
There's Love In KKN
Bab 3
Setelah bertemu dengan kepala desa dan juga staff dan disetujui, akhirnya rombongan mahasiswa pun keluar dari balai desa Kunir.
"Semua sudah disetujui, kita tinggal survey posko yang ada di sekitar desa Kunir ini. Tapi, Pak Sobri malah gak berangkat hari ini, jadi gak bisa sekarang deh sepertinya," dengan kening yang berkerut, Ataka merasa cemas. Disaat seperti ini, justru Pak Sobri malah tidak ada. Bagaimana bisa melakukan survey jika pemandunya tidak ada? Ia juga bingung ingin memberikan solusi seperti apa kepada anggotanya.
"Waduh, lalu bagaimana jadinya, Ka?" Tanya Ali. Teman-teman yang lain pun juga ikut panik karena mendengar kabar yang masih tidak pasti itu dari Pak Sobri.
"Mending kita makan dulu deh, laper, tahu," celetuk Kriz mencairkan suasana supaya tidak terlalu tegang.
"Iya, yuk, cari-cari di sekitar sini ada restaurant enak atau gak," Saran Heny. Bukan hanya Kriz ternyata yang merasa lapar, melainkan anggota yang lain juga sama, mengingat ini sudah pukul 12.30.
"Bentar lah, mending kita rembuk dulu ini kapan kita akan bisa bertemu Pak Sobri," saran Ataka pada anggotanya.
"Tadi udah minta nomor ponsel Pak Sobri belum?" Dito memastikan, siapa tahu Ataka lupa untuk menanyakannya ketika di dalam balai desa tadi.
"Udah, sih. Ini juga lagi dichat," sahut Ataka sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Karena penasaran, Andre pun melihat ke arah layar ponsel Ataka.
"Yaudah kita tungguin dulu di parkiran sini, siapa tahu nanti Pak Sobri kesini," sahut Nur.
"Tapi kalau gak kesini juga ya berarti harus kita menentukan hari lagi untuk bertemu beliau," Saran Sindi.
Sedangkan di dekat tangga pintu masuk, Ilham sedari tadi duduk berdua dengan Eya dan mengajaknya mengobrol. Awalnya menanyakan tenyang KKN, namun pembicaraan itu semakin mengarah ke memberi perhatian lebih. Eya hanya menanggapi seperlunya saja.
"Oh iya, nanti pulangnya kamu naik apa, Eya? Kuantar sampai rumah mau?" Ilham ingin mendekati Eya secara langsung dengan mulai memberikan perhatian pada Eya. Eya tersenyum manis, kemudian menjawab,
"Ah gak usah, Ham. Nanti malah ngerepotin kamu," Eya merasa tidak enak dengan Ilham.
"Gak kok, gak papa. Supaya sekalian bisa tahu rumahmu," seketika satu pikiran terlintas di pikiran Eya. Ya, tentang Tiwik yang hari ini menebeng Ilham.
"Lha nanti Tiwik gimana kalau gak boncengan sama kamu, Ham?"
"Santai, nanti aku akan bicara padanya,"
"Yaudah deh."
Nur mendengar suara orang sedang memukul tembok dengan palu dan seperti orang merenovasi rumah, sebenarnya bukan rumah namun memang seperti kost-kostan yang memang sengaja dibangun. Karena jiwa penasaran Nur ini sangat tinggi, akhirnya Ia menepuk lengan Eya.
PUK!
"Eya?" Yang ditepuk terkejut sembari menoleh ke arah Nur.
"Ya? Kenapa, Nur?"
"Kau tahu, sepertinya rumah belakang balai desa ini sedang direnovasi deh. Terlihat dari pasir bangunan dan banyak material yang masih berserakan disana. Aku juga mendengar orang sedang memukul tembol dengan palu. Yok coba kesana, siapa tahu harganya murah kan bisa dibuat posko," Saran Nur.
"Weh iya juga ya. Yuk coba kesana dulu," Ajak Eya. Sontak Nur langsung menarik pergelangan tangan Eya dan berlari menuju rumah itu. Dilihatnya di sana ada 3 tukang dan satu orang penjaga seperti mandor yang mengatur tukang dalam pembangunan kost tersebut. Sebenarnya kost tersebut sudah jadi, hanya saja temboknya ada sebagian yang belum dicet dengan warna yang sesuai, masih flamiran warna putih saja.
Eya dan Nur melihat-lihat setiap ruang kamar kost yang bagian bawah. Ada sekitar 3 kamar, di depan kost itu juga sudah ada spanduk bertuliskan kost untuk putra-putri/keluarga. Sangat cocok jika digunakan sebagai posko KKN bukan? Karena sudah sangat penasaran, Nur memutuskan untuk bertanya kepada salah satu pak tukang karena si mandor sedang sibuk mengurus data-data seseorang yang berbicara padanya di ruangan khusus tamu.
"Pak mau nanya, boleh kita lihat-lihat ke dalam? Kita butuh kost ini semisal jadi untuk posko KKN," Nur mencoba bertanya pada salah satu tukang disana.
"Oh itu, kalau mau lihat mending di ruang sebelah, kamar nomor dua ini, atau yang pojok dekat tangga sana. Itu sudah jadi semua, kalau kamar nomor satu ini belum jadi,"
"Ndon, coba kau bukakan pintu untuk kamar nomor dua," Perintah salah satu tukang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Dan akhirnya dibuka juga kamar nomor dua itu.
"Pak, disini ukurannya sama semua kan per kamar?" Tanya Eya coba-coba.
"Iya, sama semua. Ada kamar mandi dalam juga,"
"Fasilitasnya kira-kira apa aja ya pak?"Tanya Eya lagi.
