Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Dambaan Sang Bilionaire

Wanita Dambaan Sang Bilionaire

Caid Walton adalah miliarder berusia 26 tahun yang dijuluki Lady-Killer karena ketampanan dan kekuasaannya. Meski sempurna, ia dikenal sebagai pemain yang tak pernah menjalin hubungan lebih dari tiga bulan. Namun, semua rumor itu terpatahkan saat ia bertemu Relova Luvena. Alih-alih dicampakkan seperti wanita lainnya, Lova justru menjadi sosok yang sanggup menjungkirbalikkan dunia Caid dan menguji kewarasannya. Inilah kisah saat sang penakluk justru bertekuk lutut.
Bab
Bagikan

Bab 1

Deep House Bar and Cassino Club, Chicago, US, 01.10 AM

Bunyi dentuman musik terdengar dengan nyaring disertai seruan orang-orang yang berada di lantai dansa. Seorang wanita cantik dengan cocktail dress pendek berwarna merah berkilau itu melangkah dengan percaya diri. Membuat orang-orang yang berada di depannya otomatis menyingkir, membuka jalan bagi sosok wanita yang menjadi primadona para pria di tempat itu.

Relova Luvena, wanita cantik yang menjadi perhatian semua pria ditempat itu kini berjalan menuju seorang wanita lain dengan mini dress berwarna hitam yang duduk di depan sebuah meja bar. Tangan wanita itu memutar gelas bening berisi cairan berwarna merah keunguan.

"Kamu terlambat" Ucap Emily, wanita yang mengenakan mini dress hitam dan duduk di depan meja bar itu adalah Emily Yonsen, sahabat seorang Relova Luvena.

"Bukannya bintang memang selalu muncul belakangan" Seru Lova membuat Emily mendengus keras, dia meneguk minuman beralkohol itu sambil menatap Lova dengan tatapan menilai

"Ngomong-ngomong, kenapa merah? Kau sengaja ingin membuat para lelaki di sini bertekuk lutut di depanmu yaa?" Seru Emily seraya meletakan gelas koktailnya

Lova tertawa renyah. Suara tawa itu membuatnya terlihat semakin menawan. Dibawah gemerlap lampu yang kelap-kelip Lova terlihat sangat bersinar terlebih dress yang gadis itu kenakan memang tersusun dari beberapa manik permata hingga menyebabkan kilauan pada tubuhnya.

Lova mendudukkan diri di kursi samping Emily. "Kamu pintar menebak Emi" ucap Lova membenarkan, Lova sengaja menggunakan dress merah untuk menarik perhatian para pria di tempat ini.

Hal yang perlu dicatat adalah bahwa Lova tidak sembarangan menggoda pria. Ada kriteria khusus untuknya. Selain kaya tentu wajahnya harus tampan dan sesuai dengan standarnya.

"Halo Ben" Sapa Lova pada sang bartender yang meletakan gelas kaca di depannya.

"Hai, Angelic, seperti biasa?" Tanya Ben dengan senyuman, berapa kalipun Ben melihat Lova, pria gondrong itu selalu merasa terpesona. Lova selalu menarik di mata siapapun, wanita itu memiliki magnet yang sangat susah di tangkis.

"Yes, Please.." Seru Lova pelan nyaris mendesis

"Sialan, mulutmu itu bahaya sekali Angelic" Ucap Ben yang dibuat terbuat oleh ucapan Lova

Lova tertawa lalu memperhatikan Ben yang menuangkan minuman dengan kadar alkohol rendah pada gelas Lova.

"Silahkan"

"Thanks"

Lova menyesap minuman itu dengan mata hazelnya yang melirik Emily "What's wrong?" Tanya Lova

Emily menggeleng singkat "Aku baru sadar jika dress kita dari brand yang sama" Ucap Emily sambil tersenyum tipis. Emily menatap Lova lalu beralih pada dirinya sendiri.

"From sugar?" tanya Emily

"Nope, aku membelinya sendiri" Sanggah Lova

"Hah.. kita benar-benar terlihat seperti bitches sekarang" Emily tersenyum geli "Eh salah, kita bukan bitches biasa. We're queen bitches" Seru Emily lagi, membuat Lova tertawa. Inilah yang dia sukai dari Emily, wanita itu berbicara blak-blakan dan apa adanya. Tidak seperti orang-orang yang selalu berusaha menyanjungnya dan melontarkan pujian mulia untuknya.

