Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel UNCONDITIONALLY

UNCONDITIONALLY

Aurora meyakini bahwa Angkasa adalah belahan jiwanya, namun bagi Angkasa, kehadiran gadis itu hanyalah sebuah malapetaka. Sejak perjodohan mereka dimulai, Aurora terus membuntuti Angkasa layaknya bayangan yang tak diinginkan. Angkasa merasa terbelenggu dan sangat membenci status pertunangan mereka. Ia mendambakan kebebasan untuk mencintai orang lain dan hidup tenang tanpa Aurora. Meski Aurora berjanji mencintainya tanpa syarat, Angkasa justru bertekad membencinya secara terang-terangan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"I will love you unconditionally."

-Aurora

"Then I will hate you officially."

-Angkasa

.

***

.

Sejak dulu, Angkasa tidak pernah mengambil pusing sikap dan aksioma orang-orang terhadapnya. Cowok itu memang apatis, tapi dia juga sadar akan pesonanya. Bukannya tidak peka dengan wanita yang mendekatinya silih berganti, cari-cari perhatian dengan berbagai modus. Hanya saja dia malas terlibat hubungan dengan wanita yang menurutnya ribet dan mengekang. Setiap ada yang mendekat, Angkasa hanya perlu diam, menatap malas, memicing risih, lalu mereka akan tahu diri dan mundur dengan sendirinya.

Kecuali satu.

Aurora.

Jangan klasifikasikan cewek itu ke dalam golongan wanita yang tahu diri setelah Angkasa menolaknya. Karena pada kenyataannya, Aurora selalu lekat sebagai bayangan Angkasa. Mengikuti langkah demi langkah dalam pijakan alur kehidupannya. Tidak akan hengkang walaupun berkali-kali Angkasa menjatuhkan semangat gadis itu lalu menginjaknya.

Pernah, suatu ketika saat Angkasa mengusir Aurora dari rumahnya karena entah kenapa cewek itu betah sekali selonjoran di kamarnya, Aurora berkata,

"Gue itu seperti rumput. Walaupun lo injak dan lo babat. Bagaimanapun caranya pasti akan tumbuh lagi. Semuanya tergantung lo, Angkasa. Mau menganggap gue sebagai rumput hijau yang menghiasi taman, atau rumput liar yang merusak pemandangan. Gue bakal tetap hidup. Di hati lo."

Aurora mengatakan itu dengan santai sambil menyeruput yakult yang dia ambil dari kulkas dapur. Angkasa hanya bisa mengepalkan tangan dan berlalu dari ruang kamarnya sendiri.

Jika saja ada yang bisa menjawab tentang 'oke google, cara melenyapkan Aurora', Angkasa akan segera berlutut menyembahnya seperti dewa.

***

Bel pulang sekolah berbunyi.

Angkasa berjalan sendiri dengan tenang di antara kerumunan siswa siswi lain yang saling bertukar canda dan jalan beriringan bersama-sama. Bukan karena tidak memiliki teman, Angkasa hanya tidak suka dunianya terlalu ramai. Menikmati kesendirian jelas lebih menghemat energi. Malas sekali terlibat interaksi dan berbagi emosi jika tidak terlalu penting. Dia lebih suka jika dunianya sepi.

"Angkasaa!"

Oke, satu orang saja sudah berhasil membuat hidup Angkasa ramai. Angkasa berdecak ketika sesosok gadis menghadang dengan tangan merentang di depannya.

"Kenapa enggak tungguin gue?" Aurora manyun. Angkasa menghela nafas sabar. Menghadapi Aurora selalu sukses membuat mood nya berantakan.

"Toh lo nyusul, kan?" suara berat Angkasa terdengar dingin.

"Iya, sih. Tapi kenapa lo selalu ninggalin, kan gue mau bareng. Belum pernah ya lo, ngerasain ditinggal? Mau gue tinggal, hah?"

MAU PAKE BANGET YA AMPUN!

Tetapi Angkasa tahu, apapun jawabannya, Aurora akan tetap di sampingnya. Walaupun dia ingin sekali menjauhkan diri sejauh mungkin, Aurora akan tetap mengikutinya. Pindah planet kalau bisa, dan Angkasa akan menemukan Aurora menyusulnya.

Aurora mengomel dengan kalimat-kalimat yang sama sekali tidak Angkasa dengarkan, pemuda itu hanya memandangi wajah polos di depannya dengan malas. Angkasa memperhatikan sejumput anak rambut Aurora yang basah karena keringat dan menempel di pipi cewek itu. Ck. Aurora ini habis belajar apa lari marathon, sih? Kenapa keringetan? Bikin risih aja.

Angkasa menyibak anak rambut itu ke belakang telinga Aurora sehingga sukses membuat omelan dari bibir gadis itu berhenti dan kini terpana menatapnya.

Melihat respon itu, Angkasa mendengus lalu mendorong dahi Aurora. "Bacot banget sih, lo!" makinya lalu pergi meninggalkan Aurora yang kini tengah memegangi pipinya yang merona. Merasakan dentuman jantung yang sedang euforia dan melelehkan kakinya seperti jelly.

