Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TIGA RAHASIA

TIGA RAHASIA

Kehidupan rumah tangga seorang istri yang terlihat harmonis ternyata menyimpan tiga misteri kelam yang terselubung. Saat sang suami tanpa sengaja membongkar salah satu rahasia tersebut, pondasi pernikahan dan kestabilan keluarga mereka pun mulai hancur berantakan. Kini, wanita itu terjepit dalam situasi pelik yang memaksanya mengambil keputusan sulit demi menghadapi konsekuensi dari masa lalunya yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Diana duduk di sudut sebuah kafe kecil yang jauh dari pusat kota. Tempat ini sederhana, dengan meja kayu yang usang dan suasana yang sunyi. Jauh dari gemerlap kehidupan mewah yang biasa dia nikmati bersama Adrian dan anak-anak. Di sini, dia merasa aman-seolah-olah tidak ada yang mengenalnya atau memerhatikannya. Namun, hati Diana tidak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu di tempat ini yang memanggilnya kembali, sesuatu yang berakar di masa lalu yang selama ini ia coba lupakan.

Dia menatap jam di ponselnya. Sudah hampir pukul dua siang. Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka, dan seorang pria masuk. Evan. Penampilannya kasual, dengan jaket kulit hitam dan rambut yang sedikit berantakan. Matanya langsung tertuju pada Diana, dan senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. Senyuman yang selalu membuat Diana merasa campuran antara nyaman dan cemas.

Evan berjalan mendekat, meletakkan tas di kursi di depannya. "Sudah lama, Diana," ucapnya pelan, sembari menarik kursi dan duduk.

Diana berusaha menjaga ketenangannya, meskipun tangannya gemetar sedikit saat meraih cangkir kopi di hadapannya. "Kenapa kamu di sini?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.

Evan tersenyum tipis. "Aku bilang, kita perlu bicara."

Diana menatapnya dengan mata tajam, tidak terkesan dengan jawaban yang samar. "Kita sudah membicarakan semuanya bertahun-tahun lalu. Kenapa kamu kembali?"

Evan mengangkat bahunya, seolah semuanya bukan masalah besar. "Karena kita punya urusan yang belum selesai."

"Urusan?" Diana mengepalkan tangannya di bawah meja. "Tidak ada urusan lagi antara kita, Evan. Aku sudah punya hidupku sendiri sekarang, dan aku tidak ingin kamu mengusik itu."

Mata Evan berbinar dengan kilatan yang sulit ditafsirkan. "Ah, tapi kita tahu itu tidak sesederhana itu, bukan? Kita punya sejarah. Rahasia."

Kata itu rahasia terdengar begitu berat di udara. Diana berusaha tetap tenang, tapi Evan selalu tahu cara menekannya di titik yang tepat.

"Aku sudah menyelesaikan masa laluku. Kamu seharusnya juga begitu," jawab Diana, mencoba menutup pembicaraan.

Namun Evan mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya tajam menembus Diana. "Kamu mungkin sudah mencoba melupakannya, tapi aku tidak. Dan yang pasti, kamu tahu sebaik aku, rahasia itu tidak akan pernah bisa benar-benar hilang."

Ada jeda panjang di antara mereka. Suara mesin kopi dan obrolan pelan dari pengunjung kafe lain seolah tak terdengar di telinga Diana. Dia merasa terjebak dalam waktu, kembali ke masa bertahun-tahun yang lalu-ketika hubungan mereka tidak serumit ini. Ketika semuanya masih terasa penuh gairah dan kebebasan, jauh sebelum pernikahannya dengan Adrian.

"Kenapa sekarang?" Diana akhirnya bertanya, suaranya hampir berbisik. "Setelah bertahun-tahun, kenapa kamu muncul sekarang?"

Evan menyandarkan diri ke kursinya, mengangkat alisnya seolah berpikir. "Mungkin aku merindukanmu."

Diana mendengus. "Jangan bercanda."

"Baiklah," jawab Evan, kini lebih serius. "Mungkin karena aku butuh bantuanmu. Mungkin aku kehabisan opsi lain."