Sebuah sentuhan di pundak Lova yang terbuka membuat wanita bersurai coklat itu tersadar, dia menoleh pada sang pemilik tangan yang menyentuh pundaknya.

"Angelic?" Ucap pria itu. Lova menatapnya sebentar lalu tersenyum lebar.

"Who are you, pretty boy?" Ucap Lova menggoda hingga membuat wajah pria itu memerah di buatnya, ternyata benar kata temannya, Angelic adalah orang yang sangat ramah.

"Aku Enid Malkin, bisa kau menemaniku malam ini?" tanya pria bernama Enid itu

"Umm maaf boy" Sesal Lova dengan berpura-pura. Enid tertawa kecil

"It's oke. Bagaimana jika besok? Dinner?" tanyanya

"Emm.." Lova bergumam membuat Enid menahan gemas. Bagaimana bisa Lova terlihat lugu padahal saat ini mereka sedang berada di sebuah club malam. Sebuah tempat bagi orang yang telah dicap sebagai 'orang-orang tidak benar'

"Aku akan bayar sesuai dengan keinginanmu" Ujar Enid lagi kekeh, pria itu tidak mungkin melepaskan kesempatan emas untuk bersama wanita primadona disana.

Lova terlihat berpikir lalu semenit kemudian senyum manis terukir di bibirnya disertai dengan anggukan pelan, demi tuhan Enid sangat menahan diri untuk tidak menyerang wanita itu sekarang.

"Kau yakin? Aku tidak mau membuatmu jatuh miskin" Gumam Lova lirih. Percayalah jika saat ini Emily sedang menahan mual melihat tingkah sahabatnya itu

Enid tertawa lalu mengelus rambut Lova, bahkan rambut wanita itu saja terasa sangat lembut ditangan Enid membuat pria itu memikirkan bagaimana dengan bagian lainnya. Apakah akan sama lembutnya?

"Enid kau keberatan?" Ucap Lova menyadarkan Enid dari lamunannya, pria itu memberikan senyuman tipis sebelum menjawab pertanyaan Lova

"Tenang saja, berapapun yang kau inginkan aku dapat memberikannya"

Lova mengangguk cepat, Enid menyodorkan sebuah ponsel ke arah Lova. Ponsel keluaran terbaru yang Lova perkirakan hampir menyentuh 30 juta itu diserahkan Enid ke genggaman Lova.

"Di ponsel itu hanya ada nomorku, aku tau kau tidak suka di jemput jadi aku akan mengirimkan alamat dinner kita ke ponsel itu"

"Oke" Lova berdiri dan mendekat ke arah Enid, wanita itu mengelus rahangnya membuat Enid meremang, mata pria itu menutup menikmati sentuhan Lova. Melihat itu Lova bersmirk dan mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga pria itu sebelum berbisik "Thanks, Darling"

Lova menjauhkan tubuhnya dan melepaskan tangannya dari rahang Enid. Mata hijau pria itu terbuka dan bibirnya tersenyum lebar membuat tatapannya terlihat sayu.

"Aku menunggumu" Enid mengecup pipi Lova lalu kembali ke arah teman-temannya yang berada di meja lain. Mereka terlihat menyoraki Enid yang kembali dengan senyum lebar.

"EKHEM!" Lova menatap Emily yang berdehem keras, ia kembali mendudukan diri di tempat semula sambil tersenyum tipis

"Aku tidak mau membuatmu jatuh miskin..." Cicit Emily mengulang hal yang tadi Lova katakan. "Bahkan mengulangi ucapanmu saja sudah membuatku mual, Lova"

"Pelan-pelan saat menyebut namaku" Peringat Lova. Ditempat ini dirinya dikenal sebagai Angelic bukan Relova Luvena. Namun pengecualian untuk Emily yang memang mengenal Lova

"Oke.. oke" Cicit Emily

"Menurutmu bagaimana?" Lova bertanya sambil memutar ponsel pemberian Enid

"Maksudmu? Kau tidak mengenal Enid Malkin?" Tanya Emily tak percaya setelah menyadari maksud pertanyaan Lova.

"Kenal, tadi aku baru berkenalan dengannya" Seru Lova, wanita itu menyesap cocktailnya.

"Oh My Lova, kau tidak tau keluarga Malkin?" Lova menggeleng, Emily menghela nafas

"Dia itu putra kedua keluarga Malkin, sayangnya rumor bilang dia itu amat sangat playboy. By the way, Aku pernah melihatnya masuk ke dalam hotel dengan tiga wanita sekaligus"

"Wow, sampah masyarakat" Gumam Lova

"Hei, jika kau menyebutnya seperti itu lalu sebutan apa yang cocok untuk dirimu?"

