
The Witcher of Mallacht
Bab 3
Shanley kembali dengan perasaan marah dan juga takut, melihat hutan Nirthina yang gelap membuatnya tidak bisa tenang. Shanley merasa bersalah terhadap para penduduk Nirthina karena tidak bisa kembali dengan membawa permata Damanta dan mayat Delleraz.
Shanley benar-benar baru kali ini berhadapan langsung dengan seorang penyihir bernama Le Delleraz, dan ia sangat terkejut karena ternyata Delleraz memang sehebat itu. Bukan hanya sihir, namun Delleraz juga pandai bertarung, hal itu membuat Shanley merasa kalah telak.
Ternyata kabar angin tentang kehebatan Le Delleraz bukanlah isapan jempol semata, Shanley bahkan bisa merasakan kuat dan hitamnya energi di dalam tubuh Delleraz.
Gadis peri berambut putih itu melangkahkan kakinya cepat menuju ke arah goa di mana tempat ibunya berendam. Shanley berdiri di pinggir danau yang berada di sana dengan rasa resah dan penasaran yang ia rasakan.
Belum sempat ia memanggil ibunya, sosok wanita berambut panjang dan mata yang tajam sudah muncul kepermukaan. Luciana menatap sang putri yang terlihat berantakan seperti baru saja bertarung.
"Ada apa Shanley?" tanya Luciana tanpa keluar dari dalam air.
Sudah hampir seratus hari ia berendam di dalam air danau yang ia yakini begitu suci dan bisa menambah energi ke dalam tubuhnya.
Shanley menggigit bibir bawahnya pelan, dia merasa takut akan kemarahan ibunya. Namun Shanley tidak bisa berbohong karena cepat atau lambat Luciana pasti akan langsung mengetahui tentang hilangnya permata Damanta dari Nirthina.
"Permata Damanta berhasil dicuri," ucap Shanley membuat mata Luciana terbelalak.
"Apa maksudmu Shanley?! Katakan dengan benar!" suara Luciana terdengar meninggi membuat Shanley segera duduk bersimpuh di atas tanah.
"Permata Damanta dicuri oleh seorang penyihir bernama Le Delleraz, ibu. Sekarang ini, jika ibu keluar dari goa, maka ibu akan melihat hutan Nirthina yang gelap dan mati."
"Bagaimana bisa itu terjadi?! Bukankah permata itu dijaga dengan ketat? Bagaimana bisa seorang penyihir mencuri permata Damanta?!"
Luciana benar-benar terlihat murka, amarahnya semakin membesar saat mendengar pencuri itu adalah seorang penyihir.
"Penjagaan memang ketat, tapi penyihir itu sangat lihai. Aku sudah mencoba untuk mengejarnya, aku bahkan sempat bertarung dengannya tapi-"
"Dia berhasil mengalahkanmu?!" potong Luciana membuat Shanley segera menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan begitu ibu, tapi dia kabur. Penyihir itu cepat dan gesit, ini memang salahku karena tidak bisa menghentikannya."
Shanley menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap wajah ibunya.
"Ini semua memang salahmu! Kau ingin membiarkan para penduduk Nirthina yang merupakan rakyatmu hidup sengsara? Kau ingin membuat para peri kehilangan sebagian energi?"
"Tidak ibu, aku berjanji akan mengambil permata itu kembali. Akan ku pastikan penyirih itu mati di tanganku."
Luciana melayangkan tatapan tajam kepada Shanley.
"Itu harus! Kau harus bisa mengambil permata itu, aku akan segera menyelesaikan pertapaan ini secepatnya. Siapa sebenarnya penyihir bernama Le Delleraz itu? Baru kali ini aku mendengar namanya."
"Aku juga tidak tahu siapa dia, yang aku tahu dia adalah seorang penyihir yang tiba-tiba saja muncul dan membuat kekacauan. Sudah tiga bulan lebih, dia bahkan pernah menyerang perkampungan manusia yang masih menjadi wilayah Raja Godwin. Le Delleraz juga mampu mengutuk selir Raja Godwin, dan kekacauan terakhir yang ia buat, dia mencuri permata kita, permata Damanta."
