Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tumbal Pernikahan

Tumbal Pernikahan

Pernikahan idealnya menyatukan dua hati dalam harmoni, namun Amanda justru terjebak dalam ikatan yang lahir dari keterpaksaan waktu. Sebagai wanita penyabar, ia harus meredam ego dan harga diri demi memenangkan hati suaminya di tengah badai ujian yang datang silih berganti. Meski konflik terus menguji ketegarannya, Amanda menolak menyerah. Akankah sang suami akhirnya luluh dan menerima kehadirannya, atau justru tetap teguh pada pendirian dinginnya sejak awal?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Jika sabar adalah jalan terbaik. Itulah yang akan ditempuh. Demi mendapatkan haknya.

***

Amanda benar-benar menjadi istri yang baik, melayani semua keperluan sang suami. Bangun pagi, beres-beres rumah dan juga memasak untuk imamnya itu.

Angga terbangun ketika indera penciumannya menangkap aroma harum masakan. Masih dengan sedikit rasa kantuk pria itu melangkah menuju dapur, lalu menatap bingung Amanda yang sudah memasak sarapan sepagi ini.

"Mau ke mana? Masak pagi-pagi," tanya Angga pada Amanda yang sibuk dengan spatula dan penggorengan.

"Aku hari ini masuk kerja, jadi harus masak dulu buat kamu," jawab Amanda tanpa menoleh.

"Sepagi ini?" Bingungnya, pasalnya sekarang masih pukul enam pagi sedangkan jam kerja kantoran jam delapan.

"I--iya, aku harus berangkat pagi-pagi. Kerjaanku pasti banyak di kantor." Amanda mematikan kompor. Ia harus segera bersiap, perjalanannya lumayan jauh. Apalagi harus naik kendaraan umum yang selalu saja berhenti di tiap halte dan menyita waktu. Amanda akan merahasiakan statusnya yang baru, karena ia juga tahu Angga menginginkan hal yang sama.

"Aku berangkat dulu," ucapnya sambil meminta tangan Angga untuk dikecup. Namun, Amanda kembali tersayat, ketika dengan kasar pria itu menepis tangannya yang masih menggantung.

"Nggak perlu." Angga menatap Amanda sinis membuat wanita menunduk menahan takut.

"Tapi, Ga. Aku harus melakukan itu. Kamu suami aku dan seharusnya ...."

"Kamu, tuli! Aku bilang, nggak perlu, Amanda. Buang impian kamu soal rumah tangga harmonis. Kita nggak akan ... pernah ... seperti itu." Lagi-lagi Angga menegaskan di mana posisi Amanda sebenarnya. Istri yang tak dianggap.

Amanda mengatupkan mulut dengan rapat. Angga benar-benar jijik padanya. Hanya mencium tangan pun, ia tak diizinkan. Amanda keluar dari rumah tanpa mengecup tangan sang suami membuatnya merasa berdosa.

Sesampainya di kantor. Amanda dihujani banyak pertanyaan oleh teman satu ruangannya, ia hanya menjawab sedang mengurus bunda yang kini telah meninggal. Teman-teman yang mendengar pun mengucapkan bela sungkawa kepadanya setelah mengetahui bahwa Rania telah tiada. Amanda termasuk pribadi yang sedikit tertutup. Bahkan, selama dia bekerja di kantor yang mengetahui tempat tinggalnya hanya beberapa orang.

***

"Belum pulang juga? Sekalian sama aku saja pulangnya," kata Lina---teman satu ruangan Amanda yang mengetahui rumahnya.

"Nggak perlu, Lin. Aku sudah pesan taksi tadi." Amanda menolak, ia belum siap mendapat banyak pertanyaan dari Lina karena ia pulang ke arah yang lain.

"Yakin nggak perlu, kebetulan kita satu arah, loh?" Lina mencoba membujuk. Namun, Amanda terus menolak.

