekat, merangkul bahu asistennya sambil menepuk lembut.

Sean mengangguk. "Baiklah, aku pasrah."

"Ini baru asisten yang aku kenali. Siang ini aku akan menjadi pengemudi dan traktir makan siang." Chris tertawa kecil.

"Setidaknya itu menjadi tebusan untuk rasa penatku," ucap Sean.

Mobil Audi hitam melesat meninggalkan parkiran khusus, membelah jalanan kota siang ini. Kacamata hitam bertengger manis di hidung mancung sang pengemudi, bibirnya bersenandung kecil. Pria di sebelahnya memijat kening teratur.

"Kau membuat hariku menjadi suram, Chris." Sean bersuara serak.

"Sean, sudah seharusnya kau merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Hidupmu selalu diperbudak pekerjaan, kali ini nikmati jam kerja dengan bersenang-senang. Aku yakin kau tak akan mungkin menyesal. Malah berterima kasih denganku," jawab Chris dengan mengedipkan matanya.

"Aku tahu, Chris." Sean memilih memejamkan matanya.

Mobil hitam itu melaju cepat, kecepatan yang tak pernah dilakukan oleh Sean. Chris tak sabar untuk segera sampai di tempat tujuannya.

Hingga kecepatan berhenti sepenuhnya. Semerbak wangi menusuk hidung, Sean membuka matanya. Chris tersenyum, memperhatikan penampilannya. Tanpa berpamitan, turun dari mobil dan masuk ke dalam La Madame Florist.

Penuh percaya diri dengan wajah bersinar, langkah Chris yakin akan berjumpa wanita pujaannya. Lirikan mata mengarah ke penjuru toko, tak ada si wanita cantik. Chris belum menyerah.

"Selamat siang, Tuan. Apa yang bisa kami bantu?" Pria yang sebelumnya pernah Chris temui.

"Siang. Aku ingin mawah merah seperti biasa," jawab Chris. "Lily yang tahu."

Pria itu menoleh, kemudian mengerutkan keningnya. "Maaf, Tuan, Lily tidak masuk hari ini."

"Ke mana?"

"Sedang cuti, Tuan." Pria itu berjalan ke arah vas mawar merah, bunga yang sebelumnya dibeli Chris. "Kami akan membungkus bunga mawar merah untuk adan, Tuan."

Chris diam. Wajahnya memberengut, suram, cahaya itu menghilang sekejap. Tangannya mengepal dan meremas kuat. Garis kecewa terpatri di kedua bola matanya.

Sampai bunga selesai dikemas, Chris masih diam. Hanya menyerahkan uang, kemudian meninggalkan toko itu. Masuk ke dalam mobil dengan aura menyeramkan. Tak ada suara yang keluar, menyandarkan bahunya lalu bersedekap dada.

"Kau kenapa? Gelap sekali," ucap Sean.

Chris mendesah kecewa. "Aku tidak bertemu dengan Lily."

Kening Sean mengerut. "Kenapa? Wanita itu takut bertemu denganmu?"

"Dia cuti." Chris menghela napas.

"Aku masih memiliki hari esok, Sean. Cepat atau lambat aku akan bertemu dengannya," tambah Chris, suaranya mencerminkan rasa bangga.

Sean melirik bunga mawar merah itu, menggeleng perlahan. Di dalam ruang kerja, mawar itu hanya layu dan mengering. Chris hanya menimbun, bukan menikmati keindahannya.

"Kau membeli ... lagi?"

"Tentu saja. Tujuan utamaku adalah membeli bunga, sekaligus bertemu dengan Lily. Tak mungkin aku ke sana tanpa membeli bunga, Sean." Chris melepas kacamatanya, melempar asal.

Sean memutar bola matanya. Alasan basi, Chris. Lagi pula di ruanganmu bunga ini hanya layu. Aku rasa kau tak menyukai bunganya, tapi penjualnya.

***

Janji harus ditepati. Pria muda itu mengenakan kemeja hitam polos dengan celana senada. Raut wajah sumringah, bersinar seperti kemarin. Semerbak wangi tercium dari kejauhan, bahkan parfumnya masuk ke dalam saku.

Langkah kaki teratur, turun satu persatu anak tangga. Sepi, tak ada orang di ruang makan. Kening Chris mengerut, tak seperti biasanya. Mereka ke mana?

