
The Villain's Captive
Bab 2
Bajingan brengsek itu benar-benar menyebalkan. Mulutnya perlu di hajar karena terlalu suka berbohong. Dan lihatlah Ayuma, sama seperti tiga tahun lalu, dia dengan mudahnya terpengaruh oleh ucapan lelaki brengsek yang selalu memakai topeng manusia suci itu.
“Ayu, aku rasa kita perlu menyudahi drama ini dengan cepat. Kita harus segera pergi,” ujarku mencoba untuk tidak memperdulikan omong kosong pria gagal yang mengaku sebagai suami dari gadisku itu, aku akan segera melepas topeng suaminya.
Dia mendengus lalu mematikan telponnya. “Keluar, aku akan segera berganti pakaian, setelah itu aku akan mengikuti kemanapun yang kau mau!”
Wow…, apa saja yang sudah dibicarakan oleh pria brengsek itu padanya, hingga Ayuma yang tadinya selalu bersiap untuk membunuhku kini terlihat mengalah? Tapi baiklah, aku akan mengikuti rencananya.
Setelah beberapa saat Ayu akhirnya keluar, rambut panjang hitamnya yang tadi tertutup oleh aksesoris telah tergerai dengan indah, kulitnya bersinar di bawah cahaya rembulan yang menyinari candi Prambanan. Aku terpesona, tergila-gila padanya seperti Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang, tapi kisahku dengan Ayuma akan aku pastikan tidak berakhir tragis seperti mereka.
“Apa yang kau lakukan?” bentak Ayuma begitu aku memasangkan jaketku di bahunya.
“Membuatmu tetap hangat, atau kau ingin aku membuatmu hangat malam ini?”
“Kau benar-benar bajingan, Rollan!” desisnya lalu melepaskan jaket pemberianku ke tanah. “Jaga sopan santunmu dan jangan lupa, aku masih istri orang Rollan.”
“Istri orang?” aku tersenyum menyeringai. “Kau akan segera bercerai darinya.”
Plak!!!
“Ouch….”
“Hari ini aku menamparmu, besok aku akan membunumu,” ujarnya dingin dan langsung melangkah pergi meninggalkanku sendiri.
Aku menyukainya. Aku menyukai sikap kasar darinya dan tingkahnya membuaku sangat bergairah, penisku terasa berdenyut-denyut aku ingin membenamkan diriku didalamnya secepatnya. Tapi aku harus bersabar, cepat atau lambat dia akan jadi milikku seutuhnya dan saat itu, dia yang akan memohon padaku.
“Kau salah arah,” ujarku sambil menarik tangannya kearah parkiran mobilku.
Dia mendengus. “Tunjukkan saja jalannya! Sudah aku bilangkan, jangan coba-coba menyentuhku!”
“Baiklah sayang, sekarang ikuti aku dan jangan coba-coba melarikan diri kecuali kau ingin aku menggendongmu hingga ke mobil.”
Dia menggerutu, tapi dia dengan cepat mengerti posisinya apalai saat itu beberapa orang bodyguardku telah berdatangan bersama Ridwan Bahri asistenku, mereka sepertinya mencariku karena aku sudah terlalu lama berada di sekitar candi padahal sendratari telah lama selesai.
“Selamat malam pak,” ujar Ridwan dan langsung tersenyum tipis pada Ayuma. “Pesawatnya telah lama siap, kita akan langsung berangkat.”
“Berangkat? Berangkat kemana?” tanya Ayuma, dia tampak kaget dan tidak mau meninggalkan kota Yogyakarta tempat suaminya berada.
“Ada urusan pekerjaan yang harus aku lakukan, kita akan pergi ke Kalimantan dan Riau.”
“Kita? Maksudmu kau ingin aku mengikutimu kemanapun kau pergi?”
“Ya.”
“Aku tidak mau! Aku bukan istri yang harus mengikutimu kemanapun Rollan.”
“Apa kau lebih suka menjadi tahananku Ayu? Tinggal dirumahku tanpa melakukan apapun. Kalau kau ingin melakukannya, dengan senang hati aku akan mengantarmu untuk pulang kerumahku.”
“Rumahmu yang di Jakarta?”
“Tidak sayang, kau akan mudah kabur jika aku meninggalkanmu seorang diri di Jakarta, tidak perduli ada banyak pengawal yang akan menjaga rumahku, kau pasti bisa mencari celah untuk melarikan diri.”
“Lalu, di mana? Aku akan tinggal di manapun, asalkan tempat itu tidak ada kau. Kau membuatku tidak bisa bernafas.”
Aku mengangkat alisku, gadis ini benar-benar berani. Dia bahkan tidak perduli jika saat ini dia tengah menghinaku di depan semua stafku, tapi gilanya semakin dia bertingkah buruk padaku, aku semakin bernafsu, penisku semakin menegang. Dia benar, aku harus segera menjauhkan dia dariku, setidaknya untuk saat ini.
