Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Tears I Shed

The Tears I Shed

Orlando Atmanegara, polisi berpengalaman, harus menjaga Candramaya Daniswara, mantan istri pengusaha yang dikenal berperilaku buruk. Setelah nyaris dibunuh dan menderita amnesia, kepribadian Maya berubah drastis menjadi bak malaikat. Perubahan ini membuat Orlando bingung sekaligus membuat mantan suaminya, Nayaka Bratadikara, jatuh cinta kembali. Maya kini bertekad menjaga martabatnya di atas harta, meski masa lalunya terus menghantui di tengah ancaman bahaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Saya sudah menghubungi suami Anda yaitu Bapak Nayaka Bratadikara. Tetapi beliau mengatakan bahwa dia sudah tidak ingin mendengar kabar apapun lagi dari Anda karena beliau sudah mendaftarkan gugatan perceraian terhadap Anda sebulan yang lalu.

Saya juga sudah menghubungi kedua orang tua Anda, Bapak Candra Daniswara dan ibu Kartika Daniswara. Tetapi mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak mau bertanggung jawab lagi terhadap semua tindakan ehm maaf tidak bermoral Anda selama ini. Jadi saya harap Anda mengerti kalau Anda merasa heran kenapa hanya Anda satu-satunya pasien di rumah sakit ini yang tidak pernah di kunjungi oleh keluarga mau pun kerabat. Saya minta maaf, saya tidak bisa berbuat banyak untuk Anda." Orlando berusaha merangkai kalimat sehalus mungkin untuk Maya. Tetapi tetap saja rasanya terdengar cukup menyakitkan saat tidak ada seorang pun yang ingin menjenguknya alih-alih membawanya pulang.

"Te—terima kasih karena Anda sudah bersusah payah untuk berusaha menghubungi orang-orang terdekat yang masih memiliki hubungan dengan diri saya. Tidak apa-apa kalau mereka semua tidak menginginkan saya. Kita kan tidak bisa memaksa orang untuk mencintai atau membenci kita bukan? Hanya saja saya merasa bingung mengapa mereka semua menolak saya. Apakah sebelumnya saya begitu jahat sehingga tidak termaafkan oleh mereka semua Pak AKBP?"

Maya merasa begitu merana saat orang-orang terdekatnya menolaknya sampai sebegitu rupa. Sebenarnya apa sih salahnya? Sayang sekali pada saat ini dia tidak bisa mengingat apa-apa, sehingga dia tidak tahu sebesar apa kesalahan yang pernah ia perbuat dulu.

Tetes demi tetes air matanya mulai menganak sungai. Sesungguhnya Maya begitu ketakutan dalam menghadapi masa depannya. Kehilangan ingatannya saja sudah membuatnya begitu merana, ini ditambah lagi orang-orang terdekatnya pun menolak kehadirannya. Maya begitu gamang dalam menghadapi hari-hari berikutnya tanpa siapapun yang bersedia membantunya.

Maya melihat sang AKBP sepertinya akan segera pergi dan kembali meninggalkannya dalam keheningan yang menakutkan karena ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.

"Tolong Pak Polisi, ja—jangan pergi." Bisik Maya ketakutan sambil menegang lengan pria itu erat-erat seperti berpegangan pada pelampung penyelamatnya.

"Jangan pergi, please." Maya melihat wajah pria yang begitu maskulin akibat bakal cambang yang baru tumbuh sehari itu sedikit melembut. Tetapi tatapan matanya berbanding terbalik dengan sikap lembutnya. Raut wajahnya tampak seperti mengejek dan merendahkannya. Maya memang amnesia, tapi itu bukan berarti dia kehilangan kemampuan untuk sekedar membaca air muka seseorang.

"Saya tidak tahan melihat air mata wanita. Teruslah menangis dan saya akan pergi." Desisnya pelan.

"Ba—baiklah saya tidak akan menangis. Saya akan tertawa saja agar Anda merasa betah disini menemani saya. Hahahaha..."