Diana terdiam. Ia tahu, hubungan mereka dulu memang penuh gairah, tetapi juga penuh dengan kebohongan. Rahasia mereka terlalu besar untuk diabaikan begitu saja. Dan jika Adrian pernah tahu, tidak hanya pernikahan mereka yang akan berantakan, tapi seluruh hidupnya akan hancur.

Evan mendekat lagi. "Kamu tahu apa yang terjadi, Diana. Kita terikat oleh itu. Aku tidak ingin mengungkapkan semuanya, tapi kamu tahu aku bisa. Dan aku tahu kamu tidak mau itu terjadi."

Diana merasa napasnya tercekat. Ancaman itu, meskipun terselubung, terasa nyata. Evan bukan tipe orang yang bermain-main, dan dia tahu seberapa jauh pria ini bisa bertindak.

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Diana akhirnya, suaranya terdengar lebih lemah dari yang dia harapkan.

Evan menghela napas, seolah menikmati momen ini. "Aku butuh bantuan keuangan. Jumlahnya tidak banyak, tapi aku yakin suamimu yang kaya bisa membantu tanpa merasakannya."

Diana terdiam, mengukur permintaannya. Bukan sekadar uang yang dia minta, tetapi juga pengkhianatan lain terhadap Adrian. Dan dia tahu, sekali dia menyerah pada tuntutan Evan, pria itu tidak akan berhenti.

"Aku tidak bisa," jawab Diana tegas, meski tangannya gemetar.

Evan tersenyum dingin. "Kamu bisa, Diana. Kamu hanya harus memutuskan seberapa besar kamu ingin melindungi rahasiamu. Dan rahasiaku."

Diana merasakan dunia di sekitarnya semakin mengecil, seolah dinding kafe ini bergerak lebih dekat, membuatnya sesak. Evan sudah memperingatkannya-ini bukan sekadar pertemuan biasa. Dia menuntut sesuatu darinya, dan jika Diana tidak hati-hati, kehidupannya yang sempurna bisa hancur dalam sekejap.

Diana memandang Evan sekali lagi, melihat kilatan licik di matanya. Dia tahu ini tidak akan berakhir di sini. Dan dia juga tahu, Evan akan terus mendatanginya hingga dia mendapatkan apa yang diinginkan.

"Berikan aku waktu," kata Diana akhirnya, mencoba menarik nafas dalam.

Evan mengangguk puas, lalu berdiri. "Kamu tahu di mana mencariku. Dan jangan terlalu lama, Diana. Rahasia kita tidak sabar menunggu."

Dia berbalik dan pergi, meninggalkan Diana sendirian di meja dengan pikiran yang berputar-putar. Evan telah kembali, dan dia membawa ancaman yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.

Diana tahu, dia tidak bisa lari dari ini lagi. Rahasia pertamanya sudah terancam terungkap-dan dia harus mencari cara untuk menghentikan kehancuran yang sedang mendekat.

Diana masih duduk di meja, punggungnya bersandar pada kursi kayu yang keras. Suara pintu kafe yang terbuka dan tertutup saat Evan pergi terasa jauh, seolah-olah ia berada di dunia yang berbeda. Tangannya gemetar saat meraih cangkir kopi yang sudah dingin, tapi dia tak benar-benar berniat meminumnya.

Matanya tertuju ke jendela, memperhatikan orang-orang yang berjalan dengan kehidupan mereka masing-masing. Di luar, semuanya tampak normal-kehidupan terus berjalan seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, badai besar sedang berkecamuk.

Dia harus membuat keputusan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarganya. Rahasia yang dia simpan selama bertahun-tahun kini di ambang kehancuran.

Suara dering telepon mengagetkannya. Dia cepat-cepat merogoh tasnya dan melihat nama Adrian muncul di layar. Tangannya masih gemetar saat dia mengangkat panggilan itu.

"Hallo?" suaranya terdengar lebih goyah daripada yang dia inginkan.

