Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita 50Ribu untuk Sultan Dubai

Wanita 50Ribu untuk Sultan Dubai

Seorang miliarder ternama asal Dubai harus merasakan pahitnya pengkhianatan setelah dicampakkan begitu saja oleh sang istri. Di tengah kehancuran hatinya, takdir justru mempertemukannya dengan seorang gadis bayaran yang hanya bernilai lima puluh ribu. Meski berasal dari dunia yang berbeda, ketulusan cinta sang gadis mulai mengisi kekosongan hidup sang Sultan. Inilah kisah romansa modern tentang luka, harga diri, dan cinta yang hadir dari tempat tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Anjirlah, lu nggak tau apa seberapa kesal gue? Masa gue udah booking kamar sama pesan makanan, eh nggak taunya si cowok nggak tau diri itu malah kabur. Emang gilak tuh orang. Harusnya bilang dari awal kalo emang kere. Bayar kamar 150 aja mikirnya kejauhan. Dasar cowok nggak guna. Sialan!"

Andara bersungut-sungut atas kejadian yang baru saja dia alami. Di temani sang sahabat yang memang sengaja datang hanya untuk mendengar celotehan Andara ini, benar-benar sukses membuat telinga temannya itu terasa bengkak.

"Udah sih, ngapain marah-marah coba? Sesuai apa kata elu, kamar cuma 150, kan nggak rugi-rugi amat. Doa'in aja ntar malam dapat job lagi. Biasanya, kan malam Minggu gini banyak tuh yang nangkring di lampu merah. Nggak usah kesal, udah! Kayak nggak ada lakik lain aja," tanggap Missa, mencoba menenangkan.

Andara seketika saja meringis mendengarkan kata-kata Missa tadi. Apa katanya? Berdoa? Andara bergidik lucu untuk yang itu.

"Terus gimana sekarang? Lu ada job nggak? Karena uang gue udah habis nih buat booking kamar," tukas Andara sambil melorotkan kimononya. Meninggalkan celana pendek juga tank top yang mencetak tubuh.

"Duh, gue juga bingung nih, Dar, dapat uang dari mana ya? Mana besok kita harus bayar kosan lagi. Ya dewa... capek banget hidup jadi orang. Pengen jadi bintang gue kadang-kadang," sahut Missa ikut mengeluh. Berbeda dengan Andara, Missa lebih memilih merebahkan tubuh di atas kasur hotel seharga kipas angin hadiah pasar malam.

Andara yang baru saja ingin menyapu kulitnya dengan body lotion, tiba-tiba saja di interupsi oleh pesan singkat yang muncul di layar ponselnya. Penasaran, buru-buru dia meraih benda persegi tersebut guna melihat pesan siapa yang baru masuk.

'Lun, ada job nih buat lu. Datang ke kafe sekarang, buru! Banyak konglomerat di sini. Jangan sampe kehabisan!'

"Alhamdulillah... Akhirnya kita kebagian rejeki, Mis. Wuuuu..." serunya setelah selesai membaca pesan singkat tersebut.

Missa sontak saja melirik Andara dengan kepala yang meneleng. "Segila-gilanya gue, lu lebih stres, Dar. Job haram di katain Alhamdulillah. Nggak-nggak memang lu." Alih-alih ikut senang, Missa justru lebih tertarik mengomentari kata-kata Andara yang di luar galaksi.

Lagi-lagi, Andara hanya nyengir kuda. "Biasa lah Sis, namanya juga refleks," jawab Andara tidak kehabisan kata-kata.

Missa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru teringat lagi akan job yang baru di katakan Andara tadi.

"Oh iya, job apaan yang lu maksud tadi? Berapa orang nih? Biar gue bisa siap-siap setel badan. Duh... capek Gusti olahraga malam-malam," tanyanya tak luput dari keluhan.

"Nggak tau gue. Kata si Kon tadi banyak pengusaha konglomerat. Belum tau juga sih, mau apa nggak. Kita coba-coba aja dulu. Kalo emang iya semua tuh laki-laki orang kaya, gue jabanin dah sampe pagi juga. Asal besoknya gue bisa belanja di Dior plus LV. Huff... nggak sabar banget njirr..." angan Andara membayangkan hasil yang akan dia dapatkan.

