Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel WANITA INCARAN CEO TAMPAN

WANITA INCARAN CEO TAMPAN

Christian terdesak oleh ancaman perjodohan sang kakek jika tak membawa kekasih dalam tiga hari. Dia pun mengejar penjaga toko bunga misterius yang akhirnya menghilang tanpa jejak. Terpaksa menyerah, Christian setuju dijodohkan dengan Calista Madison. Betapa terkejutnya dia saat tahu Calista adalah wanita incarannya yang kini tampil angkuh dan menolak dirinya. Christian yang terluka harga dirinya mulai merancang jebakan agar Calista tak lagi bisa melarikan diri.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Daddy tidak menerima penolakan, Chris. Apa yang ingin kau debatkan? Sudah jelas kau tak memiliki kekasih, Chris, tidak usah mengelak dari perjodohan. Mau tidak mau, kau harus menerima perempuan itu."

Seorang pria muda perlahan memijat keningnya suara itu kembali terngiang di telinganya. Helaan napasnya berembus kasar, bersamaan pandangan matanya beralih ke luar jendela. Mobil yang ditumpangi berhenti di lampu merah, tepat di depan sebuah toko bunga.

"Cantik." Seutas senyuman terbit di bibir Chris tanpa sadar.

Wanita berambut cokelat sebahu menata beberapa bunga di etalase kaca. Memakai celemek merah muda dengan noda hitam di bagian bawah. Seluruh gerak-gerik wanita itu seakan tak lepas dari pandangan mata Chris.

"Sebentar, Sean. Aku ingin membeli bunga," ucap Chris.

"Bunga? Untuk siapa?" tanya Sean, asisten yang merangkap menjadi sopir.

Chris menoleh, mengedipkan mata. "Apa syarat membeli bunga harus memiliki kekasih? Aku rasa semua orang bebas membeli bunga, tanpa harus memiliki kekasih."

Selalu ada kerusuhan yang Chris lakukan, Sean berdecak kesal. "Hei, Chris! Kau ada jadwal pertemuan dengan Tuan Arson. Jangan membuang waktu, Bro!"

"Lupakan sejenak, aku ingin mengistirahatkan pikiranku. Tunggu sebentar, aku tak lama."

Pria tampan berbalutkan jas berwarna hitam dengan wajah tegas begitu menawan, membuat seluruh perhatian mata tertuju padanya. Begitu pula dengan wanita yang menghentikan pekerjaannya, menghampiri kedatangan pembeli.

"Halo, selamat pagi, Tuan! Ada yang bisa kami bantu?"

Chris menatap seluruh etalase yang memiliki jajaran berbagai jenis bunga. Semerbak wangi terasa memabukkan. Hingga kedua matanya tertuju pada mawar merah merekah, cukup membius pandangan.

"Bisa kau tunjukkan bunga terbaik yang kalian miliki?" tanya Chris.

"Bunga di toko kami selalu memiliki kualitas terbaik, Tuan. Setiap hari akan selalu ganti dengan yang baru. Kalau boleh tahu bunga apa yang ingin dibeli, Tuan? Biar kami siapkan yang terbaik."

"Aku tidak tahu." Ekor mata pria dua puluh tahun itu sesekali melirik wanita yang berdiri tak jauh darinya.

"Untuk siapa bunga ini, Tuan? Akan aku beri rekomendasi paling menarik." Wanita itu tersenyum.

Chris terdiam sejenak. "Em …, untuk kekasihku. Tolong, carikan bunga paling terbaik untuk perempuan cantik dan manis."

"Waw, beruntung sekali perempuan itu memiliki pasangan semanis anda, Tuan." Penjaga wanita memandangi etalase, menimang bunga paling pas sesuai dengan penampilan pembelinya. "Ah, mungkin bunga mawar merah unggulan di toko kami. Aku rasa kekasih anda menyukainya."

"Mawar merah? Apa kamu yakin semua perempuan menyukai bunga itu?" tanya Chris, berusaha meminta penjelasan.

"Tentu saja, Tuan. Semua perempuan menyukai pemberian dari orang yang dia sayangi."

Kerutan dahi Chris dalam, sesaat berpikir seluruh ucapan penjaga wanita itu. "Apa kau juga menyukai bunga mawar merah?"

Wanita itu mengangguk. "Tentu saja. Bunga yang paling aku sukai adalah mawar merah. Dan aku berani bersumpah bila bunga di sini adalah yang terbaik. Aku berharap kekasihmu menyukainya."

Seperti sihir, pandangan mata Chris berbinar mendengar seluruh jawaban penjaga toko itu. Pria itu menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran anehnya. Tak ingin terlalu mengulur waktu, Chris menyetujui bunga mawar merah itu sebagai pilihan.

"Terima kasih," ucap penjaga wanita dengan tersenyum. "Jangan lupa membeli bunga di toko kami kembali, Tuan."

"Tentu saja."

Langkah Chris terhenti, dia menoleh kembali. "Boleh aku tahu namamu. Em …, aku hanya ingin memanggil nama agar lebih akrab."