Jonathan turut tak terlihat, pria diktator itu kemungkinan besar bekerja di luar kota. Chris tak melihatnya akhir-akhir ini. Sedangkan Marlino, Chris tidak tahu keberadaannya.

"Aku harus segera bergegas," ucap Chris.

Kembali menaiki Mobil Audi, Chris melajukan dengan kecepatan sedang. Menikmati perjalanan dan udara pagi ini.

Roda bergesekan dengan aspal, berhenti di sebuah toko bunga. Kemudian Chris mengembangkan senyuman. Memperbaiki penampilannya, berusaha memberikan yang terbaik. Keluar dari mobilnya, berjalan dengan gagah. Hingga raut wajahnya mendadak berubah, datar dan dingin.

Ke mana perginya Lily? Mengapa dia tidak ada kembali?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Kakak Pembunuh
8.6
Malam pernikahan berubah maut saat Carlos Fowler membiarkan aku tewas di tangan penculik demi wanita lain. Di saat terakhir, kakak laki-lakinya yang lumpuh, Vincent, datang membalaskan dendamku. Kini aku terlahir kembali untuk memperbaiki takdir. Di depan altar, kubatalkan pernikahan dengan Carlos secara mengejutkan. Aku justru melamar Vincent yang terabaikan di kursi rodanya. Carlos mengira ini hanya gertakan, namun ia akan segera kehilangan segalanya.
Sampul Novel Cinta Rahasia Sang Pewaris
9.8
Ananda Edward, pewaris keras kepala, harus menyamar jadi karyawan biasa bernama Ananda Iskandar demi bebas dari penjara. Di tengah hukuman sang ayah, ia ditugaskan membantu Erika Adhinata, manajer cerdas yang perlahan meluluhkan hatinya yang dingin. Namun, cinta Nanda terhalang masa lalu Erika yang masih terikat pada pria hedonis. Akankah Nanda berhasil memenangkan hati Erika di tengah sandiwara identitasnya? Ikuti perjuangan cinta sang pewaris yang penuh rintangan.
Sampul Novel Dihina Miskin, Aku Istri Konglomerat
8.4
Hubungan lima tahun Ziva kandas setelah Luis Loren membelikan kapal pesiar mewah untuk Paula, lalu menghina latar belakang Ziva. Lima tahun kemudian, Luis yang kini sukses bertemu kembali dengan Ziva di sebuah hotel megah. Melihat penampilan Ziva yang berantakan di kolam air mancur, Luis dengan sombong mengira mantan kekasihnya itu sengaja mengemis iba. Padahal, Ziva hanya sedang mencari berlian biru berharga hadiah ulang tahun putranya yang tidak sengaja terjatuh ke dalam air.
Sampul Novel Kita Tidak Akan Pernah Berpisah Lagi
9.6
Pasca tewas tragis akibat cinta buta, Maeve terlahir kembali dengan tekad menjalani hidup baru yang bebas. Ia pun menghancurkan ambisi rival lamanya di dunia musik melalui bakat yang tak tertandingi. Sambil meniti puncak karier, Maeve tetap menunjukkan sisi lembut pada pria yang dicintainya. Di balik ketegasannya, ia tak ragu menggoda sang kekasih hingga pria itu membalasnya dengan bisikan penuh gairah yang menjanjikan malam tak terlupakan.
Sampul Novel Menikahi Taipan Misterius
9.3
Bertahun-tahun Amelia mengejar cinta Jako, namun pria itu justru memintanya berlutut demi wanita lain. Muak dengan penghinaan tersebut, Amelia melepaskan cincin tunangannya dan memilih berpaling. Tak disangka, ia segera menikah dengan seorang miliarder misterius hingga fotonya viral. Jako yang terbakar cemburu menuduhnya hanya ingin balas dendam. Namun, sang taipan justru membela Amelia dengan tegas dan menyebut peran sebagai pelindungnya adalah sebuah kehormatan.
Sampul Novel Pernikahannya, Makam Rahasianya
8.1
Maya Prameswari terjebak dalam pernikahan beracun dengan miliarder Bima Wijaya. Bima menghina Maya sebagai wanita mata duitan, tanpa tahu dialah penyelamat rahasia hidupnya. Hasutan jahat Sarah Hartono membuat Bima makin membenci Maya. Demi keadilan ibunya dan keselamatan Bima dari musuh tak terlihat, Maya nekat memalsukan kematiannya. Namun, kepergian Maya justru memicu duka mendalam dan bahaya baru bagi Bima yang masih dibutakan oleh kebohongan.