Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Undangan Eksklusif Dari Presdir

Undangan Eksklusif Dari Presdir

Naura menerima amplop misterius tanpa nama pengirim dari rekannya, Sinta. Takut surat itu adalah pemberitahuan pemecatan yang memalukan, Sinta menyerahkannya kepada Naura demi menutupi masalah dari orang tuanya. Namun, isi undangan itu sungguh tak terduga: sebuah tawaran eksklusif menjadi istri seorang presdir dengan mahar fantastis sebesar 100 juta dolar. Kini Naura terjebak dalam dilema besar antara mengabaikan tawaran gila tersebut atau menyetujuinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Seorang pria duduk menghadap laptop dan sibuk mengecek email yang masuk di kotak inbox. Matanya sangat fokus dan tidak bisa beralih dari laptop yang sudah menjadi teman rutinitas di pagi harinya.

"Arkan, Mama mau bicara hal penting sama kamu. Mama boleh masuk?" Suara Davina dari luar ruangan dan mengetuk pintu itu sedikit mengganggu konsentrasi Arkan.

"Masuk saja, Ma," sahut Arkan malas. Ia bisa menebaknya, maksud dari hal penting itu adalah wanita-wanita cantik yang diidamkan oleh Davina untuk dijadikan istrinya.

Davina melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerja putra tunggalnya, Arkan.

"Mama kenal dengan Mutia, dia cantik, pewaris utama di keluarganya, model terkenal, dan belum mendapatkan pacar. Ya, walaupun mantannya baru satu. Dia cocok buat kamu," ucap Davina bersemangat, ia membanggakan Mutia di depan Arkan. Mutia yang sempurna dan hanya kelebihannya saja Davina tunjukkan.

Arkan menutup laptopnya. Entah siapa itu Mutia ia tidak mengenalnya dan tidak mau berjodoh dengan Mutia.

"Maaf, Ma. Aku sudah menemukan calon pilihanku sendiri," Arkan berkata tegas, tapi ia masih bingung, kira-kira wanita mana yang mau dengannya?

"Siapa wanita kamu? Pilihan kamu tidak ada yang pernah benar. Kemarin tukang pengantar pizza, sekarang siapa lagi?" Suara Davina meninggi, ia tidak akan membiarkan Arkan memilih wanita yang asal-usulnya saja tidak jelas.

Arkan hanya diam, sebenarnya ia belum menemukan wanita manapun. Ia berbohong. Matanya menghindari tatapan Davina.

"Jawab Mama, Arkan!" Davina benar-benar emosi.

Baiklah, jika Davina sudah emosi begini, tidak ada pilihan lain kecuali Arkan memberitahunya.

'"Beri aku waktu sampai esok hari. Aku akan memberitahu Mama, siapa wanita yang aku cintai," jeda sejenak, Arkan memaksakan senyumannya.

"Bukan hanya memperkenalkan saja. Tapi sekaligus melamarnya dan besoknya, menikah," ucap Arkan penuh rasa yakin, padahal ia ragu tidak akan ada wanita yang mau menjadi istrinya secepat itu.

Davina menggeleng heran. "Kamu, kalau bicara yang bener. Jangan asal menikahi wanita yang ekonominya di bawah kita. Mama, tidak mau nama Argantara reputasinya buruk," ujar Davina tegas. Ia kemudian meninggalkan ruangan kerja Arkan. Putra semata wayangnya itu sudah tidak waras sampai nekat menikahi wanita asing. Semoga saja pilihan Arkan bukan wanita pengirim pizza seperti beberapa hari yang lalu.

Arkan bertopang dagu, ia tengah memikirkan rencana cara mendapatkan wanita secara cepat tanpa perlu berkenalan. Ia malas berinteraksi, ia tidak mau wanita di luaran sana tergila-gila padanya hanya karena penampilannya memakai jas kantor itu, kesan gagah dan wangi pasti menjadi incaran.

"Mungkin Sam ada solusi untuk masalah ini," gumam Arkan, ia mengambil ponsel yang tergeletak diatas berkas-berkas. Ia mencari nomor Sam dan menghubungi sekretarisnya itu.

Nada panggilan terhubung, kemudian suara dari seberang telepon menyapa Arkan.

"Halo, Bos? Ada apa? Kenapa telepon?"