Sesampainya di rumah, Amanda langsung merebahkan tubuhnya yang begitu lelah ke atas sofa, lalu mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Mengembuskan napas berulangkali supaya lelah cepat menghilang. Ini baru sehari Amanda seperti ini, Bagaimana kalau seterusnya? Apakah ia akan sanggup?

"Kalau lelah langsung tidur di kamar jangan di sini! Aku nggak mau, ya, gendong kamu."

Amanda membuka mata. Menegakkan tubuh dan menatap Angga yang berdiri di sampingnya yang sudah berpakaian santai. "Kamu sudah pulang?"

"Kalau lelah langsung istirahat di kamar." Angga mengulangi perintahnya dan bukan menjawab pertanyaan Amanda.

Amanda menurut dan segera masuk ke dalam kamar, melanjutkan istirahatnya dengan total. Namun, ia terbangun tengah malam karena merasa lapar. Ia terlalu lelah sampai melewatkan makan malamnya, dan kini terpaksa bangun hanya untuk makan. Amanda berjalan pelan keluar dari kamar, takut Angga akan terbangun bila tidak hati-hati.

"Auh!" Amanda meringis, memegangi pergelangan kaki yang terkilir. Ia berusaha untuk bangun sendiri, Perutnya benar-benar melilit minta diisi, bukannya berdiri Amanda malah terjatuh lagi dan tak sengaja menyenggol Guci hiasan di dekat tangga. "Astaga!" ucapnya terkejut lalu menutup mulut, takut Angga akan bangun dan kembali marah kepadanya.

Benar saja, tak lama setelah itu Angga datang dengan wajah marah karena terganggu jam tidurnya. "Astaga, kamu apa-apaan, sih, ribut tengah malam. lihat itu! Sudah jam berapa sekarang," lontar Angga sambil menunjuk jam dinding di atas tangga.

"Ma--maaf, aku nggak sengaja nyenggol itu." Amanda menatap Guci besar yang sudah pecah di ujung tangga dengan tatapan takut.

"Mau ke mana?"

"Makan, perut aku lapar." Amanda berusaha bangun dan melanjutkan langkah, tetapi ia tidak bisa. Pergelangan kakinya begitu nyeri.

"Kaki kenapa?"

"Keseleo," cicitnya.

Angga menghela napas pelan, "Makanya kalau jalan hati-hati."

"Maaf," ucap Amanda, lalu kembali masuk ke dalam kamar sembari menahan rasa sakit di pergelangan kaki. Hatinya kembali terluka, karena Angga tidak membantu dan malah meninggalkannya begitu saja. "Ya Allah, sakit banget," keluhnya setelah sampai di kamar. Amanda meluruskan kaki dan mulai memijat bagian mana yang sakit. Bahkan, Angga belum kembali juga ke kamar untuk memastikan apakah Amanda baik-baik saja atau tidak. "Kamu benar-benar nggak peduli sama aku, tega kamu, Ga," keluhnya lagi, Angga pergi meninggalkannya dalam keadaan kesakitan. Angga memang keterlaluan, tak peduli dengan keadaan Amanda bagaimana.

***

"Jangan tidur, makan dulu!" seru Angga dingin yang sudah berdiri di samping Amanda.

Amanda membuka mata, terkejut melihat Angga dengan sebuah piring dan gelas di tangan. Apakah Angga mengambilkan makanan untuknya? Ataukah dia sudah menerimanya. Angga mulai peduli dan itu membuat Amanda bahagia.

"Bisa makan sendiri, 'kan?" tanyanya ketika Amanda hanya diam dan terus menatapnya dengan senyuman. Amanda mengangguk, mengambil alih piring dan gelas di tangan Angga. Ia terkesiap ketika merasakan pijatan pelan di kakinya. "Kamu ngapain?" Kagetnya ketika melihat Angga memijat kakinya dengan telaten.

