Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Buangan Milyarder

Wanita Buangan Milyarder

Bening terjebak dalam dendam salah sasaran Kevin hingga sebuah rahasia besar memaksanya pergi demi menyembuhkan luka. Meski sempat menemukan cinta baru pada bos di tempat kerja, takdir justru menyiksanya dengan rintangan yang perih. Di tengah perjuangan untuk bersatu, masa lalu kembali hadir memperparah penderitaan. Kevin yang penuh sesal mengakui dosanya, sementara Bening harus memilih antara mengejar kebahagiaan yang sulit atau mundur selamanya dari luka yang tak berujung.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bening terpekur untuk waktu yang lama di kafe tempat biasanya dia bertemu dengan Kevin. Memandang para pejalan kaki yang berlalu lalang di balik jendela kaca lama kelamaan membuatnya pusing.

Setelah berhasil menghubungi Kevin, mereka membuat janji temu di sana pada sore hari untuk kemudian pergi ke rumah sakit sesuai janji Kevin kemarin untuk memeriksakan kondisi kandungan Bening. Meskipun tubuhnya terasa sangat lemas ditambah mual dan pusing, tapi Bening memaksakan diri pergi ke kampus demi meyakinkan keluarganya kalau dirinya baik-baik saja. Untungnya Bening bisa lolos kali ini, tapi dia tak yakin keberuntungan akan menghampirinya di lain waktu. Keluarganya terlihat sangat berat melepasnya ketika Bening berpamitan pagi tadi.

Denting lonceng yang ada di pintu masuk mengalihkan perhatian Bening dari lamunannya. Senyumnya melebar melihat ayah dari janin yang dikandungnya itu berjalan mendekat ke arahnya.

"Maaf, nunggu lama ya? Tadi kebetulan ada kerjaan mendadak di akhir jam kantor dan aku sempat terjebak macet." Kevin mendaratkan bokongnya, meneguk cairan dalam gelas berembun milik Bening yang masih tersisa setengah.

"Nggak apa-apa, aku tahu Kakak sibuk."

"Mau langsung berangkat atau makan dulu? Takutnya kamu dan calon bayiku kelaparan."

Seperti biasa, kata-kata Kevin selalu terdengar manis di pendengaran Bening. Gadis itu selalu dibuat tersanjung dengan perlakuan kekasihnya. Ya, walaupun Bening menyadari mereka telah membuat kesalahan karena sudah terlalu jauh dalam berhubungan.

"Langsung berangkat saja, Kak. Aku belum lapar," timpal Bening.

"Baiklah." Kevin menghabiskan sisa minumannya sebelum mendorong tempat duduknya dan menggandeng Bening meninggalkan tempat itu.

Perhatian Kevin selalu Bening rasakan di setiap kesempatan. Hal kecil seperti menyiapkan kursi dan membukakan pintu adalah hal yang biasa dilakukan pria itu. Pada Maura pun Kevin terlihat begitu menaruh rasa hormat. Kedua orang tuanya bahkan pernah berseloroh menobatkan Kevin sebagai calon menantu idaman. Bening merasa sangat beruntung.

"Kamu mual lagi?" Kevin bertanya pada gadis yang kini duduk di sampingnya, melihat kekasihnya membekap mulut tak lama setelah kendaraan roda empat itu membelah jalanan.

Bening mengangguk lemah, telaga matanya dilapisi embun tipis yang dengan mudah retak dalam sekali kedipan. Semenjak hamil, ia merasa menjadi lebih sensitif. Bening belum sepenuhnya menerima kehamilan ini. Apa lagi jika harus menghadapi bagaimana susahnya menjadi ibu hamil di usia yang masih sangat muda tanpa adanya pendamping.

Kevin meraih satu bungkus permen dari dasbor mobil kemudian membukanya dan memberikannya pada Bening.

"Mau berhenti sebentar?" tanya pria itu menawarkan.

"Enggak usah." Bening menyahut dengan suara yang sedikit bergetar.

Kevin begitu tersentuh melihat Bening tampak sangat menderita, tapi dia tak mau menjadi lemah. Ini bahkan belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang dulu dia rasakan.

Namun, janin dalam rahim Bening adalah benihnya. Satu kenyataan yang terkadang membuat Kevin goyah.