"Besok aku harus membawa seorang wanita dan memperkenalkan ke orang tuaku. Apa kau ada solusi?" Tanya Arkan penuh harap. Alisnya mengernyit, Sam bisa diandalkan dan mengatasi masalah apapun termasuk perusahaannya.

"Hmm ... sebentar Bos, aku pikirkan dulu," Sam terdiam selama 5 menit lamanya. Ia berpikir mencari solusi untuk Arkan. Sampai pada akhirnya sebuah ide muncul dalam pikirannya.

"Aku tau! Bos buat undangan saja. Tapi ini bukan undangan nikah, ya. Tapi, seperti undangan imbalan. Kalau Bos tidak keberatan. Pasti ada wanita yang mau," ujar Sam percaya diri, idenya memang cukup menguras dompet Arkan nanti.

"Maksudmu, undangan imbalan ... mirip dengan undangan kompetisi?" Perasaan Arkan tidak nyaman, diluar dugaan Sam memberikan ide yang membuatnya kesal.

"Ya, nanti Bos pilih saja ke salah satu karyawati. Terserah karyawati mana saja. Tapi pastikan dia menerima undangan itu. Dan ... agar tidak mencolok, pakailah amplop putih. Imbalannya minimal 100 juta dollar saja cukup, Bos. Bagaimana ideku? Bagus? Atau hebat? Oh, ya! Berterima kasihlah pada sekretarismu yang cerdas ini."

Arkan berdecak kesal, ia mengakhiri teleponnya dengan Sam.

"Sam, sudah gila. Yang benar saja imbalan 100 juta dollar?" Dan setengah gaji perusahaan Arkan adalah dari jumlah nominal itu. Membayar seorang wanita yang tidak ia cintai, tapi kenapa semahal itu?

100 juta dollar, imbalan, amplop putih.

Jika Arkan memikirkan ide dari Sam itu, cukup menarik juga.

"Oke, mari aku coba," Arkan mengambil sebuah buku tulis dan menyobek selembar kertas. Ia akan membuat sebuah kalimat yang ia tulis disana.

"Jika kau bersedia menikah denganku di hari lusa, terimalah uang 100 juta dollar ini sebagai imbalannya. Kau akan menjadi istriku. Tapi, aku memperkenalkan kamu ke keluargaku dulu. Aku akan melamarmu besok. Datanglah ke alamat rumahku ini. Jalan Perumahan Nagasari No. 16"

Selesai menulis itu, Arkan menatap penuh harap, amplop putih yang akan memberikannya seorang wanita. Kemungkinan wanita yang membawanya dalam ketenangan hidup untuk beberapa tahun saja.

"Tapi, siapapun wanita yang aku pilih. Aku tidak akan jatuh cinta dengan dia. Aku tidak mau berurusan dengan cinta. Cinta hanya membuang-buang waktu. Cinta bisa melukai perasaan, trauma dan kesedihan sepanjang waktu," Arkan menggerutu kesal.

***

Di jam makan siang, disinilah Arkan berada. Kantin perusahaannya yang lumayan luas. Suasana kantinnya cukup ramai, banyak yang mengantri membeli di beberapa stand.

Arkan mencari seorang karyawati, setidaknya ia tidak bersama temannya atau istirahat sendiri.

Mata Arkan tertuju pada seorang wanita berambut sebahu yang duduk sendirian. Ia menghampirinya.

"Ini untukmu. Terimalah, jangan menolak," Arkan menyodorkan amplop putih yang sudah ia isi dengan selembar kertas dan selembar cek uang bank senilai 100 juta miliar dollar.

Sinta yang sedang memakan bakso itu, terkejut ketika Arkan tiba-tiba datang dan memberikan sebuah amplop putih.

'Aduh! Surat apa itu? Apa undangan? Atau surat pemecatan?' Batin Sinta mulai gelisah sendiri. Ia menerimanya dengan tangan gemetar.

Sinta hanya mengangguk dan tidak bisa berkata-kata. Aura Arkan cukup menyeramkan. Tatapan mata tajam dan mengintimidasi itu berhasil membuat nyalinya takut.