"Ya udah, buruan! Kita ke sana sekarang. Kali ini gue nggak akan buka harga lima puluh, tapi lima juta!" tukas Missa, ikut semangat.

"Gue lima puluh aja sih. Asal ada bonus sekali servis," tanggap Andara yang lantas tertawa.

***

Sesuai agenda juga lokasi yang di berikan Konen—masih satu kolam dengan Andara—kedua perempuan itu sudah tiba di lokasi. Kafe Yara yang terletak di bagian sudut kota. Lumayan terkenal di kalangan anak-anak bebas seperti mereka.

Andara langsung saja melengos masuk ke dalam, mencari keberadaan Konen. Sepertinya benar apa kata laki-laki itu, di sini sedang banyak terdampar para laki-laki usia matang dengan setelan jas yang mewah. Tidak salah lagi, mereka pasti si pria dengan uang berlimpah.

"Woi Kon, gimana?" seru Andara begitu melihat wajah lebar laki-laki itu.

"Sini buruan!" Konen menarik tangan Andara yang di belakangnya ada Missa yang turut mengekori. "Lu pada tau nggak? Usut punya usut, ternyata semua orang-orang yang lu liat di sana itu masih sebatas kacung alias pesuruh. Si Tuan yang memfasilitasi semua ini belum muncul. Katanya akan tiba dua puluh menit lagi," kata Konen begitu situasi terlihat aman.

"Benaran, Cok? Gilak, gilak, nggak kebayang seberapa banyak tuh duit si Tuan Kacung. Tapi tujuan dia ke sini mau ngapain? Jangan bilang dia mau berantas kafe Yara? Bisa jadi kuman kita kalau kafe ini di bongkar," tanggap Andara.

"Anjai... tumben-tubenan lu punya pikiran kritis macam gitu. Biasanya biar Intel yang datang juga lu jabanin," komentar Missa, sangat tahu tabiat temannya itu.

"Udah-udah!" Konen mengibaskan tangan. "Dengerin gue. Gue dapat kabarnya dari teman gue salah satu orang yang nunjukin kafe Yara buat bahan pertimbangan untuk Si Sultan. Kalian tau nggak, dia mau cari apa ke sini?"

Andara dan Missa kompak menggeleng.

"Dia mau cari cewe yang bisa di bawa ke Dubai sono. Buat di jadiiin teman tidur tiap malem. Katanya sih gitu. Kalau emang iya, kalian berdua daftar aja. Kan lumayan tuh tinggal di Dubai. Siapa tau juga biaya hidupnya di penuhi oleh si Sultan. Gimana?" sambung Konen menjabarkan informasi yang dia dapatkan.

"Dubai?" beo Andara.

"Iya Dubai. Nih orang berasal dari sono. Bukan main lagi tuh dompetnya. Gas ajalah. Rejeki nomplok ini mah," sahut Konen, tidak berhenti sumringah.

"Gimana sama lu? Mau?" tanya Missa pada Andara.

"Gimana ya, gais... gue ikut nggak nih?" gumam Andara, malah jadi bingung sendiri.

"Udah coba aja. Siapa tau beruntung," sahut Missa membungkus dalam-dalam keraguan Andara.

Beberapa menit mencoba menimbang segala sesuatu tersebut, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun memunculkan batang hidungnya. Dari jarak ketiga sahabat itu, dapat mereka lihat bagaimana orang-orang mendadak hormat pada sosok yang baru saja muncul. Ya, tidak salah lagi, pasti dia si Sultan Dubai yang dibicarakan.

**

Andara memilih ikut mendaftarkan diri sebagai calon yang akan di bawa ke Dubai. Dia sudah mempersiapkan diri dengan tampilan paling anggun yang dia berikan. Konen dan Missa tak luput membantu persiapan Andara untuk bertemu dengan si Sultan tersebut.

Hingga tibalah di puncaknya. Seluruh perempuan yang mencalonkan diri, berbaris di depan si Sultan yang sedang duduk di sofa sambil menaikkan satu kakinya di kaki yang lain. Matanya begitu datar mengeja satu-satu wajah-wajah perempuan di depannya.

