
The Villain's Captive
Bab 3
Pesawat jenis Airbus ACJ19 milik Rollan akhirnya terbang meninggalkan langit Jawa menuju Kalimantan. Sekarang sudah jam 11 malam, tubuhku terasa gerah, aku belum mandi sejak tadi, mengantuk juga lelah tapi otakku masih sangat waras, tidak sudi untuk mandi, ataupun tidur jika lelaki sialan ini ada di sampingku. Aku harus menahan semuanya demi menjaga diriku sendiri.
“Sayang, kau tidak ingin tidur?”
“Berhenti memanggilku seperti itu,” aku menjawab dengan ketus.
“Baiklah, kau ingin aku memanggilmu apa, nona?” tanyanya dengan tersenyum ramah yang kelihatan sangat dibuat-buat dan itu benar-benar mengerikan.
Aku langsung berpaling, enggan melihatnya. Karena dia benar-benar membuatku muak.
Tapi lelaki itu tidak menyerah.
Rollan bangun dari duduknya dan langsung mencengkram daguku supaya aku bisa melihatnya dengan jelas termasuk bekas lukanya yang sama sekali tidak ingin aku lihat.
“Kenapa kau selalu menghindar saat menatap lukaku, sayang. Kau sama sepertiku, bukan? Tidak melupakan tentang luka ini,” ujarnya sambil meraih tanganku dan memaksa agar jari-jariku menyentuh wajah sebelah kirinya.
Tanganku langsung bergetar dan dengan refleks aku langsung menghentakkan tanganku dan mengalihkan pandanganku tapi karena dia masih mencengkam daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya.
“Kau tadi masih bisa melihatku dengan tatapan yang ingin membunuh, sekarang kenapa berbeda?”
“Bukan urusanmu, Rollan,” ujarku ketus.
“Tentu ini urusanku, sayang. Kau adalah milikku dan salah satu peraturan dariku yang harus kau ikuti adalah kau tidak memiliki satu rahasiapun di belakangku.”
“Peraturan tidak masuk akalmu membuktikan kegilaanmu, bukan?”
“Terserah, tapi selama kau bersamaku, kau harus melakukan apa yang aku minta dan jangan sampai aku mencari tahu sendiri rahasiamu. Jika tidak….”
“Jika tidak kau mau apa?” aku menantang.
Rollan hanya tersenyum. “Kau tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan. Jadi, apa yang kau bicarakan dengan suami tersayang?”
“Menyingkirlah dari hadapanku Rollan!”
Baiklah, aku akan pergi dari hadapanmu tapi sebelumnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan.”
“Apa itu?”
“Apa kau sudah memberi tahu ayah tersayang kalau kau bersamaku?” tanyanya. “Aku ingin tahu apa reaksinya.”
Cukup sudah, kesabaranku sudah benar-benar habis karena lelaki ini. Tanpa peringatan, aku langsung kakinya.
“Ouch….” Rollan berteriak kesakitan.
Dua orang bodyguard dan asistennya langsung serentak menoleh kearah kami begitu mendengar teriakan darinya, melihat bos mereka tengah terpincang-pincang karena tendangan dariku, asistennya langsung mendatangi kami.
“Apa yang kau lakukan huh?” bentak asistennya sambil menarik tanganku dengan kasar dan membuatku hampir terjerembab.
Saat aku hampir terjatuh Rollan dengan cepat menarik tubuhku ke dalam pelukannya, hangat pelukannya entah kenapa langsung membuat jantungku berdegup kencang.
“Jangan kasar Ridwan, dia akan segera jadi nyonyamu. Kau harus belajar menghormatinya.”
Amit-amit!
Aku langsung menyingkir, menjauh darinya.
***
Aku benar-benar-benar lupa sudah berapa jam aku tertidur karena tidak ada yang membangunkanku. Di luar matahari sudah bersinar dengan sangat terang, tapi suasana di villa ini benar-benar sepi, seperti tidak ada orang sama sekali padahal semalam ada beberapa pembantu yang bekerja di sini.
Tok… tok… tok…
Pintu kamarku di ketok dari luar.
“Siapa?”
“Saya, Sari, bu.”
Oh, pembantu yang semalam.
“Apa saya boleh masuk?” tanyanya lagi.
“Tunggu sebentar,” aku berjalan menuju pintu tapi begitu aku akan membuka pintu, aku baru sadar jika pintu kamarku terkunci dari luar.
