Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TIGA RAHASIA

TIGA RAHASIA

Kehidupan rumah tangga seorang istri yang terlihat harmonis ternyata menyimpan tiga misteri kelam yang terselubung. Saat sang suami tanpa sengaja membongkar salah satu rahasia tersebut, pondasi pernikahan dan kestabilan keluarga mereka pun mulai hancur berantakan. Kini, wanita itu terjepit dalam situasi pelik yang memaksanya mengambil keputusan sulit demi menghadapi konsekuensi dari masa lalunya yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
Bab
Bagikan

Bab 1

Diana menatap keluar dari jendela ruang tamu rumahnya yang megah. Cahaya matahari pagi menyinari halaman depan, memantulkan kilau di atas mobil SUV hitam Adrian yang berkilauan di garasi. Sebuah rumah dua lantai di pinggiran kota, dengan taman bunga yang selalu tertata rapi, kolam renang kecil di belakang, dan ruang tamu yang dipenuhi dengan perabotan mewah. Setiap sudut rumahnya tampak seperti gambar yang diambil langsung dari majalah desain interior. Sempurna.

Di dapur, aroma kopi segar bercampur dengan suara anak-anaknya, Liam dan Ella, yang tertawa ceria sambil menyelesaikan sarapan mereka. Diana tersenyum lembut melihat mereka, dua malaikat kecil yang melengkapi kehidupannya yang tampak tanpa cela.

Adrian, suaminya yang sukses, duduk di ujung meja, mengenakan jas rapi seperti biasanya. Seorang pria yang tidak hanya sukses dalam kariernya sebagai pengusaha properti tetapi juga selalu hadir di sisi keluarganya. Dia tersenyum hangat ketika Diana meletakkan secangkir kopi di depannya.

"Terima kasih, sayang," katanya sambil mencium keningnya ringan.

"Apakah ada sesuatu yang istimewa di kantor hari ini?" tanya Diana, berusaha menjaga percakapan tetap ringan, meskipun ada sesuatu yang jauh di dalam dirinya terasa berat, seperti beban yang sulit dijelaskan.

Adrian mengangguk, mengabaikan sedikit stres yang terlihat samar di wajahnya. "Hanya beberapa rapat biasa. Aku akan pulang agak terlambat malam ini."

Diana mengangguk, meskipun ia tahu bahwa kalimat itu, 'agak terlambat', sudah sering terdengar akhir-akhir ini. Setiap kali Adrian berkata begitu, Diana hanya tersenyum dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa semuanya... sempurna.

Namun, saat dia memandangi keluarganya, menyaksikan rutinitas pagi yang tenang, Diana merasakan sesuatu yang tidak bisa dia abaikan. Itu bukan sekadar kekosongan biasa. Ada sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tersembunyi, menekan di balik dinding keindahan ini. Sebuah bayangan yang bergerak perlahan, hampir tidak terlihat, tapi semakin hari semakin nyata.

Setelah Adrian dan anak-anak berangkat, Diana sendirian di rumah yang tiba-tiba terasa terlalu besar dan terlalu sunyi. Dia berjalan ke ruang tamu, merapikan bantal di sofa meski semuanya sudah terlihat rapi. Dia selalu menjaga rumah ini dalam keadaan sempurna, seperti dirinya, seperti keluarganya. Namun, dia tahu, bahwa tidak semua hal bisa dijaga dengan sempurna.

Diana menatap cermin besar di lorong, memperhatikan pantulan dirinya. Wajah yang cantik, kulit yang terawat dengan baik, rambut hitamnya tertata sempurna. Dari luar, dia adalah definisi ibu rumah tangga yang ideal. Tapi di balik mata yang selalu tampak tenang itu, ada kegelisahan. Ada rahasia yang dia sembunyikan.

Sudah lama dia memendam semua ini, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia menyimpan senyuman untuk Adrian, mencurahkan waktu untuk anak-anak, dan memastikan segala sesuatu berjalan dengan lancar. Namun, saat ini, ketika kesunyian mengambil alih rumah besar ini, pikirannya melayang kembali ke hal-hal yang ingin dia lupakan. Rahasia yang dia sembunyikan begitu dalam sehingga bahkan Adrian tidak pernah mencurigainya.

Diana berjalan ke dapur dan mengambil ponselnya. Ada satu pesan yang belum dibuka. Namanya terpampang di layar, membuat hatinya berdegup kencang. Nama yang sudah lama tidak dia lihat, tapi kini kembali mengusik pikirannya: **Evan**.