"Bukankah aku sudah punya julukan, Angelic namanya jika kau lupa"

"Lalu... apakah Angelic kita ini akan kembali melancarkan aksinya pada Tuan muda Malkin?" Goda Emily

Lova tersenyum lebar, matanya tertutup membentuk bulan sabit. Emily menangkup wajah wanita itu dengan gemas membuat para kaum adam iri dengan Emily yang bisa menyentuh Lova seenaknya "Kenapa sih wajahmu ini terlihat bisa terlihat polos dan sangat cantik padahal otakmu penuh dengan rencana licik?!" Seru nya tak terima

"Mungkin karena itulah aku diciptakan Em, untuk membuktikan bahwa tidak semua yang terlihat polos dan cantik itu baik" Ucap Lova lugas, Emily menatap Lova dengan pandangan menerawang. Bahkan selama ini Emily sendiri tidak bisa mengerti jalan pikiran Lova.

"Aku benar-benar tidak bisa memahami mu Lova"

"Setidaknya aku bisa memahamimu Emily" Lova tersenyum sedangkan Emily mendengus.

Lova menatap ke arah meja tempat Enid berada bersamaan dengan itu juga pandangan Enid tertuju padanya. Lova tersenyum manis "Welcome, darling" gumam Lova.

Darling. Satu kata panggilan dari Lova yang menandakan bahwa permainannya akan dimulai bisa dipastikan setelah semuanya berakhir akan ada perasaan yang hancur ditangan cantiknya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangunkan Aku Dengan Cintamu
9.7
Dijual miliaran demi menikahi Eric, taipan yang koma, Emily menjadi bahan cemoohan. Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh dengan adik angkatnya, ia bertekad membalas dendam melalui pernikahan ini. Emily membuktikan kemampuannya dengan merebut penghargaan medis yang dicuri darinya dan menghukum orang tua angkatnya yang kejam. Saat Eric sadar, ia tidak mengusir Emily, melainkan memuja sang istri sambil mengungkap rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari terjebak dalam pernikahan ketiga yang tragis. Damian, sang tunangan, justru menyiksanya demi menenangkan Elina. Setelah karier melukisnya dihancurkan dan tubuhnya ditinggalkan bersimbah darah di hutan, Alana menolak menyerah. Demi melindungi keluarga dan bisnisnya, ia menghubungi sosok misterius dari masa lalu. Ia sepakat menyerahkan seluruh asetnya dan melakukan pernikahan kontrak demi pelarian dan balas dendam yang setimpal.
Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO DINGIN
8.8
Karin Arvantie merasa canggung saat wawancara kerja di Atmaja Corp karena tatapan intens sang CEO, Ryan Atmaja. Meski Ryan merasa pernah bertemu dengannya, Karin justru memberikan jawaban diplomatis. Namun, pesona pria bermata hitam itu memicu gejolak emosi yang sulit diredam. Kini, Karin terjebak dalam dilema antara menjaga profesionalisme atau terhanyut dalam ketertarikan yang membara. Mampukah hubungan mereka tetap sebatas atasan dan bawahan saja?
Sampul Novel Grafiti Dinding Hati
8.4
Citta Buwana menghadapi masa magang yang berat sebagai sekretaris William Rustenburg. Bagi William, Citta hanyalah bawahan tidak kompeten yang selalu menjadi pelampiasan emosinya. Ketegangan memuncak saat William mengetahui rencana perjodohan mereka yang diatur sang ayah, Johan. Meski William terus memberontak dan mempermalukan Citta, Johan tetap teguh pada pilihannya. Mampukah pengabdian dan pengorbanan mengubah kebencian menjadi cinta dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Pernikahan Dingin yang Membara
8.7
Hidup Aria, wanita karier yang gemilang, berubah drastis setelah malam penuh gairah dengan Raka. Ia merasa dikhianati saat menyadari pria itu adalah CEO di kantornya. Hubungan mereka kian retak akibat manipulasi licik Mira yang memicu kesalahpahaman besar. Terbakar api cemburu karena dugaan perselingkuhan Raka, Aria menyusun rencana balas dendam yang sangat berisiko. Kini, ambisi dan luka hati Aria mengancam untuk menghancurkan seluruh karier Raka.