Kevin kembali memfokuskan pandangannya pada medan jalan yang dilaluinya, keheningan yang tercipta membuat perjalanan itu menjadi tak terasa. Mereka pun tiba di rumah sakit.

"Ayo." Kevin mencondongkan tubuhnya membantu Bening melepas sabuk pengaman.

"Kak, aku takut," cicit Bening seraya menahan tangan kekasihnya.

"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, ada aku di sini." Kevin meraih jemari Bening yang bertengger di lengannya.

"Bagaimana kalau ada orang yang melihat kita di sini, nanti? Kita belum menikah tapi sudah mengantre di poli kandungan."

Kevin tersenyum tipis menanggapi perkataan Bening yang sarat akan rasa takut. "Nggak semua orang yang periksa di poli kandungan itu untuk memeriksakan kehamilan, Bening. Kita bisa membuat alasan lain sekalipun ada orang yang kita kenal melihat kita di dalam nanti."

"Tetap saja hal itu pasti akan menimbulkan gosip. Kapan Kakak dan orang tua Kakak datang ke rumah? Aku butuh kepastian. Kakak nggak tahu kalau tadi pagi keluargaku terus mendesakku agar aku mau ke rumah sakit. Bagaimana kalau mereka sampai tahu kalau aku sedang hamil?"

"Secepatnya. Aku dan orang tuaku akan datang secepatnya. Tunggu mereka pulang dari luar negeri," sahut Kevin. "Kemungkinan lusa mereka pulang, dan sorenya aku akan langsung membawa mereka ke rumahmu," imbuhnya.

"Entah kenapa aku sungguh sangat takut Kak. Walaupun kamu sudah berjanji untuk bertanggungjawab, tapi rasa takut dalam diriku tetap tak bisa hilang." Bening tertunduk pilu.

Kevin membawa gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya dengan lembut untuk menenangkan Bening.

"Semuanya akan baik-baik saja, kamu hanya perlu menunggu sampai lusa," janji pria itu.

Kevin membimbing Bening untuk turun dari mobil, ia menggenggam tangan Bening dengan posesif sampai mereka tiba di dalam. Kevin terlihat seperti seorang suami yang siaga dalam mendampingi istrinya, setidaknya itu yang ada di pikiran Bening saat melihat tak hanya dirinya yang duduk di kursi tunggu poli kandungan dokter kandungan terkenal di kota tersebut. Letaknya agak jauh dari rumah Bening untuk mengantisipasi adanya orang yang mengenal mereka, Kevin sudah mempertimbangkannya.

Kevin sempat berbicara dengan beberapa pria yang juga tengah mengantarkan istri mereka memeriksakan kandungan. Sampai akhirnya giliran nama Bening dipanggil salah seorang petugas kesehatan.

Dokter wanita berkacamata itu menyambut ramah dan menanyakan banyak hal pada Bening. Sesi tanya jawab yang diselingi canda itu tak berlangsung lama dan dilanjutkan dengan proses pemeriksaan. Dokter menyuruh Bening berbaring di brankar khusus dan kini sibuk menggerakkan alat di perut gadis belia itu.

"Kalian lihat titik ini," ucap dokter itu menekan tombol untuk memperbesar layar. "Ini adalah buah cinta kalian. Mbak Bening memang sedang hamil. Selamat ya?"

Dokter dan juga suster yang bertugas jelas tak mengetahui status Bening dan Kevin yang sebenarnya belum menikah.

"Jadi benar istri saya sedang hamil, Dok?" Kevin menampilkan raut wajah sumringah menatap titik hitam yang ada di layar monitor. Kata 'istri' dengan lancar lolos dari bibirnya begitu saja.

"Iya, Pak. Kalau berdasarkan pemeriksaan yang baru saja kita lakukan, di sini dapat kita ketahui kalau usia kandungan Mbak Bening baru berumur lima minggu." Dokter kembali menjelaskan.

"Syukurlah, Dok. Tapi Bening terus muntah setiap hari dan saya sangat mencemaskan kondisinya."

Bening tak bisa menahan laju air matanya, mendengar perkataan Kevin yang sangat mencemaskan dirinya, membuatnya serasa sangat dicintai pria itu. Sedari tadi gadis itu tak fokus dengan penjelasan dokter karena sibuk dengan rasa haru di hatinya. Pria itu terlihat sangat mencintainya, itu yang ada di pikiran Bening. Tatapannya kemudian berpindah antara wajah Kevin dan layar monitor, sementara Kevin menggenggam tangannya dengan sangat erat.

