
TIGA RAHASIA
Bab 3
Malam itu, rumah terasa sunyi, jauh berbeda dari biasanya. Diana duduk di sofa, menonton acara televisi bersama anak-anak. Adrian duduk di kursi sebelahnya, tetapi Diana bisa merasakan ada ketegangan di antara mereka. Dia mencoba bersikap normal, meski di dalam hatinya, ada rasa khawatir yang tidak bisa ia kendalikan. Pikirannya terus melayang pada pertemuannya dengan Evan siang tadi, dan pesan terakhirnya yang terus terngiang-ngiang di kepala.
Adrian, yang biasanya ramah dan santai, tampak lebih pendiam dari biasanya. Sesekali, dia melirik ke arah Diana, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri. Diana bisa merasakan tatapan itu, dan hal itu membuatnya semakin gelisah. Dia tahu Adrian adalah pria cerdas, dan semakin lama dia menyembunyikan kebenaran, semakin jelas kecurigaannya akan tumbuh.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" suara Adrian akhirnya memecah kesunyian.
Diana menoleh cepat, berusaha mengendalikan ekspresinya. "Ya, aku baik-baik saja," jawabnya dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Kenapa tanya begitu?"
Adrian menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Entahlah, kamu terlihat... berbeda akhir-akhir ini. Seperti ada yang mengganggu pikiranmu."
Diana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang. "Aku hanya lelah. Banyak yang harus aku urus di rumah, kamu tahu itu."
Adrian tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk perlahan, tetapi Diana tahu ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Suasana di antara mereka semakin tegang, membuat Diana merasa semakin sulit bernapas.
Ella, yang duduk di sebelah Diana, menoleh dengan mata polos. "Mama, kenapa kamu kelihatan sedih?"
Diana tersenyum dan merapikan rambut putrinya. "Mama tidak sedih, sayang. Mungkin Mama cuma sedikit capek."
Ella tersenyum kecil, lalu kembali fokus pada acara TV. Tapi Adrian tidak berhenti menatap Diana. Dia bisa merasakan tatapan tajam suaminya yang seakan menembus semua lapisan perlindungan yang dia coba bangun.
Setelah acara televisi selesai, Adrian mematikan TV dan berkata, "Anak-anak, waktunya tidur."
"Ahh, masih mau nonton!" protes Liam, anak sulung mereka.
Adrian tersenyum tipis. "Besok kan sekolah. Kalian harus istirahat. Ayo, kita naik ke atas."
Anak-anak pun akhirnya menurut, meskipun dengan sedikit keluhan. Setelah memastikan mereka sudah naik ke kamar, Adrian kembali duduk di sebelah Diana. Ruang keluarga kini sepi, hanya terdengar detik jam dinding yang terasa memecah keheningan.
Adrian menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara, suaranya pelan tapi tegas. "Diana, aku serius. Kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pertanyaan itu mengguncang Diana lebih dari yang dia harapkan. Dia tahu momen ini akan datang, tapi tidak menyangka akan secepat ini. Hatinya berdebar kencang, otaknya berpacu mencari jawaban yang tepat.
"Tidak ada yang terjadi, Adrian," jawabnya dengan suara yang terdengar lebih defensif daripada yang ia inginkan.
Adrian menatapnya, tatapannya tajam tapi penuh kekhawatiran. "Aku tahu kamu, Diana. Aku sudah menikah denganmu bertahun-tahun, dan aku bisa merasakan ada yang berbeda. Kamu lebih banyak diam, terlihat cemas. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Diana merasakan tenggorokannya mengering. Dia tidak bisa membiarkan Adrian tahu tentang Evan. Itu akan menghancurkan segalanya. Pernikahan mereka, keluarganya, semuanya akan berantakan.
"Aku... aku hanya sedikit stres belakangan ini," jawab Diana akhirnya. "Mungkin karena urusan rumah tangga, atau mungkin aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Tidak ada yang serius."
Adrian memandangnya lebih lama, seolah-olah menilai kebenaran dari kata-katanya. Dia mendekat dan memegang tangan Diana dengan lembut. "Kalau kamu merasa stres atau ada masalah, kamu bisa bicarakan denganku. Aku suami kamu. Jangan simpan semuanya sendiri."
Diana tersenyum kecil, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa bersalah. "Aku tahu, Adrian. Maaf kalau aku membuatmu khawatir."