Maya mencoba tertawa diantara derai airmatanya. Tetapi air matanya tidak mau bekerjasama dengan tawanya. Air matanya masih saja mengalir deras dan sang AKBP pun kembali memaki pelan. Polisi itu meraih tubuhnya beserta dengan selimutnya sekaligus ke dalam pelukannya. Mengayunkannya maju mundur perlahan dengan pelukan yang begitu kuat dan menenangkan.

Maya seketika merasa begitu tenang. Perlahan ia meletakkan kepalanya pada lekukan kokoh bahu Orlando. Untuk pertama kalinya memperhatikan detail wajah maskulin namun cantik itu.

"Bolehkah saya meminjam cermin? Saya sangat ingin melihat wajah saya sendiri, kalau Anda tidak keberatan." Orlando pun berlalu dari kamar bernomor 156 itu. Ia mencari perawat dan minta dipinjamkan sebuah cermin. Saat Orlando kembali dan memberikan sebuah cermin bulat sederhana ke tangannya, Maya mengangkat cermin itu tepat ke wajahnya.

"Rasanya aneh sekali saat kita tidak bisa mengenali wajah sendiri." Maya berguman pelan.

"Anda tidak punya alasan untuk mengeluh." Orlando menjawab datar. Bahkan dalam keadaan babak belur saja kecantikan Maya masih tidak bertandingi.

"Menurut Anda begitu? Mengapa?" Orlando melihat Maya menatap cermin tanpa sedikitpun ada rasa puas diri di dalamnya. Maya yang sebenarnya adalah type wanita yang amat sangat percaya diri dan sadar akan kecantikannya yang di atas wanita rata-rata. Tetapi sikapnya saat ini sangat berbanding terbalik dengan Maya yang biasanya.

"Mengapa begitu?"

"Karena menurut orang-orang di negri ini, Anda itu memiliki paras yang amat sangat cantik Bu Maya." Orlando melihat Maya terlihat seperti orang yang kebingungan.

"Begitu? Mengapa saya sama sekali tidak melihat alasannya." Maya kemudian membuat ekspresi lucu. Memonyongkan bibirnya dan memendelikkan matanya berkali-kali. Tawa terlihat muncul yang seketika kembali tersaput kesedihan.

"Saya bukannya ingin memancing pujian. Tapi saya merasa wajah ini biasa-biasa saja. Saya—saya tidak mengenali wajah saya sendiri. Bagaimana ini? Bagaimana?" Mata segelap onyx itu mulai bermozaik dan bersiap-siap akan mengeluarkan air mata.

"Jangan! Anda sudah tahu bahwa saya tidak suka melihat air mata wanita. Atau saya akan pergi!"

"Iya iya... Saya—saya tidak akan menangis. Saya akan kembali tertawa saja. Hahhahaha..." Maya kembali mencoba tertawa di antara kabut air mata yang tergenang dalam bening matanya.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Anda, Bu Maya? Siapa yang sangat menginginkan kematian Anda sampai ia tega mencekik Anda dan membuang tubuh Anda kerawa-rawa? Apakah Anda sedikitpun tidak mengingatnya?"

"Sayangnya tidak Pak Polisi. Pikiran saya kosong. Saya bahkan tidak dapat mengingat nama saya sendiri. Seperti apakah dulu kepribadian saya Pak Oolisi? Apakah akhlaq saya sangat buruk sampai-sampai suami dan orang tua kandung saya pun tidak mau lagi mengenal saya? Tolong beritahu saya agar saya tahu kelak bagaimana saya harus bersikap."

Maya melihat polisi itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyerahkan ponsel kepadanya.

"Begini saja, Anda silahkan lihat saja berita mengenai diri Anda sendiri di internet. Anda bisa melihat you tube, search google dengan hanya mengetikkan kata Candramaya Daniswara Bratadikara. Coba saja. Dari sana Anda tentu akan mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana kepribadiaan Anda yang sebelumnya."

Dengan tidak sabar Maya pun segera googling tentang jati diri dan kehidupannya yang sebelumnya. Wajahnya semakin lama terlihat semakin memucat saat membaca kata-kata yang tertera disana. Apalagi saat ini melihat you tube dan melihat tingkah liarnya berikut pakaian minimnya. Maya tidak sanggup melihat wajahnya sendiri ada disana. Ia malu!

