
Tinggal Bersama Mantan Suamiku
Bab 3
Sarah meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sembari dia berjalan menuju ruangannya. Hari ini benar-benar sangat melelahkan baginya, selain emosinya yang terkuras akibat bertemu mantan suaminya, dia membantu operasi yang dilakukan di emergency room karena hari ini dia tidak memiliki jadwal operasi.
Hasilnya, jam masih menunjukkan pukul 3 sore, tapi dia sudah lelah dan ingin segera pulang.
"Tuan Collins?" mata Sarah membesar ketika melihat lelaki tua yang sedang berdiri bersandar di dekat pintu ruangannya. Dia buru-buru menghampiri pria tua itu.
"Tuan Collins? Kenapa kamu di sini? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sarah dengan penasaran.
Dia sudah menjelaskan semua hal yang terjadi kepada Michael, apakah masih ada yang ingin dia tanyakan lagi?
"Sarah… ah, Dokter Sarah," koreksi Tuan Collins sambil tersenyum. "Apakah kamu sibuk? Bisakah kita berbicara sebentar?" lanjutnya.
"Kamu bisa memanggilku Sarah," jawab Sarah sambil tersenyum.
Sarah lalu melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan, setidaknya dia memiliki 10-15 menit yang bisa dia gunakan untuk beristirahat sebentar.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita berbicara di kafetaria? Aku sekalian ingin membeli makanan," tanya Sarah.
"Tentu," jawab Tuan Collins.
Tak lama kemudian, Tuan Collins dan Sarah sudah mengambil tempat di salah satu meja kafetaria rumah sakit, dan Sarah segera permisi untuk memesankan makanannya.
"Ini Tuan Collins, kopi hitam, tanpa gula," ucap Sarah sambil menyerahkan segelas kopi yang dia pesankan untuk lelaki tua itu, sementara dia memesan teh dingin dan sandwich.
"Ah… kamu tidak perlu repot-repot," ucap Tuan Collins, tapi wajahnya terlihat tersenyum. Kopi hitam tanpa gula adalah minuman favoritnya, sepertinya Sarah masih mengingat hal itu.
Sarah hanya tersenyum ketika melihat ekspresi lelaki tua itu.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan? Ngomong-ngomong, aku sambil makan ya," ucap Sarah lalu mengambil sandwichnya dan mulai memakannya.
"Ya, silakan. Itu… aku ingin meminta bantuan."
Sarah mengangkat alisnya ketika mendengar hal itu.
"Bantuan apa? Jika aku bisa melakukannya, aku akan melakukannya," jawab Sarah sambil tersenyum.
"Itu…" Tuan Collins terlihat sedikit ragu, "Bisakah kamu berpura-pura menjadi istri Michael lagi?"
"Uhuk uhuk"
Sarah langsung tersedak mendengar hal itu, dia buru-buru mengambil teh nya dan meminumnya.
"Apa?!" tanya Sarah dengan terkejut.
"Seperti katamu, kami tidak boleh memaksakan ingatan yang tidak diingat oleh Michael dan saat ini dia masih mengingat bahwa kamu masih istrinya," ucap Tuan Collins menjelaskan.
Sarah mengangguk dengan pelan, dia memang berkata seperti itu, tapi bukan berarti dia mau menjadi istri pria brengsek itu lagi, meskipun itu hanya pura-pura!
"Kamu juga mengatakan bahwa tidak ada obat yang bisa membantu mengembalikan ingatannya, tapi kamu pasti tahu bagaimana cara mengatasi pasien amnesia untuk mengembalikan ingatannya, kan? Jadi kamu bisa membantunya ketika kalian tinggal bersama lagi," lanjut Tuan Collins.
Sarah menganggukkan kepalanya lagi, dia memang mengatakan hal itu.
"Maaf Tuan Collins, sepertinya aku tidak bisa membantumu," jawab Sarah dengan tegas.
Michael dan dirinya telah berakhir tiga tahun lalu, dan Sarah sama sekali tidak berniat untuk berurusan dengan mantan suaminya itu lagi.
"Ah! Apakah kamu sudah menikah lagi?" tanya Tuan Collins dengan hati-hati. Dia sudah meminta hal itu, tapi lupa menanyakan apakah Sarah telah menikah lagi atau tidak.
"Tidak, aku masih sendiri. Tapi aku tetap akan menolaknya," ucap Sarah dengan tegas.
