Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tiga Ranjang Suamiku

Tiga Ranjang Suamiku

Kehidupan Maya sebagai pengacara sukses dan istri dari suami penyayang mendadak hancur berantakan. Setelah dua belas tahun membina rumah tangga, ia dikhianati oleh poligami rahasia suaminya. Maya terkejut mendapati sang suami memiliki dua ranjang lain dengan wanita-wanita yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kini, Maya harus berjuang mengungkap kebenaran pahit ini. Akankah ia memilih bertahan demi pernikahan atau pergi menyelamatkan diri dari pengkhianatan pedih ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Mas Farus?” Benar-benar tidak aku percaya. Ternyata bukan suamiku. Dia, kenapa seperti itu? Bunuh diri?

“Apa kau ... jangan ditutup!”

Nomor tidak dikenal menghubungiku. Suara itu, sangat aku kenal. Dia memanggil nama suamiku, lalu menutupnya? Benar-benar aku mengenalnya. Tapi, siapa? Berkata, ingin bunuh diri?

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus membongkar semuanya. Jujur, semakin berjalannya waktu hatiku semakin sesak. Mas Farus ... apakah kau memang menduakan aku? Apakah dokter magang itu adalah wanita simpananmu? Dari pada aku bertanya-tanya dan semakin gila. Aku akan nekat menghubunginya.

“Mas, aku harap kau menerimanya.”

Dengan cemas, aku masih menunggu suamiku mengangkat ponsel ini. Tapi, nada sibuk yang aku dengar. Apakah di sana tidak ada sinyal? Ah, dia pasti sangat sibuk dan ini tengah malam. Tentu saja dia tidak akan pernah mengangkatnya.

Sepanjang malam aku resah. Kedua mata ini sama sekali tidak bisa tertutup. Semakin aku berusaha terlelap, hatiku rasanya berdetak hebat lebih dari biasanya.

“Ibu, sarapan sudah siap,” ucap Mbok Sri membuyarkan lamunanku. Jelas-jelas aku tidak tertidur semalaman. Tanpa aku sadar, hari sudah pagi.

“Iya, Mbok. Aku akan segera turun,” balasku. Aku harus mencari informasi itu. Semuanya harus aku dapatkan hari ini juga, bagaimana pun caranya.

Dengan cepat aku menuju kamar mandi, menyalakan air shower. Air ini sangat segar sekali. Kepalaku yang terasa penat, kembali menghilang. Bergegas aku memakai blazer hitam, lalu celana kain. Aku akan melanjutkan untuk mencari bukti. Aku akan kembali ke rumah sakit itu dan menanyakan semuanya. Mungkin, melakukannya sendirian saja tanpa Melisa akan lebih baik.

“Bunda, kenapa matanya merah?” tanya Ema. Dia menatapku dengan serius. Aku tidak boleh terlihat cemas.

“Biasa, Kak. Pekerjaan Bunda, kan, banyak. Mengurusi masalah orang. Jadi Bunda lembur tadi malam,” balasku sambil mengambil sendok dan mulai melahap nasi goreng buatan Mbok Sri.

“Hmm, Bunda sudah dihubungi Ayah? Bagaimana kabar Ayah? Sudah dua hari Ana coba hubungi kok tidak bisa. Emang Ayah ke mana sih?”

Aku mendadak menghentikan gerakan. Alasan apalagi yang harus aku berikan untuk menenangkan mereka? Sementara, aku sendiri tidak tahu harus berkata apa.

“Bapak mungkin sibuk, Non. Setahu Mbok sih, kalau dokter di desa itu menjadi sukarelawan. Jadi, mengatasi penyakit yang macem-macem. Tidak ada sinyal juga. Maklum saja, Non.”

Mbok Sri menyelamatkanku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Untung saja kembar menerima dan diam.

“Kalian jangan terlambat. Hati-hati di jalan dan jadilah anak baik.”

Mereka bergantian memelukku lalu pergi menuju mobil penjemput. Hatiku benar-benar lega. Semoga saja mereka tidak memikirkan hal ini.

“Bu, maafkan saya,” ucap Mbok mendadak. Aku spontan memandangnya. Wajahnya terlihat sendu sambil menatapku. Aku merasa Mbok mengetahui perasaanku. Saat itu dia melihat aku menemukan foto itu.

“Sejak kejadian kemarin, saya terus memikirkan Ibu. Bapak tidak mungkin berbuat seperti itu, Bu. Saya yakin itu.”