"Oh tentu saja, Tuan, aku Lily."

Chris mengangguk perlahan, melanjutkan langkahnya dengan senyuman lebar di bibirnya. Setangkai mawar merah berbalutkan kotak bening berada ditentengan tangan Chris.

"Apa yang kau beli?" tanya Sean penasaran, matanya menyipit melihat bunga mawar merah cantik dan segar di tangan Chris. "Wow, seleramu cukup bagus. Aku tidak menyangka kau akan membeli bunga mawar merah."

"Ini bukan pilihanku, pilihan dia." Chris tak mengalihkan pandangannya dari bunga di pangkuannya itu.

Dahi Sean terlipat hingga bertumpukan. "Dia, siapa? Kau 'kan tak memiliki kekasih, Chris."

Wajah Chris sumringah, seperti membayangkan seseorang. Hormon endorfin dalam tubuh pria itu naik dengan cepat. Asistennya heran, perubahan suasana hati yang berubah derastis.

"Belum, nanti akan menjadi kekasihku. Aku akan membawanya datang ke rumah."

"Siapa? Kau tak pernah cerita denganku." Sean sedikit kesal dengan Chris yang menyembunyikan rahasia dari dirinya.

Chris menoleh, melirik wanita yang bercengkerama dengan pembeli lain. Kedua matanya puas mengagumi keindahan makhluk ciptaan Tuhan. Jantungnya turut berdetak tak beraturan memandang senyuman Lily, meski bukan untuk dirinya.

"Perempuan yang baru saja ku temui, Sean. Dia cantik dan menyukai mawar merah. Aku yakin dia adalah jodohku," jawab Chris.

Sean memukul bahu bosnya. Bila dibiarkan terlalu lama akan semakin tak beraturan. Pedal gas diinjak kuat, mengalihkan pandangan Chris dari toko bunga itu.

"Kau semakin aneh, Chris. Apa karena perjodohan itu kau jadi menganggap perempuan cantik adalah jodohmu? Aku tidak habis pikir dengan jalan otakmu. Bagaimana bisa kau berpikir untuk memperkenalkan perempuan asing ke hadapan keluargamu?" tanya Sean. Lirikan tajam telah mengintimidasi pria yang duduk di bangku sampingnya.

Alih-alih marah, Chris justru tersenyum dan mengangguk, menjawab seluruh pertanyaan dengan satu jawaban.

"Yang benar saja, Chris. Bila perempuan asing yang kau perkenalkan sebagai kekasih palsu. Mengapa tak mencoba membuka hati untuk calon tunanganmu? Kau dan dia hanya butuh waktu untuk saling mengenal," saran Sean.

"Aku tidak mau," jawab Chris singkat. Raut wajahnya berubah datar dan dingin.

"Kenapa? Lagi pula kau belum tahu siapa dia, Chris. Kau hanya tahu dari namanya saja." Sean berusaha mengimbangi perdebatan.

Chris menggeleng. "Memang benar, aku belum kenal. Aku hanya tahu namanya. Tetap saja aku tidak mau dijodohkan dengan perempuan mana pun."

"Bagaimana kalau dia cantik? Kau yakin menolak?" tanya Sean dengan mengangkat satu alisnya.

"Tetap saja aku tidak mau, Sean. Aku tak bisa mencintai perempuan asing," jawab Chris.

"Lalu bagaimana dengan perempuan penjual bunga? Bukankah sama saja … perempuan asing?"

Chris memilih diam. Tak berniat memperpanjang perbincangan dengan topik perjodohannya. Membiarkan kabin kemudi lengang, Sean pun memahami bila dirinya membutuhkan waktu berpikir.

***

Dari kejauhan suara riuh menyinggung nama Christian Franklin, pemilik nama itu menghela napas sejenak. Keluarga besar telah berkumpul di kediamannya, posisi dirinya segera tidak aman.

"Hei, Chris. Kau telah pulang?" sapa William, kakak sepupunya. Chris menjawab dengan sebuah anggukan kepala.

"Kemari, Chris. Kau mau ke mana?" tegur Jonathan, ayah Chris.

"Aku harus mandi," jawab Chris singkat.

"Chris …, duduklah. Temani kakek makan."

Tatapan teduh Marlino Franklin berhasil meluluhkan hati Chris yang membeku. Pria itu tak bisa menolak seluruh permintaan Marlino. Mau tak mau, Chris mendekati Marlino, menarik kursi di sampingnya.

"Kau sudah dengar tentang perjodohan itu bukan? Bagaimana tanggapanmu?" tanya Marlino.

Chris mengangguk. "Aku sudah dengar dari Daddy. Dan aku tidak mau dijodohkan dengan perempuan mana pun."

Marlino menghela napas. "Kau harus menikahi putri Mr. Madison, Chris. Di sisa umur, kakek ingin melihat kamu menikah."

"Aku bisa menikah dengan perempuan pilihanku, Kek. Tidak perlu dijodohkan, aku masih bisa mencari perempuan sendiri." Chris berdecak kesal.