Hampir saja Andara terlambat. Di barisan paling ujung dari arah mata si Sultan menyisir, buru-buru Andara menempati posisi. Dia merapikan lebih dulu rambutnya sebelum akhirnya sepasang mata yang penasaran dengan rupa si Tuan Kacung itu, menetap pada pahatan wajah yang menurutnya tidak asing.

"Kamu saja yang ikut saya. Yang lain boleh pergi," kata pria kaya itu persis saat matanya mengarah pada Andara.

Kaget semakin kaget perasaan Andara, kala dirinya terpilih. Sosok yang ada di depan Andara saat ini adalah laki-laki yang kabur waktu itu saat kamar dan makanan sudah di pesan. Tapi siapa sangka? Kalau dia ini ternyata seorang Sultan Dubai yang di incar banyak perempuan mata duitan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD170
8.1
Winnie harus menelan pil pahit saat Jako membatalkan pertunangan mereka di depan umum, tepat ketika keluarganya jatuh miskin. Terdesak oleh keadaan, ia nekat mengaku tengah mengandung anak Dion, paman Jako yang sangat berpengaruh. Tak disangka, Dion justru menerima klaim tersebut dan mengajaknya bekerja sama. Dimulailah pernikahan kontrak yang penuh dengan intrik, perhitungan matang, serta kesalahpahaman rumit yang menjerat perasaan mereka berdua.
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, gadis dari latar belakang sederhana, mendadak jadi pusat perhatian setelah Nyonya Silviana mengangkatnya sebagai ahli waris tunggal. Perubahan status sosial yang drastis ini memicu penolakan keras dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan kepantasannya. Di tengah kepalsuan dan intrik keluarga kaya, Lucyana harus berjuang mempertahankan diri. Mampukah ia bertahan menghadapi tekanan tersebut sembari mencari sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel HATE BEING A RICHMAN
8.3
Tsabit adalah yatim piatu sukses di Woodela yang tetap rendah hati meski kaya raya. Namun, dunianya hancur saat rahasia kelam orang tuanya terungkap. Ia terjebak cinta terlarang dengan Shakeela yang ternyata adalah saudara sedarahnya sendiri. Kenyataan pahit ini membuat Tsabit membenci kekayaannya dan menyesali pertemuan mereka. Meski dosa masa lalu memisahkan keduanya, ikatan tulus yang telah terjalin lama membuat mereka sangat sulit untuk saling melepaskan.
Sampul Novel HOLD ME
9.6
Alice, siswi berprestasi berusia delapan belas tahun, bermimpi menjadi desainer ternama. Namun, dunianya runtuh saat orang tuanya tiada dan Martin, kakaknya sendiri, menjualnya kepada Devan Adipati Gumilang. Devan adalah pemuda kaya raya yang dominan dan dikenal sangat brengsek di Jakarta. Kini, Alice terjebak sebagai pemuas nafsu bagi Devan yang memperlakukannya bak mainan. Mampukah ia meloloskan diri dari cengkeraman pria tampan yang berhati iblis tersebut?
Sampul Novel Imperium Rahasia Miliaran Dolar Penggantinya
9.0
Lima tahun Anya menyamar jadi wanita miskin demi mendanai kesuksesan Bima sebagai CEO teknologi. Namun, Bima justru membawa Katrina dan mengkhianati Anya. Setelah dipermalukan di lelang bawah tanah agar tunduk, Anya mendengar pengakuan kejam bahwa dirinya hanyalah pengganti Katrina. Bima tak sadar bahwa Anya adalah investor rahasia di balik kekayaannya. Saat hubungan mereka hancur, Anya memutuskan menghubungi Kian untuk segera menikah dan meninggalkan Bima selamanya.
Sampul Novel Istri Rahasia CEO Arogan
9.3
Evely gemetar ketakutan saat menolak pernikahan dengan Megantara, seorang CEO arogan yang terbiasa mendapatkan segalanya. Megantara yang murka merasa dihina oleh gadis miskin tersebut. Ia mencengkeram dagu Evely dan menekannya dengan ancaman keras untuk memberi pelajaran tentang kekuasaannya. Meski Evely mencoba melawan dan memohon agar dilepaskan, Megantara terus mendekat dengan senyum sinis, memojokkan gadis itu dalam situasi yang mencekam.