Tolong kasih tahu Aurora, Angkasa barusan so sweet banget, kan?

Menyadari lagi-lagi ditinggalkan, Aurora berlari mengejar ke parkiran. Lalu mencomot helm putih yang bertengger di sisi kanan dan naik ke boncengan. Motor hitam itu baru akan melaju, Aurora segera memeluk Angkasa sangat erat.

"Woy engap! Gue juga butuh napas kali!" semprot pemuda itu.

Aurora malah cengar-cengir melonggarkan pegangannya. "Tenang, Angkasa. Ada Aurora yang sigap kasih napas buatan kalau lo nanti engap-ngapan!"

Serius. Angkasa tidak suka Aurora. Kenapa dari sekian banyak alur kehidupan manusia, dia ditakdirkan untuk mengasuh bocil kematian seperti Aurora?

Masih dengan perasaan dongkol, Angkasa tetap melajukan motornya. Padahal, kalau bisa tuh cewek di belakangnya ini minggat aja gitu. Naik angkot, kek. Manja, deh.

Saat kuda besinya sudah membelah jalanan, Aurora kembali mengeratkan pegangannya menjadi sebuah pelukan. Menghirup wangi khas Angkasa yang sangat cocok bagi indera penciumannya. Angkasa ini termasuk cowok yang memperhatikan penampilan loh. Walaupun terkesan slengean, tetapi baju seragamnya selalu licin dan harum.

Oke iya deh, itu karena Tante Seruni yang setrikain.

"Sa," panggil Aurora. Angkasa tidak menjawab. Tetapi Aurora tahu kalau lelaki itu mendengarnya. "Mau mampir beli es krim gak?" tawarnya.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Angkasa menjawab tawaran itu. "Gak."

Aurora memberengut kusut mendengar jawaban yang seolah tidak perlu proses penyaringan itu. Susah sekali membujuk Angkasa untuk menuruti kemauannya.

Angkasa segera turun saat telah sampai di rumahnya. Bangunan putih dengan dua lantai yang memiliki taman dan kolam kecil di halaman depan.

Aurora berjalan mengekor di belakang Angkasa seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Setiap langkah santai Angkasa menapak selalu dipijak oleh Aurora sambil senyum-senyum. Tak sadar pemilik kaki itu berhenti, Aurora langsung menubruk punggungnya. Angkasa jadi berbalik melotot galak.

"Ngapain sih, lo?" semprot Angkasa sebal.

Aurora malah nyengir. "Setiap langkah Angkasa adalah langkah Aurora."

Angkasa jadi kepikiran untuk menginjakkan kakinya di liang lahat, lalu mengubur Aurora disana biar enggak bisa keluar lagi.

"Jangan masuk kamar gue. Gue mau ganti baju!" peringatnya lalu beranjak ke kamar.

"Eeh," tangan Aurora terulur menahan udara. Terlambat. Pintu kamar Angkasa langsung menutup begitu Aurora berniat mengejarnya.

Menghela nafas lesu, Aurora mendekati Tante Seruni yang sedang sibuk di dapur. Wanita paruh baya yang nampak teduh dan selalu tersenyum kepada Aurora, kini sedang menggosok spons ke piring kotor.

"Biar Rora yang bilas, Tante!" serunya jadi semangat. Lalu berdiri di sebelah Seruni dan mengambil piring yang sudah dicuci untuk kemudian dibilas menggunakan air keran.

Seruni ingin menjembel pipi gembil Aurora kalau saja tangannya tidak penuh dengan busa. "Calon mantu paling perhatian deh, kamu, Ra."

Deretan gigi rapih Aurora tercetak atas pujian itu. Memang, tidak ada yang lebih baik dari Tante Seruni dalam memperlakukan Aurora di keluarga ini.

"Halah, palingan juga ada maunya."

Kenalin, Pelangi. Adik Angkasa yang sebenarnya siiih cakep, tapi mulutnya lebih berbahaya dari petasan di bulan puasa. Berjarak umur tiga tahun, sekarang dia baru kelas dua SMP. Seperti Angkasa yang tampan sempurna, Pelangi juga begitu cantik dengan lesung pipi yang hanya muncul di pipi kirinya. Cuma ya gitu, galaknya bisa bikin dia diterima langsung di geng Yakuza. Selalu menjelek-jelekkan Aurora di berbagai kesempatan, sering mengibarkan bendera perang dan untungnya Aurora terlalu malas meladeni.

"Kan maunya cuma Angkasa," Aurora memberikan kedipan kepada Pelangi yang sedang duduk di meja makan sambil memotong apel. Bukan kedipan tulus. Hanya sengaja ingin membuat Pelangi tambah keki.

Benar saja. Pelangi melotot kepada Aurora sambil mengacungkan pisau ditangannya. Segera dibalas juluran lidah oleh Aurora.

"Hush! Berantem terus kalian kalau ketemu." Seruni menengahi dua anak gadisnya. "Di kulkas ada es krim strawberry kesukaan kamu, Ra. Tadi tante sengaja belikan pas belanja. Mau?"

