
WANITA INCARAN CEO TAMPAN
Bab 3
"Kau di mana, Chris?"
Sean bergerak ke kanan dan kiri, wajahnya panik. Bibirnya pucat, ada bulir keringan di keningnya. "Bisakah kau menyampingkan urusan La Madame Florist? Aku serius, Chris."
"Ada apa, Sean? Aku berada di jalan, akan ke kantor sebentar lagi. Bukannya kau sudah sampai?"
"Bukan masalah itu, Chris. Cepat ke Franklin's Hospital, Mr. Marlino sedangt tidak baik. Kau harus kemari," ucap Sean dengan suara tegang dan serak, seperti menahan sesuatu.
"Kakekku? Ada apa? Ke mana Daddy?"
"Cepat, Chris, waktumu tidak banyak." Sean menutup panggilan sepihak.
Pagi buta, mata belum terbuka sepenuhnya. Nyawa tercecer, Sean mengurus bos besar di rumah sakit. Muka bantal, piyama warna biru muda. Sean risih akan tatapan lapar para wanita, sepanjang koridor semua mata meliriknya.
Ke mana perginya si Chris? Bagaimana mungkin meninggalkan Mr. Marlino sendirian di rumah sakit? Mengapa harus aku yang menjadi korbannya? Tidak cucu dan kakeknya, sama saja. Aku rasa akan naik gaji bulan ini. Sean menggerutu, sesekali menutup bibirnya, menguap lebar.
"Harusnya aku masih berada di atas ranjang tidur, menikmati mimpi. Ah sial! Aku masih ngantuk sekali. Harusnya Chris berada di sini sekarang," gumam Sean, mendengus kesal. "Chris yang lebih berhak menjaga dan merawat Mr. Marlino, bukan aku."
"Oh Chris ..., pikiranmu hanya tentang Lily. Aku rasa kau sedang bersiap bertemu dengan wanita itu, sampai tak tahu keadaan kakekmu."
Marlino ditemukan pingsan oleh penjaga di dekat ranjang, mereka membawa ke rumah sakit. Pertama yang dihubungi adalah Sean, asisten yang merangkap segala hal. Pukul tiga dini hari, saat tengah terlelap dan menikmati dunia mimpi. Sean harus mengendarai mobil ke Franklin's Hospital, mengurus segala administrasi.
Ditambah pukul dua, matanya baru bisa terpejam. Pekerjaan harus dilembur, akhir bulan banyak laporan dikerjakan. Rasa kantuk menyerang, tetapi mata harus tetap fokus berkendara. Rasanya sungguh tak adil bila Sean mengerjakan semuanya, terlebih dengan imbalan sama.
Aku tidak mau bila tak mendapat bonus. Gajiku paling tidak tiiga kali lipat untuk bulan ini.
"Sebenarnya ke mana semua keluarga Franklin? Aku rasa mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, padahal Mr. Marlino membutuhkan perhatian khusus." Sean berdecak kesal.
Anak Marlino, Jonathan Franklin tengah berada di luar kota, menjalankan proyek di sana. Hubungan ayah dan anak itu beberapa tahun terakhir terjalin tak harmonis, pendapat mereka selalu berseberangan, menyebabkan salah paham. Sean menilai bila hal itu menulari hubungan Chris dengan Jonathan.
"Aku yakin Mr. Jo tak mungkin kembali dalam waktu yang dekat. Kemungkinan buruknya, tak akan pulang bila proyek belum selesai. Hanya Chris, aku harap dia bisa membuat hati Mr. Marlino menjadi membaik. Yang bisa diharapkan adalah Chris," desis Sean.
Tangan Sean mengembalikan ponsel ke dalam saku piyamanya. Berjalan kecil ke arah pintu ruang rawat, mengintip sekilas, memastikan bila tidur Marlino tak terusik. Sean memilih di luar, keberadaannya di sana bisa membuat istirahat Marlino terganggu. Pria tua itu membutuhkan banyak istirahat agar kesehatannya lekas pulih.
Wajah keriput itu tengah terlelap terlihat damai, bibir Sean tersenyum. Ingatan dengan sang kakek beberapa tahun silam membayanginya. Marlino layaknya kakek, bos dan mentor untuknya. Sean senang bisa bekerja dan mengenal dekat Keluarga Franklin.
"Mr. Marlino benar-benar damai. Aku yakin banyak masalah yang sedang dipendam. Apa lagi berita di luar sana cukup membuat telinga mendenging," ucap Sean. Memilih duduk di kursi tunggu, kemudian melipat kedua tangannya di dada bersamaan kaki terangkat menindih lutut kirinya.
