Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wangsit Kuntilanak

Wangsit Kuntilanak

Warga percaya sebuah rumah tua dihuni kuntilanak penyihir Belanda yang tewas dibakar. Ema yang terdesak akibat pelecehan ayah tirinya nekat tinggal di sana. Namun, sosok gaib ringkih mulai membantai orang-orang di sekitarnya. Meski sempat melarikan diri, Ema terpaksa kembali demi menghadapi wangsit mistis yang mengikatnya. Ia harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Iqbal, kekasihnya, sebelum nyawanya dihabiskan oleh sang hantu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Perjalanan dengan track yang cukup sulit akhirnya berakhir. Ema tiba dengan napas sedikit tersengal di depan sebuah rumah berukuran sangat besar dan mewah pada zamannya.

Seperti istana namun dengan kearifan lokal yang membuatnya tampak sangat eksentrik.

Ema memeriksa alamat rumah di secarik kertas yang ia bawa. Memastikan bahwa ia tak salah tempat.

"Bener kok ini. Gue kira rumah sewanya, ya, beneran berbentuk rumah, tapi ini kayaknya bukan rumah deh. Apa gue dikerjain sama Erina? Sialan tuh orang kalau emang iya."

Bingung dengan langkah apa yang harus diambil. Ema akhirnya mencoba mengetuk pintu rumah, memanggil sosok penghuni di dalam yang ia ketahui bernama Bu yati.

"Selamat siang. Permisi, hallo," panggilnya.

Detik berlalu, berganti menjadi menit. Ema menghela napas masih menunggu dengan sabar panggilannya mendapat sambutan. Dicoba untuk yang kedua kali karena berpikir, mungkin saja pemilik rumah tidak mendengar apa yang ia ucapkan.

"Hallo, permisi. Selamat si—" belum selesai salam yang ia ucapkan, pintu dengan kusen kayu megah dan ukiran rumit terbuka. Menampilkan seorang perempuan paruh baya dengan raut wajah ramah.

"Siapa, ya?"

"Emm. Saya mau nyewa di rumah ini. Ini benar, kan, rumahnya Bu Yati?"

Sosok yang sedang diajak bicara mengulas senyum lembut. "Oh, iya, Nduk. Bener, saya sendiri Bu Yati. Sampean mau nyewa di sini?"

Ema mengangguk dua kali dengan gerakan ragu.

"Kebetulan masih ada tiga kamar lagi yang kosong. Ayo masuk, saya antarkan."

"Lho, ini kos-kosan, ya, Bu? Saya pikir ini tadi rumah sewa tunggal."

Bu Yati menatap dengan tatapan lembut. "Tadinya iya, ini disewakan secara tunggal, tapi pas buka harga, ternyata ada banyak banget yang berminat. Dan salah satu dari mereka memberi usulan untuk membuat kos-kosan saja. Mengingat ada banyak kamar kosong yang tersedia. Gimana? Kamu nggak masalah, kan?"

Ema mengangguk semringah. "Oh, nggak masalah kok, Bu. Saya malah seneng kalau di sini rame. Cuma saya agak kaget aja, ternyata informasinya beda dari yang saya dapat."

"Mbak nya dapat informasi dari siapa? Duh maaf, ya, kalau mengecewakan."

"Nggak apa-apa, Bu. Beneran. Saya nggak masalah kalau rame, malahan suka punya banyak tetangga nantinya"

"Yaudah, yuk masuk dulu. Kita lihat-lihat ruangan yang ada."

Ema melangkah masuk bersama dengan Bu Yati. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang ada. guci-guci besar, sebuah foto yang menunjukkan orang-orang di zaman dahulu. Kursi goyang yang terbuat dari kayu jati, dan juga barisan buku dengan halaman tebal yang tersusun dalam lemari kaca megah di sudut ruangan.

"Dulunya ini adalah tempat berkumpul para bangsawan Belanda. Mereka semua membuat rapat atau sekedar pertemuan di sini. Sambil bincang-bincang mengenai bisnis. Di belakang bangunan ini adalah ladang tebu dulunya, cuma sekarang udah nggak ada lagi."

"Ladang tebu?" ulang Ema tertarik.

"Iya, tempat ini dulunya tempat tinggal keluarga kaya Tjokrodjiwo, pemilik pabrik tebu yang mengelola selama zaman kolonial. Itu masih ada fotonya." Bu Yati menunjuk pada sebuah figur lelaki berkumis tebal dengan blankon di kepala. Juga tongkat yang ada di tangannya. Di kiri dan kanan laki-laki itu berdiri dua wanita. Satunya berwajah pribumi, sedangkan satunya lagi berwajah seperti orang asing.

"Itu yang dikiri dan kanannya siapa, Bu?"