“Sialan!” umpatku. Sepertinya karena semalam aku benar-benar kelelahan karena perjalanan jauh, aku langsung tertidur begitu sampai hingga aku lupa mengunci pintu dari dalam. Beruntung kecerobohanku tidak dimanfaatkan oleh lelaki sialan itu, dia hanya mengunci kamar dari luar.
“Bu, apa saya boleh masuk?” tanyanya lagi dengan suara yang mendesak.
“Silahkan masuk kalau kau punya kuncinya,” ujarku dengan jengkel, kesal pada kecerobohan diri sendiri.
Cklek.
Pintu sudah langsung terbuka dari luar. Sari, pembantu yang lebih terlihat lebih tua beberapa tahun dariku muncul dengan membawa trolley yang penuh berisi makanan. Mulai dari roti goreng, nasi goreng, kue-kue jajanan pasar seperti dadar gulung, tahu isi, risol hingga berbagai macam buah-buahan, jus detok, kopi, teh melati dan juga air putih,
“Makanan sebanyak ini apa untukku semua?” tanyaku sambil berjalan menuju sofa yang ada di kamar ini.
“Iya, bu. Pak Rollan yang meminta menyiapkan semua makanan ini untuk ibu Ayuma. Tapi kami minta maaf, karena tidak tahu makanan kesukaan ibu, jadi chef menyiapkan semua ini untuk ibu.”
“Aku tidak bisa memakan semuanya,” ujarku sambil mengambil sepotong roti goreng, begitu roti lembut berisi selai srikaya itu masuk ke dalam mulutku, semua rasa lapar yang sudah kutahan-tahan sejak semalam langsung menghilang. “Dimana Rollan?”
“Pak Rollan pergi mengunjungi kebun sawitnya,” jawab Sari. “Ibu mau kopi, teh, jus atau air putih?”
“Air putih dan kopi.”
Sari dengan sigap langsung menuang air putih yang ada di dalam teko ke dalam gelas dan menyerahkannya padaku.
“Kalau boleh tahu erapa lama perjalanan dari kebun sawit itu ke sini?” tanyaku.
“Hmm, sekitar satu jam perjalanan, bu.”
“Apa ada mobil yang tidak terpakai di sini?”
Sari mengernyit, dia menatapku dengan tatapan yang penuh curiga, sepertinya dia tahu kalau aku tengah merencakanan sesuatu.
“Kau tenang saja, aku tidak mungkin pergi tanpa izin dari Rollan. Lagi pula, aku tidak bisa menyetir,” ujarku berbohong. ”Aku butuh charger untuk handhponeku, batre handphoneku tinggal 10 persen lagi.”
“Tenang saja bu, charger dan semua kebutuhan ibu Ayuma sudah di siapkan, silahkan buka lemari dan laci,” ujarnya sambil tersenyum. “Ibu akan menemukan pakaian, perhiasan, skincare, make up charger dan lainnya.”
Aku langsung bangun dari dudukku berjalan menuju lemari satu-satunya di ruangan ini. Begitu pintu lemari terbuka aku langsung terbelalak melihat puluhan pakaian mahal berada di lemari itu. Belum selesai keterkejutanku melihat lemari pakaianku, aku beralih ke lemari yang lebih kecil, begitu pintu terbuka ada banyak perhiasan yang tersusun dengan rapi di tempat ini.
Aku menelan ludah, bukan karena aku tidak pernah melihat hal-hal seperti ini. Aku terlahir sebagai putri dari Rahmat Wijaya dan selama dua puluh enam tahun hidupku, keluarga ayahku selalu menyediakan semua kebutuhanku, apapun yang aku mau sampai akhirnya semuanya berubah.
“Bu… bu Ayuma…”
Aku langsung tersentak dari lamunanku dan menoleh kearah Sari.
“Ada apa?”
“Maaf bu, kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya harus keluar dan kembali bekerja.”
“Pintu, tolong jangan di kunci.”
“Maaf bu, perinta dari tuan Rollan tidak bisa dibantah. Saya tidak berani melanggarnya,” ujar Sari sambil tersenyum sopan yang menyebalkan di mataku. “Saya permisi, tapi saya akan datang lagi kalau sudah waktunya makan siang dan cemilan.”
Begitu Sari keluar dan kembali mengunciku, aku langsung lari menuju nakas yang ada di samping tempat tidurku. Ayah, aku harus menelponnya, aku harus memberi tahunya apa yang terjadi padaku saat ini.
Anda Mungkin Juga Suka





