
Virtual Love Story
Bab 3
"Pengumuman bulan apa sih?"
"Bulan Mei kalo gak salah."
Edith mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu jadi kuliah di Surabaya Dea?" Tanya Raina sembari menyusun kartu UNO nya yang baru di bagikan Edith.
"Iya jadi, tapi kayaknya bakal online deh. Malas banget." Gerutu Dea dengan wajah cemberutnya.
"Iya sih pasti karna Covid dah masuk ke Indonesia, sekolah aja udah pada belajar online lewat zoom atau google meet kan ya?" Edith menanggapi.
3 gadis itu sedang nongkrong di sebuah coffee shop, rutinitas malam minggu mereka sambil memainkan kartu UNO yang di mereka bawa sendiri agar tidak bosan jika kehabisan bahan obrolan.
"Iya, untung aja kita udah selesai tinggal nunggu pengumuman lulus jadi gak perlu online." Jawab Raina, yang kini sudah bisa terlihat bahwa dia akan kalah lagi dalam bermain UNO.
"Bener banget, bakal susah sih apalagi kalo pelajaran mtk ngejelasinnya gimana coba."
"Ya pasti kita juga bakal tetep ngerasa belajar online, emang anak kuliahan gak di rumahkan apa."
Pernyataan Dea mendapat anggukan dari kedua temannya, membenarkan.
"Eh tapi tumben kamu Rai gak jalan sama Rahman."
Yaa karna setiap minggu yang paling susah di ajak kumpul adalah Raina. Dia selalu mempunyai agenda bersama Rahman, atau bahkan Rahman yang mengajak Dea dan Edith untuk nongkrong bersama dengannya dan teman-temannya. Ya mana mereka maulah! Maluuu
"Tadi dia ada ngajak sih cuman aku malas ikut soalnya mereka cuman mau makan-makan doang sama yang lain karna ada yang ulang tahun." Raina menjawab.
"Bagus dong harusnya makan gratis!" Edith berseru.
Edith kalau soal makanan selalu saja nomor 1, apalagi kalau gratis bisa-bisa dia akan datang secepat kilat.
"Malas, lagian udah lama juga aku gak main bareng kalian kalo malam minggu."
"Arghhh malas banget aku kalah terus!!!" Raina melemparkan kartu nya ke meja. Kesal dari pertama main dia belum ada menang.
Edith dan Dea tertawa. Sudah biasa melihat Raina begitu.
"Udahan ahh aku." Ucapnya lalu mengambil minumannya, meredamkan kekesalannya.
Raina sudah menyerah, Dea dan Edith juga berhenti main. Tidak ramai jika hanya berdua yang main.
Mencomot kentang yang ada didepannya Dea kembali membuka obrolan.
"Kalian jadinya ambil jurusan apa?" Tanyanya pada Raina dan Edith.
"Ekonomi pembangunan sih aku." Jawab Edith.
"Aku juga biar ada temennya satu fakultas." Jawab Raina sambil terkekeh.
"Kamu tetep ambil pariwisata perhotelan De?" Kini giliran Raina yang bertanya.
"Iyaa tetep lanjutin hotel aja aku."
Iya, Dea tetap melanjutkan studi nya dengan jurusan yang sama di SMK nya. Dia tidak mau menyimpang dari jalur.
"Kapan berangkatnya?"
"Harusnya Juni atau Juli ini sih tapi gak tau nih belum ada konfirmasi lagi."
Karena ini malam minggu dan mereka juga sudah tidak ada agenda apa-apa lagi di sekolah maka mereka tidak akan dimarahi kalau pulang terlambat. Dea, Edith dan Raina mempunyai jam malam yang sama dari orang tua mereka. Jam 9 harus sudah pulang.
Dea pernah pulang lewat dari jam itu, sekitar jam 10 an karna dia terlalu asik mengobrol dengan mantan pacarnya dahulu dan saat sampai di rumah Dea di kunci tidak bisa masuk oleh Mama sampai ia harus menelpon Baba yang saat itu kena shift malam agar Mama mau membukakan pintu untuknya baru dia bisa masuk setelah itu.