"Chris …, kakek tidak suka dibantah. Kau tak memiliki pilihan lain, Chris. Secepatnya kau harus menikah dengan perempuan pilihan kami," ucap Marlino tegas dan tak mau dibantah. Bahkan pria itu melayangkan tatapan tajam pada cucunya yang menjadi CEO di Franklin Corporation, sebagai ganti dari dirinya dan Jonathan.

"Aku tidak bisa menuruti keinginan itu," jawab Chris.

"Chris!" teriak Jonathan.

"Tidak, Daddy, aku tidak bisa menikah dengan wanita lain sementara aku memiliki kekasih! Bahkan aku sendiri tidak kenal dengan wanita yang Daddy pilihkan!"

"Chris!" Wajah Jonathan berubah memerah, marah.

Tak ada jawaban, Chris menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya, lantas meneguk air putih yang tersedia, sebelum mengelap bibirnya dengan sehelai tisu.

"Chris," panggil Jonathan.

"Aku selesai. Aku harus istirahat," jawab Chris. Melenggang pergi meninggalkan ruang makan.

Tangan pria lima puluh tahun itu mengepal kuat, marah besar dengan tingkah laku putranya, tidak sopan di hadapan keluarga besar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibuang suami kere dinikahi Dokter Tajir
8.0
Silvia hancur setelah dikhianati suaminya yang berselingkuh. Di tengah luka itu, ia bertemu Dokter Dana akibat sebuah insiden kecil. Saat benih cinta mulai tumbuh, ayah Silvia yang hilang sepuluh tahun kembali sebagai konglomerat dan menjodohkannya dengan pria lain demi balas budi. Kini Silvia terjepit antara cintanya pada Dana atau takdir pilihan ayahnya. Sementara itu, sang mantan suami mulai menyesal melihat Silvia kini menjadi wanita terhormat.
Sampul Novel Gairah Liar Sugar Mommy
9.1
Cantika Paramitha, wanita karier berusia 36 tahun, kerap dicibir karena status lajangnya. Hidupnya berubah saat Arsenio Gunadharma, pemuda 25 tahun lulusan Oxford, hadir menggantikan ayahnya sebagai sekretaris. Pesona Arsen yang cerdas dan tampan memicu gairah tak terduga dalam diri Cantika. Meski terpaut usia jauh, ketertarikan di antara mereka berujung pada pernikahan. Namun, Arsen menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya yang akan mengejutkan keluarga Cantika.
Sampul Novel Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
8.3
Leanna dipaksa bercerai setelah dikhianati suami dan mertuanya dalam pernikahan yang didasari utang. Usai berpisah, ia bangkit dengan harta gono-gini dan kebebasan penuh. Leanna mengungkap jati dirinya sebagai peretas ahli, pembalap, profesor medis, hingga desainer perhiasan ternama. Meski simpanan mantan suaminya terus mengganggu, ia tetap tak tergoyahkan. Hingga akhirnya, Matthew hadir dan menawarkan diri untuk menjadi suami baru bagi sang wanita jenius ini.
Sampul Novel Mysterious Love
8.0
Chen Qianqian adalah bos CyberTech sekaligus pewaris tunggal kerajaan bisnis internet di China. Meski hidupnya sempurna, tekanan keluarga memaksanya segera menikah di usia tiga puluh tahun. Takdir mempertemukannya dengan Bai Chou Fei, putra pemilik jaringan rumah sakit ternama, saat berada di rumah sakit. Meski awalnya sulit, Chou Fei akhirnya menerima lamaran Qianqian. Namun, pernikahan ini justru penuh rintangan emosional. Akankah sandiwara mereka berujung luka atau cinta?
Sampul Novel Pengkhianatan Istriku
9.7
Danu harus menelan pil pahit saat Sakira, istrinya, memilih pergi demi pria kaya dan menelantarkan bayi mereka. Namun, roda kehidupan berputar drastis bagi Sakira. Setelah dicampakkan oleh suami barunya, ia kini terjebak dalam kemiskinan dan menderita kanker paru-paru yang menggerogoti fisiknya. Kehidupan mewah yang ia impikan lenyap, menyisakan penyesalan mendalam di tengah kondisi tubuh yang kian kurus dan keadaan ekonomi yang hancur total.
Sampul Novel Perjanjian Takdir: Suami Miliarderku
8.1
Pasca dikhianati kekasihnya, Katherine nekat menikahi Esteban, pria yang ia anggap miskin dan hampir bangkrut. Meski tampan, Esteban tampak biasa saja hingga Katherine menyadari semua masalah hidupnya mendadak tuntas dengan mudah. Esteban berdalih ini hanya faktor keberuntungan. Katherine yang menjadi tulang punggung keluarga pun percaya, sampai rahasia besar terungkap bahwa suaminya adalah miliarder kaya raya. Kini, Katherine harus menghadapi realitas baru di balik pelukan hangat suaminya.