"Hal itu wajar dialami wanita yang sedang hamil muda, Pak. Nanti saya resepkan vitamin dan juga obat anti mual." Dokter meminta suster untuk membantu membersihkan gel di perut Bening.

"Tetap dijaga pola makannya ya Mbak, terapkan gizi seimbang dan gaya hidup sehat. Saya lihat Mbaknya masih terlalu muda, Bapak juga harus memastikan untuk menjaga istrinya. Jangan biarkan dia kecapekan atau terlalu banyak pikiran. Pada trimester awal kehamilan sangat riskan terjadinya keguguran, jadi sebisa mungkin lebih dijaga lagi istrinya."

"Tentu, Dok." Kevin menyahut dengan senyum terkembang menghiasi wajahnya.

"Silakan."

"Terima kasih, Dok." Kevin menerima secarik kertas yang diulurkan dokter lalu membimbing Bening bangun dari kursinya.

Siapa saja yang melihat mereka pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang serasi.

***

Hari yang dinantikan Bening pun tiba. Semalaman dia tak bisa tidur lantaran tak sabar menunggu hari ini. Terakhir kali bertukar pesan dengan Kevin, lelaki itu mengatakan kalau dia sedang menunggu orang tuanya di bandara. Bening tak bisa jauh dari ponselnya dan terus mengeceknya secara berkala, takut ada pesan dari Kevin yang terlewat. Akan tetapi hingga siang ini, tak ada satu pun pesan dari pria itu untuknya.

Pukul tujuh lebih lima belas menit, terlihat terakhir kali Kevin masih online, tapi anehnya dia tak mengirimkan pesan apa pun pada Bening. Bening sampai dibuat gusar karenanya. Telah berkali-kali Bening mencoba menghubungi Kevin, tapi tak ada satu pun panggilannya berhasil diangkat. Puluhan pesan pun Bening kirim dan hasilnya nihil. Parahnya lagi, nomor Kevin tak bisa dihubungi hingga menjelang siang. Lantaran tak tahan lagi, Bening pun memutuskan untuk mendatangi apartemen Kevin.

"Sayang, mau ke mana?"

Bening yang sedang berjalan mengendap tiba-tiba membeku begitu mendengar suara ibunya, langkahnya terhenti, padahal sengaja dia pergi diam-diam agar tak perlu repot-repot memberikan alasan pada Maura.

"Hm, mau ke toko buku sebentar Ma. Mau cari referensi buat ngerjain tugas," dalih Bening.

"Ya sudah, biar Mama temani ya, sekalian Mama mau belanja kebutuhan bulanan. Sudah lama juga kita nggak pergi belanja bareng, Nak."

"Hm, tapi Ma. Sepertinya nggak bisa sekarang deh. Temanku sudah nunggu di depan, nggak enak. Bagaimana kalau belanjanya besok saja pas hari minggu?" Bening kembali mencari alasan. Bisa gagal rencananya kalau Maura memaksa ikut.

"Begitu ya? Ya sudah lah." Maura tampak kecewa, tapi dia juga tak bisa memaksa. Maura takut membuat teman Bening tak nyaman dengan kehadirannya.

"Aku pergi dulu Ma, nanti begitu urusannya selesai aku langsung pulang," pamit Bening meraih punggung tangan Maura dan menciumnya.

"Hati-hati di jalan."

Bening membuang napas lega. Dengan langkah cepat dia segera berlalu dari sana. Demi apa pun juga, rasa takut dalam diri Bening menjadi berkali-kali lipat saat nomor Kevin tak bisa dihubungi. Berbagai macam pikiran buruk menghinggapi kepalanya. Bening menggelengkan kepala saat bayangan mobil yang ditumpangi kekasih dan calon mertuanya itu mengalami kecelakaan sepulang dari bandara karena terakhir kali Kevin mengirimkan pesan dan mengatakan padanya sedang menjemput orang tuanya di bandara.