"Punya mata? Bisa lihat. Aku lagi apa?" kata Angga ketus membuat Amanda terdiam dan melanjutkan makannya dalam diam. "Lain kali kalau jalan hati-hati dan pelan-pelan. Suka banget, ya, nyusahin aku," ujarnya kesal usai memijat kaki Amanda. Angga bisa saja mengabaikannya, tetapi ia sudah berjanji akan menjaga Amanda dan pria itu memenuhinya.

"Maaf, Ga. Aku---"

"Cepat makan! Kamu benar-benar ganggu jam tidurku. Kamu memang penganggu Amanda, parasit!" tuduh Angga sengit dengan tatapan membenci.

Amanda tergugu, menunduk, bersiap menumpahkan air mata. Sebenci itukah Angga padanya, sampai menganggap ia sebagai parasit.

"Nggak perlu sok sedih ... aku tahu, kamu pura-pura." Amanda menggeleng sebagai respon. Dia mulai terisak, karena ucapan Angga yang kini amat menyakitkan.

"Aku baru sadar ... jangan-jangan Nessa pergi karena hasutan kamu, ya. Aku yakin kamu iri sama Nessa, dan melakukan ini," tuding Angga tidak peduli dengan hati Amanda yang terus tersakiti karena ulahnya.

Amanda menengadah, menatap sendu Angga yang menatapnya penuh benci. "Aku nggak melakukan apa pun, aku bahkan nggak tahu kenapa Nessa pergi."

"Pembohong! Aku tahu kamu nggak suka sama hubungan kita, makanya kamu melakukan itu."

"Aku nggak melakukan apa pun, Angga. Demi Tuhan," kata Amanda parau dengan isak tangis.

"Dasar wanita licik, kamu penganggu Amanda, aku muak sama kamu." Angga kian murka setelah melihat air mata Amanda.

"Aku bukan penganggu, aku istri kamu." Amanda menjawab dengan derai air mata. Tak menyangka bila Angga akan memakinya seperti ini. Angga membisu. Enggan menjawab perkataan Amanda, Memilih meninggalkan wanita itu yang menangis karenanya. Ia tak peduli dan ia benci pada Amanda.

***

Angga merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Ia begitu merindukan Nessa. "Kamu di mana, Ness? Kenapa kamu pergi, aku rindu sama kamu." Memeluk potretnya bersama Nessa waktu mereka masih bersama. "Kenapa kamu harus pergi di saat-saat terakhir. Kalau kamu nggak mau nikah sama aku, harusnya kamu tolak lamaranku. Bukannya, memintaku menikah dengan Amanda. Aku nggak suka sama dia, Nessa. Aku nggak mau dia, aku maunya kamu." Angga menatap potret Nessa yang tersenyum bersama dirinya. Mengusap wajah itu pelan dengan penuh kerinduan.

"Asal kamu tahu, Ness, sampai kapan pun. Aku nggak akan terima dia, nggak akan pernah. Kamu ingat itu, Bernessa Arundati!"

Amanda mendengar semuanya, ucapan yang keluar dari bibir Angga. Apa kurangnya dia? Sampai Angga tidak mau menerimanya. Bahkan, Amanda sudah menjadi istri yang baik untuk Angga meskipun terus dilukai dengan makian kasar. Ia menulikan telinga seolah tak pernah mendengar ucapan tajam sang suami, mereka bahkan menikah sudah tiga bulan dan selama itu pula, Angga masih menolaknya. Amanda mengambil alih potret Nessa di pelukan Angga, meletakkannya ke tempat semula.

"Aku pikir kamu mulai suka sama aku, ternyata dugaanku salah. Kamu bahkan masih sangat mencintai Nessa ...," menatap lekat wajah Angga yang sudah tertidur. "Meskipun sekarang kamu nggak cinta sama aku, tapi aku yakin suatu hari nanti kamu pasti akan mencintai aku. Aku akan slalu mencintai kamu sampai kapan pun," ucap Amanda pelan lalu mengecup sekilas kening Angga penuh cinta.