"Pantas saja kalau suami saya dan kedua orang tua saya membuang saya. Kelakuan dan akhlaq saya ternyata naudzubillah min zalik buruknya." Orlando memperhatikan wajah Maya yang terlihat antara sedih, malu dan juga serba salah. Dia sendiri sebenarnya juga bingung. Mengapa Maya yang amnesia ini tingkahnya sangat berbanding terbalik dengan saat dia sadar sepenuhnya. Orlando yakin, kalau sikap Maya berubah menjadi manis dan baik seperti saat terkena amnesia begini, orang-orang pasti akan lebih suka kalau ia amnesia saja selamanya.

Tok! Tok! Tok!

Setelah Orlando menjawab masuk, Maya melihat ada seorang lelaki tampan lainnya dan seorang wanita paruh baya berhijab memasuki ruangan tempat ia dirawat.

"Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa ya? Maafkan saya saat ini tidak begitu baik ingatannya." Maya melihat kedua orang yang wajahnya mirip itu sedikit tertegun mendengar kata-katanya. Mereka masih terdiam saat Orlando lah yang memecahkan kebisuan mereka berdua.

"Mereka ini ibu mertua dan suami Anda, Bu Maya. Ini adalah Ibu Khadijah Bratadikara dan Bapak Nayaka Bratadikara."

Mendengar kata-kata Orlando, Maya seketika berusaha bangkit dari tidurnya dan menyalami tangan suami dan ibu mertuanya. Maya bukan hanya menyalami biasa. Ia bahkan mencium pungung tangan suami dan ibu mertuanya. Lagi-lagi Maya melihat suami dan  ibu mertuanya terdiam. Maya merasa mungkin mereka berdua sudah begitu muak dengan sepak terjangnya di luaran selama ini. Sehingga mereka memilih untuk mendiamkannya saja.

Maya berusaha bangkit dari posisi duduknya. Dia mencoba turun dan bersimpuh di hadapan suami dan ibu mertuanya. Maya tahu walaupun ia akan segera bercerai dari suaminya, tetapi ia belum minta maaf secara pribadi secara layak dengan mereka berdua. Maya merasa ini adalah saat yang paling tepat baginya untuk meminta maaf atas semua kelakuan bejatnya yang rasa-rasanya agak mustahil untuk dapat di maafkan. Tetapi yang paling penting adalah dia sudah mencoba. Masalah mereka berdua mau atau tidak memaafkannya, biarlah itu menjadi urusan mereka.

"Maya memohon maaf yang sedalam-dalamnya pada M—Mas Nayaka Bratadikara dan ibu Khadijah atas semua kelakuan buruk Ma—Maya selama ini. Maya tidak bisa lagi merangkai kata untuk memohon maaf pada Mas Naya, maaf kalau saya salah mengucapkan nama Mas, dan Ibu. Maya benar-benar menyesal Mas, Ibu.

Mas Naya dan ibu jangan salah tafsir. Maya melakukan ini bukan karena Maya ingin Mas mencabut gugatan perceraian. Itu sama sekali tidak terlintas dalam pikiran Maya. Menurut Maya, memanglah sudah sepantasnya Mas menceraikan seorang istri yang tidak baik seperti Maya ini. Maya amat sangat mengerti. Yang Maya inginkan saat ini hanyalah meminta maaf pada Mas Naya dan ibu." Dua orang di depannya seperti baru tersadar dari ketertegunan saat melihat Maya yang sedang bersimpuh dengan susah payah.  Cairan infusnya pun sampai dicabut dari tempatnya dan dipegang oleh Maya.

"Sudah Maya, sudah. Kita lupakan saja semua masa lalu kita. Ibu sudah memaafkan kamu dari jauh-jauh hari. Astaga, ibu tidak pernah bermimpi melihat kamu memanggil Nayaka dengan sebutan Mas dan meminta maaf pada ibu. Maya yang seperti ini membuat ibu sangat senang, Nak. Maya seperti berubah menjadi pribadi yang baru."