"Nggak mungkin, semoga mereka semua baik-baik saja. Bisa jadi Kak Kevin sibuk mengurus orang tuanya dan kelelahan makanya nggak sempat mengabariku." Bening berusaha untuk selalu berpikiran positif.

Gadis itu membawa langkahnya cepat menyusuri lantai marmer bangunan mewah di hadapannya. Rasanya Bening tak sabar untuk segera tiba di lantai unit apartemen Kevin untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Meski mengetahui kode password pintu apartemen Kevin, tapi Bening lebih memilih memencet bell dan menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Sambil menunggu, Bening tak henti mencoba menghubungi Kevin kembali, tapi hasilnya seperti sebelum-sebelumnya. Nomor Kevin masih tak bisa dihubungi.

"Ke mana sebenarnya Kak Kevin, kenapa nggak ada yang bukain pintu?"

Sepuluh menit menunggu akhirnya Bening mencoba membuka pintu itu sendiri dengan menekan barisan angka pada panel.

"Kok nggak bisa kebuka? Apa jangan-jangan password-nya sudah diganti sama Kak Kevin?" Bening kembali mengulangi hal yang sama. Pikirannya tak henti menebak-nebak dan pada akhirnya karena usahanya kembali gagal, Bening memutuskan untuk turun ke lobi dan bertanya pada petugas yang tengah berjaga. Berharap dengan begitu dia bisa mendapatkan sedikit informasi.

Bening menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Napasnya terengah saat dia harus berlari menuju lobi dan bertanya pada petugas jaga.

"Pak Kevinnya pergi semalam, Mbak. Dia sudah pamit sama kami katanya mau pindah, dia juga bawa koper besar dan menyerahkan kunci apartemen pada kami."

Ucapan petugas jaga membuat tubuh Bening seketika melemas. Tubuhnya limbung dan nyaris jatuh membentur lantai seandainya saja salah satu petugas keamanan di sana tak langsung menahannya dan membantunya untuk duduk.

"Kak Kevin pergi? Pergi ke mana dia membawa koper besar?" Bening memejamkan mata membiarkan genangan di sana saling menerobos paksa keluar.

Perlahan suara para petugas jaga menjadi samar di telinga Bening. Gadis itu ambruk tak lama berselang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Pasca koma panjang, Zeesya Aleena Lawrence tersadar bahwa kekasihnya hanyalah seorang pengkhianat. Di tengah keterpurukan, ia menemukan cinta baru pada sosok pria misterius yang sangat memujanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat rahasia kelam terungkap. Pria tersebut ternyata dalang di balik tragedi berdarah keluarganya di masa lalu. Kini, Zeesya terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan perasaan atau membalas dendam atas takdir yang tertukar.
Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
8.0
Hidup Deana hancur setelah orang tuanya wafat. Kini, ia terdesak ancaman preman yang menagih utang besar keluarganya. Demi keselamatan nyawa, Deana nekat menjual kesuciannya kepada pria asing bernama Marvin. Namun, Marvin justru memberikan tawaran tak terduga yang bisa menghapus seluruh beban finansialnya. Deana diminta melahirkan seorang anak untuknya. Meski menjadi solusi instan, kesepakatan dingin ini justru menjadi awal dari masalah baru yang lebih rumit.
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Demi menyembunyikan kelemahan pribadinya, Arga Satria Wicaksana memutuskan untuk mencari seorang istri sewaan. Tak disangka, keputusan kontrak tersebut membawa perubahan drastis dalam hidupnya. Penyakit kronis yang telah membelenggu Arga selama bertahun-tahun secara ajaib mulai membaik berkat kehadiran wanita yang ia bayar tersebut. Hubungan formal ini pun menjadi kunci kesembuhan yang selama ini mustahil ia dapatkan dari pengobatan mana pun.
Sampul Novel Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji
9.7
Clara Martins berjuang menyelamatkan toko roti warisan neneknya di São Paulo dari lilitan utang. Saat pengkhianatan mengancam bisnisnya, Enzo Albuquerque, pengusaha dingin sekaligus cinta lamanya, menawarkan pernikahan kontrak satu tahun. Enzo butuh istri demi mengamankan posisinya dari konspirasi keluarga. Namun, tinggal bersama memicu kembali gairah lama. Clara menyimpan rahasia kehamilan, sementara Enzo memendam misteri yang bisa menghancurkan cinta kedua mereka.