'S-semoga saja ini bukan surat pemecatan. Ah, tapi kalau orang tuaku sampai mengetahui hal ini, mereka pasti marah,' batin Sinta menghela nafasnya lelah. Ia tidak akan pernah memberitahu amplop yang baru saja ia terima dari Arkan, CEO cuek itu.

Setelah Sinta menerima amplop itu, perasaan Arkan sedikit ringan dan lega. Ia yakin Sinta bersedia menjadi istrinya.

Arkan berbalik pergi, tapi sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman smirk. "Dialah calon istriku, Ma."

Sedangkan Sinta mengetikkan sebuah pesan kepada sahabatnya, Naura. Lebih baik ia berikan saja kepada Naura. Biarlah Naura yang menerima amplop itu.

[ Ra, aku baru saja menerima amplop putih dari CEO-ku. Untukmu saja ya? Aku takut itu surat resign. Aku tidak mau orang tuaku sampai tau. Aku kirimkan amplopnya ke rumahmu sore ini ya? ]

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Pasca menjebak Bara di malam pengantin, Ayla diusir dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia memulai hidup baru yang mapan dan membesarkan buah hatinya tanpa sepengetahuan sang suami. Namun, takdir memaksa Ayla pulang untuk menghadapi pria yang seharusnya ia benci itu. Kepulangannya membawa misi rahasia yang berisiko menghancurkan reputasinya. Meski dicap sebagai wanita murahan, ia tetap maju demi tujuan yang sangat krusial bagi hidupnya.
Sampul Novel Bukan Aku Yang Menjebakmu
8.8
Nadira Almeira, sekretaris bersahaja di Mahardika Corp, mendadak dituduh menjebak CEO Elvano Mahardika demi kekuasaan. Tanpa bukti, Elvano memecat dan mempermalukannya di depan publik dengan lemparan uang yang menghina harga dirinya. Padahal, Nadira hanyalah korban yang tidak tahu apa-apa. Situasi kian rumit saat ia menyadari dirinya tengah mengandung anak Elvano. Kini, Nadira harus memilih antara pergi selamanya atau kembali menghadapi pria yang telah menghancurkannya.
Sampul Novel Buy One Get You
8.4
Audia terpaksa membatalkan niat resign setelah ayahnya, Pak Sapto, tertipu rekan bisnis. Demi melunasi utang, sang ayah menjual rumah beserta isinya kepada Ibu Sosro seharga 1,5 miliar. Sialnya, Audia yang tertidur di dalam ikut terjual sebagai aset. Sang bos, Affangga, yang masih patah hati dan membenci Audia karena mirip mantan tunangannya, tak punya pilihan. Ibu Sosro langsung memanfaatkan momen ini untuk menyeret mereka berdua ke pelaminan.
Sampul Novel CEO with Pole Dancer
7.9
Insiden sepele mengubah hidup Zia Zovanka selamanya saat ia menjadi target buruan Sagara Pratama. Amarah mendorong pria berkuasa itu untuk mengejar Zia, sang yatim piatu, hingga berhasil merenggut sesuatu yang paling berharga darinya. Meski Sagara dikenal dingin terhadap wanita, bayangan Zia justru terus menghantui pikirannya. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Sagara tanpa sengaja menemukan Zia sedang menari di sebuah klub malam langganannya.
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan kebangkrutan, Anyelir terpaksa mengubur mimpinya sedalam mungkin. Ia setuju menjadi istri kedua bagi Serkan Alvaro, seorang pebisnis muda berdarah dingin yang sangat populer. Di balik bantuan finansial yang diberikan, motif Serkan menikahi Anyelir masih menjadi misteri besar. Kini, Anyelir harus menghadapi kerasnya kehidupan rumah tangga yang penuh tanda tanya. Akankah pernikahan ini memberikan kebahagiaan baginya?
Sampul Novel Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
9.8
Dikhianati oleh Devan dan Siska, aku bertekad membalas dendam dengan mendekati Raditya, atasan Devan yang kaya. Menggunakan identitas Anya, aku menyamar jadi pengasuh putri kecilnya, Kirana. Rencanaku berjalan lancar hingga kehangatan keluarga ini mulai meluluhkan hatiku. Sosok Raditya yang penyayang dan keceriaan Kirana membuat niat jahatku goyah. Di tengah kemewahan rumah itu, kebencianku perlahan sirna dan berganti menjadi perasaan cinta yang tak terduga.