Sampul Novel The Witcher of Mallacht

The Witcher of Mallacht

9.1 / 10.0
Dalam The Witcher of Mallacht, Le Delleraz menjadi buruan setelah menebar kutukan misterius. Di tengah genre fantasy romance ini, ia harus melarikan diri dari pemburu Laccuan Holt yang terobsesi memilikinya. Baca fiction fantasy novels ini untuk mengikuti aksi pelarian penuh rahasia.
Ringkasan The Witcher of Mallacht
Le Delleraz adalah penyihir misterius yang mengacaukan dunia dengan kutukan dan api. Setelah mencuri sesuatu yang sangat berharga, ia kini menjadi buruan banyak pihak. Di tengah pelariannya, ia terus dikejar oleh Laccuan Holt, seorang pemburu yang pantang menyerah. Meski Le Delleraz bertekad tak akan terhentikan, Laccuan memiliki ambisi berbeda. Ia mengejarnya bukan demi keadilan, melainkan untuk memiliki sang penyihir sepenuhnya di mana pun ia bersembunyi.
Baca Selengkapnya

The Witcher of Mallacht Bab 1

Semilir angin malam menerpa rambut panjang seorang gadis yang saat ini tengah berjalan di tengah kegelapan, matanya yang bulat dan terlihat tajam kini menatap lurus ke arah depan.

Dia segera memasang tudung yang tersambung pada jubahnya agar wajahnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Gadis itu memperhatikan sebuah gerbang yang berada cukup jauh di depan sana.

Terlihat puluhan pria bertelinga runcing dengan tombak dan panah tengah berjaga di depan pintu gerbang Nirthina, tempat yang menjadi hunian para peri. Mereka tinggal di Nirthina, mempunyai aturan dan hukum mereka sendiri.

Sudut bibir gadis bernama Le Delleraz itu sedikit tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman yang teramat tipis.

Delleraz mendongakkan kepalanya untuk menatap rembulan yang terlihat memancarkan cahayanya hingga kulit putih pucat Delleraz kini menjadi bersinar diterpanya.

"Ini waktunya," gumam Delleraz kemudian melangkahkan kakinya keluar dari gelapnya hutan.

Delleraz berjalan dengan tenang, menyusuri hamparan rumput hijau yang terasa basah. Kakinya terus melangkah membuatnya semakin mendekat pada gerbang Nirthina.

"Berhenti di sana!" terdengar suara lantang dari salah satu prajurit membuat Delleraz menghentikan langkah kakinya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Sudah malam, tidak ada yang boleh bertamu ke Nirthina di malam hari. Kecuali jika kau sudah memiliki janji dengan Ratu Shanley!"

Delleraz menatap semua prajurit yang kini berdiri beberapa meter di hadapannya, para prajurit peri itu terlihat begitu waspada dengan senjata di tangan mereka.

"Aku tidak memiliki janji," ucap Delleraz dengan suara yang terdengar begitu lembut tetapi tegas secara bersamaan.

"Kalau begitu pergilah dari sini," usir prajurit-prajurit itu membuat bibir Delleraz sedikit berkedut mendengarnya.

"Aku akan pergi setelah mendapatkan apa yang ku inginkan."

Para prajurit itu saling menatap satu sama lain ketika Delleraz melangkah sedikit mundur sembari menurunkan tudung yang menutupi kepalanya. Kini mereka semua bisa melihat mata berwarna coklat gelap milik Delleraz dan wajahnya yang bisa dikatakan sempurna.

"Siapa kau? Pergilah dari sini!" tanya mereka merasa penasaran.

"Kalian pasti mengetahui namaku, apa......ini pertama kalinya kalian melihat wajahku?" Delleaz tersenyum tipis kemudian merentangkan kedua tangannya.

Tiba-tiba saja sebuah cahaya berwarna kemerahan muncul dari kedua telapak tangannya membuat para peri itu begitu terkejut melihatnya.

"Dia penyihir itu!"

"Dia Le Delleraz! Jangan biarkan dia masuk ke dalam Nirthina, dia pasti ingin melakukan kejahatan!"

Prajurit-prajurit itu langsung melemparkan tombak mereka ke arah Delleraz, puluhan anak panah juga mulai dilepaskan. Delleraz hanya diam dan tetap berdiri di tempatnya sebelum ia melepaskan cahaya yang berada di tangannya.

Kraak.

Kraak.

Puluhan anak panah dan tombak itu mengambang di udara kemudian patah begitu saja ketika cahaya yang Delleraz lepaskan menyelimutinya. Peri-peri itu terbelalak kaget, mereka menatap Delleraz dengan penuh kewaspadaan.

Tanpa mengatakan apapun, Delleraz langsung melompat ke udara dan berputar di sana. Ia mengambil serbuk berwarna hitam dari dalam tas kulit yang ia kenakan, serbuk itu berubah menjadi asap ketika terkena oleh angin. Asap itu langsung membuat para peri penjaga terbatuk-batuk ketika menghirupnya.

