Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tuan Muda Menginginkanku

Tuan Muda Menginginkanku

Pasca kematian ayahnya, Bella Renee hidup menderita akibat kekejaman bibinya, Paeng, yang merampas seluruh harta warisan Chali Parthapat. Demi bertahan hidup, Bella bahkan terpaksa menanggalkan nama keluarganya. Namun, pertemuannya dengan Sky Newton, pewaris Newton Company, membangkitkan tekadnya untuk melawan. Bella kini berusaha membongkar rahasia kelam keluarga Paeng demi merebut kembali haknya dan membalaskan dendam atas segala penderitaan masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebuah bendungan dengan arus deras air di bawahnya, terdapat jembatan cukup panjang membentang. Bella memutuskan datang ke tempat ini karena merasa stres menanggapi perbuatan jahat Paeng dan Nabdao yang tiba-tiba memperlakukannya tanpa keadilan, padahal selama Chali masih hidup, semua bersikap baik dan hangat.

Sekarang, dunia Bella jungkir balik dengan cepat hanya dalam jangka beberapa malam setelah upacara kremasi mendiang Chali Parthatap.

Bahkan rasa sakit kehilangan ditinggal pergi ayah terkasih masih memenuhi hati Bella, tapi ia dipaksa memahami situasi aneh seperti yang terjadi.

"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa sikap Paman Nabdao dan Bibi Paeng tiba-tiba berubah? Dunia seperti berbalik memunggungiku setelah ayah pergi." Bella meratap, ia berdiri mematung menatap derasnya air dari sisi jembatan, gadis itu menunduk dengan wajah yang pucat, bekas tangisan masih terlihat di sana.

"Ayah, bagaimana cara mengatakan pada ibu bahwa putrinya tak bisa mengikuti ujian karena dikeluarkan begitu saja, bagaimana aku harus jujur pada ibu? Aku tak bisa melihat kekecewaan di wajahnya, aku kesulitan, ayah."

Bella menutup wajahnya, ia kembali menangis, sepertinya hari ini akan dipenuhi banyak air mata.

"Aku takut, ayah. Aku takut menghancurkan ekspektasi ibu, haruskah aku berbohong saja?"

Gadis itu tiba-tiba diam, ia mulai terhanyut oleh derasnya air, lalu pikiran gila mulai muncul ketika setiap perkataan menyakitkan dari Paeng berdengung pada sepasang telinga Bella.

"Ayah, apakah sebaiknya aku menyusulmu saja?"

Sebuah mobil porsche hitam melaju dengan kecepatan sedang dari arah berbeda, tapi akan melewati jalur jembatan.

Seorang pria dengan jaket hitam berlambang metalica duduk santai mengemudi, ia juga menghidupkan musik di mobilnya.

Pria itu mengerutkan kening ketika melihat perempuan berdiri di sisi jembatan, lantas membuat gesture seperti ketika seseorang akan melompat ke kolam renang.

"Dia akan berenang, ya," gumamnya.

Namun, tiga detik berselang pria itu baru menyadari sesuatu, ia mendelik sekaligus menginjak pedal gas supaya laju mobil lebih cepat—sebelum berhenti di sisi lain bendungan.

"APA DIA SUDAH GILA!!!"

Secepat angin pria itu keluar dari mobil dan berlari menuju Bella yang sepertinya hendak melompat ke air, tanpa banyak berpikir pria itu mengangkat tubuh Bella dari belakang sebelum sempat melompat, setiap detik sangat berharga pada situasi kritis seperti ini.

Pria asing tersebut berhasil menarik mundur hingga jarak satu meter dari tepi bendungan yang hampir membuatnya menyaksikan seseorang bunuh diri, sementara gadis muda itu terus meronta supaya diturunkan.

"Lepaskan aku! Lepaskan! Apa kau sudah gila!" Bella membentak dan mencakar tangan yang melingkar di pinggangnya sebelum diturunkan.

"Gila? Bukankah tuduhan seperti itu ada pada dirimu saat ini, kau yang gila!" Si pria ikut membentak. Mereka bertatapan ketika Bella memutar tubuhnya. "Kau pikir aku tak tahu jika kau ingin melompat ke bawah, bukan?"

"Bukan urusanmu, enyahlah." Bella berniat menghampiri tepi jembatan lagi, tapi pria itu mencekal pergelangan tangannya. "Lepaskan aku, kau dengar!"

"Tidak! Terserah apa masalahmu, tapi jangan bunuh diri!"

"Aku ulangi sekali lagi, semua itu bukan urusanmu, kau tak perlu mengurus masalah orang lain. Pergi dari sini!"

"Lalu, kau akan melompat, bukan? Kau akan bebas melakukannya jika aku pergi sekarang." Pria itu berdecih. "Berhentilah membodohi orang lain, seharusnya kau berpikir jernih sekarang. Tarik dalam-dalam napasmu, lalu keluarkan."

"Berhenti memberi nasihat." Bella sibuk menarik tangannya supaya terlepas dari cekalan pria asing itu. "Bisakah kau melepaskannya? Perbuatanmu menyakiti orang lain."

Ekspresi Bella yang memelas membuat pria itu luluh dan melepas cekalannya, tapi saat Bella tiba-tiba berlari menuju tepi jembatan, ia sadar sudah kecolongan oleh tipu daya perempuan.

"Sialan!"

Tak ingin dibohongi kembali, ia mengejar Bella, menariknya dari belakang sebelum mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style.

"Hey! Lepaskan aku! Kau tak bisa melakukannya! Kau siapa!" Bella sibuk meronta, kedua tangan gadis itu terkepal dan memukul punggung si pria.

Meski Bella bersemangat memukulnya, si pria memilih diam, ia terus melangkah ke sebrang jembatan—menuju mobilnya.

Tak ada keraguan ketika pria itu menurunkan Bella di sisi mobil, membuka pintu dan memaksa Bella agar masuk.

"Masuklah."

"Tidak mau! Kau siapa memperlakukanku seperti ini, biarkan aku sendiri." Bella masih meronta, ia mencoba memasang ekspresi memelas seperti sebelumnya, tapi si pria tak lagi terenyuh, ia sudah memahami tipu daya gadis itu.

"Masuk atau aku akan melemparmu ke kandang harimau," ancam pria itu.

"Kau sudah gila!"

Bella berhasil dipaksa masuk, pria itu tak sungkan memasang sabuk pengaman untuk Bella, jarak wajah mereka sangat dekat ketika si pria menunduk, lantas mengangkat wajah dan menatap Bella lekat. Iris cokelatnya seperti bagian ujung pisau yang menghunus Bella.

Seolah terhipnotis, Bella tak lagi berbicara dan diam.

"Tetaplah tenang, biarkan aku membawamu pergi dari tempat ini," ucap pria asing sebelum menutup pintu dan berlari mengitari mobil, sekarang ia sudah duduk di balik kemudi, sementara keadaan Bella masih sama, diam membisu.

Mobil melaju, mereka pergi dari jembatan.

Selama perjalanan, keduanya kompak diam, atmosfer di dalamnya menjadi sangat tenang. Efek hipnotis seakan masih mengikat tubuh Bella.

"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi bukan hal yang bijak jika kau melakukan bunuh diri." Pria itu akhirnya berbicara. "Apa tak terlintas di kepalamu jika hal gila itu benar-benar terjadi—bagaimana orangtuamu harus menghadapinya?"

Bella tetap diam, pandangannya kosong.

"Sebesar apa masalah yang kau hadapi sehingga akan menyerah? Apa pun itu, tolong pikirkan semuanya dengan tenang, bunuh diri bukanlah tindakan bijak."

Laju mobil melambat ketika menjumpai keriuhan sebuah pasar tradisional, pria itu berdecak karena merasa sudah salah memotong jalan.

"Terlalu lama pergi dari Bangkok membuatku lupa beberapa hal."

Bella menoleh, mereka bertatapan, tapi gadis itu tak bersuara.

"Bagaimana cara keluar dari kerumunan pada jalanan pasar yang ramai seperti ini, apa kau tahu?" tanya pria itu.

Di sepanjang jalan mereka terus menemukan banyak orang melangkah  di jalanan yang sempit, membuat pergerakan mobil menjadi sangat terbatas.

"Apa mereka tidak takut jika bagian tubuhnya tersentuh mobil yang melaju?" Pria itu berdecak frustrasi. "Ah! Ini menyebalkan."

Meski sudah menekan klakson, tapi pengunjung pasar yang melintas di depan mobil sepertinya tak terusik, mereka tetap beraktifitas. Si pria akhirnya mengalah, ia memutuskan berhenti karena tak mungkin mampu menembus kerumunan manusia di tengah jalan.

