
The Last Love of Promise
Bab 3
“Kita yang sering menyapa dan akrab hingga tumbuh apa itu rasa sebuah cinta tetapi kini akan memudar dengan waktu dan kondisi yang seiring berjalan nantinya,” Langit Senja R.
Dalam pelukan Dewa, Rain tetap menangis, meluapkan semua yang dia rasakan saat ini. Rasa yang dulu dan sampai kapanpun dari Dewa untuknya mungkin tak akan bisa dihapus atau bahkan dilupakan dalam waktu sekejap.
“Rain, mungkin mulai saat ini sampai kapanpun aku harap kamu bisa menghapus namaku dan begitu juga denganku, aku juga berusaha sekuat hatiku untuk . . .” suara Dewa terputus saat jemari Rain menyentuh bibirnya.
“Cukup Dewa, kalau ini memang sudah garis kehidupan yang aku terima. Aku ikhlas meskipun berat, bahagialah dengan pasangan hidupmu dan terimakasih sudah menemani dan membantu aku yang sangat manja dan bahkan tak mau mengalah selama ini. Antar aku pulang . . .” Rain melepas jemarinya dari bibir Dewa.
Rain berjalan gontai meninggalkan Dewa yang tengah menatapnya dengan penuh penyesalan. Mungkin sebuah kisah cinta yang pernah terjalin segitu kuatnya bisa selesai dalam waktu yang tidak kita inginkan tetapi mungkin juga kita sebagai manusia bisa saja melupakan siapa yang mengatur kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki banyak kekurangan.
Sepi hati yang dirasakan Rain tanpa ada lagi senyuman, tempat cerita atau bahkan tempat untuk bertengkar kecil dengan orang yang sudah dianggapnya belahan hati untuknya. Kisah cintanya dan Dewa kini hanya bisa terkenang nantinya dan tentunya sudah mengukir begitu banyak pahatan cerita cinta dalam setiap perjalanan cinta mereka berdua.
Suasana perjalanan pulang kini sangat berbeda sebelum tragedi sakit hati yang Rain rasakan, mereka berdua kini seperti dua manusia yang asing tak saling mengenal.
“Aku kira kamu akan menolak dengan perjodohan yang kolot itu,” ucap Rain sambil menguatkan kembali untuk berbicara dengan Dewa.
“Maaf, kamu tahu sendiri orangtuaku kan? Mereka ingin yang terbaik untuk aku, anak semata wayangnya. Aku tahu perjodohan itu kolot, Rain. Tapi . . . aku gak mau saat kita sudah menikah nantinya kamu akan selalu diremehkan oleh kedua orangtuaku, karena . . . “
“Karena apa? Karena aku gak bisa masak? Aku manja? Aku seperti anak kecil? Yang menikah itu kita atau kedua orangtuamu, hah!” teriak Rain sambil menatap Dewa.
Dewa menghembuskan nafas beratnya, “Ya kita yang menikah tapi kamu tahu sendiri orangtuaku ingin menantu yang usianya lebih tua dari aku.”
“Hah? Kamu mau menikahi tante-tante? Jangan bercanda kamu Dewa! Jangan-jangan ini kamu ngeprank aku? Atau hanya ingin memberikan hadiah untukku karena tiga hari aku akan sidang kelulusan?”
Dewa menggeleng pelan ke arah Rain, “Aku tak mungkin bercanda jika berurusan dengan orangtuaku dan kamu. Aku sudah tukar cincin dan tepat di sidang kelulusanmu, aku harus menikah denganya Rain.”
“Ini berarti nyata dan kenapa kamu tak ingin mempertahankan aku? Apakah kamu sudah mengatakan jika aku tak seburuk itu? Aku bisa masak kok, ayoklah Dewa jangan bercanda!!” Rain kembali merengek.
Kini Dewa menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan kemudian mematikan mesinnya, “Bagaimana caranya aku membelamu? Saat kamu buatkan ayahku kopi saja yang kamu masukkan garam bukan gula dan yang kedua saat kamu masak telur goreng, minyaknya terlalu banyak. Masih ingat itu semuanya, Rain?”
Rain menunduk dan merutuki kebodohannya saat itu, di mana saat itu ayah Dewa ingin dibuatkan kopi dan dengan santainya Rain menuangkan garam yang dia kira gula karena sama-sama memiliki bentuk sama.
Hingga ayah Dewa menyemburkan kopi buatanya ke arah Dewa dan yang ke-dua saat Dewa ingin dibuatkan telur goreng, dia menuangkan hampir setengah liter minyak goreng ke penggorengan hingga membuat ibu Dewa menggeleng keheranan.
“Aku ingat dan aku salah, aku tak pernah masuk dapur dan saat itu . . .”
“Rain, aku minta maaf sekali lagi. Ini sudah final dan bagaimanapun aku tak bisa menolak dan membatalkan ini semuanya, jika kamu tidak bisa memaafkan aku dna bahkan membenciku. Aku siap untuk kamu benci seumur hidupku.” Dewa terlihat pasrah.