Mata Aurora langsung berbinar terang. "Mau!" Tanpa disuruh lagi, kaki jenjangnya berlari kecil membuka kulkas.

"Sekalian minta tolong panggilkan Angkasa ya, Rora. Dia pasti langsung tidur deh lupa makan siang kalau enggak diingetin," pinta Seruni yang langsung diangguki oleh Aurora. Dengan segera gadis itu melangkah naik memasuki kamar Angkasa.

Karena pintu tidak terkunci, Aurora jadi lupa untuk mengetuk. Sebenarnya karena keseringan begitu, jadi kebablasan. Dan pemandangan Angkasa yang sedang berganti baju pun tanpa sengaja kini terlihat. Bukan menutup mata, Aurora refleks menutup mulut takut air liurnya mengalir deras melihat pemandangan langka di depannya. Tubuh tinggi Angkasa dengan otot dada dan lengan yang terlihat kokoh tentu saja membuat Aurora terpesona hingga lupa berkedip.

Angkasa berdecak, berbalik memunggungi Aurora. "Ketuk pintu dulu, dong!" omelnya.

Aurora nyengir. "Lupa."

Angkasa memutar bola mata malas. "Pergi lo, gue mau ganti baju."

"Tapi jangan lupa makan ya!"

"Bawel!"

Sebelum benar-benar menutup pintu lagi, sekali lagi Aurora mengintip badan shirtless Angkasa, lalu gadis itu nyengir lagi. Sexy banget tunangan gue! Jeritnya yang sangat ingin menyentuh dada bidang itu.

Oh, Aurora pasti mupeng banget, kan?!

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bertukar Peran Dipelaminan
8.1
Eveline terjebak dalam nasib kelam karena kemiripan wajah dengan kakaknya, Mariana. Di hari pernikahan, ia dipaksa menggantikan Mariana yang hamil akibat hubungan gelap demi menjaga nama baik keluarga. Eveline setuju menyamar hanya satu malam dengan rencana memberi obat tidur kepada Viktor, sang mempelai pria. Namun, janji Mariana untuk bertukar posisi kembali esok hari justru memicu komplikasi besar yang membongkar rahasia kelam keluarga mereka.
Sampul Novel FWB Between Love and Lust
8.9
Lima tahun di Milan tak cukup bagi Satria untuk menghapus bayang-bayang Syera dari ingatannya. Sekembalinya ke tanah air, setiap sudut kota justru memicu kenangan pahit yang menghambatnya melangkah maju. Namun, segalanya berubah setelah malam pernikahan Bima. Satria terjerat dalam gairah semalam dengan wanita asing yang memikat. Terjebak dalam hubungan tanpa status, dia malah jatuh hati terlalu dalam pada sosok misterius yang kini memenuhi hidupnya.
Sampul Novel Hasrat Yang Tertunda
8.2
Megan White, seorang penulis naskah ternama, mengalami kecelakaan tragis yang menjungkirbalikkan hidupnya dalam semalam. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di kediaman mewah milik miliarder Riley Charles. Tanpa peringatan, pria berwajah dingin itu mengklaim bahwa Megan adalah istrinya. Kini, kedamaian hidup Megan lenyap sepenuhnya saat ia terperangkap dalam status baru sebagai nyonya di istana Riley yang penuh misteri dan kemegahan.
Sampul Novel Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku
8.7
Vania, mahasiswi yang terhimpit utang keluarga, terpaksa terjun ke dunia malam demi masa depan adiknya. Takdir mempertemukannya dengan Reza, pria kaya penuh trauma yang awalnya hanya menganggap Vania sebagai objek transaksi. Namun, hubungan dingin itu berubah menjadi keterikatan emosional yang rumit. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan tekanan sosial, mereka terjebak antara benci dan candu. Mampukah cinta tumbuh di atas luka dan pengorbanan yang menghancurkan harga diri?
Sampul Novel Melepas Daster Burukku
7.8
Kehidupan Sartika hancur saat Riya, sepupu suaminya, mengaku berselingkuh dengan Roni. Pengkhianatan ini makin perih karena Roni kerap menghina penampilan kumal Sartika di depan Riya. Tak tinggal diam, Sartika bertransformasi menjadi wanita elegan dan menyusun strategi balas dendam yang cerdik. Di tengah upaya Roni memohon maaf, mantan kekasih Sartika muncul membawa cinta lama. Kini, Sartika harus memilih antara masa lalu atau memulai hidup yang baru.
Sampul Novel Pernikahan kontrak dengan ayah kekasih
9.4
Terjepit masalah finansial, seorang gadis terpaksa menjalani sandiwara cinta yang rumit. Ia menerima tawaran mengejutkan dari seorang wanita yang sedang sekarat untuk menikahi suaminya yang gagah. Ironisnya, pria kaya yang terpaut usia dua puluh tahun darinya itu adalah ayah dari kekasihnya sendiri. Demi uang dan keadaan yang mendesak, ia rela mengubur rasa sakit hatinya dan meninggalkan sang kekasih demi menjalani pernikahan kontrak penuh dilema ini.