
Unfinished Story
Bab 3
Braak..!
Nesya membanting pintu apartemen sangat keras, hingga suara bantingan pintu itu membangunkan Cika dari tidurnya. Cika melihat raut wajah Nesya yang sembab dan penuh kekesalan.
“hiks, hiks, hiks”
“lo kenapa Nes?”
“kenapa sih cik, gua harus ketemu lagi sama dia?”
“dia siapa Nes?”
“Farel!”
“bagus dong lo ketemu lagi sama dia, sekalian lo minta penjelasan kenapa dia bisa pergi gitu aja.”
“percuma Cik, gua juga gak butuh alasan apapun lagi dari dia. Gua benci banget sama dia. Sebenarnya gua udah gak berharao bisa ketemu lagi sama dia. Tapi kenapa tadi harus ketemu sih, hik, hiks, hiks.”
Cika mencoba menenangkan Nesya. Dengan sedikit nasihat yang ia tahu.
“sekarang lo maunya gimana?”
“gua gak tau Cik, gua gak bisa sekota sama dia, kayaknya gua mau pindah aja deh.”
“iiiih Nesya, jangan gitu. Lo gak bakal bisa tenang kalo menghindar terus, sebaiknya lo gak usah peduliin lagi laki-laki itu, lo ngertikan? Sekarang lo siap-siap kita healing kemana aja. Okey bestie?”
Kata-kata Cika sedikit menghibur Nesya, Cika benar. Mungkin maksudnya move on bukan tentang kita yang bisa melupakan segalanya di masa lalu. tetapi, tentang kita yang bisa menerima kepahitan itu dengan lapang dada.
apapun peraasan yang muncul saat ini seharusnya jangan dibiarkan menjalar sampai ke dalam. rumit memang, tetapi akan lebih rumit jika terus berkabung dengan masa lalu itu sendiri. Kebencian dan kekecewaan merupakan kewajaran untuk hubungan yang tidak berhasil. iklas tidaknya terima saja, nanti semua perasaan itu akan terkubur dengan sendirinya.
***
“bestie, lihat penampilan gua, udah kayak mbak-mbak sosialita belum?”
Ucap Cika sambil memperagakan tubuh layaknya model professional.
“widih, cakep banget sahabat gua. Tapi masih cakepan gue, hehe." ledek Nesya
Sesuai rencana hari ini, Nesya dan Cika sudah siap dengan penampilan masing-masing. Nesya tampil dengan pakaian sederhana namun terkesan berkelas dan elegan,Ia memakai dress putuh selutut dengan rambut yang dibiarkan terurai sedada.
Nesya juga memoles wajahnya dengan riasan natural. Tidak perlu berlebihan, tanpa dipolespun wajah gadis itu akan memancarkan aura cantiknya.
Sedangkan Cika berdandan dengan sedikit heboh namun tidak terkesan norak, ia memakai riasan yang lebih mencolok daripada Nesya. hingga membuat gadis itu terkesan berani.
Melihat dari penampilan dua gadis tersebut, mereka layaknya seperti wanita karir dengan kesibukaan mengejar deadline di perusahaan. Dan sekarang sedang mencoba merasakan healing dari pekerjaannya.
Berkat Cika, sekarang Nesya perlahan mulai membiasakan membuka diri untuk dunia luar, Nesya seorang introvert, aslinya ia tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain, mungkin karena sudah terbiasa hidup sendiri. pekerjaan yang sekarang dijalaninya juga merupakan sebuah alasan kenapa gadis itu menjadi tidak percaya diri.
Tidak seperti gadis muda lainnya yang sibuk jalan-jalan. Nesya lebih suka menikmati hari-harinya di rumah, mungkin taman adalah tempat yang sering dikunjungi karena hampir setiap hari ia lari pagi disana, selebihnya dia akan menutup diri di apartemennya.
Jika bosan gadis itu akan menonton tv atau memboca novel romantis. Lagi pula, era ini serba online, jika malas memasak bisa memasan makanan dari aplikasi, jika ingin shopping tinggal membuka marketplace hijau atau orange, semua kebutuhan pasti ada disana.
***
“hallo pak kita udah di depan gerbang apartemen ya.”
Ucap Cika memberitahu taksi online melalui panggilan telepon.
“taksinya udah dimana Cik?”
“udah deket bentar lagi nyampe katanya.”
Nesya dan Cika kemudian duduk di lobby appartement sembari menunggu jemputan taksi online yang mereka pesan melalui aplikasi.
“permisi nona, apakah saya boleh meminta kontak whatss app anda?”