"Aku ingin buang air kecil," ucap Bella setelah sekian lama membisu.

"Kau?"

"Apa? Aku tak boleh melakukannya, maksudmu?" Bella mengerutkan kening.

"Bukan itu maksudku, kau tak berniat bunuh diri di toilet umum, kan?"

Bella tertawa. "Apa hanya itu di pikiranmu? Aku tak bisa menahannya lebih lama." Ia melepas sabuk pengamannya sendiri ketika si pria asing turun dan mengitari mobil, pintu di samping Bella terbuka.

"Aku harus memastikannya sekali lagi, kau tak berniat bunuh diri di toilet umum, kan?" Pria itu sangat menunjukan kecemasannya, Bella seperti terenyuh menanggapi bagaimana dua karakter manusia sangat bertolak belakang.

Pertama, keluarga yang begitu dekat dengannya cukup lama tiba-tiba berkhianat dan berusaha membuat kehidupan Bella serta Charita sengsara.

Kedua, pria asing yang baru pertama ditemuinya justru menunjukan sikap yang sangat baik dengan segala perhatiannya.

Mata Bella kembali sayu, ia menunduk terdiam.

"Kenapa hanya diam? Kau tak yakin dengan jawabanmu?" tanya pria itu.

Bella menggeleng. "Tidak, aku tak berniat bunuh diri di toilet, kau tak perlu mencemaskanku terus. Uruslah dirimu saja."

"Aku sudah mengurus diriku."

"Sudahlah, aku harus mencari toilet umum." Bella pergi begitu saja, ia menerobos kerumunan di antara padatnya pedagang dan pembeli pada barisan kedai sayur serta barang lainnya.

"Aku berharap dia sudah sadar, aku berharap dia takkan kembali ke jembatan itu." Si pria kembali memasuki mobil, ia hanya meyakini jika gadis itu pasti takkan kembali untuk menghampirinya dan memberi laporan bahwa sudah selesai buang air kecil.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KSL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KSL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku
8.1
Zayden Alaric Veyra adalah pengusaha sukses sekaligus pemimpin organisasi Raven yang ditakuti. Meski dikelilingi wanita, hatinya tetap hampa hingga ia terpikat oleh Kaela Seraphine di sebuah pesta. Namun, Kaela bukanlah gadis biasa; ia memiliki misi rahasia untuk memburu sosok Raven. Saat takdir mempertemukan mereka dalam misi berbahaya, ketertarikan pun muncul. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta yang tumbuh atau tuntutan dunia gelap untuk saling menghabisi.
Sampul Novel Bertemu Karena Jodoh
8.2
Nasyira terbiasa menikmati kemewahan sebagai putri orang kaya, namun roda kehidupan berputar drastis saat hartanya ludes seketika. Nasib malang menimpa keluarganya ketika sang papa dinyatakan bangkrut total. Kehancuran finansial ini bukan tanpa alasan, melainkan akibat pengkhianatan keji yang dilakukan oleh adik kandung papanya sendiri. Kini, Nasyira harus menghadapi realita pahit setelah orang terdekat menghancurkan seluruh kejayaan mereka.
Sampul Novel Cinta yang Sirna Sebelum Fajar
9.3
Shasa Handoko diam-diam menghitung mundur sepuluh hari terakhir sebelum prosedur donor ginjal untuk Arya Lexim dilakukan. Sebagai sosok pengganti yang selama ini dibenci oleh Arya, Shasa telah membulatkan tekad untuk pergi dan menghilang selamanya dari kehidupan pria itu setelah operasi selesai. Di tengah sisa waktu yang kian menipis, sebuah tanya terus membayangi benaknya: saat Arya akhirnya hidup bahagia bersama wanita yang benar-benar dicintainya, akankah pria itu masih mengingat kehadirannya?
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Di Balik Topeng Cinta Pertama
8.1
Suami wanita ini tega menyuap dokter untuk memberikan jantung putri mereka kepada anak dari teman masa kecilnya. Akibatnya, sang putri meninggal dalam pelukannya, sementara sang suami merayakan keberhasilan operasi itu dengan membagikan bonus. Di duka mendalam saat divonis leukemia stadium lanjut setelah muntah darah, ia pulang membawa guci abu anaknya. Namun, suaminya justru berencana pergi keliling dunia bersama teman masa kecil dan putrinya untuk merayakan kehidupan baru mereka.
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?