"Arghh! Apa ini?"

"Jangan sampai dia berhasil masuk!"

"Di mana penyihir itu? Aku tidak melihat apapun!"

Suara panik dari para peri itu terdengar selama beberapa saat karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas di mana keberadaan Delleraz, asap itu benar-benar berhasil menutupi pandangan mereka hingga pada akhirnya mereka semua ambruk ke tanah dan kehilangan kesadaran.

Delleraz kembali menginjakkan kakinya di atas tanah, ia menatap datar puluhan peri penjaga yang sudah tidak sadarkan diri.

"Kalian akan bangun dalam kegelapan besok pagi," gumam Delleraz lalu berlajan menuju ke depan pintu gerbang, ia mencoba untuk membukanya, tetapi tidak bisa karena sihir peri yang melindunginya.

Delleraz mengambil nafasnya dalam-dalam, dia sudah mempelajari banyak hal. Delleraz tidak akan berani ke Nithina jika tidak dengan persiapan yang matang. Delleraz menggenggam akar yang menjuntai di depan pintu gerbang itu sembari merapalkan sesuatu dengan begitu cepat.

Hanya dalam waktu sekejap, pintu gerbang itu terbuka lebar untuknya. Tidak ingin membuang kesempatan, Delleraz segera masuk. Keindahan hutan Nithina langsung terlihat di depan matanya, di setiap pepohonan terdapat rumah untuk para penduduk Nirthina.

Di sana tampak begitu bercahaya dan juga hijau, menunjukkan kesuburan tanahnya. Hal itu membuat siapapun yang memandangnya akan merasa damai dan tenang. Delleraz membawa langkah kakinya melewati rumah demi rumah penduduk Nirthina, tidak ada siapapun yang melihatnya.

Semua peri telah terlelap di dalam rumahnya masing-masing, Delleraz tahu bahwa pada larut malam seperti sekarang ini tidak akan ada lagi peri yang berada di luar rumah. Mungkin itu adalah peraturan dari sang ratu, atau memang sebuah kebiasaan yang membuat hutan Nirthina begitu senyap ketika malam hari.

Delleraz segera bersembunyi di balik salah satu pohon saat ia sudah sampai di tengah-tengah hutan Nirthina. Di sana terdapat satu pohon berukuran begitu besar yang dijaga oleh puluhan prajurit di sekitarnya.

Di batang pohon itu terdapat sesuatu yang begitu berharga dan dibutuhkan oleh para peri.

"Permata Damanta," gumam Delleraz dengan mata yang berbinar melihat betapa indahnya permata itu.

Delleraz menatap para prajurit yang terus berlalu lalang di depan pohon itu, dia tidak akan bisa menyelinap dan mengambil permata Damanta begitu saja karena permata itu dijaga dengan ketat selama 24 jam.

Bagaimana tidak? Permata Damanta sudah seperti kehidupan dan nyawa bagi para peri, permata itu memberikan kesuburan dan cahaya di dalam hutan Nithina. Permata Damanta juga memberi energi serta kekuatan untuk mereka. Para peri bahkan menjulukinya sebagai permata kehidupan, dan Delleeaz akan mengambil kehidupan itu dari mereka.

Delleraz segera mengeluarkan serbuk hitam yang masih tersisa dari dalam tasnya, ia menggenggam serbuk itu erat-erat sebelum keluar dari tempat persembunyiannya.

Para prajurit tersentak kaget melihat kedatangannya.

"Berhenti di situ!"

Delleraz tidak menghiraukannya, gadis itu malah berlari membuat para prajurit peri langsung memanahinya. Delleraz segera melemparkan serbuk yang ia genggam ke arah prajurit itu kemudian berguling untuk menghindar dari puluhan anak panah yang sudah sempat mereka lepaskan.

"Arghh! Uhuk uhuk," mereka semua terdengar batuk dan tentunya merasa sesak nafas.

"Satu."

"Dua."

"Tiga."

Tepat dihitungan ketiga, para penjaga itu ambruk begitu saja membuat Delleraz buru-buru melompat tinggi agar bisa mengambil permata Damanta.

Delleraz mulai memasang sarung tangan berwarna hitam agar kulitnya tidak langsung bersentuhan dengan permata Damanta, ia tersenyum saat melihat permata yang begitu berharga itu kini berada tepat di depan matanya.

Delleraz menatap permata itu lekat-lekat sebelum mengambilnya dari batang pohon membuat cahaya di hutan Nirthina langsung redup seketika, bahkan tumbuhan yang tadinya terlihat hijau langsung berubah layu dan menghitam seperti habis terbakar.

"Ada apa ini?!"

"Permatanya!"

Suara keributan mulai terdengar membuat Delleraz segera memasukkan permata Damanta ke dalam tas kulit yang ia selempangkan di balik jubah setelah membungkusnya dengan selembar kain berwarna hitam.