“Baiklah kalau begitu maumu.”
“Jadi, kita akan berangkat ke Jakarta?”
“Pulau Amparo sayang, aku punya villa kecil. Tempat itu sangat cocok jadi penjara untukmu!”
“Pulau Amparo?” tanyanya dengan terkejut. “Aku tidak pernah mendengar nama pulau itu!”
Dia langsung mengambil handphonenya dan tampak sibuk beberapa saat tapi semakin lama dia melihat hanphonenya raut wajahnya tampak semakin kusut, frustasi dan penuh amarah yang aku suka.
“Tempat itu tidak berpenghuni!”
“Satu-satunya penghuni pulau itu adalah aku, Rollan Keenan Shah.”
“Kau gila! Tempat itu terisolasi dari dunia luar Rollan, nelayan bahkan hanya datang untuk berisirahat dan jarak ke pulau terdekat puluhan kilometer dan….”
“Dan kau ingin menjadi tahananku, Ayu. Pulau itu cocok untukmu, tidak ada sinyal, tetangga dan tentunya barang ini tidak berguna!” ujarku langsung merebut handphone di tangannya.
Dia menelan ludah, mungkin setelah membaca tentang pulau Amparo dia menyadari sesuatu yang cukup berbahaya bagi posisinya.
“Kau tenang saja, hanya peralatan modern yang tidak berpungsi di sana, tapi aku tidak akan membuatmu benar-benar sendirian. Stafku juga akan berangkat menemanimu, mereka akan memasak, memetik kelapa dan mencari ikan untukmu dan….” Aku menyentuh kulit lengannya yang sangat halus, dia bergidik dan langsung menghindar dariku.
Aku tertawa melihat tingkahnya. “Kulitmu kuning langsatmu akan menjadi kecoklatan, kau bisa berjemur di pantai setiap hari, aku akan membelikanmu ratusan bikini yang bisa kau pakai sesukamu dan aku tentunya akan berada di sana, menemanimu untuk bulan madu kita.”
“Hehh,” dia tertawa mengejek. “Aku tidak akan pernah menunjukkan kulitku lebih banyak padamu.”
“Kau mau kemana, sayang?”
“Bukankah kau berkata ingin pergi ke Kalimantan dan Riau, bukan? Atau kau masih ingin menunggu di Prambanan, menjadi batu seperti Roro Jonggrang?”
“Kau tidak mau menjadi tahananku?” tanyaku menggodanya.
Gadis itu langsung menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal dan segera meninggalkanku dengan diikuti oleh bodyguardku, meninggalkanku hanya berduaan dengan Ridwan, orang kepercayaanku.
“Kau yakin akan membawanya, pak? Dia bisa berbaya untukmu.”
“Hidupku sudah berbahaya Ridwan. Banyak orang yang mengincarku,”
“Termasuk suami dan keluarga perempuan itu. Keluarga Wijaya tidak akan mungkin membiarkan anak perempuan mereka menjadi jaminan untuk membayar hutang.”
“Aku sudah tidak perduli lagi Ridwan, tiga tahun lalu mereka berhasil memisahkan aku dari gadisku dengan paksa jadi sekarang aku akan merebutnya kembali padaku secara paksa. Aku juga ingin tahu apa yang keluarga Wijaya lakukan saat mereka tahu putri kesayanganya menjadi alat jaminan hutang.”
“Mereka akan menggila, bakan mungkin memaksa pemerintah untuk ikut campur mengintervensi perusahaanmu dan….”
“Semua bobrok keluarga Shah akan di bongkar ke media?”
Ridwan mengangguk. “Bahkan scenario terburuknya adalah, kau akan masuk ke penjara.”
“Kalau begitu, kita harus melakukan persiapan untuk mengantisipasinya. Siapkan semua yang sudah kita rencanakan, Ridwan.”
“Semuanya sudah siap, pak. Kami hanya menunggu perintahmu untuk mengungkap semuanya.”
“Belum saatnya, kau masih harus melakukan satu hal lagi.”
“Apa itu?”
“Bastian Aryasatya, temukan semua hal tentang pangeran itu jangan sampai ada yang terlewatkan. Baik itu hutang, skandal, penyakit bahkan kalau perlu kau harus mendapatkan DNA darinya di tubuh pelacur yang pernah dia tiduri. Aku ingin tahu semuanya.”
“Baik pak.”
“Bagus, karena sekarang sudah saatnya cerita berubah. Kali ini, villain yang akan memenangkan ceritanya dan hero akan mati tanpa bisa melawan sama sekali.”
Aku tertawa terbahak-bahak, sudah saatnya cerita ini menjadi lebih menarik, bukan?
Anda Mungkin Juga Suka





