
WAJAH SUAMIKU TIDAK TAMPAN LAGI
Bab 3
Herman ketakutan melihat amarah Naiya. Sungguh lelaki itu tidak menyangka jika wanita secantik Naiya bisa ilmu kanuragan.
“Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan perbuatan laknat itu? Kenapa Kau diam? Kau mau Aku cincang hidup-hidup?”bentak Naiya.
Tubuh Herman bergetar, mendengar ancaman Naiya.
“Ma–afkan Aku, Nai, Mertua Kamu yang menyuruhku. Tolong lepaskan Aku,”lirih Herman.
“Apa? Mama? Ya Allah, Kamu tidak berbohongkan?”tanya Naiya lagi.
Herman menggelengkan kepalanya dengan lemah.
“Kita keluar sekarang, Mama mesti tanggung jawab. Bangun Kamu, atau mau Aku seret?”
Herman dengan cepat bangun, walaupun merasa sakit di perutnya lelaki itu tetap berjalan di depan Naiya.
“Jalan yang cepat, jangan kayak siput. Tadi Kau begitu bernafsu padaku, sekarang udah jadi pengecut.”
Herman sangat marah pada Naiya, namun Dia tidak bisa berbuat apa–apa. Nyawanya dalam bahaya jika melawan wanita cantik itu.
tukk..tukk..
“Sayang, ini Aku!”
terdengar suara Herman memanggil Aini. tidak lama kemudian Aini pun membuka pintu.
Nampak wanita berusia lima puluh tahun itu sedang memakai baju yang cukup terbuka.
“Bagaimana menantuku?”
ucapan Aini menggantung melihat Herman yang babak belur dan Naiya yang menatap tajam padanya.
“Kenapa Mama tega padaku? Aku akan membawa kasus percobaan pelecehan ini ke kantor polisi.”
“Maksud Kamu apa Nai? jangan menuduh Mama sembarangan,”
Aini mencoba mengelak dengan apa yang terjadi. Tapi Naiya bukanlah wanita yang mudah di bohongi.
“Aku sudah menyimpan bukti yang lelaki ini lakukan padaku. Mama lupa jika kamar Kami ada CCTV? yang hanya Aku dan Bang Fadhil saja bisa melihatnya? lagipula Aku sudah merekam pengakuan lelaki brengsek ini. Mama mau bantah apa lagi?”
Naiya melipat tangan di dadanya seraya mendelik penuh benci pada Aini.
“Hahaha, ya Aku yang membuat rencana ini. Tapi Sayang ternyata gagal. Kamu mau apa?”tantang Aini.
“Aku mau Mama di penjara,”balas Naiya
Lantas wanita itu mengambil ponselnya di dalam saku gamisnya.
“Apa yang Kau lakukan Nai? hentikan,”cegah Aini.
“Bukannya tadi Mama mau tau apa yang Aku inginkan? nikmatilah masa tuamu di dalam sel penjara,”balas Naiya.
Aini terkejut dengan sikap Naiya yang berbeda dari biasanya yang lembut dan patuh.
“Mama mohon Nai, jangan lapor polisi, Mama akan melakukan apapun yang Kamu minta.”
Aini menangkupkan kedua tangannya, membuang segala gengsi dalam dirinya.
“Benarkah? Mama mau memberikan apa yang Aku minta?”
“Ya Nai, Kamu boleh minta apapun sama Mama. selagi Mama bisa mengabulkannya.”
Naiya terdiam untuk beberapa saat lamanya, hingga wanita itu tersenyum.
“Transfer uang ke rekening Aku. Lima puluh juta. Sekarang juga,”
“Apa Nai? banyak banget, Mama tidak mau.”
Aini menolak permintaan menantunya itu. Tapi bukan Naiya yang tidak bisa memeras Aini.
“Hei. Kau. Apa hubungan Kau dengan Dia.”tunjuk Naiya ke Herman.
“Aku ini simpanan mertua Kamu, Nai. Kami berhubungan sudah satu tahun lebih.”
Naiya merekam semua yang dikatakan oleh Herman. membuat Aini kesal dan memukul Herman.
“Kenapa Kau bicara tentang hubungan Kita? bisa-bisa Fadhil tidak akan mengirim uang ke Aku lagi.”bentak Aini.
“Aku masih ingin hidup, Aku kesakitan tau?”balas Herman.
Keduanya saling beradu mulut, hingga tepukan dari Naiya membuat Mereka berhenti.
prokk..prokk..
Naiya menepuk dua tangannya, membuat Aini terdiam.
“Kalian mau Aku viralkan sebagai pasangan mesum ? apa kata dunia Ma? sudah siap Mama kena kecam oleh keluarga dan semua teman-teman mama?”
Akhirnya Aini terpaksa mengirim uang ke rekening Naiya.
“Sudah Mama kirim, pergilah Kamu dari sini. Muak Aku liatnya,”usir Aini.
“Apa? Mama mengusirku? Mama lupa ini rumah siapa? ini rumahku, Aku Bos di sini yang berhak mengatur siapa yang tinggal atau pergi. dan Kalianlah yang pergi, sampah seperti Kalian itu tidak pantas ada di rumahku.”
Naiya menarik tangan Aini dan juga Herman. entah dari mana tenaga yang dimiliki wanita cantik itu.
“Tunggu Nai. Mama ganti baju dulu, mana mungkin Mama pergi dengan pakaian seperti ini.”
Aini memberontak ketika Naiya menarik tangannya.
“Bukannya wanita murahan pakaiannya seperti Mama? malahan lebih bermartabat p***cur dari pada Mama.”
Naiya tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Aini.
“Tunggu di situ, Aku akan mengambil barang-barang Mama.”
klek..
Naiya mengunci pintu rumahnya, lalu mengambil tas serta baju milik Aini yang tertinggal di kamar.
“Ambil punya Mama. Jika Mama masih punya niat jahat denganku. Siap–siap Mama tinggal nama.”ancam Naiya.
Dengan cepat Naiya menutup pintu rumahnya kembali. membiarkan Aini dengan pakaian tipis menerawang.
Anda Mungkin Juga Suka