Rain tersenyum ke arah Dewa, “Katakan saja, jangan kamu sembunyikan bila diriku tak lagi di hatimu. Tapi, kenanglah aku yang pernah singgah di hatimu meski sekedar mengukir namaku di hatimu, Dewa Geofani.”
“Jangan katakan kisahmu saat nanti, itu mungkin bisa membuat sakit hatiku Dewa. Aku dan kamu pernah saling menjaga hati, tetapi detik ini hari ini bulan ini dan tahun ini aku akan menutup hati untuk siapapun, termasuk kamu.” Rain mengarahkan kelingking ke arah Dewa sebagai simbil janji untuknya sendiri dan Dewa.
Dewa mengaitkan kelingkingnya dengan sangat berat, di bibirnya dia harus berbohong untuk pernikahan dengan seorang wanita yang berumur dua tahun lebih tua darinya tetapi saat ini dan mungkin selamanya hatinya tak akan melupakan satu nama yang selalu membuat tertawa, sebal dan sedikit bersabar dengan tingkah laku perempuan di sampingya saat ini, Rain Octaviani.
“Okey, antar aku pulang Kak Dewa.” Suara Rain terdengar bersemangat tetapi terdengar terpaksa bagi Dewa.
Perjalanan kembali asing untuk mereka berdua hingga tak terasa kini mobil Dewa sudah di depan rumah Rain, terlihat kedua orangtua Rain tengah berdiri dan menatap ke arah mereka berdua.
“Aku turun dulu ya kak, makasih atas semuanya. Bahagia selalu kak, aku turun dulu.” Rain beranjak turun dari mobil tetapi Dewa dengan segera memeluknya.
“Maafkan aku Rain, maaf dan maaf. Aku telah menyakitimu dan aku yang harus berterimakasih ke kamu. Dari kamu aku belajar segalanya, aku antar ya sampai di depan ayah mama ya.” Pinta Dewa sembari menatap netra Rain.
“Okey kak.” Rain memberikan jawaban sembari tangannya memberikan simbol “Ok”
Mereka berdua kini berjalan berdampingan tanpa tanda-tanda orang yang saling mencintai lagi, hanya sebagi teman atau bahkan adik kakak. Tentu itu membuat ibu dan ayah Rain saling menatap dan tersenyum seolah menyembunyikan sesuatu untuk Rain.
“Mama ayah, aku pulang. Aku masuk dulu ya, capek aku. Makasih kak Dewa, hati-hati di jalan,” ucap Rain sambil tersenyum ke arah Dewa.
“Makasih waktunya ya Rain, selamat malam dan jaga kesehatnmu.” Balas Dewa sembari tersenyum.
Rain melangkah gontai ke arah kamarnya dan benar setelah sampai kamarnya. Dia langsung membenamkan tubuhnya ke kasur dan memeluk erat guling dengan berurai air mata, “Kamu jahat Dewa! Sampai kapanpun aku tak akan percaya lagi apa itu cinta dan aku tak akan percaya laki-laki manapun!!!”
Tak berselang lama, kedua orangtua Rain masuk ke kamarnya. Mereka berdua yang tadinya sudah mengobrol banyak dengan Dewa kini mengerti kondisi Rain yang tengah patah hati begitu hebatnya.
“Sakit hati, Rain? Kan sudah ayah bilang dari dulu, jangan pacaran dulu. Gini kamu sendiri yang sakit bukan? Dewa sudah cerita semuanya tadi dan ayah mamamu ini juga menerima keputusan keluarga besar Geofani itu.” Ayahnya mengelus lembut rambut Rain.
“Rain, sudah nangisnya. Jangan nangis dan merasakan sakit yang begitu hebatnya seperti yang kamu rasakan saat . . .” suara mamanya terputus karena pelukan Rain yang begitu erat.
“Aku sayang dia, ma! Aku ingin sehidup semati dengan dia! Tapi apa! Tuhan gak adil! Kenapa harus ada perjodohan segala sih di era modern ini.” Tangis Rain pecah.
“Bukan Tuhan gak adil dan perjodohan juga tak ada salahnya. Lagian mamamu ini sebeneranya sudah cerita
ke kamu bukan? Mama kenal siapa keluarga besar Geofani dan kamu malah cuek saat itu. Mamamu ini sebenarnya sudah menyiapkan jodoh untukmu juga tetapi kamunya pasti menganggap ini kuno dan gak etis di zaman modern seperti ini,” ucap mama Rain sembari menenangkan Rain.
Rain yang mendengarkan jika dia bakal akan dijodohkan juga langsung melepaskan pelukan dari mamanya, “Jangan bercanda ma, aku tak ingin membuka hati lagi bagi laki-laki manapun saat ini dan seterusnya. Karena aku . . .”
“Kenanglah dia yang pernah hadir dalam hatimu dan sambutlah dia yang akan menjadikan kamu ratu nantinya, Rain.” Balas ayah Rain dengan tatapan lembut ke arah Rain.
Anda Mungkin Juga Suka