Tiba-tiba, semua rasa nyaman yang baru saja dirasakannya lenyap. Napasnya terasa lebih cepat, dan tangannya gemetar saat membuka pesan tersebut.

Aku akan datang ke kota minggu ini. Kita harus bicara.

Sebuah ketukan kecil di dadanya berubah menjadi palu besar yang menggedor dinding ketenangannya. Evan, seseorang dari masa lalunya yang seharusnya sudah terkubur, kembali lagi. Dan Diana tahu, jika dia tidak berhati-hati, rahasia pertamanya bisa terungkap. Rahasia yang bisa menghancurkan kehidupan yang dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.

Dia menghapus pesan itu dengan cepat, seperti ingin menghapus jejak keberadaannya. Tapi rasa takut tetap ada. Bukan hanya karena Evan, tetapi juga karena ada dua rahasia lain yang lebih dalam, lebih gelap, yang menunggu untuk muncul ke permukaan.

Kehidupan yang sempurna ini-rumah besar, suami yang sukses, anak-anak yang manis-semua itu hanya ilusi. Di balik setiap senyuman, di balik setiap gerakan tenang, ada tiga rahasia yang dia sembunyikan. Rahasia yang, jika terungkap, akan menghancurkan semuanya.

Diana memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan itu. Namun, dia tahu satu hal: kehidupan sempurnanya sedang berada di ujung tanduk, dan waktu untuk bersembunyi semakin singkat.

Diana berdiri diam di dapur, menatap layar ponselnya dengan hati yang berdegup kencang. Pesan dari Evan masih menghantui pikirannya, meskipun ia sudah menghapusnya. Pikirannya melayang ke masa lalu-ke kenangan yang telah lama berusaha ia kubur dalam-dalam.

Belum lama ia berusaha mengendalikan emosinya ketika suara pintu depan terbuka, diikuti oleh langkah kaki kecil. **Ella** masuk dengan tas sekolah yang hampir jatuh dari bahunya. "Mama!" teriaknya sambil berlari ke arah Diana.

Diana tersenyum, segera merendahkan diri dan memeluk putrinya dengan erat. "Sayang, kenapa pulang lebih awal?" tanyanya, mencoba terdengar normal.

"Papa jemput aku!" Ella melompat ke atas kursi, menjawab dengan ceria. "Dia bilang ada kejutan untuk kita."

Diana mengerutkan kening. Kejutan? Adrian tidak pernah bilang apa-apa pagi ini. Ia melirik ke arah pintu, dan dalam sekejap, Adrian masuk dengan senyuman lebar di wajahnya. "Aku punya sedikit waktu luang sebelum rapat sore, jadi kupikir, kenapa tidak pulang lebih awal dan habiskan waktu dengan keluarga?"

Diana tersenyum, meskipun hatinya bergejolak. "Oh, itu kejutan yang bagus," katanya, berusaha menyembunyikan kegelisahan di balik senyumnya.

Adrian berjalan mendekat, lalu menciumnya ringan di pipi. "Aku merasa kita jarang punya waktu seperti ini," ucapnya pelan. "Kita selalu sibuk dengan pekerjaan, anak-anak, dan rutinitas sehari-hari. Bagaimana kalau kita pergi makan siang di luar nanti?"

Diana mengangguk, meskipun pikirannya masih terganggu oleh pesan dari Evan. "Tentu, kedengarannya menyenangkan," katanya, meski jauh di dalam dirinya, ia merasa terperangkap.

Ella melompat-lompat di sekeliling meja, menyanyikan lagu yang ia pelajari di sekolah. Sementara Adrian berdiri di dekat Diana, dia merasakan kehadiran suaminya yang begitu hangat, begitu penuh kasih. Ini adalah momen yang harusnya sempurna-makan siang keluarga, Adrian pulang lebih awal, senyuman di wajah anak-anak mereka.

Namun, ada ketegangan yang Diana rasakan, seolah semua kebahagiaan ini rapuh dan bisa hancur dalam sekejap. Saat Adrian memeluk pinggangnya, bisikan lembut terdengar di telinganya.

"Kamu kelihatan sedikit aneh hari ini. Ada sesuatu yang terjadi?"

Diana terkejut, dan dengan cepat menutupi kegelisahannya. Dia tersenyum, meski terlalu cepat dan sedikit kaku. "Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin hanya lelah."

Adrian memandangnya sejenak, lalu mengangguk, meskipun Diana bisa melihat ada sedikit keraguan di matanya. "Kalau begitu, kita bisa santai saja hari ini. Jangan terlalu memaksakan diri, oke?"