Aku sedikit reda. Perkataan Mbok membuatku seperti tersiram air segar. Aku tersenyum, dan menganggukkan kepala.

“Aku pergi dulu ya, Mbok. Jaga rumah dengan baik. Mungkin aku lembur. Nanti katakan itu pada kembar ya, Mbok.”

“Hati-hati, Bu.”

Ya Tuhan, kumohon berikan aku kenyataan manis. Kalau aku sampai menemukan rahasia besar, lalu bagaimana dengan pernikahan selama dua belas tahun ini? Aku harus mempertebal prinsipku bahwa suamiku adalah yang terbaik. Dia sangat menyayangiku. Dia tidak mungkin akan melakukan itu.

Sepanjang perjalanan, aku berusaha menenangkan pikiran. Selama ini pernikahanku berjalan sempurna. Tidak ada cacat sama sekali. Sangat bahagia. Hingga detik ini, aku harus seperti ini.

Dalam sekejap aku sampai di parkiran rumah sakit. Tanpa sadar aku mengendarai sangat kencang. Aku masih diam sejenak menenangkan pikiranku. Baiklah, kali ini aku harus mendapatkan petunjuk. Dengan cepat aku berjalan masuk ke dalam ruangan informasi. Tapi, seseorang menarikku dengan kuat.

“Maya!”

“Sejak kapan kamu di sini, Mel?”

“Sejak kapan aku di sini itu hal yang tidak penting. Sekarang, katakan kepadaku! Kenapa kau ke sini lagi?” tanyanya sembari menekan kedua pundakku dan memberikan tatapan tajam.

“Mel, aku hanya ingin tahu. Sudah tiga hari Mas Farus tidak bisa dihubungi. Aku ... aku tidak tahu harus bagaimana?”

“Sudahlah, jangan dibahas. Kita akan pergi ke kampus. Di sana kita akan bertanya kepada semua teman suamimu. Siapa tahu, mereka mengetahuinya. Kau jangan sampai membuat keributan di rumah sakit ini. Nama baik suamimu taruhannya. Kau mau suamimu terkena gosip dan dipecat? Maya, pikirkan itu.”

Tentu saja aku tidak mau. Melisa selalu benar. Kini dia yang mengendarai mobilku. Aku menyandarkan kepalaku, dan memejamkan kedua mataku. Hingga aku terbangun, dan sudah berada di kampusku dulu. Sepertinya aku tertidur.

“Sudah bangun?” tanya Melisa sambil tertawa. “Kau mendengkur sangat keras,” lanjutnya sambil menyodorkan sebotol minuman. Aku segera menerimanya. Meneguk air dingin ini sampai habis.

“Ayo Mel. Kita akan menanyakan kepada mereka semua.”

Melisa kini tidak cerewet seperti biasanya. Dia mengikutiku ke mana pun kakiku melangkah. Semua teman Mas Farus tidak tahu keberadaannya. Aku tidak menyerah. Semua yang berhubungan dengan Mas Farus, aku mintai keterangan. Namun, semua sia-sia. Tidak ada petunjuk apa pun yang bisa aku dapatkan.

Hari demi hari, petunjuk yang aku inginkan tidak aku dapatkan. Aku masih saja bersama Melisa mendatangi semua kenalan Mas Farus. Semua mantan dosennya, sahabatnya, bahkan beberapa pasien yang aku kenal. Mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan suamiku. Apalagi yang harus aku lakukan? Ini sudah di luar kendaliku. Kali ini aku benar-benar sangat marah. Seharusnya Mas Farus menghubungiku. Ini sudah enam hari! Dia sama sekali tidak memberi kabar!

Setelah enam hari berjalan mencari bukti bersama Melisa, aku menyerah. Tubuhku sudah tidak kuat. Mungkin jalan terbaik adalah menunggu Mas Farus untuk bertemu dan menjelaskan semuanya.

“Maya. Kita sudah berhari-hari mencari kabar. Sebaiknya kau hentikan saja. Besok, tanyakan semua kepada suamimu. Dia datang kan? Aku harap kamu tidak berbuat hal di luar kendalimu.”

“Terima kasih kau sudah membantuku, Mel. Kau adalah sahabat terbaikku.”