Luciana mengernyit mendengar cerita Shanley, dia benar-benar tidak pernah mengenal seorang penyihir bernama Le Delleraz, dia bahkan tidak pernah mendengar namanya. Selain itu, Luciana merasa sangat terkejut karena mendengar bahwa masih ada penyihir sehebat itu saat ini.
"Dia pasti memiliki tujuan tertentu, penyihir itu tidak akan melakukan sesuatu tanpa adanya tujuan."
"Ibu, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan," ucap Shanley sembari mengangkat pelan kepalanya.
"Apakah ibu benar-benar tidak mengenalnya?"
"Aku bahkan tidak pernah mendengar namanya, ada apa?"
Shanley tertegun untuk sejenak sebelum kembali membuka suara.
"Secara tidak langsung, dia mengatakan bahwa ibu adalah pencuri saat aku sedang bertarung dengannya. Apa yang sudah ibu curi darinya?"
🦋🦋🦋
Orla mendarat tepat di tengah-tengah hutan Sheridan, bersamaan dengan itu, sayap Orla langsung menghilang dari tubuhnya. Delleraz melompat turun, ia tersenyum menatap Orla kemudian mengelus lembut kepalanya.
"Terima kasih karena sudah datang tepat waktu, tunggulah di sini," ucapnya kepada Orla yang memang mengerti dengan perkataannya.
Delleraz segera melangkahkan kakinya menyusuri hutan Sheridan yang tampak begitu gersang, semua pohon yang berada di sana mati, tidak ada tumbuhan hijau yang terlihat. Tanah yang dipijak oleh Delleraz bahkan tampak retak dan berwarna hitam.
Hutan itu selalu terlihat gelap walaupun di siang hari, entah mengapa cahaya tidak bisa menembusnya. Delleraz menaiki gunung yang berada di hutan itu dengan mudahnya, ia terus melompat dan berlari hingga menemukan sebuah rumah kayu dua tingkat yang berukuran cukup besar.
Burung gagak mulai berbunyi nyaring melihat kedatangannya, bisa Delleraz lihat adanya kabut hitam yang menyelimuti rumah itu, hanya para penyihir sakti dan orang-orang berilmu tinggi yang bisa melihatnya. Kabut itu berfungsi untuk menyembunyikan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, lebih tepatnya tempat dia bersembunyi dari dunia.
Delleraz merapalkan mantra yang dapat membuatnya menembus kabut hitam itu, pintu utama rumah tersebut seketika terbuka lebar seolah mempersilahkannya untuk segera masuk.
Delleraz buru-buru masuk ke dalam membuat pintu langsung kembali tertutup rapat, namun Delleraz sama sekali tidak merasa terkejut. Ia mengedarkan pandangannya, di ruang utama tidak terlihat siapapun. Delleraz segera membawa langkah kakinya menyusuri lorong yang cukup panjang hingga ia sampai di depan sebuah pintu, sihir yang melindungi pintu itu tentunya lebih kuat dari pada sihir yang digunakan untuk melindungi rumahnya.
Belum sempat membacakan mantra untuk membukanya, pintu tersebut sudah terbuka secara perlahan menimbulkan bunyi yang khas.
Kini terlihat tangga yang memanjang ke bawah, tangga itu akan membawanya ke ruang bawah tanah. Tanpa ragu, Delleraz menuruni undakan tangga satu persatu karena ia tahu bahwa ia sudah ditunggu saat ini.
"Kau berhasil, Delleraz?" suara seorang pria yang begitu ia kenali langsung terdengar.
"Tuan tahu aku akan berhasil."
"Aku senang mendengarnya, Delleraz. Kau memang dapat di andalkan, aku tahu mencuri permata Damanta dari para peri bukanlah hal yang mudah. Tapi kau bisa melakukannya," Rusalka terlihat begitu senang menyambut kedatangan Delleraz yang membawa keberhasilan.