Ibu Khadijah membantu Maya bangkit dan mendudukkannya kembali ke ranjang. Bu Khadijah juga kembali menggantungkan cairan infusnya pada tempatnya.

Maya kembali terisak pelan saat ibu mertuanya juga membantunya kembali berbaring di ranjang rumah sakit. Ibu mertua yang baiknya seperti ini bagaimana mampu ia sia-siakan selama ini? Ia jahat sekali selama ini rupanya.

Pandang mata Mata pelan-pelan bertemu dengan suaminya. Sedetik kemudian Maya menundukkan wajahnya dengan pipi memerah. Dia malu karena dipandangi oleh suaminya sendiri. Suami yang sudah begitu sering ia sakiti jiwa raganya.

"Saya sudah mendengar semua keadaan kamu dari dokter yang merawat kamu juga dari bapak polisi ini. Seperti yang sudah kamu ketahui, saya telah mendaftarkan gugatan perceraian kita sejak sebulan yang lalu. Karena keadaan kamu yang seperti ini dan juga pihak keluarga kamu juga tidak mau menerima kamu kembali, saya hanya bisa menawarkan ini." Suaminya mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik jas nya.

"Ini ada uang kontan sebanyak dua ratus juta. Ambil saja buat kamu selama kamu belum bisa ehm bekerja. Setidaknya kamu bisa hidup layak sementara dengan uang ini. Setelah pengadilan memutuskan perceraian kita, saya akan memberikan harta gono gini yang amat sangat kamu inginkan itu. Mengerti kamu, Maya?"

Maya terdiam. Dia tahu dia telah banyak berbuat kesalahan. Dan dia tidak ingin lagi menambah beban suami dan mertuanya ini dengan menanggung biaya hidupnya. Selama iya memiliki panca indera lengkap, insya Allah ia akan berusaha menghidupi dirinya sendiri. Iya yakin, selama ia mau berusaha, pasti Allah akan melancarkan usahanya.

"Terimakasih atas niat baik Mas Naya yang ingin membantu Maya. Tetapi maaf Maya sudah tidak bisa lagi menerima kebaikan Mas. Biarlah mulai hari ini Maya akan berusaha berdiri di atas kaki Maya sendiri dengan uang yang insya Allah halal. Mas cukup doakan saja agar Maya tambah kuat dalam menjalani cobaan ini hidup ini ya, Mas? Bagaimana pun juga kita berdua dulu pernah saling mencintai satu sama lain. Ini, Mas simpan saja lagi uang ini. Maya bukannya tidak membutuhkannya Mas, tetapi Maya hanya ingin mulai berdikari sendiri. Bantu saja Maya dengan doa ya Mas?" Maya tiba-tiba saja merasakan tangan kanan suaminya mengelus puncak kepalanya perlahan.

"Kalau saja kamu dulu semanis ini dalam bersikap, Mas tidak akan pernah mau mengajukan gugatan perceraian kepengadilan, sayang. Apakah kamu ingin Mas mencabut gugatan itu, Maya?" Mata Maya terbelalak mendengar tawaran suaminya.

"Jangan Mas. Bukankah tadi sudah Maya katakan kalau Maya bukannya ingin mencari simpati dan mementahkan kembali keinginan Mas untuk menggugat cerai Maya. Maya murni hanya ingin meminta maaf saja. Mas Naya berhak mendapatkan istri yang jauh jauhhhh lebih baik dari Maya." Sahut Maya tegas.

"Tumben lo dikasih duit kagak mau kakak ipar? Lagi banyak duit ya lo habis jualan sama politisi itu?" Maya menatap nanar seorang pria berambut gondrong lainnya yang baru saja masuk dan menatapnya dengan raut wajah yang begitu melecehkan. Menilik wajahnya yang begitu mirip dengan suaminya dan panggilan kakak ipar padanya, Maya langsung tahu kalau laki-laki ini adalah adik iparnya.