Adrian mencium keningnya, sebuah isyarat kasih sayang yang membuat Diana merasa semakin tertekan. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti pria yang begitu peduli padanya? Dia tahu Adrian pantas mendapatkan yang lebih baik. Pantas mendapatkan kebenaran.
Namun, sebelum dia bisa berbicara lebih jauh, ponsel Diana yang tergeletak di meja bergetar. Dia dan Adrian sama-sama menoleh ke arah sumber suara itu. Nama Evan muncul di layar.
Jantung Diana berhenti sesaat. Dia bisa merasakan Adrian menatap ponsel itu dengan tatapan bingung.
"Siapa Evan?" tanya Adrian, nada suaranya berubah, ada kecurigaan yang mulai tumbuh.
Diana merasakan dunia seakan berhenti. Dia harus berpikir cepat.
"Oh... dia-dia hanya teman lama," jawab Diana gugup. "Kita sempat bertemu lagi beberapa waktu lalu secara kebetulan."
Adrian mengangkat alis. "Teman lama? Kenapa aku tidak pernah mendengar namanya?"
Diana tersenyum kaku, berusaha terlihat tenang. "Karena tidak ada yang perlu diceritakan. Kami hanya bertemu sebentar. Tidak ada yang penting."
Adrian tidak langsung menjawab, tapi tatapannya tetap pada Diana, penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Dia meraih ponsel Diana dan menyerahkannya kembali dengan pelan.
"Kamu pasti tahu apa yang kamu lakukan," katanya, meski nadanya terdengar penuh peringatan. "Tapi jangan membuatku khawatir tanpa alasan."
Diana hanya bisa mengangguk, meskipun hatinya masih berdebar kencang. Dia tahu kebohongannya semakin sulit dipertahankan, dan Adrian semakin curiga. Ketidaknyamanan ini mulai menguasai rumah mereka, dan rahasia pertama Diana semakin sulit disembunyikan.
Setelah Adrian bangkit dan menuju kamar tidur, Diana menatap ponselnya. Pesan dari Evan belum dibuka, tapi dia bisa membayangkan isinya.
"Aku butuh jawaban sekarang, Diana. Atau aku yang akan bertindak."
Diana menghela napas berat. Suami yang mencintainya, pria dari masa lalunya, dan rahasia yang mulai menghancurkan segalanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, tapi satu hal pasti: waktu semakin sempit, dan pilihan yang dia buat akan menentukan nasib keluarganya.
Diana berdiri sejenak di ruang tamu yang sunyi setelah Adrian pergi ke kamar. Tangannya masih gemetar memegang ponsel. Pesan dari **Evan** belum dibuka, namun rasanya berat menanggung tekanan itu. Satu pesan, satu keputusan, bisa menghancurkan segala yang telah dia bangun selama ini.
Dia berjalan perlahan menuju dapur, menatap keluar jendela ke arah langit malam yang tampak tenang-kontras dengan apa yang sedang dia rasakan. Pikirannya terus berpacu, mencari cara untuk keluar dari situasi yang semakin rumit ini.
Tanpa sadar, tangannya membuka pesan dari Evan.
"Aku tidak punya banyak waktu, Diana. Kamu tahu apa yang harus dilakukan. Atau aku akan memastikan Adrian tahu semuanya."
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadanya. Bagaimana dia bisa menghadapi ini? Adrian adalah orang yang penuh kasih, pria yang selalu ada untuknya, sementara Evan adalah masa lalunya-sebuah kesalahan yang tak ingin dia ingat, apalagi ulangi.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang, membuat Diana tersentak. Adrian muncul di ambang pintu dapur, wajahnya serius.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Adrian, suaranya rendah namun penuh perhatian. "Aku pikir kamu akan ke kamar. Tapi kamu di sini sendirian."
Diana menoleh cepat, menyembunyikan ponselnya di saku. "Aku hanya butuh udara segar. Pikiran terlalu penuh."
Adrian mendekat, berdiri di sebelahnya. "Aku bisa merasakannya, Diana. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Dan aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli."
Diana menelan ludah, berusaha keras menenangkan diri. "Tidak ada yang aku sembunyikan. Aku hanya... lelah."
Tatapan Adrian tetap tajam, tidak mudah terpengaruh. "Kamu lupa, aku sudah bersama kamu selama lebih dari sepuluh tahun. Aku tahu setiap ekspresi di wajahmu, setiap perubahan dalam tingkah lakumu. Apa yang sebenarnya terjadi, Diana?"