Edith anak itu lebih kasian sekali, dia pernah pulang jam 12 malam karna habis nonton konser dan sampai rumah dia benar-benar tidak dibukakan pintu hingga harus menginap di rumah Raina yang cukup dekat dari situ, besokannya baru dia pulang dan tentu saja omelan dari orang tua menyambutnya.
Raina tidak terlalu parah, karena alasannya pulang telat adalah hujan. Dia tidak ada jas hujan dan mau tidak mau dia harus menunggu hujan reda agar pulang tidak basah karena orang tua nya juga tidak membolehkan anak mereka hujan-hujanan. Namun tetap sampai rumah dia mendapat omelan dan besoknya jas hujan baru sudah ada di kamarnya agar tidak ada alasan lagi untuk nya pulang terlambat.
Begitulah, namanya juga strict parent. Namun bukan tanpa alasan juga mereka begitu, mereka begitu juga karna tidak mau anak gadis mereka kenapa-kenapa terlebih itu sudah malam hari. Jadi Dea, Edith dan Raina memaklumi.
"Udah jam sepuluh nih, pulang yok aku juga udah pegel dari tadi duduk."
Raina mengecek jam yang melingkar ditangannya. Benar sudah jam sepuluh malam, ia juga sebenarnya sudah lumayan sakit pinggang duduk kelamaan. Maklum remaja jompo.
Memasukkan dompet, handphone dan tak lupa membereskan kartu UNO mereka kemudian pulang. Edith bersama dengan Raina karna rumah mereka dekat dan Dea sendiri.
"Dahhh kapan-kapan lagi ya. Aku duluan." Pamit Dea.
"Hati-hati."
"Dahhh."
Jawab Raina dan Edith bersamaan.
✨✨✨
Dea sudah sampai dirumahnya, memasukan motornya di bagasi kemudian mengetuk pintu. Pintu sudah dikunci tapi orang tua nya masih menonton tv di ruang tengah.
"Assalamualaikum," Salamnya pada Mama yang membukakan pintu.
"Waalaikumsalam," Jawab Mama menyambut tangan Dea yang menyalimi nya.
"Bawa apa De?" Tanya abangnya yang ikut nonton bersama saat melihat kepulangan Dea.
"Gak ada, abang juga gak ada nitip apa-apa." Jawab Dea sambil menyalimi abang dan Baba nya kemudian ikut duduk disebelah Baba nya.
"Udah makan kak?" Mama bertanya
"Belum sih Ma, tadi cuman minum doang sama nyemil kentang."
"Iya udah makan dulu sana, itu lauknya masih diatas meja." Suruh Mama.
"Bentar deh belum laper juga masih kenyang."
Mama hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tumben abang gak jalan."
"Sudah baru datang dia." Bukan abang yang menjawab tapi Baba.
"Bawa pacarnya kesini." Mama melanjutkan.
"Ihh parah sih aku gak di kenalin."
Abang hanya menahan senyum. Salah tingkah.
"Gimana-gimana cewe nya Mah?" Tanya Dea kepo.
"Cantik, sopan juga. Ya namanya baru pertama ketemu jadi belum tau banyak nanti sambil dilihat aja cocok apa engga di jadikan menantu."
"Ihh apasih," Lagi. Abang salah tingkah jadi menanggapi ketus begitu.
"Kapan-kapan ajak main kesini lagi Bang, tunggu Mamah libur kerja nanti biar kita bisa masak sama-sama." Usul Mamah kepada Abang.
"Iya kalo dia gak sibuk kuliah nanti Saka bawa." Jawab Abang Saka.
Baba hanya menyimak sambil terus menonton film spiderman yang ditanyangkan di tv. Weekend pasti akan ada film-film rame untuk di tonton.
Dea merogoh tas nya mengambil handphone, membuka instagram dan me repost story dari Edith dan Raina, ya selalu saja begitu setiap habis jalan-jalan. Repost-repostan story, dia tertawa saat melihat video di story Edith yang menampilkan wajah kesal Raina kalah bermain UNO tadi. Lucu sekali melihatnya kesal.
Anda Mungkin Juga Suka