Mereka yang ada di dalam ruangan cuma bisa menunggu letupan amarah Maya. Maya yang dulu pasti akan langsung membalas kata-kata adik iparnya dengan tak kalah pedas. Tapi kali ini, berbeda. Maya sama sekali tidak membalas kata-kata penuh provokasi adik iparnya. Dia hanya diam, tetapi air matanya mulai berlelehan. Orlando menarik nafas panjang, sepertinya ini sudah saatnya dia turun tangan. Maya sudah terlihat makin tertekan.

"Jika Anda semua sudah tidak ada keperluan lagi disini. Silahkan menunggu di luar saja. Biarkan Bu Maya beristirahat dulu."

Orlando mengusir tamu-tama Maya secara halus.

"Khusus buat Anda saudara Thoriq. Kita ini laki-laki, jangan suka bersikap playing victim seperti seorang perempuan. Hanya karena Anda tidak bisa mendapatkan kakak ipar Anda yang begitu Anda dambakan, maka Anda membalas dendam dengan cara mengata-ngatainya hanya karena dia sedang amnesia." Tukas Orlando datar. Ia tahu kalau selama ini Thoriq memang suka membuntuti Maya ke mana-mana. Ia pernah beberapa kali memergokinya.

"Benar begitu, Thoriq?" Nayaka terlihat mengepalkan kedua tangannya. Dia terlihat tidak percaya kalau adiknya ternyata juga menginginkan istrinya.

"Gue hanya mengatakan kebenaran kok, Bang. Mbak Maya juga menggoda pria-pria setiap weekend di club."

"Dan mengapa Anda selalu ada di setiap kakak ipar Anda ada di club? Anda bukan secret admirernya bukan?"

Orlando hanya berbicara santai saja, namun wajah Thoriq sudah berubah menjadi merah padam. Kini mereka tahu bahwa Orlandolah yang benar karena Thoriq bahkan tidak bisa membantah kebenaran kata-katanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel Istri Penguasa Tak Terlihat
8.5
Hidup Roxelle Clementia Evelyn berubah total saat Hendrik Ou Gang mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris Ou Gang Grup. Setelah bertahun-tahun menderita akibat kemiskinan dan penghinaan, wanita Asia-Amerika ini ternyata cucu yang selama ini dikira telah tiada. Kehadirannya memicu ketegangan besar bagi Margarita dan Donna yang selama ini berkuasa. Mampukah Roxelle memimpin perusahaan finansial raksasa di Kota Luo dan menghadapi intrik keluarga tersebut?
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Pesta ulang tahun Thania berubah menjadi petaka saat ia diculik dan menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi. Kini, ia terperangkap sebagai tawanan pemuas nafsu seorang bos mafia yang sangat sadis. Di tengah penderitaannya, Thania harus memutar otak untuk menaklukkan hati pria kejam tersebut. Akankah ia berhasil memikat sang mafia agar membantunya mengungkap konspirasi besar di balik kehancuran keluarganya, atau justru terjebak selamanya?
Sampul Novel Menuntut Balas
8.4
Xavier terpaksa menyaksikan momen mengerikan saat nyawa ayahnya direnggut secara keji oleh kelompok mafia. Tragedi berdarah tersebut menyisakan luka mendalam dan amarah yang membara di hatinya. Enggan membiarkan para pelaku bebas begitu saja, ia bertekad menuntut balas. Xavier pun mulai mengasah kemampuan bela diri dengan keras demi mempersiapkan diri menghadapi organisasi kriminal yang telah menghancurkan hidupnya serta menuntaskan dendamnya.
Sampul Novel PENDEKAR TAPAK DEWA
8.5
Kelompok La Kala pimpinan La Afi Sangia menghancurkan Desa Tanaru tanpa sisa. Di tengah puing dan mayat, Jenderal Hongli menemukan keajaiban: seorang bayi yang selamat dari api. Sang mantan jenderal bergelar Wu Ying Jianke bersumpah di bawah petir untuk melatih bayi bernama La Mudu tersebut. Sebagai titisan dewa, La Mudu dipersiapkan menjadi pendekar besar guna menuntut balas atas pembantaian keluarganya dan membasmi segala kejahatan di muka bumi.