"Oh, itu Nyai Endah, dan Nyai Miranda. Istri kesayangannya pemilik pabrik jaman dulu. Sengaja saya taruh di sana buat hiasan."

Mulut Ema membentu huruf 'o' tanpa suara. Dia mengangguk-angguk paham.

"Oh, ya, kita belum kenalan. Nama Mbak ini siapa, ya?"

"Saya Ema."

"Kepanjangannya?"

Ema jeda sejenak. Dia menjilat bibirnya sebelum lanjut berucap, "Ema saja, tidak ada nama panjang."

Bu Yati mengangguk-angguk. "Nama saya Bu Yati, seperti yang Mbak Ema tahu. Anak-anak yang ngekos di sini juga manggil saya begitu."

"Iya, Bu."

"Ayo langsung aja ke atas. Saya tunjukkin kamarnya sampean yang mana."

Ema mengikuti langkah Bu Yati, menyusuri tangga melingkar yang mengantarkan mereka berdua menuju ruangan di lantai dua.

Ada banyak sekali pintu-pintu yang ada. Saling berhadapan satu sama lain. Mereka terus berjalan hingga menuju kamar terakhir yang letaknya paling ujung. Bu Yati mengeluarkan kunci dari saku rok kain jarik yang ia kenakan. Memutarnya dan membuka pintu.

Sebuah pemandangan kamar dengan area yang cukup luas menyambut pemandangan. Sejenak Ema tertegun, tak menyangka bahwa di dalam rumah yang tampak tak biasa ini, ternyata isi di dalamnya sangat bagus dan rapih.

Plafon terbuat dari kayu dengan sebuah lampu gantung berukuran cukup besar tergantung di tengahnya.

Ema melangkahkan kaki masuk, masih tak bisa melepaskan raut kagumnya pada setiap sudut ruangan yang ada. Rasanya tak menyesal sudah datang sejauh ini untuk menemukan lokasi tempat tinggal sementara yang memuaskan keinginan.

"Gimana Mbak? Mau nyewa di sini?"

"Mau, Bu. Saya mau nyewa di sini."

"Mau berapa bulan?"

Ema tampak tercenung sebentar, memikirkan berapa tabungan yang ia miliki. Tak banyak, tetapi untuk tinggal sampai setengah tahun di rasa cukup. Apalagi harga sewa di sini sangat-sangat murah kalau di kota. Kalau di kota mungkin hanya mampu menyewa dua sampai tiga bulan saja.

"Saya ambil empat bulan deh, Bu."

"Lho, kenapa nggak setahun aja. Rata-rata di sini ambilnya tahunan, Mbak. Karena murah dan suasananya tenang. Jauh dari perkotaan. Mbak sebentar lagi bakal garap skripsi, kan? Ini tempat yang tepat buat menemukan ide, soalnya nggak akan terganggu."

Ema menggigit bibir, sesungguhnya ia juga ingin menyewa pertahun, tetapi ia takut uangnya tak cukup untuk makan. Bagaimana cara dia mengisi perut nantinya.

"Kalau Mbak nya mikir soal biaya, santai aja. Di sini bisa nyicil kok. Mbak sambil kerja?"

Ema mengangguk.

"Kalau gitu bayar pas gajian aja, Mbak. Nggak apa-apa. Mbak kerja sebagai apa kalau boleh tahu?"

"Saya penulis novel horor, Bu."

"Oh, penulis, ya? Hebat dong."

Ema tersenyum kikuk. "Nggak hebat-hebat banget kok, Bu. Pembaca saya juga nggak terlalu banyak."

"Tapi penghasilannya banyak, kan?"

Ema tak menjawab, lagi-lagi hanya tersenyum saja.

"Ya, sudah kalau gitu. Mbak bisa langsung tinggal di sini aja, ya. Kalau mau mandi, kamar mandi ada di ujung satunya lagi. Tapi sering dipakai kalau pagi-pagi. Kalau nggak mau ngantri, di bawah juga ada kamar mandi. Ada banyak, ada empat. Di belakang juga ada sumur kalau mau mandi di sumur, tapi ya gitu. Harus nimba. Nggak apa-apa, kan?"

"Nggak apa-apa, Bu."

"Yaudah, saya tinggal dulu, ya."

Ema mengangguk. Begitu pintu kamar di tutup dan kunci telah ia terima. Ema langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Menghirup aroma khas dari kasur yang ia tiduri.

"Akhirnya, gue bisa bebas juga dari si tua keladi itu." Ema bernapas lega.

Tubuhnya kini terasa sangat lelah. Sendi tulangnya remuk karena harus berjalan sambil menenteng koper yang isinya tidak ringan. Ia mulai memejamkan mata.