"Hai, sayang," suara Adrian terdengar hangat di ujung telepon. "Aku hanya ingin mengecek, apa semuanya baik-baik saja? Kamu belum mengirim pesan sejak aku pergi tadi pagi."

Diana memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. "Oh, ya, semuanya baik-baik saja. Aku hanya... sibuk."

"Sibuk apa?" tanya Adrian, terdengar sedikit curiga, tapi masih penuh kasih. "Kamu tidak biasanya terdengar setegang ini."

Diana mengumpulkan seluruh kekuatan untuk menjawab dengan nada yang tenang. "Aku hanya-aku keluar sebentar untuk mengambil udara segar. Mungkin cuma lelah."

Adrian terdiam sejenak di ujung telepon, lalu suaranya berubah lembut. "Kalau begitu, jangan terlalu memaksakan diri, ya? Kamu harus lebih banyak istirahat."

Diana tersenyum, meskipun Adrian tidak bisa melihatnya. "Aku akan coba, terima kasih. Kamu bagaimana di kantor?"

"Oh, ini hari yang cukup sibuk," jawab Adrian. "Tapi aku akan pulang lebih cepat nanti. Aku kangen sama kamu dan anak-anak."

Diana merasakan sakit di dadanya mendengar kata-kata itu. Adrian tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tidak tahu betapa dekatnya keluarganya dari kehancuran.

"Baiklah, aku akan menunggu," jawab Diana pelan.

Setelah panggilan itu berakhir, Diana meletakkan ponselnya di meja dan menunduk, menatap kosong ke cangkir kopinya. Hatinya berat dengan rasa bersalah. Evan adalah bagian dari masa lalunya, sebuah kesalahan besar yang seharusnya tidak pernah terjadi. Tapi sekarang, dia kembali ke kehidupannya, dan ancaman itu terasa lebih nyata daripada sebelumnya.

Tak lama, teleponnya bergetar lagi, kali ini sebuah pesan masuk. Tanpa melihat, Diana sudah tahu siapa pengirimnya.

Aku butuh jawabannya segera, Diana. Jangan terlalu lama. Kamu tahu aku tidak suka menunggu.

Pesan itu dari Evan, sebuah pengingat tajam bahwa dia tidak punya banyak waktu. Dia harus segera memutuskan apakah akan memenuhi tuntutannya atau membiarkan rahasia masa lalunya terungkap.

Diana menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang berantakan. Dia tidak bisa kembali ke rumah dengan kepala penuh kekacauan ini. Dia harus menemukan solusi-dan cepat.

Tiba-tiba, seseorang menyentuh bahunya, membuatnya terlonjak. Dia menoleh dan melihat seorang wanita berusia sekitar empat puluhan, dengan wajah ramah dan senyuman lembut. "Maaf, kamu kelihatan seperti sedang membutuhkan teman bicara. Apa kamu baik-baik saja?"

Diana terpana sejenak sebelum tersadar. "Oh, iya, maaf. Aku cuma... banyak pikiran."

Wanita itu duduk di kursi yang ditinggalkan Evan. "Kalau kamu butuh teman curhat, aku di sini. Kadang berbicara dengan orang asing bisa meringankan beban."

Diana tersenyum kecil, terkejut dengan tawaran itu. Tapi dia tidak bisa membicarakan rahasianya kepada siapa pun, terutama orang asing. "Terima kasih, tapi aku baik-baik saja. Hanya hari yang panjang."

Wanita itu mengangguk pengertian. "Aku mengerti. Tapi ingat, apapun yang kamu hadapi, kamu kuat. Kamu pasti bisa mengatasinya."

Kata-kata itu, meskipun sederhana, terasa menenangkan bagi Diana. Dia tidak tahu siapa wanita ini, tapi entah bagaimana, perkataannya membuat Diana merasa sedikit lebih kuat. Wanita itu bangkit dan meninggalkan Diana sendirian, meninggalkan rasa tenang yang aneh.

Diana menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia harus kuat, seperti yang wanita itu katakan. Rahasia pertama ini tidak bisa menghancurkannya.