Diana terdiam, hatinya diliputi kebingungan dan ketakutan. Rahasia pertama ini begitu besar. Jika terungkap, segalanya akan berantakan.
"Kamu bisa jujur padaku," lanjut Adrian, suaranya melunak. "Apa ini ada hubungannya dengan pesan dari Evan tadi? Siapa dia sebenarnya?"
Diana merasakan hawa dingin merayap ke tengkuknya. Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini saatnya untuk mengaku? Tapi jika dia melakukannya, bagaimana reaksi Adrian? Apakah dia bisa memaafkannya?
"Aku... aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, kebetulan," kata Diana akhirnya, meskipun kata-katanya terasa kosong. "Dia teman lama, Adrian. Tidak ada yang lebih dari itu."
Adrian mendekat, mengambil tangannya. "Teman lama yang kamu sembunyikan dariku? Aku bukan orang bodoh, Diana. Ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan."
Diana menatap mata Adrian, melihat campuran kecurigaan dan rasa sakit di dalamnya. Hatinya menjerit. Bagaimana bisa dia terus menyakiti pria ini? Namun, mengungkapkan semuanya berarti menghancurkan segala hal yang telah mereka bangun bersama.
Suara ponsel Diana kembali bergetar di saku, menambah tekanan dalam momen itu. Adrian melirik ke arah ponsel, lalu kembali ke wajah Diana, menunggu penjelasan.
"Kamu harus memilih, Diana," desak Adrian, suaranya lebih tenang tapi tegas. "Kamu bisa cerita sekarang, atau aku yang akan mencari tahu sendiri."
Diana menghela napas panjang, merasa terpojok. Dia tahu ini momen krusial. Rahasia yang selama ini dia jaga dengan hati-hati kini berada di ujung tanduk. Namun, jika dia terus berbohong, Adrian mungkin akan kehilangan kepercayaan padanya sepenuhnya.
"Aku...," Diana tergagap, air matanya hampir jatuh. "Adrian, aku minta maaf. Ada sesuatu yang belum aku ceritakan, tapi ini bukan seperti yang kamu pikirkan."
Adrian terdiam, menunggu dengan penuh kesabaran, meskipun jelas terlihat bahwa dia sudah berada di ambang kesabaran.
"Evan adalah bagian dari masa laluku, seseorang yang pernah sangat dekat denganku, sebelum kita menikah," Diana akhirnya mengaku, meskipun dengan sangat hati-hati. "Tapi sekarang dia kembali, dan aku tidak tahu bagaimana menghadapinya."
Wajah Adrian berubah, dari curiga menjadi lebih terkejut. "Dia mantan kekasihmu?"
Diana mengangguk pelan. "Iya, tapi itu sudah lama sekali, Adrian. Dia menghubungiku lagi tanpa aku duga, dan... aku takut mengatakannya padamu karena aku tidak ingin kamu berpikir bahwa ada sesuatu di antara kami lagi. Tidak ada."
Adrian terdiam sejenak, jelas sedang mencerna pengakuan itu. Dia kemudian menarik napas dalam-dalam, menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal?"
Diana menunduk, merasa tercekik oleh rasa bersalah. "Aku takut, Adrian. Aku takut kamu akan salah paham atau merasa terluka. Aku tidak ingin menghancurkan apa yang kita miliki."
Adrian berdiri dengan tenang, melepaskan genggamannya dari tangan Diana. Wajahnya penuh perasaan yang bercampur: terluka, bingung, dan kecewa.
"Aku tidak tahu harus berkata apa," katanya dengan suara pelan. "Tapi yang paling menyakitkan adalah kamu tidak mempercayai aku cukup untuk bisa berbagi semuanya."
Diana menatapnya, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku menyesal, Adrian. Aku sungguh menyesal. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti kamu."
Adrian hanya menggeleng, lalu berbalik menuju tangga. "Kita bicara lagi nanti, Diana. Aku butuh waktu untuk memikirkan ini."
Diana berdiri mematung, melihat suaminya berjalan menjauh, meninggalkannya sendirian di dapur yang sunyi. Ponselnya kembali bergetar, pesan dari Evan sekali lagi muncul di layar.
"Aku tidak bisa menunggu lagi, Diana. Ini keputusanmu. Hubungi aku besok, atau aku akan bertindak sendiri."
Diana menutup matanya, merasa semakin terjepit oleh rahasia yang selama ini dia sembunyikan. Rahasia pertama telah terungkap-tapi dua rahasia lainnya masih mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan segalanya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





