
Turun Ranjang?
Bab 3
Tak pernah Bella membayangkan jika dirinya bisa berada di posisi seperti itu. Bertemu dengan monster yang sangat mengerikan. Mata Jasson merah melotot hingga membuat siapa pun yang melihatnya menjadi sangat ketakutan. Bella merasakan lututnya gemetar, ia benar-benar merasa ketakutan sekarang. Namun, Jasson tak peduli. Jantung Bella seakan berdetak kencang tak beraturan. Keringat panas dan dingin mulai membasahi tubuhnya. Ia berusaha keras untuk meloloskan diri. Namun, Jasson dengan akal liarnya semakin mengganas.
"A-apa yang akan Papa lakukan?" Bella ketakutan setengah mati. Tangan dan kakinya gemetar hebat. Jasson semakin mendekatinya dengan seringainya yang seperti kerasukan setan.
“Aaa ...!” teriak Bella lagi yang disusul dengan tangisnya yang keras.
Namun tiba-tiba ....
Bella membuka lebar matanya saat mendengar suara pukulan yang begitu keras. Ia melihat Criss di sana. Ia berdiri dengan kepalan tangan dan terlihat begitu marah. Bella yang sadar segera memiringkan tubuhnya. Ia tak berdaya dan hanya bisa menjerit ketakutan saat melihat keganasan Criss yang selama ini ia kenal sangat pendiam.
Jasson jatuh tersungkur ke lantai, tampak darah mengalir di sudut bibirnya. Criss bergegas menghampiri Bella, melepaskan ikatan pada tangan Bella dan mengikat kedua kaki ayah tirinya. Lalu ia pun memangku Bella yang lemah dan membawanya keluar meninggalkan Jasson yang terkapar.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Criss membaringkan Bella di sofa. Kemudian Criss merogoh ponsel, menelepon Chiko dan Hena sambil pergi ke dapur. Ia mengambil gelas dan mengucurkan air dari galon sambil sesekali matanya tertuju pada Bella. Tampak dari raut wajah Criss sangat mencemaskan Bella.
Sementara itu, Bella duduk sambil menangis dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan memeluk kedua lututnya.
"Minum!" Criss menyodorkan segelas air putih.
Bella menoleh, ia menggelengkan kepala dan menatap Criss dengan mata yang begitu sedih.
Criss seolah bingung harus melakukan apa lagi. "Minumlah! Agar kau lebih tenang," katanya agak memaksa.
Air mata masih tak kunjung berhenti mengalir. Dengan tangan yang gemetar, Bella pun menerima gelas itu. Ia minum dalam sekali tegukan.
Beberapa saat kemudian, Hena datang. Ia dengan tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.
"Ada apa? Apa yang telah terjadi?" tanyanya panik.
Belum sempat Criss menjawab, tiba-tiba Chiko datang. Bella segera bangkit dari sofa dan menghamburkan diri pada suaminya itu. Bella memeluk Chiko sambil menangis. Chiko tak memedulikan istrinya, tapi ia pun tak menolak rangkulan itu karena ada sang Mama di sana.
"Ada apa? Cepat katakan! Kenapa aku harus segera pulang? Aku sedang menghadiri meeting,” kata Chiko sambil memutar bola matanya. Tampak sekali bahwa Chiko tidak terlalu peduli dengan keadaan Bella.
"Apa ada hal lain yang lebih penting?" tambahnya.
Criss menyenggol bahu sang kakak dengan bahunya. Ia terlihat sangat kecewa pada Chiko. "Bella, duduklah!" suruhnya.
Lalu Criss mengajak Kakak dan Mamanya untuk berbincang agak jauh dari Bella karena Criss takut jika Bella semakin terguncang jiwanya. Ia pun menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada Bella. Mendengar cerita Criss, Hena sontak terkejut dan langsung memeluk erat menantunya itu sambil meminta maaf berulang kali.
"Syukurlah, jadi aku tak perlu melanjutkan pernikahanku," ucap Chiko. Ia melipat tangan di dada sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Chiko!" bentak Hena.
"Apa, Ma? Kenapa? Kenapa harus aku yang bertanggung jawab? Aku tidak mau menerima barang bekas," kata Chiko yang membuat hati Bella semakin terluka. Criss menarik kerah baju sang kakak dengan penuh amarah.
"Wow, ada pahlawan kesiangan." Chiko menyunggingkan sudut bibirnya, meremehkan Criss. Hal itu tentu saja membuat Criss bertambah berang.
"Berhentilah berkata yang tidak pantas! Lindungi istrimu!" teriak Criss dengan emosi yang berapi-api. Bella menangis. Rasanya ia ingin sekali meninju mulut sang kakak.
"Lindungi? Ck.” Chiko menatap Bella sejenak. Criss menurunkan tangannya dari sang Kakak.
Beberapa menit kemudian, datanglah dua orang polisi. Criss membimbing mereka masuk ke dalam kamar untuk menangkap Jasson. Hena menyusul mereka. Ia begitu emosi dengan apa yang telah dilakukan suaminya itu. Ia sampai memukuli dan mencaci Jasson habis-habisan. Hena benar-benar merasa kecewa.
"Dasar manusia tidak tahu diri! Otak hewan! Enggak tahu diuntung kamu!" Hena menunjuk-nunjuk wajah suaminya.
Ragu-ragu Jasson menatap istrinya. "Aku khilaf ....” Jasson memelas. Ia mengangkat dan menangkupkan tangannya yang kini telah dipasang borgol.
Hena yang naik pitam tanpa basa-basi lagi langsung memberikan sebuah tamparan di pipi Jasson. Akan tetapi, Jasson tak melawan. Ia pasrah.