Diana berdiri, mengambil tasnya, dan meninggalkan kafe. Dia tahu dia tidak bisa kabur selamanya, tapi untuk saat ini, dia akan pulang ke keluarganya dan berpura-pura semuanya baik-baik saja-setidaknya, sampai dia menemukan cara untuk mengendalikan situasi.

Namun, di dalam hatinya, dia tahu ini baru permulaan.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AZAB SUAMI YANG DZOLIM
9.7
Kalina adalah seorang pengusaha wanita yang sangat sukses. Ia membangun rumah tangga bersama Adit, pria yang hanya bekerja sebagai pegawai bank biasa. Namun, di balik pernikahan mereka, Adit ternyata hanya memanfaatkan kekayaan istrinya. Pengkhianatan itu semakin menyakitkan saat Kalina mengetahui bahwa suaminya telah menikah lagi secara diam-diam. Tidak tinggal diam, Kalina pun menyusun rencana elegan untuk membalas semua perbuatan dzolim suaminya.
Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin selalu dianggap sebagai itik buruk rupa yang diasingkan keluarga. Saat Paramita, saudari tirinya yang sempurna, hendak menikahi CEO Carlos, kejutan besar terjadi ketika Carlos justru memilih menikahi Evelin. Di tengah cemoohan publik, Evelin membongkar rahasia besarnya sebagai ahli keuangan, genius AI, hingga penyembuh ajaib. Saat para pembencinya bersujud memohon maaf, Carlos memamerkan kecantikan asli Evelin yang memukau dunia tanpa perlu persetujuan siapa pun.
Sampul Novel Head Over Heels
8.7
Miko hadir dalam kehidupan sebagai sosok rival yang paling dibenci, namun kehadirannya justru memicu badai emosi yang tak terduga. Hubungan benci tapi rindu ini perlahan mengobrak-abrik seluruh perasaan dan logika yang ada. Di balik persaingan sengit mereka, tersimpan getaran yang mengguncang hati secara mendalam. Kisah ini mengikuti perjalanan emosional yang rumit saat musuh bebuyutan berubah menjadi seseorang yang paling memengaruhi jiwa.
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Pasca penglihatannya pulih, Della terkejut mendapati Hurst Owen, adik kekasihnya, yang justru menjadi suaminya. Rahasia terbongkar saat ia mendengar Brady Owen lebih memilih Betty Kirk ketimbang dirinya yang buta demi dia. Meski Brady berjanji kembali dalam sebulan dan menganggap pernikahan adiknya palsu, Hurst mulai menyimpan rasa. Tanpa mengungkap kesembuhannya, Della justru membawa Hurst meresmikan ikatan mereka demi menjadi istri sejatinya.
Sampul Novel Pak Jihan Jangan Galau Lagi, Nona Wina Sudah Menikah
7.8
Lima tahun lamanya Wina Septa bertahan sebagai kekasih rahasia Jihan Lionel, berharap kelembutan sikapnya mampu meluluhkan hati pria miliarder tersebut. Namun, harapan itu pupus saat Jihan memutuskan untuk meninggalkannya. Tanpa keributan atau tuntutan materi, Wina memilih pergi secara baik-baik demi memulai lembaran baru. Kehidupan mereka yang tenang mendadak guncang saat Wina memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Jihan yang didera cemburu tiba-tiba kembali hadir, menahan Wina secara agresif dan menciumnya dengan penuh keputusasaan, meninggalkan Wina dalam kebingungan mendalam atas perasaan mantan kekasihnya itu.
Sampul Novel PENGANTIN KONTRAK
9.6
Pasca mengundurkan diri, Elmy justru terjerat hutang besar akibat menabrak mobil mewah milik Raffayel, CEO Baskara Group. Demi menghindari perjodohan keluarga, Raffayel menawarkan kesepakatan pernikahan kontrak selama lima bulan sebagai pelunasan. Namun, sandiwara ini terancam oleh obsesi Hannah, teman masa kecil sang CEO. Di tengah perbedaan status sosial dan tekanan luar, akankah komitmen profesional mereka berubah menjadi cinta sejati sebelum masa kontrak berakhir?