"Aku berharap keadaan Mr. Marlino baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan dan juga ... pikiran. Akhir-akhir ini Chris cukup menyebalkan."
Sean mengangkat gelas minumnya, butuh kafein untuk menyegarkan matanya. Siang nanti akan ada rapat bersama rekan bisnis Chris, persiapan berjalan lima puluh persen. Ipad hitam di tangannya kembali menyala, kondisi apa pun akan tetap bekerja. Rasanya seperti seorang ayah dengan sepuluh anak.
Pukul sembilan, Chris tergesa-gesa mencari keberadaan Sean. Pria itu membawa sekuntum mawar merah, kemudian mendekati asistennya. Napas tak terkontrol, wajahnya panik.
"Bagai ... bagaimana dengan kakek, Sean?"
Sean menutup ipad. Kemudian berdiri dan merasa pusing sejenak. Tangannya mencengkeram kursi kuat, menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kau kenapa, Sean?" tanya Chris khawatir.
"Aku hanya kurang tidur. Mr. Marlino sedang istirahat, masuk saja. Aku yakin beliau menunggu kedatanganmu." Sean menepuk bahu Chris. Penampilannya lebih segar, piyama telah berganti dengan setelan kantor. Hanya saja kantong mata tidak dapat berbohong.
Chris mengangguk dan memberinya tatapan sendu. Pria itu mengambil napas nan menenangkan lagi. Tangannya memutar gagang pintu, mengintip keadaan di dalam ruang. Sebelum mendorong dirinya maju, menemui sang kakek. Sean menanti di luar, memandang dari kaca di pintu.
Pelan kaki Chris melangkah, juga menarik kursi di samping bangsal, tak ingin pria tua itu membuka matanya. Chris takut menganggu waktu istirahat Marlino. Decitan kursi tak terlalu keras, berhasil membuat kedua mata Marlino perlahan terbuka.
Pandangan mata keduanya saling bertemu, dan Marlino mengerutkan kening pada Chris. Seolah mempertanyakan keberadaan pria muda itu di dalam ruangan. Lantas pandangan Marlino beralih ke tangan kanan Chris, membawa mawar merah.
Oh tidak, bungaku terbawa sampai di sini. Aku yakin kakek akan banyak bertanya. Chris menelan air liurnya, bersiap akan genjatan pertanyaan.
"Ada apa kau datang kemari, Chris? Pekerjaanmu banyak hari ini," ucap Marlino, tak menoleh.
Kakek kenapa? Marah denganku? Kerutan bertumpuk di dahi Chris.
"Aku yang harusnya kau hubungi pertama kali, Kek, bukan orang lain. Apa yang sebenarnya kakek pikirkan?"
Marlino membuang napas. "Siapa yang peduli denganku, Chris? Hanya aku sendiri. Sean adalah asistenku juga. Kau belum tentu bersedia menemaniku dini hari tadi, bukan? Lebih baik Sean saja."
"Aku cucumu," ucap Chris, sedikit menggeram, menahan amarahnya. "Aku yang seharusnya lebih tahu terlebih dahulu."
"Jo saja tidak peduli denganku, apalagi kau? Kau adalah titisan Jo, Chris."
"Aku tidak seperti itu. Jangan samakan aku dengan Daddy." Chris menatap Marlino.
Marlino tersenyum, helaan napasnya berat. Wajahnya pucat, tatapan sayu. Pria tua itu mengambil surat dari balik selimutnya, menyerahkan ke Chris.
"Perkembangan kesehatanku, Chris. Aku yakin kau meragukan penyakitku kemarin. Lihatlah kenyataannya, Nak. Kau pun melihatnya sendiri kondisiku sekarang," ucap Marlino.
Amplop itu dibuka, pertama Chris melihat logo rumah sakit. Jantungnya berdebar, kemudian melihat sekumpulan kalimat berjejeran rapi. Pelan-pelan membaca keseluruhan. Beralih pandangan ke Marlino, air matanya luruh.
"Maafkan aku." Chris menggenggam tangan Marlino, memberikan kecupan hangat. "Maaf, sempat meragukanmu. Mengapa tidak bicara jujur dengan kami, Kek?"
"Untuk apa? Penyakit itu ada saat kau masih kecil, Chris. Kakek semangat hidup demi kau, bila aku tak ada bagaimana dengan nasibmu? Jo bukan ayah yang baik. Pekerjaan adalah prioritasnya, hingga melupakan kau. Aku berjuang melawan penyakitku, agar bisa merawatmu."