"Kalau kamar mungkin hanya lemari gede, kasur, kamar mandi dalam, udah itu doang. Kalau luar kamar ya hanya dapur itu,"
"Berarti, semua peralatan harus bawa sendiri dari rumah ya, Pak,"
"Iya, oh iya kalau kamu pengen lihat di kamar atas udah ada kasur dan lemarinya juga. Tapi kuncinya masih dibawa Pak mandor kalau kamar atas. Minta ke Pak mandor coba,"
"Baiklah, Pak." Baru saja ingin meminta Pak mandor kunci, eh suara menggelegar dari Nur yang tiba-tiba memanggilnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk meminta kunci kamar atas pada mandor.
"Eyaaa!" Eya pun langsung menghampiri Nur yang berada di kamar nomor 2.
"Ada apa sih, Nur?"
"Lumayan kali ya kalau disini. Kamu udah tanya harganya?"
"Belum sempet, tadi baru mau cek kamar atas malah kau memanggilku, ya gak jadi."
"Hehe, ya maaf."
"Yaudah biar aku yang nanya." Nur menghampiri pak tukang tadi.
"Pak, kalau ngekost disini, sekamar berapa ya kira-kira?" Tanya Nur.
"Kalau kata pak mandor sih sekitar 600rb perbulan Tapi kalau kalian pesan beberapa kakar ya gak tahu, mungkin bisa diberi harga murah. Toh kalian disini KKN kan,"
"Iya, Pak. Yaudah, Pak, besok atau kapan gitu kita akan kesini lagi, ini mau ngomong dulu sama anak-anak mahasiswa lainnya.Terima kasih ya, Pak. Permisi," kata Nur mewakili.
"Ya, gak papa. Kalau butuh apa-apa tentang kostan tanya aja langsung ke pak mandor ya. Ini orangnya sedang kedatangan tamu, biasanya beliau yang mengurus siapa saja yang amu mendaftar kost di sini,"
Eya dan Nur mengangguk patuh dan pergi meninggalkan kostan itu menuju parkiran balaidesa lagi untuk bertemu teman lainnya.
"Eh kalian berdua dari mana sih? Kami udah laper juga, ni kata Krizea mau ke Miago dekat sini," kata Dito.
"Serius? Miago baru itu kan?" Tanya Eya.
"Iya lah, yang mana lagi coba?" Tanya balik Kriz.
"Wah, aku belum pernah coba, katanya sih enak," sahut Eya.
"Yaudah kita ke sana aja sambil membahas tentang proker," putus Ataka.
"Yuk lest go!!" Krizea segera mengambil kunci motor dan menaikinya.
"Eya, jadi sama aku kan?" Tawar Ilham.
"Ya jadi dong, tapi Tiwik gimana?"
"Tadi aku udah bilang kok, katanya gakpapa, dia bonceng Fira aja."
"Oh, baiklah."
_
Mereka sudah sampai di miago dan memesan mie ayam goreng dengan berbagai macam varian. Setelah memesan dan memakan makanan dengan hikmat, mereka melanjutkan untuk membagi kelompok dalam pengerjaan proker.
"Untuk proker pendidikan nih, ngelesin, siapa yang mau jadi seksinya? Dibutuhkan 2 orang," Tanya Ataka.
"Mending Eya aja noh, yang prodi pendidikan bahasa Indonesia."
"Ok deh, sama siapa?" Tanya Eya.
"Sama aku aja," Ilham mengangakat tangan kanannya.
"Yaudah, berarti sie pendidikan Eya dan Ilham ya. Jangan lupa setiap sudah diadakan proker les langsung kalian tulis laporannya, berkasnya kirim ke sekretaris, yaitu Dian. Siap kan Yan?" Tanya Ataka. Dian yang masih makan pun hanya mengangguk.
"Siap dong pak ketu."
Pembahasan terus berlanjut hingga mereka menyebutkan bahwa di RT 6 harus ada proker ngaji.
"Eh bentar, tadi aku dengar dari staff kepala desa, ada yang bilang kalau RT 6 selalu mengadakan yang namanya pengajian sehabis maghrib. Ini maksudnya gimana ya?" Tanya Dito.
"Kalau sedengerku sih, yang dimaksud pengajian itu proker kita yang harus ada seperti ngelesi, tapi ngaji gitu," Jelas Ali.
"Ngajar ngaji maksudmu?" Tanya Eya.
"Iya, sekiranya sih begitu," Balas Ali.
"Yaudah kalau gitu, tentukan aja sekalian. Siapa yang mau jadi seksi ngajar mengaji?" Tanya Ataka.
"Kamu aja dengan Eya, cocok loh ngajar ngaji," Celetuk Ayu.
"Heh, aku gak-" Belum sempat Ataka melanjutkan kalimatnya, sudah disela oleh Tiwik.
"Udahlah, aku sering kok ngelihat Ataka ngaji di masjid kampus pas jam salat dzuhur. Ataka aja sama Eya." Tiwik menimpali.
"Cie cieeee, emang cocok sih mereka berdua ngajar ngaji, dari muka-mukanya sih pada alim yakan." Ucap Nur, dan mereka semua terbahak-bahak.
"Sikat aja sih, Ka."
"Gak usah kompor kamu, Dit," Tatapan tajam pun dilayangkan Ataka kepada Dito.
"Aku sih gak masalah ya," Eya tersenyum dan menyetujuinya.
"Wah, langsung dijawab nih, ahhahah," kata Andre. Diantara mereka yang tidak tertawa hanya Ilham. Ia seperti cemburu dengan kedekatan Ataka dan Eya.
.
'Aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu ketika KKN dimulai, Eya. Kujamin itu.' Ucap Ilham dalam hati.
.
~Bersambung~
Anda Mungkin Juga Suka