Seorang pria tiba-tiba meracaukan Nesya. tanpa angin dan hujan pria tersebut tiba-tiba saja meminta kontak Nesya. sangat tidak sopan.
Tetapi, jika dilhat dari wajahnya pria setengah baya itu terlihat seperti pria jahat yang memiliki banyak modus. Dia bahkan terlihat lugu dengan mata sayu. Namun, wajah pria itu tampak menyeramkan karena terlihat bekas luka bakar yang sangat parah.
“maaf, bapak siapa ya? kenapa meminta kontak saya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Ujar Nesya dengan nada sopan. Pria setengah baya yang menggunakan seragam hitam khusus sopir pribadi itu tampak menundukkan kepala , pria itu tidak berani menatap wajah Nesya. Dia seperti ingin mengutarakan sesuatu namun seperti kebingungan.
“Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah Bos saya.”
Jawab pria itu dengan wajah yang masih tertunduk.
“siapa bos anda pak? Kenapa tiba-tiba ingin meminta kontak saya.?” Tanya Nesya lagi.
“maaf nona, saya tidak diizinkan untuk memberitahu nona. Yang pasti bos saya akan menawarkan hadiah yang sangat besar, jika nona bisa bekerja sama dengannya.”
“udah Nes lo kasih aja, siapa tau bos nya itu jodoh lo.” Bisik Cika.
“Maaf pak, tapi-“
“ini pak, ambil kartu nama saya saja. Saya adalah manager Nesya.”
“apaan sih Cik, Maneger apanya?”
“ssst, diam.”
Cika menyeringai kearah Pria tadi.
“Tarimakasih nona, bos saya akan segera menghubungi anda.saya pamit dulu”
***
Di dalam taksi online yang mereka tumpangi, tampak Nesya yang sedang badmood karena kelakun Cika yang bertindak semaunya saja. Gadis itu berulang kali menghela nafas dan mennjukkan wajah masam pada sahabatnya.
“duh, bestie masih ngambek aja.”
“lagian lo kenapa sih Cik asal welcome aja sama orang yang gak dikenal.”
“gua itu memberi kesempatan buat lo Nes.”
“kesempatan apa? Kesempatan jadi model? Artis? Gak mungkinlah Cik, lo taukan kita udah sering ngadepin produser-produser palsu.”
“iya juga sih, tapi mana tau aja kali ini adalah keberentungan bagi kita.”
“jangan mimpi deh, apa lo yakin, bos bapak tadi mau ngajak kerja sama jadi model mereka. Haha mana tau aja mereka agen perdagangan perempuan. Kan serem Cik.”
“haha Kebanyakan nonton film sadis lo Nes, gak mungkin lah kita bisa terjebak gitu aja. Lo gak tau siapa sahabat lo ini? “
“siapa?”
“pegawai me-chat. Haha"
Candaan mereka kala itu memecah heningnya malam, di sepanjang perjalanan Cika tak hentinya bergurau hingga Nesya melupakan kekesalannya.
Sudah sekitar dua puluh menit di perjalanan, mereka tiba di tempat tujuan. Nesya dan Cika tampak sangat tidak sabar masuk ke pasar swalayan terbesar di pusat ibukota.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, ada banyak pajangan berupa pakaian, sepatu, make up dan sejenisnya. Inilah surge para perempuan.
“Cik, liat deh kira-kira ini cocok gak sama gua?”
Kata Nesya seraya menampilkan dress warna hitam bermotif polkadot.
“Gak. Lo pantesnya pakai yang itu.”
Jawab Cika menunjuk kearah dress lengan sejari yang terpampang di patung.
“yah, itu gaya lo kali.”
Belum menemukan pilhan yang cocok, Nesya dan Cika masih menyusuri setiap sudut mall.
Nesya terhenti di depan sebuah toko, ia tampak memperhatikan kedua orang tua yang sibuk memilah baju couple kemudia meminta pendapat anak-anak mereka.
Jika melihat pemandangan seperti itu, terlintas rasa iri di hati Nesya. dulu ia sangat ingin memiliki orang tua yang harmonis dan keluarga yang utuh, tetapi sepertinya hal itu tidak tertulis di dalam scenario hidupnya.
Nesya menepis air mata yang tidak sengaja jatuh ke pipihnya, gadis itu tiba-tiba menjadi lemah, ketika terkenang akan masa lalunya. Di dalam lubuk hati yang terdalam dia masih merindukan Nur dan Gozali. Tetapi, mengingat perlakuan mereka di masa lalu, rasanya sulit menyingkirkan kecewa yang sekarang sudah menjelma menjadi dendam.
Gadis itu terlalu lemah jika harus berurusan dengan masa lalu.
Anda Mungkin Juga Suka