Detik berlalu, berganti menit. Tanpa ia sadari, perempuan itu mulai tenggelam dalam mimpi. Saat baru saja akan kehilangan kesadaran. Sebuah teriakan peringatan menelusup masuk ke telinga. Menggemakan namanya dengan satu bentakkan keras.

"EMA. Pergi dari tempat itu!!"

Dua mata nyalang terbuka. Napas terengah, di ambang kesadaran yang belum terkumpul sempurna perempuan itu bangkit dari tidur.

"Ibu? Itu suara ibu?"

Ema menyapu pandangan ke sekeliling. Dia yakin baru saja mendengar suara ibunya, tetapi tak bisa membuktikan hal itu.

Gadis itu akhirnya bangkit dari tidurnya. Ia keluar membuka jendela yang langsung terhubung pada halaman samping bangunan. Dari tempatnya berada, Ema bisa melihat pohon beringin besar yang tadi ia lewati. Namun perempuan itu lagi-lagi harus kembali dikejutkan, tak kala matanya menangkap sesosok makhluk tinggi hitam bungkuk yang sedang bertengger tepat di ujung puncak pohon paling tinggi. Sedang melambai-lambaikan tangan padanya sambil menyeringai.

"Gue ... Nggak salah liat, kan? I-itu kuntilanak?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Akeno Taoka, anggota Yakuza dari klan Barakujaga, menyamar menjadi guru SMA di Tatsuno demi misi rahasia. Targetnya adalah Reina Akinara, putri pemimpin klan musuh, Tuan Kudesai. Akeno bertekad menjadikan Reina alat balas dendam atas kematian orang tuanya yang dibunuh secara licik. Namun, sebuah fakta mengejutkan mengenai identitas asli Reina terungkap di tengah rencana tersebut. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau justru ia akan luluh oleh pesona Reina?
Sampul Novel Jodohnya yang Tak Diinginkan, Sihirnya yang Terlarang
9.2
Lima tahun mendampingi Alpha Bram, aku hanya mendapat pengkhianatan. Saat insiden lampu gantung maut terjadi, Bram justru menjadikanku tameng demi melindungi selingkuhannya, Bella. Tubuhku hancur dan roh serigalaku lumpuh, namun Bram justru tega melakukan ritual pemutusan ikatan suci kami. Rasa sakit itu menghentikan jantungku tepat saat sebuah rahasia besar terungkap: aku sedang mengandung ahli warisnya. Kini, penyesalan Bram tak lagi berarti bagi nyawaku yang hilang.
Sampul Novel Nona Hujan, Cobalah Diriku!
8.4
Akibat dosa masa lalu, Kerajaan Meng didera kekeringan hebat selama puluhan tahun. Di tengah penderitaan rakyat, Putra Mahkota Li Yun Zhu mencari cara menyelamatkan negerinya. Harapan muncul pada sosok Su Yu Er dari Suku Chang'o yang konon mampu mendatangkan hujan. Namun, Yun Zhu terjebak dilema besar. Ia harus memohon bantuan kepada keturunan bangsa yang pernah dibantai keluarganya sendiri. Akankah dendam lama menghalangi keselamatan seluruh kerajaan?
Sampul Novel Pedang Terhunus
9.3
Inilah catatan sejarah perjalanan hidup Khalid Bin Walid yang luar biasa. Sebagai panglima militer legendaris, ia mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya demi membela panji Islam di berbagai wilayah. Kehebatan strateginya terbukti nyata melalui catatan rekor yang mencengangkan, di mana ia tidak pernah sekalipun merasakan pahitnya kekalahan di medan pertempuran. Ikuti kisah heroik sang pedang Allah dalam menaklukkan setiap tantangan yang ada.
Sampul Novel Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran
9.5
Anggi Suharjo tersadar bahwa dirinya hanyalah figuran yang dikorbankan demi saudara kembarnya, Wulan. Setelah tewas mengenaskan karena diabaikan keluarganya, Anggi kembali ke masa lalu, tepat di hari pernikahannya dengan Luis Giandra yang kejam. Kali ini, ia enggan mengemis kasih sayang. Mengandalkan kecerdasan taktik militer dan kemampuan medis luar biasa, Anggi siap merebut kembali haknya. Saat keluarganya memohon ampun, Luis yang semula dingin justru enggan melepaskannya.
Sampul Novel PUTRI GANDARI
8.0
Pasca wafatnya sang Raja di Kerajaan Singaraja, Putri Gandari kini harus memikul beban kepemimpinan yang sangat besar. Meski awalnya diliputi keraguan serta ketakutan mendalam, ia akhirnya memantapkan hati untuk bangkit. Dengan tekad yang membara, Gandari resmi naik tahta demi melanjutkan garis keturunan ayahnya. Ia berjanji akan mengelola pemerintahan secara bijaksana dan melindungi rakyatnya sebagai penguasa baru yang tangguh di masa depan.