Aku memeluknya. Dia melambaikan tangan dan pergi menaiki taxi. Tapi ... ada satu hal yang ganjal. Kenapa Melisa tahu Mas Farus akan pergi selama tujuh hari? Aku tidak pernah ingat mengatakannya. Dari mana dia tahu?

Aku segera masuk ke dalam rumah, menepis rasa penasaranku. Mungkin saja aku memang mengatakannya tanpa sadar. Yang terpenting, aku harus memasang senyuman di depan kembar. Atau mungkin aku harus menghindari mereka saja. Hatiku masih tidak bisa aku tahan. Aku sangat kecewa dengan Mas Farus. Dia benar-benar di luar dugaanku. Apa salahku selama ini, hingga dia berbuat seperti itu? Selama enam hari dia sama sekali tidak memberiku kabar.

Malam semakin larut. Aku masih memandang luar jendela. Hingga aku terkejut. Mobil Mas Farus datang? Ini masih hari keenam. Bukankah dia mengatakan akan pergi selama tujuh hari? Hatiku sangat kesal. Kedua mata ini memejam dengan kuat, untuk menenangkan batinku yang bergejolak. Aku harus bisa menahan amarah.

Aku berjalan keluar kamar. Oh tidak, perasaan ini semakin menjadi. Aku sangat emosi. Ingin sekali meluapkannya! Tapi, aku melihat pemandangan cukup mengejutkan.

“Mas, kenapa kau terluka parah?” tanyaku segera mendekat. Aku semakin tidak percaya melihatnya. Ditambah, dia menyodorkan sesuatu berwarna pink ke hadapanku. Dengan bergetar aku menerimanya.

“Mas, apa ini undangan pernikahan?”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel As Your Command
8.2
Kenneth hidup demi melayani keluarga Kania sesuai wasiat ayahnya. Dari masa sekolah hingga bekerja, ia patuh menjalankan setiap perintah Kania tanpa melibatkan perasaan, layaknya robot tak berhati. Namun, keteguhan Kania dalam mendobrak batasan dingin Kenneth mulai mengubah segalanya. Saat permintaan Kania menjadi semakin intim dan berani, sang manusia besi pun tersadar bahwa pengabdiannya telah berubah menjadi debaran jantung yang nyata bagi sang majikan.
Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel Cinta tak terduga dari pembantu menjadi menantu
8.7
Sari merupakan asisten rumah tangga yang penuh dedikasi di kediaman keluarga Hartanto. Selama bertahun-tahun ia mengabdi tanpa pernah menduga bahwa nasibnya akan berubah drastis. Segalanya mulai bergejolak saat Rendra, putra sulung keluarga tersebut, pulang dari perantauan di luar negeri. Kehadiran Sari yang tulus ternyata menyentuh hati Rendra, hingga ia menyadari betapa berartinya wanita itu. Sebuah romansa tak terduga pun mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel Heartache
9.4
Renjana terjebak dalam dilema besar setelah menjalin hubungan tanpa kepastian selama sembilan tahun. Di usianya yang ke-27, ia mulai merasa lelah menghadapi tekanan sosial dan pertanyaan kapan menikah. Saat ia kehilangan harapan pada kekasihnya, orang tua dan kakaknya mulai turun tangan menjodohkannya dengan pria lain. Bisakah Renjana menemukan cinta sejati yang tumbuh perlahan di tengah desakan keluarga, atau ia tetap bertahan menanti jati diri kekasih lamanya?
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, koki ternama, mendadak jadi buronan setelah masakannya tak sengaja menewaskan perdana menteri. Saat pelarian, jiwanya berpindah ke tubuh seorang wanita yang tenggelam di lokasi berbeda. Dalam raga barunya, Max justru jatuh cinta pada Wulan, sahabat dari Nadia. Begitu berhasil kembali ke tubuh aslinya, Max bertekad mencari dan menikahi Wulan. Namun, meyakinkan wanita itu bukanlah perkara mudah. Akankah cinta sang koki berakhir manis?
Sampul Novel Keputusan Takdir
8.5
Sallyana mengira cintanya akan berakhir indah, namun Veen justru memaksanya pergi hingga hatinya hancur. Saat ia mulai berhasil merelakan dan melupakan luka lama, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam status yang sangat berbeda. Akankah Sallyana jatuh hati lagi pada Veen setelah perpisahan pahit itu? Ataukah ia akan memilih pemuda lain yang hadir saat ia mencoba bangkit? Takdir memegang kunci atas akhir kisah pencarian kebahagiaan sejati ini.