
Tujuh Tahun Menikah, Hanya Sia-Sia!
Bab 3
Ciuman itu menjadi awal dari babak baru. Hubungan Aksara dan Rumi tidak lagi hanya tentang pekerjaan. Apartemen Aksara yang tadinya hampa kini terasa hidup. Mereka menghabiskan malam-malam dengan obrolan panjang, tawa, dan sentuhan yang penuh kasih sayang. Aksara menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari. Ia melihat masa depan yang cerah, masa depan yang ia impikan, bersama Rumi.
Berita tentang perceraian Aksara dan Nareswari dengan cepat menyebar. Sanjaya Corp terkejut, namun banyak yang diam-diam merasa lega melihat Aksara terlihat lebih bahagia dan bersemangat. Namun, tidak semua orang bisa menerima hubungan mereka. Beberapa karyawan dan kolega Aksara mencibir, menuduh Rumi sebagai wanita perebut suami orang. Rumi berusaha tegar, tetapi gunjingan itu sangat menyakitinya. Ia takut bahwa hubungannya dengan Aksara akan merusak reputasi dan karier mereka berdua.
"Jangan dengarkan mereka," kata Aksara suatu malam, memeluk Rumi erat. "Yang terpenting adalah kita, dan kebahagiaan kita. Mereka tidak tahu apa yang kita lalui."
Aksara berniat serius dengan Rumi. Ia ingin membangun keluarga dengannya. Dalam sebuah makan malam romantis, Aksara membuka hatinya. "Rumi, aku ingin menikahimu. Aku ingin kita memiliki keluarga, anak-anak yang akan membuat rumah kita penuh tawa. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku tidak ingin kehilanganmu."
Mendengar permintaan Aksara, Rumi terharu, namun juga ragu. Ia tahu bahwa ia sangat mencintai Aksara, dan ia juga menginginkan keluarga dengannya. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Rumi belum menceritakan tentang masa lalunya.
Rumi lahir dari keluarga sederhana. Ibunya adalah seorang penjahit dan ayahnya seorang buruh pabrik. Di masa kecilnya, ia menyaksikan bagaimana ayah dan ibunya berjuang mati-matian hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia bertekad untuk sukses dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. Namun, ada juga rahasia yang tersembunyi.
Kakek Rumi adalah mantan direktur utama Sanjaya Corp, perusahaan yang kini dipimpin Aksara. Namun, ia dipecat secara tidak hormat karena sebuah skandal yang dituduhkan padanya. Tuduhan itu adalah tuduhan palsu, yang disebarkan oleh musuh-musuhnya, termasuk ayah Aksara. Keluarga Rumi hancur, dan mereka harus memulai hidup dari nol. Rumi tumbuh dengan luka itu, dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membersihkan nama keluarganya.
Sejak awal, Rumi melamar sebagai sekretaris di Sanjaya Corp bukan hanya karena ingin mendapatkan pekerjaan, tetapi juga karena ingin mengumpulkan bukti-bukti untuk membersihkan nama kakeknya. Ia diam-diam mengumpulkan data, dokumen, dan saksi, yang semuanya mengarah pada kebenaran.
Rumi merasa bersalah karena ia mencintai Aksara, putra dari orang yang merusak keluarganya. Namun, ia tidak bisa mengendalikan hatinya. Ia melihat bahwa Aksara bukanlah ayahnya. Aksara adalah pria yang baik, yang juga terluka dan mencari cinta.
Ketika Aksara melamarnya, Rumi tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Ia tidak tahu apakah ia harus jujur dan menceritakan semuanya, atau apakah ia harus membiarkan masa lalu terkubur. Ia takut jika ia jujur, Aksara akan membencinya, dan hubungan mereka akan hancur. Namun, ia tidak bisa membangun masa depan di atas kebohongan.
Suatu malam, Rumi memutuskan untuk jujur. Dengan hati berdebar-debar, ia menceritakan semuanya pada Aksara. Tentang masa lalu keluarganya, tentang dendam yang ia bawa, dan tentang bagaimana ia menggunakan Aksara untuk mendapatkan akses ke dokumen perusahaan. Ia menyerahkan semua bukti yang ia kumpulkan, bukti yang bisa menghancurkan reputasi keluarga Sanjaya.
Aksara terkejut. Ia merasa dikhianati. Ia menatap Rumi, dan di matanya, ada kekecewaan yang mendalam. Rumi adalah satu-satunya orang yang ia percayai, dan sekarang ia tahu bahwa Rumi juga memiliki niat tersembunyi.
"Jadi, ini semua hanya sandiwara?" tanya Aksara dengan suara serak. "Kamu mendekatiku hanya untuk membalas dendam?"
Rumi menggelengkan kepalanya, air mata mengalir di pipinya. "Tidak, Aksara. Awalnya memang begitu. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu, bukan karena siapa ayahmu, tapi karena siapa dirimu. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku."
Aksara bingung. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Hatinya sakit. Di satu sisi, ia merasa dikhianati, tetapi di sisi lain, ia melihat ketulusan di mata Rumi. Ia tahu bahwa Rumi mengatakan yang sebenarnya.
Malam itu, mereka terdiam. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aksara harus memilih: apakah ia akan memaafkan Rumi dan membangun masa depan dengannya, atau apakah ia akan menyerah pada amarah dan dendam, dan kehilangan Rumi selamanya. Di sisi lain, Rumi harus menunggu, menanti keputusan dari pria yang sangat ia cintai, sambil berharap bahwa cinta mereka cukup kuat untuk mengalahkan masa lalu yang kelam.
Anda Mungkin Juga Suka