Diana tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih tulus. Namun, di balik senyuman itu, pikirannya kembali ke pesan yang telah ia hapus. Pesan yang seharusnya tidak pernah muncul. Rahasia yang seharusnya tetap terkubur.

Setelah Adrian dan Ella sibuk di ruang tamu, Diana kembali mengambil ponselnya dan membuka galeri pesan. Tidak ada lagi tanda-tanda pesan dari Evan. Seolah-olah dia tak pernah menghubunginya. Namun, jantung Diana terus berdebar.

Adrian memanggilnya dari ruang tamu. "Diana, mau nonton film bersama anak-anak?"

Dia menoleh dan tersenyum, berusaha terlihat seolah semuanya normal. "Tentu, aku segera datang."

Ketika dia berjalan menuju ruang tamu, satu pikiran terus berputar di benaknya. Seberapa lama lagi dia bisa menyembunyikan semuanya? Seberapa lama lagi rahasia ini bisa disimpan sebelum segalanya hancur?

Dan seberapa besar Evan akan menghancurkan hidupnya jika dia tidak melakukan sesuatu?

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Cinta Romantis di IKN
9.1
Aiden, arsitek ambisius di proyek IKN, bertemu Clara, aktivis lingkungan yang gigih. Meski awalnya berselisih paham, kerja sama dalam pembangunan hijau justru menumbuhkan perasaan di antara mereka. Konflik prinsip sempat menguji hubungan ini, namun mereka belajar saling menghargai. Saat tawaran karier di luar kota dan luar negeri muncul, keduanya harus memilih. Akhirnya, mereka tetap di IKN demi cinta dan visi lingkungan, membangun masa depan bersama di ibu kota baru.
Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO MESUM
9.8
Jeff Sebastian, CEO ternama pendiri Tokopedio, jatuh hati pada Sarah melalui aplikasi kencan. Sarah mengaku sebagai lulusan Harvard sekaligus pemilik restoran sukses. Namun, Sarah tiba-tiba menghilang dan memutus kontak karena identitas aslinya hanyalah Viola, seorang supervisor marketing biasa. Viola merasa tak pantas bersanding dengan miliarder dan memilih bersembunyi. Ternyata, Jeff sudah mengetahui rahasia itu. Ia tetap mengejar Viola demi mendapatkan cintanya.
Sampul Novel Hati Tak Terucap: Istri yang Bisu dan Terabaikan
9.4
Lima tahun Kelly menderita sebagai istri bisu yang diabaikan suami dan disiksa mertuanya. Setelah resmi bercerai, ia mendapati mantan suaminya segera bertunangan dengan wanita idaman lain. Dalam kondisi hamil, Kelly memilih pergi dan menganggap pria itu asing. Saat sang mantan memohon untuk kembali, Kelly yang telah bahagia dengan hidup barunya memberikan penolakan keras. Ia tidak lagi memberi ruang bagi pria yang dulu membuangnya demi cinta yang lain.
Sampul Novel Ikhlasku dengan takdirku
9.7
Kisah ini mengikuti duka seorang wanita yang dikhianati kekasihnya di tengah impit kesulitan ekonomi dan tanggung jawab membesarkan anak. Melalui penyerahan diri kepada Allah, ia menemukan kedamaian. Di sisi lain, perjuangan seorang gadis meraih mimpi justru membawanya pada jodoh yang tak terduga. Kedua insan ini belajar tentang makna kesabaran serta keikhlasan yang religius, membuktikan bahwa ketulusan akan menuntun pada akhir yang indah setelah badai pengkhianatan.
Sampul Novel Istri Pelunas Hutang Mafia
8.0
Demi melunasi utang pamannya, Aurora terjebak dalam pernikahan paksa dengan mafia kejam, Lucian Moretti. Tak disangka, Lucian ternyata sudah lama mencintainya secara rahasia. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, rahasia masa lalu muncul mengguncang hubungan mereka. Di tengah ancaman musuh yang mengintai, Aurora justru menyembunyikan penyakit mematikan yang mengancam nyawanya. Kini Lucian harus berjuang melawan maut demi menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan
9.7
Dua tahun berlalu sejak putus, Cica yang kini berusia dua puluh tahun harus menghadapi kenyataan pahit bertemu kembali dengan Soleh, mantan kekasihnya saat SMA. Pertemuan mereka jauh dari kata romantis karena Cica terperosok ke selokan berlumpur akibat asyik bermain ponsel. Alih-alih langsung menolong, Soleh justru menggoda Cica dengan gombalan receh yang memancing emosi. Tak terima, Cica menarik Soleh hingga mereka berdua sama-sama kotor oleh lumpur busuk itu.