"Sudah, Ma!” Criss mencoba menenangkan sang Mama.
Sementara itu, Bella segera menyembunyikan wajah di antara telapak tangannya. Ia sudah merasa jijik melihat wajah kejam itu.
“Satu tamparan dan pukulan yang bertubi-tubi pun enggak akan pernah cukup buat ngilangin traumanya Bella! Kamu harus di hukum mati!” teriak Hena. Bella hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Kami akan membawanya ke kantor," ucap salah seorang Polisi.
"Hukum aja, Pak! Hukum aja dia sampai mati!" teriak Hena lagi. Ia sangat berharap jika Jasson dihukum dengan seberat-beratnya.
Kedua Polisi tersebut segera membawa Jasson keluar sebelum menjadi bulan-bulanan Hena lagi.
Kaki Hena gemetar. Tubuhnya mulai lemas. Untungnya Criss dengan sigap menahannya. Hena menangis. Ia berjalan terseok-seok ke arah sofa, lalu ia duduk dan memeluk Bella lagi. Chiko hanya asyik mengotak-atik ponselnya. Ia seolah tak peduli dengan apa yang terjadi.
"Ma, biar aku aja yang menikahi Bella," ucap Criss tiba-tiba.
Chiko mengernyitkan dahi dan memiringkan sudut bibirnya. "Baguslah! Ya sudah, aku ceraikan dia sekarang juga," katanya dengan entengnya.
"Chiko ...," ucap Bella dengan suara yang begitu lirih.
Bella tak henti-hentinya menangis, tak percaya rasanya mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya.
"Apa, hah?! Nikah aja sama si Criss sana!" suruh Chiko.
Plak!
Chiko mendapatkan apa yang memang seharusnya ia dapatkan. Bella begitu kecewa padanya. Chiko malah tersenyum sinis. Bella melirik Criss dan segera memalingkan wajahnya.
"Aku ... aku enggak mau punya suami kaya dia. Lebih baik aku pulang.” Bella menunjuk wajah Criss dan hendak pergi. Namun, Hena menahan kepergiannya.
"Tetaplah jadi istri Chiko. Mama minta maaf. Tolong jangan dengerin Chiko! Dia pasti cuman bercanda," kata Hena.
"Enggak, Ma. Jelas-jelas aku berkata dengan serius,” kata Chiko yang sedang bersandar di tembok sambil melipat tangan di dada.
"Cukup!" Bella berteriak dan ia pun berlari keluar. Hena hendak menahannya lagi, tapi Bella berlari dengan cepat. Ia pun pergi menggunakan taksi sambil terus menangis.
Sekitar tiga puluh menit, Bella akhirnya sampai ke rumahnya. Ia berlari tanpa memakai alas kaki dan masih menggunakan handuk kimono-nya. Ia tak peduli dan segera mencari keberadaan orang tuanya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu nangis?" tanya Mama Bella, Ana namanya. Kala itu Ana sedang menonton TV. Ia sangat terkejut dengan kedatangan anaknya yang secara tiba-tiba. Apalagi Bella saat itu menangis tersedu-sedu.
"Mama, aku ... aku sudah dilecehkan," kata Bella. Tangisnya kembali pecah. Ia memeluk sang Mama.
"Maksudnya?" Ana bingung.
"Jasson, dia ... dia telah merenggut kehormatanku," lanjut Bella berusaha agar bisa meneruskan ceritanya.
"Apa?!" Mata Ana melotot. Ia sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh anaknya.
Bella mengubur wajahnya ke dalam telapak tangan. Kepalanya terasa sangat berat hingga ia pun hanya tertunduk. Sesekali ia menyeka air matanya yang menetes. Melihat kondisi putrinya yang begitu terlihat menyedihkan membuat Ana cemas. Ia pikir harusnya Bella saat ini sedang menjalani kehidupan sebagai pengantin baru yang penuh dengan gairah dan cinta. Namun, ternyata realita tak sesuai ekspektasi.
Ana pun membawa Bella untuk duduk di sampingnya kemudian memeluk putrinya yang masih menangis itu. "Tenanglah! Duduk dulu, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Ana dengan nada yang begitu rendah. Ia ingin mendengar dan tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
Bella menarik napas dengan berat kemudian mengembuskannya perlahan. Setelah melakukan hal itu ia pun mulai menceritakan semua kejadian yang sudah menimpanya disela isak tangisnya.
"Kurang ajar! Lalu ke mana suamimu?" tanya Papa Bella, George. Ia tak sengaja mendengar semua perkataan Bella saat ia keluar dari kamarnya.
Melihat Papanya yang tampak sangat emosi, Bella merasa takut untuk menceritakan bagaimana Chiko sudah memperlakukan dirinya. Namun, rasa sakit hati mengalahkan belas kasihan kepada suami yang baru saja ia nikahi selama beberapa hari ini. Akhirnya ia membuka suara dan memberi tahu George bagaimana Chiko memperlakukan dirinya dengan begitu kasar.
Ana mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Bella. Sebagai seorang ibu, ia adalah orang pertama yang terluka hatinya ketika mendengar kejadian nahas yang menimpa anak semata wayangnya itu.
"Gila si Jasson! Dia harus mati!" ucap George yang mulai terbakar emosi. Ia sampai menggebrak meja dan membuat suasana semakin tegang.
"Dia udah ditangkap, Pa. Dijebloskan ke penjara. Tapi ...,” ucap Bella tak selesai. Rasanya ia sudah tak sanggup untuk meneruskan perkataannya.
"Tapi apa?" Ana menatap dalam mata Bella seolah memberi sang anak kekuatan. Tak lupa ia pun menggenggam erat tangan Bella.
Anda Mungkin Juga Suka