Delleraz tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia memang selalu terlihat dingin bahkan di hadapan teman-temannya sekalipun. Namun gadis berambut ikal bernama Rusalka itu tentunya mengerti dan sangat paham dengan sikapnya, karena mereka sudah bersahabat sedari kecil, mereka selalu bersama-sama walaupun dengan sifat yang sangat berbeda.
"Perlihatkan permata Damanta kepada kami semua, Delleraz" perintah Jordan, pria yang dipanggil dengan sebutan 'Tuan' oleh Delleraz dan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.
Delleraz segera mendekat membuat mereka semua kini berdiri mengeliling meja bundar yang di atasnya terdapat sebuah wadah. Di dalam wadah itu terdapat air yang mengeluarkan cahaya berwarna kehijauan serta abu hitam yang begitu pekat.
Tanpa mengatakan apapun, Delleraz merogoh permata Damanta yang ia bungkus dengan kain hitam. Terlihat cahaya berwarna hijau yang memancar bahkan sebelum kain itu di buka.
Bibir Delleraz sedikit berkedut melihat raut wajah Shawn, Nolan, Sardes dan juga Rusalka yang terlihat menegang saat dirinya mulai membuka kain tersebut.
Kini permata Damanta yang begitu berharga bisa mereka lihat secara nyata, mereka semua tentunya mengagumi permata tersebut. Bukan karena bentuknya, tetapi karena energi yang berada di dalamnya. Para penyihir itu bisa merasakan kuatnya energi yang dimiliki oleh permata Damanta.
"Para peri itu pasti akan memburumu, Delleraz. Permata yang kau curi ini memiliki energi yang sangat kuat," ucap Sardes dengan mata yang tidak lepas dari permata Damanta yang masih dipegang oleh Delleraz.
"Karena energinya lah kita mengincar permata ini, Delleraz tidak akan diperintahkan mencuri permata biasa," sahut Nolan membuat Delleraz tersenyum kecil.
"Tuan bisa memegangnya," Delleraz menadahkan tangannya di depan wajah Jordan, dapat ia lihat mata Jordan yang tampaknya berbinar.
Jordan segera mengambil alih permata tersebut dari tangan Delleraz.
"Permainan kita baru saja dimulai, permata ini adalah langkah awal," Jordan meletakkan permata Damanta ke dalam wadah sehingga cahayanya langsung tertahan di dalam sana.
"Ku kira permainan kita sudah dimulai sejak kita menyerang Mallacht," ucap Rusalka membuat Shawn menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Rusalka. Itu bukan permulaan, tapi itu adalah peringatan agar mereka berhati-hati."
"Delleraz, kau ingin ke mana?" tanya Sardes melihat Delleraz melangkah menjauh.
"Aku akan ke kamarku untuk beristirahat, aku mengantuk. Penyihir juga perlu tidur," jawab Delleraz tanpa menoleh sama sekali.
Rusalka menghembuskan nafasnya panjang kemudian kembali menatap permata Damanta.
"Delleraz tidak pernah berubah."
Delleraz keluar dari ruang bawah tanah kemudian menaiki undakan tangga. Di lantai dua rumah itu terdapat kamar Delleraz, Rusalka, dan juga Sardes, serta beberapa ruangan yang dibiarkan kosong.
Gadis itu masuk ke dalam kamarnya, di dalam sana hanya terdapat satu buah ranjang berukuran sedang yang berada tepat di samping jendela kaca. Ada juga lemari kayu serta meja dan kursi yang di atasnya terdapat banyak sekali tumpukan buku.
Delleraz melepas jubahnya lalu menggantungnya. Ia duduk di tepi ranjang, matanya menatap ke arah luar jendela, hanya ada kabut tebal dan beberapa burung gagak yang ia lihat. Burung-burung itu terus bergerak mengitari rumah, mereka adalah penjaga yang akan memberitahu kepada mereka jika ada seorang penyusup yang mendekat atau bahkan menyelinap.
Gadis itu menurunkan sedikit bajunya, memperlihatkan bahunya yang mulus. Tangannya bergerak meraba dada kirinya, di sana terdapat bekas luka membuatnya tersenyum miris.
Anda Mungkin Juga Suka