"Ada pencuri!" teriak para prajurit peri yang kini berdatangan dari segera arah, hal itu membuat Delleraz terkurung di tengah-tengah mereka.

"Dia penyihir itu!"

Delleraz berdiri dan menatap mereka semua dengan waspada.

"Tangkap dia!"

Puluhan anak panah dan tombak dilepaskan ke arahnya, dapat Delleraz lihat para penduduk Nirthina yang keluar dari rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi saat ini.

"Sial," Delleraz mengumpat pelan karena tidak menyangka bahwa hutan Nirthina akan langsung kehilangan cahaya ketika ia mencabut permata Damanta dari batang pohonnya sehingga kini ia langsung ketahuan dan dikepung oleh para prajurit peri.

Delleraz langsung mengeluarkan pedang yang selalu ia bawa, dengan cepat ia menangkis setiap anak panah yang melesat ke arahnya. Delleraz melompat dan mengarahkan sihirnya untuk menghalau para prajurit peri agar tidak bisa menyerangnya dengan pedang mereka yang begitu panjang dan tentunya tajam.

Tiba-tiba saja sosok gadis dengan tubuh yang memancarkan cahaya datang dan langsung melepaskan anak panah ke arahnya. Mata Delleraz melebar melihatnya, ia segera menghindar dan menangkis dengan pedang andalannya hingga anak panah itu terbelah menjadi dua.

"Jangan biarkan penyihir itu membawa permataku!"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi The Witcher of Mallacht

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Sayang Om
8.1
Noelia, siswi SD berusia delapan tahun, tumbuh tanpa orang tua dan hanya diasuh oleh Tante Novi. Kesehariannya yang sepi berubah sejak kehadiran pasangan pengantin baru, Wisnu dan Santi, sebagai tetangga. Kehangatan Wisnu memberikan Noe kasih sayang figur ayah yang selama ini ia dambakan. Seiring berjalannya waktu, kedekatan yang terjalin selama bertahun-tahun menumbuhkan benih cinta di hati Noe, hingga akhirnya ia berani menyatakan perasaan sayangnya pada Wisnu.
Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Rizal, seorang duda yang berprofesi sebagai operator data di sekolah swasta, mendambakan sosok istri yang tulus menerima dirinya beserta kedua buah hatinya. Saat ini, ia tengah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita yang usianya empat tahun lebih tua. Namun, perjalanan asmara mereka tidaklah mudah karena berbagai rintangan besar terus menghadang. Akankah Rizal mampu mempertahankan komitmennya dan memperjuangkan cinta sejatinya hingga akhir?
Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Sang Primadona
9.6
Setiap malam, Lucy menyamar sebagai Rose, primadona klub malam yang menggoda namun tetap menjaga kesuciannya meski ditawar mahal. Reputasinya menarik perhatian Rookie, seorang playboy yang terobsesi menaklukkan wanita yang belum pernah menolaknya itu. Namun, pertemuan mereka justru mengungkap rahasia masa lalu yang rumit. Kini, keduanya terjebak antara pilihan untuk merajut kembali cinta lama yang tertunda atau merelakan perasaan demi menjalani hidup masing-masing.
Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan
8.9
Dewi menemukan bukti perselingkuhan suaminya melalui tumpukan bon belanja barang wanita dan tiket bioskop yang mencurigakan. Meski ia berusaha berbicara dengan suara lirih, amarah besar terlihat jelas saat ia mengonfrontasi pengkhianatan yang terulang kembali. Dewi menegaskan bahwa batas kesabarannya telah habis; ia tidak akan memberi kesempatan kedua setelah peringatannya diabaikan. Hubungan pernikahan mereka kini berada di ambang kehancuran total.
Sampul Novel Kisah tak Terduga: Back to You
8.3
Tujuh tahun berlalu, Samuel masih berjuang menghapus kenangan Nindy yang telah pergi selamanya. Kehadiran Elvira Maharani membawa angin segar yang perlahan menyembuhkan luka hatinya. Namun, di balik sosok Elvira yang tampak lugu dan polos, tersimpan rangkaian misteri serta rahasia besar yang bahkan tidak disadari oleh gadis itu sendiri. Akankah cinta baru ini mengungkap kebenaran yang terkubur atau justru menghadirkan teka-teki yang jauh lebih rumit?
Sampul Novel Tunangan Ganda
9.5
Mia, aktris yang terjerat utang, terpaksa menyamar sebagai pewaris kaya bernama Lara demi menikahi jutawan dingin, Hector. Rencana singkat ini berubah menjadi jebakan berbahaya saat hari berganti bulan. Di tengah ancaman pemerasan dan pengkhianatan, Mia harus menghadapi Hector yang mulai curiga namun juga terpikat oleh jati diri aslinya. Kini, ia terjepit antara melarikan diri dari kebohongan besar ini atau bertahan menghadapi kebenaran yang mengancam nyawanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan