
UNCONDITIONALLY
Bab 2
.
-Kamu adalah ketidak mungkinan yang selalu aku usahakan.-
..
.
.
***
Tiga tahun kemudian...
.
"HORMAT... GRAK!"
Murid SMA 71 yang berjejer memenuhi lapangan kompak mengikuti intruksi dari komandan upacara. Lagu Indonesia Raya mengalun semangat dinyanyikan oleh tim paduan suara yang dipimpin oleh seorang dirigen.
Terik matahari di Senin pagi ini mungkin bakalan menjatuhkan banyak korban jiwa kalau-kalau nanti Pak Supendi, selaku pembina upacara, menyampaikan amanat lebih dari tiga puluh menit. Ditambah lagi jika Bu Anih -sang guru BK yang sering digodain begundal langganan sekolah, menambahkan pengumuman di akhir upacara. Beuh, siksa neraka berasa sedang turun sebagai azab para murid 71.
Vivian yang berdiri di depan Aurora sudah tampak menyerah, kakinya ditekuk bergantian sambil menahan tangannya agar tetap tegap di ujung topi. Bulir keringat keluar dari pelipis adalah tanda bahwa matahari pagi ini bersinar tanpa ampun.
Lagu kebangsaan Indonesia Raya akhirnya selesai bersamaan dengan Sang Saka Merah Putih yang berkibar gagah di ujung tiang bendera. Bendera kebanggaan Indonesia yang butuh ratusan tahun perjuangan dan jutaan darah agar dapat mencapai puncak kejayaannya.
"TEGAK... GRAK!"
Aurora ikut menurunkan tangannya ketika komandan upacara memberi perintah lagi. Lalu dengan iseng, diam-diam kepalanya menengok ke belakang, kemudian dipalingkan lagi ke depan sambil membawa seulas senyuman cerah. Gerakan mengintip itu dilakukan beberapa kali oleh Aurora sambil mesem-mesem.
Ada Angkasa di belakangnya. Di samping kanan kalau mau tahu lebih detailnya.
Upacara di SMA 71 selalu mengatur siswanya agar berbaris sesuai kelas, dengan posisi wanita di depan, laki-laki di belakang. Aurora sengaja berdiri paling akhir di antara barisan kelasnya. Disusul Agum di belakang yang kadang iseng mencolek pinggangnya. Lalu di sebelah kanan adalah kelas sebelah. Kebetulan banget itu adalah kelas Angkasa. Dan kebetulan juga cowok itu berdiri paling pertama di antara teman cowok lainnya. Yang artinya posisi berdiri antara Aurora dan Angkasa cukup dekat.
Aurora menengok lagi ke belakang, keberuntungan di pihaknya karena Angkasa langsung menoleh ke arahnya. Aurora langsung memasang senyuman semanis mungkin. Dan Angkasa langsung memalingkan arah pandangnya lagi ke depan dengan malas.
Huh. Aurora mendengus, tetapi tetap senang. Angkasa adalah tempat dimana Aurora mengitari setiap detik dalam hidupnya. Sumbu porosnya.
"Untuk pengumuman. Istirahat di tempat... Grak!"
Terdengar helaan nafas lelah yang panjang dari mulut para peserta upacara. Hampir semuanya melenguh protes. Perkiraan tidak meleset. Bu Anih memang tidak pernah absen memberikan pengumuman tambahan. Uh, Aurora terpaksa ikut menggenggam pergelangan tangan kanannya ke belakang. Vivian sudah membungkukkan punggungnya lemas, lalu menoleh sedikit ke belakang dengan tatapan melas. "Rora, pengen pingsan," rengeknya pucat.
Aurora mengelus-elus punggung Vivian. "Gue duluan ya," sahutnya sama lemas.
"Psst! Sini abang tangkap!" Agum, teman sekelasnya, ikut-ikutan aja. Aurora dan Vivian segera merespon dengan delikan tak sudi.
BRUK!
Ada yang pingsan, namun bukan Aurora ataupun Vivian. Dia seorang siswi dari kelas sebelah yang berdiri tepat di depan Angkasa, di sebelah Aurora.
Siswa lain yang ada di sekitar gadis pingsan itu sama kagetnya seperti Aurora. Namun yang lebih tak habis pikir adalah respons Angkasa. Alih-alih menangkap dan menahan tubuh itu agar tidak jatuh, Angkasa malah minggir ke kiri hampir menabrak Agum di sebelahnya, sehingga siswi itu ditangkap oleh siswa lain di belakangnya. Mulut Aurora melangah menatap tidak percaya pada wajah Angkasa yang tetap datar tidak peduli.
Benar. Inilah Angkasanya. Seorang cowok dengan segala sikap tidak pedulinya. Mulut pedasnya. Tatapan tajamnya. Wajah juteknya. Dan hati kerasnya.
***
Setelah mencepol rambutnya yang banjir keringat itu ke atas dengan hasil acak-acakan, Aurora menepuk-nepuk paha Vivian dengan cekikikan kencang. "Sengklek banget tunangan gue! Orang pingsan bukannya ditolongin malah diliatin doang," seru Aurora. Vivian mengangguk antusias.
Vivian tidak berhenti ngakak bersama Aurora saat membicarakan kejadian di upacara tadi.
"Lihat enggak sih, Ra. Itu si Kania kayaknya bohongan pingsan deh. Cari kesempatan itu mentang-mentang yang di belakangnya ada Angkasa. Padahal duuh, yang nangkep si Jojo." Tawa Vivian menyembur lebih keras lagi. Geli ketika memori saat Kania yang jatuh dengan dramatis sambil memegangi kening dan ditangkap oleh Jojo berputar lagi di otaknya. Dasar dramaqueen!
Satu laki-laki berpostur tubuh tinggi berkulit cokelat gelap yang sedang menyeruput minuman dingin ikut berkomentar. "Tega kalian ngetawain orang yang lagi sakit. Asal lo semua tahu, azab orang julid, saat meninggal mayatnya tidak dikubur tapi cuma dinyinyirin doang," celetuk Juned sambil melengang duduk ke kursinya di belakang.
Vivian dan Aurora mendecih dengan mata mengekori langkah Juned. "Bilang aja kalau lo iri, karena yang nangkap Kania itu Jojo, bukan lo Juned, wahahaha," Aurora terbahak lebih keras.
"Idih, apaan Kania mah gak level, selera gue kan minimal yang kayak lo, Rora," elak Juned tidak terima.
"Seonggok Juned mengharapkan Aurora?" Vivian mengikik tak percaya. "Kalau mau sama Rora seenggaknya lo harus seganteng Angkasa. Ngebayangin Rora suka sama lo aja, gue sebagai temannya enggak sudi, Juneeed!"
Juned langsung memajukan bibir bawahnya ke depan sambil memasang wajah terluka. "Kalian jahat. Aku sakit." Juned menepuk dadanya mendramatisasi keadaan.
Untung saja ada Aksel, sang ketua kelas dengan otak jenius dan pembawaannya yang kalem itu segera menengahi hujatan. "Ganti baju olahraga. Ditunggu Pak Anton di lapangan," suara serak yang dipuja-puja sama Vivian itu menyeru kepada semua isi kelas.
Bahu Aurora langsung turun lemas. "Kenapa jam olahraga harus pas selesai upacara, sih? Berasa banget double kill. Dedek kan lelaah," ia menggerak-gerakkan kakinya geregetan di bawah meja.
Vivian ikut menghela nafas panjang. Olahraga setelah upacara memang keterlaluan, gak sih? "Untung ada Aksel di kelas kita. Kalau capek gue bisa modus pura-pura pingsan kayak si Kania tadi," sahut Vivian, kemudian nyengir sendiri atas idenya barusan.
"Belajar dari kejadian tadi. Aksel entar minggir, dan hap! Yayang Juned yang membopong dengan gagah perkasa!" Aurora tergelak keras saat mendapatkan toyoran dari Vivian.
Semua siswi di kelas sebelas IPS 1 itu langsung membawa seragam olahraga ke toilet untuk berganti termasuk Aurora. Kalau cowok sih enggak ribet, karena mereka tanpa malu-malu membuka kancing dan berganti di kelas.
Baru sampai di koridor, langkah Aurora berhenti ketika di depan kelas. Vivian yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti sambil mengkerutkan kening. "Apaan?"
Aurora nyengir penuh maksud. "Bentar ya," ujarnya pelan. Lalu gadis itu membalikkan langkahnya ke kelas sebelah, IPS 2. Tempat dimana Angkasa sedang belajar hari ini. Vivian menghela nafas panjang lalu bersidakep menunggu temannya yang mendadak fangirling. Seantero sekolah tahu obsesi Aurora yang selalu mengejar-ngejar Angkasa.
Pelan-pelan Aurora menyembulkan kepalanya di jendela paling belakang kelas itu untuk menghindari pantauan guru. Matanya segera menangkap sosok yang dia cari. Angkasa ada di dalam sana. Duduk paling belakang dan menyender malas pada tembok sambil memainkan pulpen di tangannya alih-alih menyimak pelajaran. Aurora jadi terkikik melihat wajah lesu Angkasa.
Merasa ada yang memperhatikan, Angkasa menoleh ke jendela dan melebarkan matanya ketika mendapati Aurora sedang mengintip di jendela. Angkasa mendelik tak suka ketika Aurora melambai dan mengepalkan tangan untuk memberinya semangat. Cowok itu mengalihkan tatapannya ke depan sambil berdecak malas.
Melihat respon itu, Aurora jadi manyun. Beruang kutub itu memang susah banget untuk senyum kepadanya.
"Rora buruan ih!" Vivian menyeru.
Aurora mendengus tapi menurut juga. Untuk terakhir kalinya dia mengintip lagi ke dalam kelas itu, tetapi Angkasa tidak pernah menoleh lagi ke arahnya. Memang seperti itu selama tiga tahun ini. Aurora hanya mampu mengubah status Angkasa sebagai tunangan, tetapi hati laki-laki itu terlalu abu-abu untuk bisa menerima setiap warna yang dia berikan.
Namun, batu yang keras saja bisa lapuk jika terus menerus terkena air, kan? Aurora sudah membulatkan tekad untuk menghancurkan batu yang mengeraskan hati Angkasa untuknya. Membuat Angkasa juga membalas perasaannya. Semoga saja dia tidak menyerah. Berjuang untuk Angkasa seringkali melukai harga dirinya, tetapi jika Angkasa mau berbalik dan meraihnya, bukankah hasilnya sepadan?
Aurora, fighting!
.
.
Anda Mungkin Juga Suka