Setelah bercerai, Sarah memfokuskan hidupnya untuk karirnya dan tidak pernah terlibat hubungan romantis, atau berpikir untuk menikah lagi. Meskipun beberapa pria pernah mengejarnya.
"Aku mohon padamu, Sarah. Ini salahku sampai Michael bisa kecelakaan seperti ini," ucap Tuan Collins dengan pelan. Wajahnya terlihat sedih.
Sarah mengangkat alisnya, tapi dia hanya diam saja.
"Sebenarnya… aku memiliki tumor otak, tapi aku merahasiakan itu kepada keluargaku karena tidak ingin membuat mereka khawatir."
Mata Sarah membesar dan mulutnya sedikit terbuka ketika mendengar hal itu.
Tuan Collins hanya tersenyum tipis ketika melihat reaksi Sarah.
"Karena aku tidak ingin melakukan perawatan dan terus mengabaikan telepon dari dokter kenalanku, dia akhirnya menghubungi perusahaan, berpikir bahwa aku masih menjadi CEO perusahaan itu, tapi Michael telah menggantikan posisiku, dan dia akhirnya mengetahuinya dan langsung menemuiku untuk menanyakan hal itu."
"Kami sedikit bertengkar sebelum dia akhirnya pergi, kurasa gara-gara itu sampai dia akhirnya kecelakaan."
Sarah terdiam ketika mendengar hal itu, dia memandang Tuan Collins yang kini terlihat semakin tua dari yang terakhir kali dia ingat.
Berbeda dengan nyonya Collins yang selalu jahat kepadanya, Tuan Collins selalu baik kepadanya.
Sarah sangat berterimakasih kepada mantan papa mertuanya itu yang sudah membuatnya bisa merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah.
Dan sekarang orang yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri, memiliki tumor otak?
"Kamu harus melakukan operasinya, itu masih dapat disembuhkan" ucap Sarah, yang tanpa sadar mulai berkaca-kaca.
Tuan Collins menggeleng dengan pelan.
"Resikonya tinggi. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku dengan baik, daripada mati di ruang operasi," ucap Tuan Collins.
"Apakah tumornya berada di tempat yang sulit? Ah, tidak, ayo kita melakukan scan. Aku akan melihatnya sendiri," ucap Sarah lalu siap berdiri dari tempatnya.
"Sarah," panggil Tuan Collins dengan pelan sambil menyentuh tangannya.
Membuat Sarah kembali duduk di kursinya
"Aku tahu saat ini aku bersikap egois, tapi bisakah kamu mengabulkan permintaanku? Aku khawatir ingatan Michael tidak kembali dan dia harus mengetahui keadaanku sekali lagi, dia juga harus memimpin perusahaan," ucapnya sambil menatap Sarah dengan lembut.
"Aku memang tidak tahu apa yang terjadi diantara kamu dan Michael, tapi aku sangat menyayangkan kalian yang harus bercerai. Aku bahkan memarahinya karena telah melepaskanmu begitu saja. Kamu tahu aku sangat menyayangimu," ucap Tuan Collins dengan tulus.
Mendengar hal itu, air mata yang berusaha Sarah tahan sejak tadi akhirnya keluar.
Dia tahu selama ini Tuan Collins memang menyayanginya dengan tulus, seperti seorang ayah kepada putrinya, dan satu-satunya yang Sarah sesali ketika bercerai adalah dia tidak lagi bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang dia dapatkan dari Tuan Collins.
Ketika nyonya Collins selalu menyuruhnya datang ke rumah mereka untuk membuatkan sarapan dan bersih-bersih, padahal Sarah saat itu harus pergi bekerja, Tuan Collins selalu membelanya dan menyuruhnya untuk segera pergi bekerja, bahkan berkat Tuan Collins, Sarah tidak perlu melakukan tugas merepotkan itu lagi.
"Aku mohon padamu, Sarah. Anggap saja ini permintaan terakhirku. Tolong bantu Michael mengembalikan ingatannya dengan berpura-pura masih menjadi istrinya lagi," mohon Tuan Collins.
Mendengar kata permintaan terakhir, membuat tangisan Sarah semakin keluar.
Dia benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan mantan suaminya yang brengsek itu, tapi disisi lain, dia tidak bisa mengabaikan permintaan dari orang yang sangat dia berterima kasih dan sudah seperti ayahnya sendiri.
Apa yang harus Sarah lakukan?
Anda Mungkin Juga Suka