Untuk pertama kalinya, Chris menangis, memeluk tubuh tua Marlino. Merasa cukup bersalah.
"Kau sudah percaya, Nak? Apa hatimu masih yang sulit untuk memenuhi permintaanku? Ini adalah permintaan terakhir, Nak, sebelum kau kehilangan aku."
Chris menggeleng. "Kau tak akan pergi, Kek. Kau bersamaku, di sini. Jangan berpikiran macam-macam, kau akan segera sembuh."
"Harapan hidupku kecil, Chris. Apa yang kau harapkan dariku? Aku tak bisa melawan lebih lama lagi. Tugasku sudah selesai, Chris, kau pun sudah bisa mandiri. Hanya satu yang aku inginkan ... kau menikah."
Bibir Chris merapat menjadi garis yang tipis, tidak mengatakan apapun. Mengalihkan pandangan keluar jendela.
Masih ada rasa mengganjal di hati, Chris belum bisa menerima dengan tangan terbuka. Berat, Chris membayangkan hari-harinya bersama wanita asing dalam satu atap.
"Aku akan membawa kekasihku. Nilailah terlebih dahulu, aku hanya ingin menikah dengan dia. Aku yakin kau pun merasa cocok dengan kekasihku," tawar Chris.
"Baiklah. Aku akan mencobanya. Bawa kekasihmu hari ini." Helaan napas berhembus, Marlino mengalah, tak ada pilihan lain.
"Hari ... hari ini? Beri aku waktu. Kekasihku pun membutuhkan waktu untuk bisa bertemu denganmu," mohon Chris. Gelisah mengingat beberapa hari terakhir tak bertemu wanita itu.
Pria tua itu menggeleng. "Aku tidak bisa memberikan waku terlalu banyak, Chris. Nyawaku sendiri belum tentu panjang. Kau harus secepatnya menikah. Bila kekasihmu tak yakin, kau harus menikah dengan wanita pilihanku."
Kesempatan tidak datang dua kali. Aku yakin besok Lily sudah kembali dan akan aku ajak negosiasi. Semoga saja rencanaku berhasil.
"Lusa aku akan membawa kekasihku. Akhir-akhir ini dia sibuk," jawab Chris.
"Baiklah. Bila lusa kau tak datang dengan kekasihmu, terima nasib menikah dengan wanita pilihan. Kau tidak bisa mengelak, Chris."
Chris menelan ludah. Bukan tanpa alasan, pria itu tak memiliki kesempatan kedua. Kemudian mengangguk, sepakat. Aku harus segera mendapatkan hati LIly.
Pandangan beralih ke bunga mawar merah. Marlino tersenyum. "Untuk siapa?"
"Kekasihku," jawab Chris.
Kening Marlino mengerut. "Bukankah dia bekerja di toko bunga. Untuk apa kau membelikannya?"
"Kekasihku bekerja di sana bukan berarti setiap hari menerima bunga. Lagi pula bunga ini spesial dariku, kekasihnya. Tentu memiliki makna yang berbeda." Chris menarik napas dalam-dalam, meredakan panik yang sudah sampai di tenggorokan.
"Romantis sekali." Marlino tertawa. "Apa dia mengenal Keluarga Franklin?"
Chris menoleh, mengerutkan dahinya. "Tidak, aku rasa. Dia tidak tahu aku siapa, aku mengaku hanya pekerja biasa."
"Benarkah? Lalu ... wanita itu percaya?"
"Tentu saja. Dia ... percaya denganku." Chris berdehem. "Mungkin nanti aku akan jujur dengannya."
Bahkan dia takut akan bertemu denganku. Aku yakin Lily menjaga jarak dariku. Terlalu tergesa-gesa dan gegabah.
Marlino menutup mata. "Kau harus ingat janjimu, Chris. Jangan berbohong."
"Aku tahu."
Berdehem kecil, Chris tampak berpikir. "Apa aku harus telpon daddy?"
"Tidak usah. Kematianku adalah kebahagiaan untuknya," jawab Marlino.
"Apa yang kau ucapkan? Bukankah daddy begitu khawatir dengan keadaanmu?" Dahi Chris semakin bertumpuk-tumpu dalam.
Marlino tertawa. "Kau tidak tahu aslinya, Chris. Jo pandai berakting. Seharusnya kau lebih berhati-hati lagi."
Anda Mungkin Juga Suka