Rasanya begitu menyakitkan ketika kita berjuang seorang diri, mempertahankan cinta yang hanya di miliki satu orang. Sesakit apa pun itu Amanda menahannya, ia akan bersabar hingga nanti Anggalah yang akan memberikan cintanya hanya untuk dia. Kesabaran tak pernah menghianati hasil, bukan, Jadi untuk saat ini sabar adalah jalan terbaik.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NZQ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NZQ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Hari pertama Kayla Prawijaya di sekolah baru menjadi kacau sejak bertemu Mexsi Megantara, murid pindahan asal Singapura. Hubungan mereka diawali kebencian karena Kayla tak mengerti alasan Mexsi begitu memusuhinya. Namun, fakta mengejutkan terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi adalah cinta pertama Kayla. Rasa benci itu berubah jadi cinta saat Mexsi mengetahui Kayla mengidap kanker darah. Mampukah Mexsi tetap bertahan mendampingi Kayla di tengah ujian pilu ini?
Sampul Novel Godaan Sang Mantan
8.2
Tujuh tahun berlalu, Marina masih membawa luka mendalam akibat ditinggalkan Willem Roberto setelah menyerahkan segalanya. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali hingga Marina terjebak dalam pesona sang mantan. Meski dihantui trauma masa lalu, nostalgia manis membawa mereka pada momen intim yang tak terelakkan di kamar hotel. Kini Marina bimbang antara mengikuti kerinduan hati atau bangkit demi kebahagiaannya sendiri di tengah ketidakpastian cinta mereka.
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Pasca ditinggalkan kekasih karena kondisi ekonomi yang sulit, Andra bangkit dan sukses membangun kekaisaran bisnisnya sendiri dalam enam tahun. Kini ia dikenal sebagai bos kejam dengan aturan yang sangat kaku. Namun, reputasi dinginnya mulai goyah saat seorang pelamar kerja wanita hadir di hadapannya. Pertemuan tersebut perlahan mencairkan kebekuan hati Andra dan membukanya kembali pada harapan akan cinta baru yang telah lama ia lupakan.
Sampul Novel Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!
8.9
Dicampakkan di hari pendaftaran nikah setelah lima tahun menjalin hubungan, Nayla yang murka memutuskan menikahi Simon, kakak kandung mantan pacarnya. Simon adalah pewaris takhta Keluarga Jatmiko sekaligus raksasa keuangan global yang disegani. Meski awalnya asing dan dingin, Simon justru sangat memanjakan Nayla sebagai istrinya. Saat mantan kekasihnya menghina Nayla, Simon tidak tinggal diam dan membelanya dengan keras. Bertahun-tahun kemudian, barulah terungkap bahwa Simon sebenarnya telah menyimpan rasa cinta rahasia kepada Nayla selama sepuluh tahun.
Sampul Novel Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
8.9
Sembilan tahun mendampingi Rehan dan bersiap menuju gerbang pertunangan, sang protagonis harus menghadapi kenyataan pahit dalam novel modern ini. Saat hendak menjemput kekasihnya dari acara reuni, ia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam Rehan. Pria itu terang-terangan menyebutnya sebagai pengganti murah yang digunakan untuk meruntuhkan kepercayaan diri cinta pertamanya yang kini telah kembali. Sadar dirinya hanya pelampiasan rasa sepi, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk pergi.
Sampul Novel Mr. G itu Bos-nya!
9.6
Briana Jeany dikhianati kekasihnya, Alex, tepat di hari istimewa mereka. Dalam balutan amarah, ia nekat menggoda pria asing bernama Mr. G dan membayarnya karena dikira pria sewaan. Sialnya, pria itu adalah bos barunya yang kini menyimpan dendam akibat harga dirinya diinjak-injak. Saat Mr. G mulai memberikan pelajaran yang justru menumbuhkan benih cinta, Alex kembali membawa janji pernikahan. Briana pun terjebak di antara tuntutan sang bos dan masa lalunya.